Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Imsak; Cara Mengenal Diri



Rabu , 19 April 2023



Telah dibaca :  405

Sudah beberapa hari ini badan sedikit drop. Apakah penyakit darah rendah kambuh?. Bisa jadi. Kata kawan-kawan, ini akibat makan buah Semangka dan minuman Cincau bisa mempercepat penurunan darah rendah. Bisa jadi. Waktu ikut acara safari Plt Bupati di Peyagun, saya sudah terasa pusing. Saat berbuka puasa, sebelum makan saya langsung menyantap buah semangka. Es buah juga isinya semangka. Jadi, nyaris malam itu perut penuh dengan Es Buah dan buah Semangka. Nasi sangat sedikit. Ketika pulang Rumah, Istri juga membuat Es Cincau yang beli di pinggir jalan. Saya merasakan terasa segar. Waktu puasa biasa saja. Mulai terasa sore hari menjelang berbuka, terasa pusing.  Saat Pak Abu Bakar dari Dinas Pariwisata nelpon untuk ikut menghadiri pembukaan lomba Lampu Colok, itu lagi pusing-pusingnya. Jam 21.00 WIB saya datang ke tempat acara. Kepala masih pusing, tapi agak berkurang. Saya ketemu para Kepala Dinas. Mereka pun satu persatu menemui saya dan berjabat tangan. Setelah selesai acara, saya pun mencari minuman Jahe Madu. Harapanya, pusing saya bisa segera sembuh.


Penyakit darah rendah katanya tidak berbahaya. Namun gara-gara penyakit ini, saya harus berhenti sementara menulis buku-buku ilmiah. Ada tiga buku ilmiah yang sedang saya siapkan; buku referensi, bunga rampai, dan buku monograf. Rencana jika ini selesai, langsung membuat buku ajar mahasiswa. draf nya sudah saya siapkan; buku Legislasi Hukum Keluarga Islam merupakan kumpulan tulisan Mahasiswa Program Doktor, Buku Ajar Fiqh Siyasah dan Buku Sosiologi Hukum Islam. Lagi-lagi semua ini harus off dulu. Sebagai ganti, saya menulis yang ringan-ringan saja untuk mengisi Catatan Harian saya. Insya Allah jika sudah terkumpul banyak, akan saya jadikan buku.

Saya memang tidak tahu, apakah tulisan saya memberi manfaat kepada masyarakat banyak atau sebaliknya. Saya tidak tahu. Dulu saat saya suka menulis cukup panjang-panjang di facebook, ternyata diam-diam ada yang menyukai. Memang tulisan saya kurang menarik. Sifatnya ilmiah populer. Kadang disertai dengan data-data sumber rujukan. Namun, ada teman saya di Jawa selalu mengikuti FB ku. Dia anggota dewan dari partai PKB. Dia meminta izin akan menerbitkan kumpulan tulisan saya di FB. Ada juga seorang guru yang hobi menulis juga punya keinginan sama. namun karena teman dari jawa yang pertama meminta, saya hanya mengizinkan permintaan pertama dulu.


Ada beberapa orang pernah bertemu kepada ku dan juga langsung menelpon tentang tulisanku. Mereka biasanya berterima kasih dan akan melaksanakan pesan-pesan yang telah ditulis di berbagai media. Pernah suatu hari ada beberapa Professor[Salah Satunya Professor Sudriman Johan, Pengurus Muhamadiyah Riau], salah satu  guru saya merasa terhormat karena tulisan saya yang telah terbit di Media Massa Riau Pos. Saat saya duduk-duduk di Masjid dekat UIN Sukajadi, dia memanggilku, Mas, tulisan mu mantap, teruskan menulis”. Tulisan saya juga dibaca oleh para pegawai seperti guru-guru dan orang-orang biasa. sepanjang yang saya tahu, mereka berterima kasih kepadaku. Mungkin mereka tidak mempunyai pemikiran lain kecuali berfikir untuk kebaikan diri sendiri, sehingga ketika membaca tulisan saya, seolah-olah memberi jawaban persoalan yang selama ini terjadi.

