Dulu sebelum ada Internet, dan masih zaman pengiriman
Surat atau Wesel melalui Kantor Pos, saya sudah biasa membaca Koran-koran bekas
atau Majalah. Tahun 1993-1998 saya sering membaca Koran Jawa Pos, Kompas,
Tempo,Gatra, Kiblat, Aula dan lain-lain. Tempat mangkal saya di Shoping Dekat
Pasar Beringharjo, Yogyakarta[1993-1994]. Dari sini saya mengenal kisah-kisah para ulama
NU yang menerapkan Ilmu Padi. Semakin dalam ilmunya, semakin tambah usia nya
semakin merendahkan hatinya dalam setiap kegiatan. Mereka sudah tidak lagi
berbicara epistimologi syariat, tapi sudah pada aksiologisnya. Apa yang
diucapkan dan perbuat sudah menjadi ilmu, dan tidak perlu dalil-dalil
sebagaimana saat mereka masih tingkat “sawir, mujadalah dan mudzakarah”.
Para ulama NU lahir dari kaderisasi kawah Candradimuka
Pesantren. Mereka hampir 24 jam diberi ilmu pengetahuan agama, dan cara
beribadah wajib dan sunnah. Potret gambaran sederhana seperti di Pesantren NU
seperti ini; bangun jam 3.50, santri mandi, tahajud, hafalan Al-Qur’an, Ada
Hadist, Tatabasa Arab, dan kitab. Setelah sholat subuh, pengajian bandongan
seperti Kitab Ihya Ulumudin, diikuti oleh seluruh ustadz dan santri senior.
Sedangkan santri yunior, meneruskan hapalan Al-Qur’an atau ngaji kitab. Selesai
kegiatan setelah subuh sekitar jam 6.30, mereka mandi sarapan dan pergi sekolah
umum; SLTP, SLTA atau kuliah. Bagi santri yang tidak sekolah berarti dia akan
mengkaji kita kuning atau hapalan-hapalan sampai jam 11.00. pada jam ini mereka
ada yang mandi dan makan. Setelah sholat dhuhur, santri sekolah dinniyyah sampai
menjelang sholat ashar. Selesai sholat ashar, santri mengikuti pengajian kitab Ihya
Ulumuddin sampai menjelang maghrib sekitar kurang 30 menit. Waktu yang tersisa
ini biasanya digunakan untuk makan dan mandi. Setelah sholat maghrib, ada
pengajian kitab Tafsir Jalalain. Bagi santri yunior, diajari berkaitan dengan
ubudiyah seperti sholat, puasa dan haji. Selesai sholat isa, santri ngaji
sorogan kitab kuning sesuai tingkatan. Bagi yang sudah senior, bisa ngaji kitab
kuning yang tebal-tebal. Khusus hari selasa dan minggu kegiatan agak sedikit
longgar. Namun demikian, tetap kegiatan keagamaan dan pengajian masih ada.
Kegiatan sawir biasanya malam
selasa. Ada mingguan dan bulanan. Kegiatan ini adalah kegiatan santri senior
dan yunior menuju senior. Mereka membahas Kitab Kuning dan mengkaji berbagai
persoalan berkaitan dengan ibadah dan muamalah. Jadi sejak masih menjadi
santri, mereka sudah membiasakan diri mengguanakan dalil-dalil untuk membahas
persoalan keumatan. Karena saking sibuk dan membiasakan kegiatan kajian ilmu,
para santri kadang lupa terhadap model cara berpakaian. Mereka masih nyaman
dengan berpakaian sarung dan baju serta songkok. Itupun songkok hitam, bukan
putih. Jadi dari segi penampilan terlihat biasa dan tidak mitayani, namun dari
segi keilmuan mereka cukup baik menguasai nya.
Tradisi pesantren seperti ini yang kemudian
melahirkan sikap ulama[yang dulu santri] sangat sederhana dalam hidupnya, dan
sederhana dalam penampilannya. Salah satu contoh adalah K.H. Sahal Mahfud,
Seorang Rois Syuriah Pada Era K.H. Abdurrahman Wahid[Gus Dur]. Bahkan bisa
dikatakan, baik Rois Syuriah dan Tanfidziyah era itu, adalah era ulama yang
sangat bersahaja. Jauh dari kata “wah”, tapi segala kebijakan organisasi sangat
terasa dalam perkembangan kaderisasi di intenal NU dan memberi sumbangsih
tentang penguatan terhadap NKRI.
Berikut ini sekelumit contoh kesederhanaan Al-Mukarom
K.H. Sahal Mahfud. Saat dia menghadiri salah satu acara akbar NU, dia masuk ke
ruangan tempat acara dan sebagai pembicara. Namun para Banser lokal yang belum
pernah mengerti Mbah Kiai Sahal perpandangan bahwa, kiai tersebut berpenampilan
wibawa; baju gamis, peci putih, sorban besar dan berbadan tinggi besar. Mbah Kiai
Sahal datang berpakaian biasa, memakai Sarung, Baju Koko dan Peci. Apalagi dia
berbadan sangaat kurus, dan berwajah sebagaimana para kiai kampung. Akibatnya,
para Banser lokal yang belum banyak jam terbang pun melarang Mbah Kiai Sahal masuk.
Sontak, panitia inti acara tersebut kalang kabut ketika mengetahui Mbah Sahal
tidak bisa masuk karena persoalan tersebut.
Hal yang sama juga kesederhanaan Gus Dur. Sebagai
seorang mantan Ketua PBNU tiga kali periode, bahkan setelah menjadi presiden,
sudah biasa makan bareng tanpa protokoler kepresidenan. Tidak ada jarak,
pimpinan makan bareng, pijit-pijitan dan guyon yang menjadi ciri khas dari
ulama NU.
Ketawadhuan tersebut bukan menunjukan sebuah
kelemahan. Namun wujud dari kekuatan spiritual, sikap dan perbuatan. Konsep ilmu
padi, mengutamakan isi dan kemanfaatan. Walaupun bicaranya sederhana dan jarang
menggunakan dasar-dasar dalil naqli dan aqli dengan berbagai trik mujadalah, akan
diikuti oleh seluruh warga NU. Sebuah prinsip yang dalam istilah kader Banser, “Mati
Urip Nderek Kiai”.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2983
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884