Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ilmu Padi para Ulama



Kamis , 23 Februari 2023



Telah dibaca :  270

Dulu sebelum ada Internet, dan masih zaman pengiriman Surat atau Wesel melalui Kantor Pos, saya sudah biasa membaca Koran-koran bekas atau Majalah. Tahun 1993-1998 saya sering membaca Koran Jawa Pos, Kompas, Tempo,Gatra, Kiblat, Aula dan lain-lain. Tempat mangkal saya di Shoping Dekat Pasar Beringharjo, Yogyakarta[1993-1994]. Dari sini saya mengenal kisah-kisah para ulama NU yang menerapkan Ilmu Padi. Semakin dalam ilmunya, semakin tambah usia nya semakin merendahkan hatinya dalam setiap kegiatan. Mereka sudah tidak lagi berbicara epistimologi syariat, tapi sudah pada aksiologisnya. Apa yang diucapkan dan perbuat sudah menjadi ilmu, dan tidak perlu dalil-dalil sebagaimana saat mereka masih tingkat “sawir, mujadalah dan mudzakarah”.

Para ulama NU lahir dari kaderisasi kawah Candradimuka Pesantren. Mereka hampir 24 jam diberi ilmu pengetahuan agama, dan cara beribadah wajib dan sunnah. Potret gambaran sederhana seperti di Pesantren NU seperti ini; bangun jam 3.50, santri mandi, tahajud, hafalan Al-Qur’an, Ada Hadist, Tatabasa Arab, dan kitab. Setelah sholat subuh, pengajian bandongan seperti Kitab Ihya Ulumudin, diikuti oleh seluruh ustadz dan santri senior. Sedangkan santri yunior, meneruskan hapalan Al-Qur’an atau ngaji kitab. Selesai kegiatan setelah subuh sekitar jam 6.30, mereka mandi sarapan dan pergi sekolah umum; SLTP, SLTA atau kuliah. Bagi santri yang tidak sekolah berarti dia akan mengkaji kita kuning atau hapalan-hapalan sampai jam 11.00. pada jam ini mereka ada yang mandi dan makan. Setelah sholat dhuhur, santri sekolah dinniyyah sampai menjelang sholat ashar. Selesai sholat ashar, santri mengikuti pengajian kitab Ihya Ulumuddin sampai menjelang maghrib sekitar kurang 30 menit. Waktu yang tersisa ini biasanya digunakan untuk makan dan mandi. Setelah sholat maghrib, ada pengajian kitab Tafsir Jalalain. Bagi santri yunior, diajari berkaitan dengan ubudiyah seperti sholat, puasa dan haji. Selesai sholat isa, santri ngaji sorogan kitab kuning sesuai tingkatan. Bagi yang sudah senior, bisa ngaji kitab kuning yang tebal-tebal. Khusus hari selasa dan minggu kegiatan agak sedikit longgar. Namun demikian, tetap kegiatan keagamaan dan pengajian masih ada.

Kegiatan sawir biasanya malam selasa. Ada mingguan dan bulanan. Kegiatan ini adalah kegiatan santri senior dan yunior menuju senior. Mereka membahas Kitab Kuning dan mengkaji berbagai persoalan berkaitan dengan ibadah dan muamalah. Jadi sejak masih menjadi santri, mereka sudah membiasakan diri mengguanakan dalil-dalil untuk membahas persoalan keumatan. Karena saking sibuk dan membiasakan kegiatan kajian ilmu, para santri kadang lupa terhadap model cara berpakaian. Mereka masih nyaman dengan berpakaian sarung dan baju serta songkok. Itupun songkok hitam, bukan putih. Jadi dari segi penampilan terlihat biasa dan tidak mitayani, namun dari segi keilmuan mereka cukup baik menguasai nya.

Tradisi pesantren seperti ini yang kemudian melahirkan sikap ulama[yang dulu santri] sangat sederhana dalam hidupnya, dan sederhana dalam penampilannya. Salah satu contoh adalah K.H. Sahal Mahfud, Seorang Rois Syuriah Pada Era K.H. Abdurrahman Wahid[Gus Dur]. Bahkan bisa dikatakan, baik Rois Syuriah dan Tanfidziyah era itu, adalah era ulama yang sangat bersahaja. Jauh dari kata “wah”, tapi segala kebijakan organisasi sangat terasa dalam perkembangan kaderisasi di intenal NU dan memberi sumbangsih tentang penguatan terhadap NKRI.

Berikut ini sekelumit contoh kesederhanaan Al-Mukarom K.H. Sahal Mahfud. Saat dia menghadiri salah satu acara akbar NU, dia masuk ke ruangan tempat acara dan sebagai pembicara. Namun para Banser lokal yang belum pernah mengerti Mbah Kiai Sahal perpandangan bahwa, kiai tersebut berpenampilan wibawa; baju gamis, peci putih, sorban besar dan berbadan tinggi besar. Mbah Kiai Sahal datang berpakaian biasa, memakai Sarung, Baju Koko dan Peci. Apalagi dia berbadan sangaat kurus, dan berwajah sebagaimana para kiai kampung. Akibatnya, para Banser lokal yang belum banyak jam terbang pun melarang Mbah Kiai Sahal masuk. Sontak, panitia inti acara tersebut kalang kabut ketika mengetahui Mbah Sahal tidak bisa masuk karena persoalan tersebut.

Hal yang sama juga kesederhanaan Gus Dur. Sebagai seorang mantan Ketua PBNU tiga kali periode, bahkan setelah menjadi presiden, sudah biasa makan bareng tanpa protokoler kepresidenan. Tidak ada jarak, pimpinan makan bareng, pijit-pijitan dan guyon yang menjadi ciri khas dari ulama NU.

Ketawadhuan tersebut bukan menunjukan sebuah kelemahan. Namun wujud dari kekuatan spiritual, sikap dan perbuatan. Konsep ilmu padi, mengutamakan isi dan kemanfaatan. Walaupun bicaranya sederhana dan jarang menggunakan dasar-dasar dalil naqli dan aqli dengan berbagai trik mujadalah, akan diikuti oleh seluruh warga NU. Sebuah prinsip yang dalam istilah kader Banser, “Mati Urip Nderek Kiai”.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884