
Sudah beberapa hari ini badan sedikit drop. Apakah penyakit darah rendah kambuh?. Bisa jadi. Kata kawan-kawan, ini akibat makan buah Semangka dan minuman Cincau bisa mempercepat penurunan darah rendah. Bisa jadi. Waktu ikut acara safari Plt Bupati di Peyagun, saya sudah terasa pusing. Saat berbuka puasa, sebelum makan saya langsung menyantap buah semangka. Es buah juga isinya semangka. Jadi, nyaris malam itu perut penuh dengan Es Buah dan buah Semangka. Nasi sangat sedikit. Ketika pulang Rumah, Istri juga membuat Es Cincau yang beli di pinggir jalan. Saya merasakan terasa segar. Waktu puasa biasa saja. Mulai terasa sore hari menjelang berbuka, terasa pusing. Saat Pak Abu Bakar dari Dinas Pariwisata nelpon untuk ikut menghadiri pembukaan lomba Lampu Colok, itu lagi pusing-pusingnya. Jam 21.00 WIB saya datang ke tempat acara. Kepala masih pusing, tapi agak berkurang. Saya ketemu para Kepala Dinas. Mereka pun satu persatu menemui saya dan berjabat tangan. Setelah selesai acara, saya pun mencari minuman Jahe Madu. Harapanya, pusing saya bisa segera sembuh.

Penyakit darah rendah katanya tidak
berbahaya. Namun gara-gara penyakit ini, saya harus berhenti sementara menulis
buku-buku ilmiah. Ada tiga buku ilmiah yang sedang saya siapkan; buku
referensi, bunga rampai, dan buku monograf. Rencana jika ini selesai, langsung
membuat buku ajar mahasiswa. draf nya sudah saya siapkan; buku Legislasi Hukum
Keluarga Islam merupakan kumpulan tulisan Mahasiswa Program Doktor, Buku Ajar
Fiqh Siyasah dan Buku Sosiologi Hukum Islam. Lagi-lagi semua ini harus off dulu.
Sebagai ganti, saya menulis yang ringan-ringan saja untuk mengisi Catatan
Harian saya. Insya Allah jika sudah terkumpul banyak, akan saya jadikan buku.
Saya memang tidak tahu, apakah tulisan saya memberi manfaat kepada masyarakat banyak atau sebaliknya. Saya tidak tahu. Dulu saat saya suka menulis cukup panjang-panjang di facebook, ternyata diam-diam ada yang menyukai. Memang tulisan saya kurang menarik. Sifatnya ilmiah populer. Kadang disertai dengan data-data sumber rujukan. Namun, ada teman saya di Jawa selalu mengikuti FB ku. Dia anggota dewan dari partai PKB. Dia meminta izin akan menerbitkan kumpulan tulisan saya di FB. Ada juga seorang guru yang hobi menulis juga punya keinginan sama. namun karena teman dari jawa yang pertama meminta, saya hanya mengizinkan permintaan pertama dulu.

