
Malam semakin larut, Sang Ulama belum juga bisa memejamkan mata. Malam itu
seolah-olah telah hilang rasa kantuknya. Entah apa sebabnya. Sangat sulit
mengidentifikasi penyebabnya. Mungkin terlalu banyak persoalan, sehingga mengendap
dalam hati dan pikiran. Akibat terlalu
banyak endapan, sehingg sangat sulit mana dulu yang harus diurai dan
dihilangkan dari alam pikirannya.
Sang ulama membaca segala wirid dan amalan-amalan untuk bertaqarub
kepada Allah swt. Harapannya bisa tidur. Biasanya, jika ada persoalan sang
ulama tadi menjalankan olah batin, wirid dan amalan sangat membantu
menetralisir perasaan yang berkecamuk dalam hati. Namun, kali ini segala ritual
belum membuahkan hasilnya. Seluruh amalan, wirid telah dibaca. Tapi juga tetap
gagal. Akhirnya, dia keluar rumah dan jalan-jalan agar bisa membantu suasana
yang gundah tapi tidak tahu penyebabnya.
Saat berjalan beberapa langkah, ada
seorang pemuda kurus tidur di lantai depan rumahnya dengan berselimut kain
lusuh dan kotor. Sang ulama tadi bertanya,”Mas, kenapa tidur di lantai rumah
ku”. Sang pemuda tadi menjawab, “Saya sudah beberapa hari belum makan. Bisakah
tuan memberiku seporong roti untuk mengganjal perutku”. Sang ulama tadi
terlihat kurang respek terhadap jawaban pemuda tersebut dan menganggap nya
orang yang hilang akal. Dia ditinggalkan begitu saja, lalu dia kembali ke rumah
dan tidur.
Alhasil saat tertidur beberapa menit diapun bermimpi
bertemu orang suci. Orang tersebut memerintah kepadanya agar memberi makan
kepada seorang pemuda yang tidur di depan rumah nya. Sambil marah-marah, orang
suci tadi menghardik sang ulama sambil membacakan Q.S. Al-Ma’un[30]:1-7 yang
artinya: “Tahukah kamu (orang) yang
mendustakan agama?", adalah orang yang menghardik anak yatim. dan tidak
mendorong memberi makan orang miskin. "Maka celakalah orang yang shalat," (yaitu)
orang-orang yang lalai terhadap shalatnya," "yang berbuat ria," "dan enggan (memberikan) bantuan."
Sang ulama kaget. Dia pun terbangun
penuh dengan ketakutan. Mimpi tersebut begitu sangat jelas. Manusia suci tadi
menghardik, marah dan menyuruh agar memberi makan kepada sang pemuda yang
berada di luar rumah. Sang ulama pun segera mengambil beberapa potong kueh. Dan
segera dia keluar dan menemui nya. Sang pemuda pun berkata, “Haruskah anda
berbuat baik ketika ada orang yang telah menegurmu di waktu tidur?”. Setelah
itu, pemuda itupun pergi dan hilang dalam kegelapan malam.
Saya, anda dan kita yang membaca
artikel ini mungkin bukan seorang ulama. Meskipun orang lain sudah menyebutnya
sebagai ulama, percayalah kita bukan ulama yang sesungguhnya. Syarat ulama itu
sangat berat dan banyak. Seorang ulama itu laksana mutiara yang luar nya
menggambarkan isi dalam nya, mempesona dan menyejukan hati serta mengingatkan
kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Wajah
dan perilaku kita belum sampai maqam itu. Wajah kita adalah wajah
banyak hutang, banyak masalah, banyak berdusta, banyak menipu, banyak menyakiti
pasangan, banyak menyakiti anak, banyak menyakiti tetangga, rekan sejawat dan
masyarakat luas. Wajah kita benar-benar kurang membawa berkah. Kita mungkin
tidak pernah bermimpi dihampiri para ulama, para kekasih Allah untuk menasihati
kita. Hati terlalu kotor menyebabkan para kekasih Allah malas menyapa kita
dalam tidur kita di malam hari.
Kita bukan level ulama. Tapi kita
juga menginginkan keberkahan hidup sebagaimana para ulama. Kita sangat
mengharapkan bahwa hidup yang sebentar ini bisa memberi manfaat kepada diri
sendiri dan orang lain. Semua ini membutuhkan kekuatan dan pertolongan dari Allah
swt atau sering disebut istighosah. Tanpa pertolongan-Nya sangat sulit untuk
mencapai suatu tujuan.
