
Melanjutkan catatan harian pada edisi lalu yang berjudul, “Gedung Baru, Semangat Baru”, kali ini saya menulis catatan harian dengan judul, “Ingat Dawuh Mbah Mun, Bermimpi Ketemu Mbah Syafa’at”. Maksud dari Mbah Mun tentu sudah mafhum di Indonesia yaitu K.H. Maimun Zubair, ulama yang sangat dalam ilmunya, dan sangat tawadhu dari Pesantren Al-Anwar Sarang Jawa Tengah. Sebutan Mbah Mun persis sama dengan bapak saya,”Mbah Mun”. bedanya jika bapak[almarhum] kependekatan dari “Munajat”. Entah gimana ceritanya, mantunya Mbah Mun sering ke rumah orang tua saya; Dr.KH. Zurhul Anam atau Gus Anam. Kiai muda yang sering disebut,’kitab berjalan’. Gus Anam itu putranya Mbah Kiai Hisyam[almarhum]. Mas Hamim bilang, Mbah Hisyam masih saudara dengan bapak. Namun saya pun kurang paham dan kurang ngopeni rentetan seduluran tersebut. Ma’lum sejak kecil, sejak mungkin masih bayi umur tiga bulanan, saya sudah ikut dengan keluarga Mbok De di Sirau. Jadi informasi berkaitan kekerabatan terputus. Apalagi keluarga Mbok De saya adalah petani. Isinya tiap hari pergi ke Sawah. Jika musim tandur, saya ikut anak-anak Mbok De’ndaut’ atau bahasa sederhananya mencabut bibit padi yang akan ditanam. Malam hari, kadang ngobor mencari ikan-ikan di sawah. Sebab kalau malam hari, ikan-ikan keluar dari sarang nya, termasuk belut. Airnya jernih, sehingga mudah mendapatkan ikan. Pagi hari biasanya pergi mincing atau nyeser atau juga tawu jika pas hari libur. Bahkan tidak hari libur pun kadang sengaja tidak berangkat dan pergi ke sawah mencari ikan.

Masa itu isinya bermain dan sekolah, tapi tidak suka belajar. Untung saja, saya diselamatkan oleh teman-teman yang berada di Pesantren Raudlatutholibin Sirau. Para Gus putra-putra Kiai seperti Gus Aman[Mujiburrohman yang sekarang jadi pembesar di kementrian agama], Gus Hafidz[ sekarang menjadi ulama dan mendirikan pesantren di daerah dekat Candi Prambanan, dan Gus Ahfas[sekarang menjadi anggota dewan dari Partai PKB Banyumas]. Mereka yang memperkenalkan saya tentang ilmu-ilmu kitab dasar seperti gramatikal bahasa Arab. Jika malam hari, saya sering mendengar para santri di Masjid menghafalkan kitab tasrif amtsilatu tasrifiyah. Pertama mendengar terasa asing, tapi lama-kelamaan sangat menikmati. Soalnya hapalanya menggunakan lagu-lagu. Ada juga sebagian santrii sibuk membawa kitab kuning baik para santri yang sudah sedikit senior dan sudah senior.

Saya dan teman-teman akhirnya ngaji Kitab Kuning.
Para Gus tadi memfasilitasi. Dipilih lah ngaji Kitab Kuning dengan Kiai Dalhar.
Kiai yang sangat sabar, sangat telaten, dan tawadhu sekali. Kitab hapal. Waktu itu
saya ngaji Kitab Ta’lim Muta’alim. Jaraknya saya dengan nya sekitar dua meter. Kami
duduk di Kursi Panjang. Kitab di taruh di atas Meja. Ketika saya membaca dan
salah, dia pun membetulkan. Saya kagum, hebat sekali Kiai satu ini. Itu sebabnya
saya dan teman-teman senang ngaji di Ndalem nya[Rumah nya]. Apalagi Kiai
Dalhar punya dua orang putri yang cantik-cantik, jadi bertambah suka ngaji di
situ. Sayangnya, kedua nya tidak mengenalku. Tapi saya kenal. Daripada terjadi apa
kata pepatah atau istilah “bertepuk sebelah tangan”, saya pun sebatas melirik
saja kalau mereka lewat di depan kami. Mungkin itu yang disebut perasaan cinta.
Mungkin ini juga yang disebut cinta monyet.
Garis hidup saya memang harus ngaji, tapi
tidak harus pandai. Kelihatanya itu takdir saya. Padahal ingin mengahiri ngaji.
Jika bukan karena persahabatan dengan para putra Kiai, saya tidak mengenal
agama. Ingin lari, tapi takdir memang harus tinggal di Pesantren. Akhirnya saya
pun masuk di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi.
Harus ngaji, tidak harus pandai benar-benar terjadi. Saya berusaha ngaji Kitab Kuning, tapi biaya untuk beli kitab tidak ada. Jangankan beli kitab, untuk biaya hidup beli makan pun tidak ada. Akhirnya, saya pun ngaji kehidupan. Bekerja dan mengabdi kepada Pesantren.

Apa yang saya peroleh selain letih karena
setiap hari bekerja adalah keberkahan bisa bertemu dalam mimpi dengan para kiai yang
menurut saya adalah orang-orang yang sudah maqam menjadi kekasih Allah. Saya bisa
bertemu Mbah Kiai Muhtar Syafaat dan sholat berjamaah denganya. Padahal saya
datang ke Pesantren tersebut, Mbah Kiai sudah meninggal sekitar tiga tahun dan
saya pun belum pernah ketemu sebelumnya. Tapi wajah sama persis yang ada di
dalam Foto Kalender. Saya juga bermimpi ketemu guru-guru saya terutama Mbah
Kiai Mukhosis Nur[Almarhum]. Mungkin paling sering saya bermimpi ketemu
denganya. Para ulama sering saya ketemu dalam alam mimpi. Dialam mimpi ini juga
saya sering melihat kitab-kitab klasik, yang saat dalam mimpi saya bisa membaca
dengan lancar. Tapi saat terjaga, saya belum bisa. Akhirnya perasaan sedih pun
melanda. Betapa hidup ini terasa gelap saat tidak bisa membaca Kitab Kuning.
Saya membuka youtuber. Ada mau’idlatul haanah
Mbah Maimun Zubair, bahwa tradisi ulama yang tidak boleh ditinggalkan adalah
tradisi ngaji ‘Kitab Gundul’ dan memaknai model Arab Pegon. Kalimatnya
sederhana, namun diucapkan dengan hati yang bersih, ikhlas telah menggetarkan
hatiku. Saya merasa bersalah dan menyesal, kenapa dulu saya tidak ngaji dengan
serius agar saya bisa membaca Kitab Kuning. Namun waktu berjalan terus dan
tidak akan kembali lagi. Untuk menghibur diri, saya pun menyakini bahwa Allah
sudah mengatur cara terbaik untuk hamba-hamba-Nya.
Di sela-sela mengajar kuliah mahasiswa,
saya memperkenalkan Kitab Kuning yang tipis-tipis kepada mereka. Kadang ada waktu senggang,
saya meminta beberapa mahasiwa bertemu dengan ku “ngaji bareng” Kitab Kuning. Saya
baca, mereka mengikutinya. Semoga cara ini sudah menjadi bagian dari ketaatan
saya kepada perintah para ulama dan diakui menjadi bagian dari santri-santri
mereka. Tidak apa-apa menjadi santri yang terakhir, yang penting diakui sebagai
santri mereka. Amin.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2984
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884