Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Islam Inovasi



Selasa , 16 Juli 2024



Telah dibaca :  503

Islam Inovasi

Hari ini saya mendapat keberkahan diskusi bersama peneliti sekaligus budayawan senior, yaitu Gus Ngatowi ( Dr.Ngatowi Al-Zastrow,S.Ag, M.Si) dan Kyai Suaedy (Dr.Ahmad Suaedy,M.Hum). Di sela-sela diskusi saya bilang begini sama Gus Ngatowi,”Saya cukup  sering membaca buku dan pemikiranmu, tapi berfoto bareng dengan mu yang belum pernah”. Dia tertawa dan langsung menarik tubuhku untuk berfoto bersama.

Dikalangan akademisi keduanya sudah tidak diragukan lagi kema’riftannya berkaitan dengan persoalan sosial, agama, budaya dan politik. Selain akademisi yang berkecimpung dalam penelitian ilmiah, keduanya sudah malang melintang mengisi berbagai seminar di perbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta, dalam dan luar negeri. Agak sedikit berbeda, Gus Ngatowi lebih sering terlibat dengan kegiatan pagelaran kebudayaan, sehingga keberadaanya lebih mashur ketimbang Kyai Suaedy. Meskipun demikian, bagi kalangan khos pada bidang pengamat sosial, keduanya seperti dua sisi mata uang yang sangat sulit dipisahkan. Sebab kedua-duanya lahir dari rahim pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Tulisan ini tentu saja tidak membahas pemikiran keduanya yang cukup kaya referensi. Saya hanya ingin mengambil sedikit “grantingan” atau “remukan” pemikirannya yang masih bisa diingat dan mencoba untuk mengabadikan dalam tulisan ini. Sebenarnya penulis ingin mengabadikan seluruh pemikirannya, tapi ada seorang guru berpesan kepada ku, “Tulislah apa yang kamu ingat, jangan tulis yang tidak kamu ingat”. Berhubungan hanya ingat kata “Islam Inovasi” dan “ Nation State”, maka saya harus rela menikmatinya dengan senang hati. Ibarat makanan, terlalu sedikit hanya dapat “remukan”, terkadang sedikit tersebut membuat ada ruang untuk mencari remukan lagi untuk menyusun puzzle pemikirannya agar semakin utuh.

Istilah Islam Inovasi yang ditawarkan oleh gus ngatowi sebenarnya bagian dari istilah-istilah yang lebih dahulu muncul seperti “Islam Kaffah”, “Islam Nusantara”, “Islam Modernis” dan “Islam Berkemajuan”. Munculnya berbagai terminologi tersebut berusaha memberikan identitas diri ajaran Islam yang sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad saw pada masa awal munculnya agama Islam. Persoalannya sekarang adalah kelompok mana yang sudah sesuai dengan pesan-pesan ajaran Islam yang sesuai dengan nabi?. Sebab Islam bukan hanya setumpuk amalan ibadah, tetapi juga muamalah yang terus bersentuhan dengan perkembangan masyarakat yang sangat dinamis. Ketika masyarakat muslim telah masuk keberbagai belahan dunia, mereka mempunyai tafsir-tafsir berbeda dalam menterjemahkan ayat-ayat al-qur’an dan hadist-hadist nabi. Keduanya sebagai sumber rujukan utama syariat Islam mempunyai keterbukaan dalam menterjemahkan setiap peristiwa dinamika kehidupan.

Istilah-istilah seperti Islam inovasi, Islam modernis, Islam Berkemajuan atau Islam Nusantara bukan berarti mendesain agama menjadi agama baru yang tercerabut dari ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Ia mencoba menjelaskan hakikat Islam dan nilai-nilainya serta budaya yang membungkus ajaran tersebut yang melahirkan bentuk-bentuk yang beragam tradisi Islam yang hidup di masyarakat. Ketika ajaran Islam lahir di tanah arab, maka budaya-budaya arab membungkus nilai-nilai Islam sehingga mempunyai karakteristik budaya model masyarakat yang secara identitas mempunyai perbedaan dengan karakteristik budaya di luar arab. Hari ini kita bisa melihat keberagaman budaya yang telah membentuk karakteristik beragam masyarakat dunia saat sekarang ini dalam segala aspek kehidupan. Meskipun beragam, pada hal-hal yang bersifat ushul (pokok) semua mempunyai kesamaan seperti syahadat, sholat dan melaksanakan ibadah haji.

Kenapa ibadah bersifat ushul bisa bersatu sedangkan yang bersifat furu’ dan ijtihadi tidak bisa bersatu? Hal ini berangkat dari realita kehidupan, bahwa setiap masyarakat mempunyai karakteristik yang berbeda-beda yang mempengaruhinya baik geografis, sumber daya alam, bahasa, suku dan keberagaman masyarakat yang mendiami daerah tersebut. Mereka merespon dan mengaktualiasikan konstitusi kehidupan beragam yang kemudian hari juga berbeda dalam merespon sistem berbangsa, bernegara dan konstitusinya dalam satu ikatan politik secara formal. Ketika para penguasa dulu mencoba menyamakan dan mempertahankan dalam satu bentuk seperti masa lalu dalam bentuk kekaisaran seperti Romawi dan Persia atau kekhalifahan seperti pada masa kejayaan Khilafah Islamiyah tidak bisa bertahan lama. Secara naluriah, setiap masyarakat ingin melakukan inovasi politik dalam sistem pemerintahan yang dianggap sebagai jalan terbaik untuk mewujudkan cita-cita politiknya. Dari sini kemudian lahir konsep nation-state yang hingga kini menjadi jalan terbaik untuk mengakomodir kearifan-kearifan yang ada di wilayah tersebut. Sehingga makna kekhilafahan menyempit dalam wujud nation-state dan tidak lagi sebagai negara dunia.

Makna kekhilafahan menyempit dalam wujud nation state seperti kerajaan, kesultanan, republik dan lain-lain sebenarnya wujud naluri manusia yang diciptakan secara kelompok dalam wujud “su’uban” dan “qabail”. Dua wujud tersebut berarti Allah telah menciptakan keberagaman yang menjadi media untuk “studi banding” dalam mengelola masyarakatnya menjadi lebih baik. Itu sebabnya, perubahan masyarakat bisa saja mengalami perubahan secara menyeluruh atau sebagian-sebagian saja yang memerlukan transformasi pada bidang-bidang tertentu. Meskipun ada perubahan, kekhasan masyarakat tidak bisa dihilangkannya. Sebab mereka telah membentuk kekhasan karakter yang tidak dimiliki oleh masyarakat lainnya. Itu sebabnya, sistem kekhilafahan Islam senantiasa berbeda model sepanjang perjalanan sejarah kekuasaan Islam baik pada masa  Dinasti Umayyah, Abasiyyah, Kerajaan Islam di wilayah nusantara, Brunai Darussalam dan Arab Saudi.

Tentu saja penulis melihat semua itu bagian dari kekayaan budaya masyarakat setempat ketika berasimilasi dengan agama Islam dan politik. Ia  akan melahirkan inovasi sistem politik dan budaya-budaya masyarakat yang bernafaskan ajaran Islam. inovasi ini kemudian hari juga menjadi identitas setiap Masyarakat, bangsa dan negara Islam masa sekarang ini.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876