Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Iqra’, Pesan Terpenting Tuhan Yang Terlupakan



Sabtu , 15 Maret 2025



Telah dibaca :  712

Ketika mulai menuangkan kata-kata dalam tulisan, saya teringat kalimat iqra’ yang menjadi kata kunci wahyu pertama turun pada agama terakhir yang disebut agama Islam. Empat belas abad yang lalu, Tuhan telah berfirman tentang pembuka peradaban terbaik dalam pandangan islam dan juga pandangan setelahnya, yaitu iqra’. Empat belas abad yang lalu, saat tumbuh subur tradisi menghapal di kalangan Bangsa Arab, Tuhan memerintah kepada umat Islam untuk membaca. Sebab membaca merupakan pintu kecil yang mampu membuka lebar-lebar pintu peradaban tanpa batas. Melalui membaca, dunia bisa dilihat, bisa dipahami, dan bisa dijadikan rujukan kebaikan dan menghindari hal-hal yang menimbulkan kerusakan.

Sayangnya, pesan kata pertama firman Allah tersebut kelihatannya banyak diabaikan. Setelah Nabi meninggal, para sahabat lebih dominan memperluas wilayah kekuasaan. Berhasil dengan gemilang. Ketika memasuki Era Bani Umayyah,Abbasiyah dan Dinasti setelahnya, tradisi perluasan kekuasaan terus dilakukan. Pada periode ini sudah sangat baik kesadaran tradisi membaca.  Sudah sangat aktif meletakan tradisi membaca. Ribuan kitab-kitab dari negara Romawi, Yunani dan Persia dibeli oleh para khalifah Islam pada masa itu. Para ahli bahasa menterjemahkan beragam agama dikerahkan untuk memindahkan ke dalam Bahasa Arab. Saat itulah, Islam mulai mengenal ilmu-ilmu umum secara sistematis dan melahirkan para ilmuwan hebat pada masa nya. Tradisi iqra benar-benar mengantarkan Islam mencapai puncak mercusuar peradaban.

Namun tradisi membaca saat itu belum membudaya di kalangan para raja, putra mahkota, dan kaum bangsawan. Terbatas pada kalangan ilmuwan dan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk mengkajinya. Sedangkan para khalifah dan kaum bangsawan tidak begitu membutuhkan. Mereka telah mendapatkan kenikmatan jabatan, harta benda, dan kemewahan.

Beberapa waktu yang lalu, penulis telah sedikit menceritakan kisah tersebut di atas dalam Buku Muqadimah Ibnu Khaldun. Sedikit saya mengulas, bahwa orientasi para raja, putra mahkota dan para bangsawan lebih berpusat pada kekuasaan. Benar mereka telah mempunyai konstribusi besar dalam kemajuan ilmu pengetahuan islam. tapi tidak meresap kepada seluruh pewaris kekhalifahan. Sejarah telah mencatat salah satu penyebab hancur negara Islam saat itu yaitu para penguasa terlena pada kekuasaan dan mengabaikan kekuatan ilmu pengetahuan.

Akibat nya, pondasi ilmu pengetahuan sebenarnya saat itu masih bersifat parsial sebagai penyangga kebesaran Islam. para khalifah dan para bangsawan kurang memperhatikan dunia akademik. Dunia ini diserbu oleh kelompok-kelompok budak, rakyat biasa yang tidak bisa masuk sebagai pejabat negara dan kaum bangsawan. Mereka memilih pekerjaan tersebut dan mendapatkan bayaran. Dari sini, islam berkembang. Jika para khalifah dan putra-putra mahkota dan kaum bangsawan memfokuskan diri pada kualitas ilmu pengetahuan, kemungkinan-kemungkinan hancur tidak terjadi atau seandainya terjadi tidak secepat dalam kilasan sejarah saat itu. Masih ada kesempatan para putra mahkota membangun kembali kejayaan Islam dengan tinta-tinta ilmu pengetahuan. Tapi hal itu tidak terjadi.Obor peradaban benar-benar berpindah ke dunia barat. Dulu gelap gulita, kini bangsa barat menjadi terang-benderang. Kini negara-negara Islam, yang dulu sangat terang benderang, kini [suka atau tidak suka] sudah berada pada kekuasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa barat yang setiap hari kita selalu membenci mereka. Tangan kita tidak bisa lepas dari HP, Android, Iphone, Laptop, Internet dan Media Sosial.

Umat Islam pasti tidak meragukan orisinalitas dari firman Tuhan. Mereka sangat yakin terhadap kebenaran terhadap firman-firman-Nya. Namun ternyata suatu keyakinan tanpa melakukan analisis-analisis terhadap firman-firman-Nya menyebabkan ayat-ayat sebatas mantra dan sebatas urusan spiritual yang kering dari ruh-ruh ilmu pengetahuan. Akibatnya, umat Islam menjadi “kelompok kagetan” dan terasing dari kancah konstelasi peradaban. Ketidakmampuan menghadapi persaingan ini yang menyebabkan sebagian umat Islam frustasi, stress dan mudah menyalahkan kelompok-kelompok yang dianggap telah menyebarkan budaya-budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam.  Dan sejarah sosial selalu membuktikan realita tersebut.

Padahal budaya sangat dinamis. Sudah menjadi hukum alam, hanya budaya-budaya dari bangsa dan negara yang kuat yang akan mempengaruhi budaya-budaya masyarakat yang lemah baik ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi dan kekuatan serta kekuasaan.

Umat Islam marah itu wajar. Yang tidak wajar jika kerjanya marah-marah tanpa memperbaiki kualitas diri. Idealisme itu penting. Kebencian terhadap maksiat itu wajib. Sekali lagi, jika idealisme tanpa dibarengi kualitas diri akan melahirkan kesholehan-kesholehan semu yang terjebak pada perilaku “kemarukisme” akibat dari ketidakmampuan merubah diri dari realita yang ada di masyarakat.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872