Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Istighosah dan Kerinduan Sang Kekasih



Senin , 29 Januari 2024



Telah dibaca :  877

Malam semakin larut, Sang Ulama  belum juga bisa memejamkan mata. Malam itu seolah-olah telah hilang rasa kantuknya. Entah apa sebabnya. Sangat sulit mengidentifikasi penyebabnya. Mungkin terlalu banyak persoalan, sehingga mengendap dalam hati dan pikiran. Akibat  terlalu banyak endapan, sehingg sangat sulit mana dulu yang harus diurai dan dihilangkan dari alam pikirannya.

Sang ulama  membaca segala wirid dan amalan-amalan untuk bertaqarub kepada Allah swt. Harapannya bisa tidur. Biasanya, jika ada persoalan sang ulama tadi menjalankan olah batin, wirid dan amalan sangat membantu menetralisir perasaan yang berkecamuk dalam hati. Namun, kali ini segala ritual belum membuahkan hasilnya. Seluruh amalan, wirid telah dibaca. Tapi juga tetap gagal. Akhirnya, dia keluar rumah dan jalan-jalan agar bisa membantu suasana yang gundah tapi tidak tahu penyebabnya.

Saat berjalan beberapa langkah, ada seorang pemuda kurus tidur di lantai depan rumahnya dengan berselimut kain lusuh dan kotor. Sang ulama tadi bertanya,”Mas, kenapa tidur di lantai rumah ku”. Sang pemuda tadi menjawab, “Saya sudah beberapa hari belum makan. Bisakah tuan memberiku seporong roti untuk mengganjal perutku”. Sang ulama tadi terlihat kurang respek terhadap jawaban pemuda tersebut dan menganggap nya orang yang hilang akal. Dia ditinggalkan begitu saja, lalu dia kembali ke rumah dan tidur.

Alhasil saat  tertidur beberapa menit diapun bermimpi bertemu orang suci. Orang tersebut memerintah kepadanya agar memberi makan kepada seorang pemuda yang tidur di depan rumah nya. Sambil marah-marah, orang suci tadi menghardik sang ulama sambil membacakan Q.S. Al-Ma’un[30]:1-7 yang artinya:  “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?", adalah orang yang menghardik anak yatim. dan tidak mendorong memberi makan orang miskin. "Maka celakalah orang yang shalat," (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya," "yang berbuat ria," "dan enggan (memberikan) bantuan."

Sang ulama kaget. Dia pun terbangun penuh dengan ketakutan. Mimpi tersebut begitu sangat jelas. Manusia suci tadi menghardik, marah dan menyuruh agar memberi makan kepada sang pemuda yang berada di luar rumah. Sang ulama pun segera mengambil beberapa potong kueh. Dan segera dia keluar dan menemui nya. Sang pemuda pun berkata, “Haruskah anda berbuat baik ketika ada orang yang telah menegurmu di waktu tidur?”. Setelah itu, pemuda itupun pergi dan hilang dalam kegelapan malam.

Saya, anda dan kita yang membaca artikel ini mungkin bukan seorang ulama. Meskipun orang lain sudah menyebutnya sebagai ulama, percayalah kita bukan ulama yang sesungguhnya. Syarat ulama itu sangat berat dan banyak. Seorang ulama itu laksana mutiara yang luar nya menggambarkan isi dalam nya, mempesona dan menyejukan hati serta mengingatkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Wajah  dan perilaku kita belum sampai maqam itu. Wajah kita adalah wajah banyak hutang, banyak masalah, banyak berdusta, banyak menipu, banyak menyakiti pasangan, banyak menyakiti anak, banyak menyakiti tetangga, rekan sejawat dan masyarakat luas. Wajah kita benar-benar kurang membawa berkah. Kita mungkin tidak pernah bermimpi dihampiri para ulama, para kekasih Allah untuk menasihati kita. Hati terlalu kotor menyebabkan para kekasih Allah malas menyapa kita dalam tidur kita di malam hari.

Kita bukan level ulama. Tapi kita juga menginginkan keberkahan hidup sebagaimana para ulama. Kita sangat mengharapkan bahwa hidup yang sebentar ini bisa memberi manfaat kepada diri sendiri dan orang lain. Semua ini membutuhkan kekuatan dan pertolongan dari Allah swt atau sering disebut istighosah. Tanpa pertolongan-Nya sangat sulit untuk mencapai suatu tujuan.