Ada beberapa orang pernah bertemu kepada ku dan juga langsung menelpon
tentang tulisanku. Mereka biasanya berterima kasih dan akan melaksanakan
pesan-pesan yang telah ditulis di berbagai media. Pernah suatu hari ada
beberapa Professor[Salah Satunya Professor Sudriman Johan, Pengurus Muhamadiyah
Riau], salah satu guru saya merasa
terhormat karena tulisan saya yang telah terbit di Media Massa Riau Pos. Saat saya
duduk-duduk di Masjid dekat UIN Sukajadi, dia memanggilku, Mas, tulisan mu
mantap, teruskan menulis”. Tulisan saya juga dibaca oleh para pegawai seperti
guru-guru dan orang-orang biasa. sepanjang yang saya tahu, mereka berterima
kasih kepadaku. Mungkin mereka tidak mempunyai pemikiran lain kecuali berfikir
untuk kebaikan diri sendiri, sehingga ketika membaca tulisan saya, seolah-olah
memberi jawaban persoalan yang selama ini terjadi.
Namun bukan berarti tulisan saya baik-baik
saja. Banyak juga tulisan saya yang mendapatkan kritik dari orang-orang
tertentu; terutama para aktivis, politis dan orang-orang yang tidak sepandangan
dengan pemahaman saya. Untuk kelompok ini saya biarkan saja. Tidak saya
tanggapi. Jika toh ditanggapi hanya sekadarnya saja. Saya tidak mau larut dalam
pemikirannya yang politis. Waktu habis tidak bermanfaat. Ujung-ujung nya hanya
“debat-kusir” dan merasa paling benar. Haruskah dilanjutkan?
Imsak; Jalan Mengenal Diri
Dari paparan di atas, saya melihat pada diri sendiri bahwa sangat sulit untuk menjadi orang yang sempurna. Tidak ada manusia yang tidak pernah salah. Bahkan orang yang merasa diri benar, suci bisa juga malahan bermasalah. Orang-orang yang menurut pandangan kita bermasalah, kadang jauh lebih baik daripada apa yang dituduhkan. Manusia hanya bisa menilai dengan dua kacamata; baik dan buruk, obyektif dan subyektif. Dunia Maya disibukan untuk menilai orang lain, dan lupa menilai diri sendiri. Akibatnya dunia semakin kacau. Sebab puncak kebenaran yang memberkahi seluruh alam adalah saat setiap orang mampu melihat diri nya sendiri. dengan cara ini, orang akan mengenal diri, dan akan mengenal Tuhan-nya. namun saat sibuk melihat orang lain, dia akan kesulitan mengenal Tuhan-nya. Itu sabda nabi Muhammad s.a.w.

Alam demokrasi memang menyediakan hal-hal
yang demikian. Semua boleh bicara apa saja. Walaupun tidak mempunyai kapasitas
dan kapabilitas yang memadai. Jika dilarang, berarti melanggar undang-undang. Tidak
dilarang, bicara nabrak-nabrak. Ada yang
berbicara memperbaiki sistem pendidikan, tapi yang mengkritik tidak
berpendidikan. Ada bicara yang korupsi, tapi ternyata bagian dari lingkungan
orang-orang yang terindikasi korupsi. Bicara penegakan hukum, tapi satu sisi
menjadi pelaku pelanggar hukum, bicara agama tapi malah mencabik-cabik ajaran
agama. Ini yang terjadi. Dunia saat sekarang ini adalah dunia opini. Crime
cyber, perang dunia maya. Kita tidak tahu bicara dengan siapa dan apa. Namun
yang pasti, kita sedang berbicara yang bicara apa saja, semua jawaban ada dan
benar. Namun tiba-tiba berubah menjadi salah.
Saya merasakan. Banyak orang yang belum
mengenal seseorang tapi sudah lebih hebat menilai daripada orang yang dinilai
atau dikritik. Dunia Maya semakin semrawut. Jaring-jaring kehidupan terbentuk
atas kesamaan kepentingan, yang lucunya sangat pragmatis dan jangka waktu
pendek. Hari ini cocok, jadi teman. Besok tidak cocok, jadi lawan. Titik.
Dari sini saya diajari untuk lebih kembali
mengikuti ajaran para leluluhur untuk “eling lan waspada”, yang
sebenarnya saripati dari kalimat man ‘arafa nafsahu, ‘arafa rabbahu,
siapa yang telah mengenal diri nya maka akan mengenal Tuhan nya. Karenanya,
sungguh sangat bahagia kepada siapapun kita dan termasuk saya apabila semakin
bertambah umur semakin mengenal diri sendiri. Setiap kejadian bisa menjadi
pelajaran untuk “eling dan wasapada”, untuk intropeksi diri dan memperbaiki
diri di masa-masa mendatang. Jalan kehidupan ini saya kira lebih meningkatkan
kualitas diri daripada sibuk mengoreksi orang lain tapi lupa terhadap diri
sendiri.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   129
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   152
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3587
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895