Istighosah mempunyai makna “thalab
al-ghaus ‘inda syiddati wa dziiqi”, meminta pertolongan ketika dalam
keadaan sukar dan sulit”. Istighosah bukan sebatas persoalan duniawiyah. Ia berkaitan
persoalan yang sangat urgen yaitu ruhaniah. Saya kira memperbaiki diri
berkaitan dengan persoalan ruhaniah adalah sesuatu yang maha penting. Jika
berkaitan dengan pekerjaan, karir adalah persoalan yang bisa datang dan
berganti. Tapi persoalan kecintaan, mahabbah adalah persoalan ruhaniah
kita kepada sang kekasih. Anda mungkin masih bisa minum kopi dan bergurau
dengan teman-teman nya saat gagal mendaftar di perguruan tinggi bergengsi,
jabatan yang dicita-citakan, karir yang didambakan atau bisnis yang gagal. Anda
masih bisa mengatakan begini, “Masih ada kesempatan lagi”, atau “ Belum
rezeki nya”.
Tapi saat anda kena marah,
dihianati, dan diputuskan oleh sang kekasih, maka sakitnya bisa berseri,
hilang-timbul terus-menerus. Bahkan bisa jadi permusuhan dan kebencian baik
secara siri maupun terbuka. Anda atau bahkan bisa jadi mantan anda akan
membuka segala kenangan yang tidak baik dan terkadang menjadi konsumsi publik
yang kemudian menghancurkan hidup anda. Sangat menyakitkan.
Kita tentu tidak ingin berpisah
dengan Sang Kekasih saat para kekasih meninggalkan diri kita. Kita membutuhkan
sang kekasih yang kekal abadi saat para kekasih yang hadir bersifat fana dan
akan musnah. Anda dan kita membutuhkan
sang kekasih sejati yang tidak pernah meninggalkan kita yaitu Allah swt dan Rasulullah
saw. Sang Nabi yang agung pernah dawuh begini, "Jika seorang hamba
mendekati-Ku sejengkal, niscaya Aku mendekatinya satu hasta. Jika dia
mendekati-Ku satu hasta, niscaya Aku mendekatinya satu depa. Jika dia
mendatangi-Ku dengan berjalan kaki, niscaya Aku mendatanginya dengan berlari
kecil”. Bahkan kedekatan kita dengan Allah tanpa jarak. Q.S. Al-Baqarah
[2]: 186 berbunyi, “Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad)
tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi
(perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
Apakah kita seorang kekasih sejati
yang mempunyai cinta suci atau cinta palsu? Apakah kita benar-benar mencintai Tuhan
dan cemburu kita kepada orang lain karena Tuhan atau karena egoisme diri
yang merasa lebih hebat dari orang lain? Apakah kita benar-benar mencintai-Nya
atau sebatas “ngaku-ngaku” bahwa kita telah mencintai-Nya. Apakah kita
juga sudah mengungkapkan isi hatinya, tapi masih tetap dihati atau sudah ada
realisasi dalam keseharian kita? Banyak lagi pertanyaan untuk “nggrayahi”
hakikat cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.
Allah telah memberi tanda cinta
sejati yaitu konsisten menjalankan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan segala
yang telah dilarang oleh-Nya. Konsisten tersebut didasari atas totalitas
keyakinan kepada Allah swt. Keyakinan bukan hanya sebatas yakin, tapi ada rasa
kedalaman cinta kepada-nya. Sehingga kita saling percaya. Tuhan memberi rahmat
kepada kita, dan kita mendapatkan rahmat dari-nya dengan penuh kemesraan. Ketika
kita hidup sudah saling percaya kepada sang kekasih, kenapa kita harus curiga
dan menuduh sang kekasih menghianati janji-nya. Padahal bahasa cinta adalah istighosah
tertinggi ketika bertemu dengan-Nya, bahkan saat tidak bertemu dengan-Nya,
cinta semakin membara ingin berjumpa dengan-Nya. Jadi, istighosah bukan sebuah keputus-asaan dan kesedihan tidak
mendapatkan sesuatu selain dari-nya, tapi karena luapan cinta yang tidak muat
dalam hati, maka rangkaian-rangkaian tulisan, ucapan dan perkataan menghiasi
orang yang sedang jatuh cinta karena rindu yang mendalam kepada Sang Kekasih yang
dicintainya.
Penulis : Imam Ghozali
Imam Hakim
Cinta, mencintai, dicintai..
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876