
Ketika mulai menuangkan kata-kata dalam
tulisan, saya teringat kalimat iqra’ yang menjadi kata kunci wahyu pertama
turun pada agama terakhir yang disebut agama Islam. Empat belas abad yang lalu,
Tuhan telah berfirman tentang pembuka peradaban terbaik dalam pandangan islam
dan juga pandangan setelahnya, yaitu iqra’. Empat belas abad yang lalu, saat
tumbuh subur tradisi menghapal di kalangan Bangsa Arab, Tuhan memerintah kepada
umat Islam untuk membaca. Sebab membaca merupakan pintu kecil yang mampu
membuka lebar-lebar pintu peradaban tanpa batas. Melalui membaca, dunia bisa
dilihat, bisa dipahami, dan bisa dijadikan rujukan kebaikan dan menghindari
hal-hal yang menimbulkan kerusakan.
Sayangnya, pesan kata pertama firman Allah
tersebut kelihatannya banyak diabaikan. Setelah Nabi meninggal, para sahabat
lebih dominan memperluas wilayah kekuasaan. Berhasil dengan gemilang. Ketika
memasuki Era Bani Umayyah,Abbasiyah dan Dinasti setelahnya, tradisi perluasan kekuasaan
terus dilakukan. Pada periode ini sudah sangat baik kesadaran tradisi membaca. Sudah sangat aktif meletakan tradisi membaca. Ribuan
kitab-kitab dari negara Romawi, Yunani dan Persia dibeli oleh para khalifah Islam
pada masa itu. Para ahli bahasa menterjemahkan beragam agama dikerahkan untuk
memindahkan ke dalam Bahasa Arab. Saat itulah, Islam mulai mengenal ilmu-ilmu
umum secara sistematis dan melahirkan para ilmuwan hebat pada masa nya. Tradisi
iqra benar-benar mengantarkan Islam mencapai puncak mercusuar peradaban.
Namun tradisi membaca saat itu belum
membudaya di kalangan para raja, putra mahkota, dan kaum bangsawan. Terbatas
pada kalangan ilmuwan dan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk
mengkajinya. Sedangkan para khalifah dan kaum bangsawan tidak begitu
membutuhkan. Mereka telah mendapatkan kenikmatan jabatan, harta benda, dan
kemewahan.
Beberapa waktu yang lalu, penulis telah
sedikit menceritakan kisah tersebut di atas dalam Buku Muqadimah Ibnu Khaldun. Sedikit
saya mengulas, bahwa orientasi para raja, putra mahkota dan para bangsawan
lebih berpusat pada kekuasaan. Benar mereka telah mempunyai konstribusi besar
dalam kemajuan ilmu pengetahuan islam. tapi tidak meresap kepada seluruh pewaris
kekhalifahan. Sejarah telah mencatat salah satu penyebab hancur negara Islam
saat itu yaitu para penguasa terlena pada kekuasaan dan mengabaikan kekuatan
ilmu pengetahuan.
Akibat nya, pondasi ilmu pengetahuan
sebenarnya saat itu masih bersifat parsial sebagai penyangga kebesaran Islam. para
khalifah dan para bangsawan kurang memperhatikan dunia akademik. Dunia ini
diserbu oleh kelompok-kelompok budak, rakyat biasa yang tidak bisa masuk
sebagai pejabat negara dan kaum bangsawan. Mereka memilih pekerjaan tersebut
dan mendapatkan bayaran. Dari sini, islam berkembang. Jika para khalifah dan
putra-putra mahkota dan kaum bangsawan memfokuskan diri pada kualitas ilmu
pengetahuan, kemungkinan-kemungkinan hancur tidak terjadi atau seandainya
terjadi tidak secepat dalam kilasan sejarah saat itu. Masih ada kesempatan para
putra mahkota membangun kembali kejayaan Islam dengan tinta-tinta ilmu
pengetahuan. Tapi hal itu tidak terjadi.Obor peradaban benar-benar berpindah ke
dunia barat. Dulu gelap gulita, kini bangsa barat menjadi terang-benderang. Kini
negara-negara Islam, yang dulu sangat terang benderang, kini [suka atau tidak
suka] sudah berada pada kekuasaan ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa barat
yang setiap hari kita selalu membenci mereka. Tangan kita tidak bisa lepas dari
HP, Android, Iphone, Laptop, Internet dan Media Sosial.
Umat Islam pasti tidak meragukan
orisinalitas dari firman Tuhan. Mereka sangat yakin terhadap kebenaran terhadap
firman-firman-Nya. Namun ternyata suatu keyakinan tanpa melakukan
analisis-analisis terhadap firman-firman-Nya menyebabkan ayat-ayat sebatas
mantra dan sebatas urusan spiritual yang kering dari ruh-ruh ilmu pengetahuan. Akibatnya,
umat Islam menjadi “kelompok kagetan” dan terasing dari kancah konstelasi
peradaban. Ketidakmampuan menghadapi persaingan ini yang menyebabkan sebagian
umat Islam frustasi, stress dan mudah menyalahkan kelompok-kelompok yang
dianggap telah menyebarkan budaya-budaya yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Dan sejarah sosial selalu membuktikan
realita tersebut.
Padahal budaya sangat dinamis. Sudah menjadi
hukum alam, hanya budaya-budaya dari bangsa dan negara yang kuat yang akan
mempengaruhi budaya-budaya masyarakat yang lemah baik ilmu pengetahuan dan
teknologi, ekonomi dan kekuatan serta kekuasaan.
Umat Islam marah itu wajar. Yang tidak
wajar jika kerjanya marah-marah tanpa memperbaiki kualitas diri. Idealisme itu
penting. Kebencian terhadap maksiat itu wajib. Sekali lagi, jika idealisme
tanpa dibarengi kualitas diri akan melahirkan kesholehan-kesholehan semu yang
terjebak pada perilaku “kemarukisme” akibat dari ketidakmampuan merubah
diri dari realita yang ada di masyarakat.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872