
Islam Inovasi
Hari ini saya mendapat keberkahan diskusi
bersama peneliti sekaligus budayawan senior, yaitu Gus Ngatowi ( Dr.Ngatowi
Al-Zastrow,S.Ag, M.Si) dan Kyai Suaedy (Dr.Ahmad Suaedy,M.Hum). Di sela-sela
diskusi saya bilang begini sama Gus Ngatowi,”Saya cukup sering membaca buku dan pemikiranmu, tapi
berfoto bareng dengan mu yang belum pernah”. Dia tertawa dan langsung menarik
tubuhku untuk berfoto bersama.
Dikalangan akademisi keduanya sudah tidak
diragukan lagi kema’riftannya berkaitan dengan persoalan sosial, agama, budaya
dan politik. Selain akademisi yang berkecimpung dalam penelitian ilmiah,
keduanya sudah malang melintang mengisi berbagai seminar di perbagai perguruan
tinggi baik negeri maupun swasta, dalam dan luar negeri. Agak sedikit berbeda, Gus
Ngatowi lebih sering terlibat dengan kegiatan pagelaran kebudayaan, sehingga
keberadaanya lebih mashur ketimbang Kyai Suaedy. Meskipun demikian, bagi
kalangan khos pada bidang pengamat sosial, keduanya seperti dua sisi
mata uang yang sangat sulit dipisahkan. Sebab kedua-duanya lahir dari rahim
pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).
Tulisan ini tentu saja tidak membahas
pemikiran keduanya yang cukup kaya referensi. Saya hanya ingin mengambil
sedikit “grantingan” atau “remukan” pemikirannya yang masih bisa
diingat dan mencoba untuk mengabadikan dalam tulisan ini. Sebenarnya penulis
ingin mengabadikan seluruh pemikirannya, tapi ada seorang guru berpesan kepada
ku, “Tulislah apa yang kamu ingat, jangan tulis yang tidak kamu ingat”.
Berhubungan hanya ingat kata “Islam Inovasi” dan “ Nation State”,
maka saya harus rela menikmatinya dengan senang hati. Ibarat makanan, terlalu
sedikit hanya dapat “remukan”, terkadang sedikit tersebut membuat ada
ruang untuk mencari remukan lagi untuk menyusun puzzle pemikirannya agar
semakin utuh.
Istilah Islam Inovasi yang ditawarkan oleh
gus ngatowi sebenarnya bagian dari istilah-istilah yang lebih dahulu muncul seperti
“Islam Kaffah”, “Islam Nusantara”, “Islam Modernis” dan “Islam Berkemajuan”. Munculnya
berbagai terminologi tersebut berusaha memberikan identitas diri ajaran Islam
yang sesuai dengan ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad saw pada masa awal
munculnya agama Islam. Persoalannya sekarang adalah kelompok mana yang sudah
sesuai dengan pesan-pesan ajaran Islam yang sesuai dengan nabi?. Sebab Islam
bukan hanya setumpuk amalan ibadah, tetapi juga muamalah yang terus bersentuhan
dengan perkembangan masyarakat yang sangat dinamis. Ketika masyarakat muslim
telah masuk keberbagai belahan dunia, mereka mempunyai tafsir-tafsir berbeda
dalam menterjemahkan ayat-ayat al-qur’an dan hadist-hadist nabi. Keduanya
sebagai sumber rujukan utama syariat Islam mempunyai keterbukaan dalam
menterjemahkan setiap peristiwa dinamika kehidupan.
Istilah-istilah seperti Islam inovasi, Islam
modernis, Islam Berkemajuan atau Islam Nusantara bukan berarti mendesain agama
menjadi agama baru yang tercerabut dari ajaran Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad
saw. Ia mencoba menjelaskan hakikat Islam dan nilai-nilainya serta budaya yang
membungkus ajaran tersebut yang melahirkan bentuk-bentuk yang beragam tradisi Islam
yang hidup di masyarakat. Ketika ajaran Islam lahir di tanah arab, maka
budaya-budaya arab membungkus nilai-nilai Islam sehingga mempunyai
karakteristik budaya model masyarakat yang secara identitas mempunyai perbedaan
dengan karakteristik budaya di luar arab. Hari ini kita bisa melihat
keberagaman budaya yang telah membentuk karakteristik beragam masyarakat dunia
saat sekarang ini dalam segala aspek kehidupan. Meskipun beragam, pada hal-hal
yang bersifat ushul (pokok) semua mempunyai kesamaan seperti syahadat, sholat
dan melaksanakan ibadah haji.
Kenapa ibadah bersifat ushul bisa bersatu sedangkan
yang bersifat furu’ dan ijtihadi tidak bisa bersatu? Hal ini berangkat dari realita
kehidupan, bahwa setiap masyarakat mempunyai karakteristik yang berbeda-beda yang
mempengaruhinya baik geografis, sumber daya alam, bahasa, suku dan keberagaman masyarakat
yang mendiami daerah tersebut. Mereka merespon dan mengaktualiasikan konstitusi
kehidupan beragam yang kemudian hari juga berbeda dalam merespon sistem berbangsa,
bernegara dan konstitusinya dalam satu ikatan politik secara formal. Ketika para
penguasa dulu mencoba menyamakan dan mempertahankan dalam satu bentuk seperti
masa lalu dalam bentuk kekaisaran seperti Romawi dan Persia atau kekhalifahan
seperti pada masa kejayaan Khilafah Islamiyah tidak bisa bertahan lama. Secara
naluriah, setiap masyarakat ingin melakukan inovasi politik dalam sistem pemerintahan
yang dianggap sebagai jalan terbaik untuk mewujudkan cita-cita politiknya. Dari
sini kemudian lahir konsep nation-state yang hingga kini menjadi jalan
terbaik untuk mengakomodir kearifan-kearifan yang ada di wilayah tersebut. Sehingga
makna kekhilafahan menyempit dalam wujud nation-state dan tidak lagi
sebagai negara dunia.
Makna kekhilafahan menyempit dalam
wujud nation state seperti kerajaan, kesultanan, republik dan lain-lain sebenarnya
wujud naluri manusia yang diciptakan secara kelompok dalam wujud “su’uban” dan
“qabail”. Dua wujud tersebut berarti Allah telah menciptakan keberagaman
yang menjadi media untuk “studi banding” dalam mengelola masyarakatnya menjadi
lebih baik. Itu sebabnya, perubahan masyarakat bisa saja mengalami perubahan
secara menyeluruh atau sebagian-sebagian saja yang memerlukan transformasi pada
bidang-bidang tertentu. Meskipun ada perubahan, kekhasan masyarakat tidak bisa
dihilangkannya. Sebab mereka telah membentuk kekhasan karakter yang tidak
dimiliki oleh masyarakat lainnya. Itu sebabnya, sistem kekhilafahan Islam
senantiasa berbeda model sepanjang perjalanan sejarah kekuasaan Islam baik pada
masa Dinasti Umayyah, Abasiyyah, Kerajaan
Islam di wilayah nusantara, Brunai Darussalam dan Arab Saudi.
Tentu saja penulis melihat semua itu bagian
dari kekayaan budaya masyarakat setempat ketika berasimilasi dengan agama Islam
dan politik. Ia akan melahirkan inovasi sistem
politik dan budaya-budaya masyarakat yang bernafaskan ajaran Islam. inovasi ini
kemudian hari juga menjadi identitas setiap Masyarakat, bangsa dan negara Islam
masa sekarang ini.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3569
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876