Namun bukan berarti tulisan saya baik-baik saja. Banyak juga tulisan saya yang mendapatkan kritik dari orang-orang tertentu; terutama para aktivis, politis dan orang-orang yang tidak sepandangan dengan pemahaman saya. Untuk kelompok ini saya biarkan saja. Tidak saya tanggapi. Jika toh ditanggapi hanya sekadarnya saja. Saya tidak mau larut dalam pemikirannya yang politis. Waktu habis tidak bermanfaat. Ujung-ujung nya hanya “debat-kusir” dan merasa paling benar. Haruskah dilanjutkan?

Imsak; Jalan Mengenal Diri

Dari paparan di atas, saya melihat pada diri sendiri bahwa sangat sulit untuk menjadi orang yang sempurna. Tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Bahkan orang yang merasa diri benar, suci bisa juga malahan bermasalah. Orang-orang yang menurut pandangan kita bermasalah, kadang jauh lebih baik daripada apa yang dituduhkan. Manusia hanya bisa menilai dengan dua kacamata; baik dan buruk, obyektif dan subyektif. Dunia Maya disibukan untuk menilai orang lain, dan lupa menilai diri sendiri. Akibatnya dunia semakin kacau. Sebab puncak kebenaran yang memberkahi seluruh alam adalah saat setiap orang mampu melihat diri nya sendiri. dengan cara ini, orang akan mengenal diri, dan akan mengenal Tuhan-nya. namun saat sibuk melihat orang lain, dia akan kesulitan mengenal Tuhan-nya. Itu sabda nabi Muhammad s.a.w.


Alam demokrasi memang menyediakan hal-hal yang demikian. Semua boleh bicara apa saja. Walaupun tidak mempunyai kapasitas dan kapabilitas yang memadai. Jika dilarang, berarti melanggar undang-undang. Tidak dilarang, bicara nabrak-nabrak.  Ada yang berbicara memperbaiki sistem pendidikan, tapi yang mengkritik tidak berpendidikan. Ada bicara yang korupsi, tapi ternyata bagian dari lingkungan orang-orang yang terindikasi korupsi. Bicara penegakan hukum, tapi satu sisi menjadi pelaku pelanggar hukum, bicara agama tapi malah mencabik-cabik ajaran agama. Ini yang terjadi. Dunia saat sekarang ini adalah dunia opini. Crime cyber, perang dunia maya. Kita tidak tahu bicara dengan siapa dan apa. Namun yang pasti, kita sedang berbicara yang bicara apa saja, semua jawaban ada dan benar. Namun tiba-tiba berubah menjadi salah.

Saya merasakan. Banyak orang yang belum mengenal seseorang tapi sudah lebih hebat menilai daripada orang yang dinilai atau dikritik. Dunia Maya semakin semrawut. Jaring-jaring kehidupan terbentuk atas kesamaan kepentingan, yang lucunya sangat pragmatis dan jangka waktu pendek. Hari ini cocok, jadi teman. Besok tidak cocok, jadi lawan. Titik.

Dari sini saya diajari untuk lebih kembali mengikuti ajaran para leluluhur untuk “eling lan waspada”, yang sebenarnya saripati dari kalimat man ‘arafa nafsahu, ‘arafa rabbahu, siapa yang telah mengenal diri nya maka akan mengenal Tuhan nya. Karenanya, sungguh sangat bahagia kepada siapapun kita dan termasuk saya apabila semakin bertambah umur semakin mengenal diri sendiri. Setiap kejadian bisa menjadi pelajaran untuk “eling dan wasapada”, untuk intropeksi diri dan memperbaiki diri di masa-masa mendatang. Jalan kehidupan ini saya kira lebih meningkatkan kualitas diri daripada sibuk mengoreksi orang lain tapi lupa terhadap diri sendiri. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895