
Alhamdulillah, malam hari ini para Pengurus PCNU dan banom-banom nya hadir di acara rutinan istighosah. Saya lihat yang hadir; Kiai Muhammad Dalhar Rois Syuriah, Kiai Muhammad Shodiq,S.Pd.I Katib Syuriah, Dr Imam Ghozali Sekretaris PCNU, Kiai Mardio Hasan, S.Pd.I Bendahara PCNU, dan Pengurus PCNU lain Seperti Kiai Mungidan, Ustadz Muhammad Taufik, dan Pengurus MWC NU. Hadir juga Drs.H.Sulman Kepala Kemenag, Arif, St, M.Kom Rektor Its, Kiai Agusafri, S.Pd Ketua LPTQ, sahabat-sahabat Ansor seperti Mas Yasin, Mas Mutaqin dan lain-lain. ini diluar dugaan, cuaca yang masih terasa dingin karena beberapa hari ini hujan terus tidak mengurangi semangat para kader NU untuk ngurip-ngurip tradisi NU yaitu istighosah yang dalam bahasa Indonesia memohon pertolongan atau permohonan hanya kepada Allah s.w.t.

Kegiatan istighosah ini sudah berjalan sekitar tigat tahun lebih dua bulan. Kegiatan ini sebenarnya sebatas ide spontanitas saja. Saat itu, Kiai Mungidan mengatakan bahwa kegiatan NU jangan hanya mikir struktural saja, tapi juga harus kultural. Saya pun waktu itu ngobrol dengan para kiai dan punya usul kalau Kiai Mungidan mengisi istighosah, kiai dalhar dan kiai nurdin ngaji kitab kuning dan saya bagian merapikan organisasi. Namun karena ada kesibukan, Kiai Nurdin ngaji di Pesantrenya dan Kiai Dalhar pun demikian. Namun pengajian masih tetap berjalan. Kiai dalhar masih berjalan ngaji Kitab Kuning yaitu Ihya Ulumuddin. Sedangkan untuk penataan organisasi, saya mendapat tugas. Alhamdulillah saya bersama teman-teman aktiivis NU sudah membentuk kepengurusan MWCNU seluruh Kecamatan. Yang belum dibuat SK nya tinggal Kecamatan Merbau. Pengurusnya sudah terbentuk satu tahun yang lalu, tapi belum sempat saya ketik Ketuanya Gus Zainal.

Kiai Mungidan yang memimpin istighosah.
Dia berasal dari Rangsang Barat. Harus menyebrang naik kempang. Berangkat sore
pulang malam hari. Korban waktu, tenaga dan biaya. Setelah memimpin istighosah,
dia pun melanjutkan pengajian Kitab Kuning. Saya Tanya katanya kadang sampai
jam 12 malam. Makanya, terkadang dibuat istighosah
keliling. Sekali-kali istighosah di Pesantrennya, kami pun datang ke Pesantrennya.
Gantian silaturahim.
Selesai istighosah tuan rumah sudah menyiapkan air minum. Minimal air kopi. Kadang ada juga jamaah dan muhibbin yang membawa cangkingan. Jadi kegiatan ini tidak membahas untung rugi. Sebab dalam tradisi NU, silaturahim itu sangat penting. Jika sudah terbangun dengan baik, segala kegiatan berjalan dengan baik. Bayangkan saja, mengundang banyak orang cukup hanya kirim undangan ala kadarnya. Mereka pun sudah datang.

Maka kunci menghidupkan NU sebenarnya
adalah silaturahim tanpa batas. Sebab semua kegiatan tradisi NU selalu
berhubungan dengan kekuatan silaturahim; al-barzanji, tahlil, yasinan,
istighosah, khataman al-Qur’an, simaan al-Qur’an, hafalan al-Qur’an,
tiga hari, tujuh hari, empat puluh hari, khaul dan lain-lain.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2982
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884