Istighosah mempunyai makna “thalab al-ghaus ‘inda syiddati wa dziiqi”, meminta pertolongan ketika dalam keadaan sukar dan sulit”. Istighosah bukan sebatas persoalan duniawiyah. Ia berkaitan persoalan yang sangat urgen yaitu ruhaniah. Saya kira memperbaiki diri berkaitan dengan persoalan ruhaniah adalah sesuatu yang maha penting. Jika berkaitan dengan pekerjaan, karir adalah persoalan yang bisa datang dan berganti. Tapi persoalan kecintaan, mahabbah adalah persoalan ruhaniah kita kepada sang kekasih. Anda mungkin masih bisa minum kopi dan bergurau dengan teman-teman nya saat gagal mendaftar di perguruan tinggi bergengsi, jabatan yang dicita-citakan, karir yang didambakan atau bisnis yang gagal. Anda masih bisa mengatakan begini, “Masih ada kesempatan lagi”, atau “ Belum rezeki nya”.

Tapi saat anda kena marah, dihianati, dan diputuskan oleh sang kekasih, maka sakitnya bisa berseri, hilang-timbul terus-menerus. Bahkan bisa jadi permusuhan dan kebencian baik secara siri maupun terbuka. Anda atau bahkan bisa jadi mantan anda akan membuka segala kenangan yang tidak baik dan terkadang menjadi konsumsi publik yang kemudian menghancurkan hidup anda. Sangat menyakitkan.

Kita tentu tidak ingin berpisah dengan Sang Kekasih saat para kekasih meninggalkan diri kita. Kita membutuhkan sang kekasih yang kekal abadi saat para kekasih yang hadir bersifat fana dan akan musnah.  Anda dan kita membutuhkan sang kekasih sejati yang tidak pernah meninggalkan kita yaitu Allah swt dan Rasulullah saw. Sang Nabi yang agung pernah dawuh begini, "Jika seorang hamba mendekati-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya satu hasta. Jika dia mendekati-Ku satu hasta, niscaya Aku mendekatinya satu depa. Jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, niscaya Aku mendatanginya dengan berlari kecil”. Bahkan kedekatan kita dengan Allah tanpa jarak. Q.S. Al-Baqarah [2]: 186 berbunyi, “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Apakah kita seorang kekasih sejati yang mempunyai cinta suci atau cinta palsu? Apakah kita benar-benar mencintai Tuhan dan cemburu kita kepada orang lain karena Tuhan atau karena egoisme diri yang merasa lebih hebat dari orang lain? Apakah kita benar-benar mencintai-Nya atau sebatas “ngaku-ngaku” bahwa kita telah mencintai-Nya. Apakah kita juga sudah mengungkapkan isi hatinya, tapi masih tetap dihati atau sudah ada realisasi dalam keseharian kita? Banyak lagi pertanyaan untuk “nggrayahi” hakikat cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

Allah telah memberi tanda cinta sejati yaitu konsisten menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala yang telah dilarang oleh-Nya. Konsisten tersebut didasari atas totalitas keyakinan kepada Allah swt. Keyakinan bukan hanya sebatas yakin, tapi ada rasa kedalaman cinta kepada-nya. Sehingga kita saling percaya. Tuhan memberi rahmat kepada kita, dan kita mendapatkan rahmat dari-nya dengan penuh kemesraan. Ketika kita hidup sudah saling percaya kepada sang kekasih, kenapa kita harus curiga dan menuduh sang kekasih menghianati janji-nya. Padahal bahasa cinta adalah istighosah tertinggi ketika bertemu dengan-Nya, bahkan saat tidak bertemu dengan-Nya, cinta semakin membara ingin berjumpa dengan-Nya. Jadi, istighosah  bukan sebuah keputus-asaan dan kesedihan tidak mendapatkan sesuatu selain dari-nya, tapi karena luapan cinta yang tidak muat dalam hati, maka rangkaian-rangkaian tulisan, ucapan dan perkataan menghiasi orang yang sedang jatuh cinta karena rindu yang mendalam kepada Sang Kekasih yang dicintainya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam Hakim

Cinta, mencintai, dicintai..

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876