
Beberapa tahun lalu saya berkumpul dengan orang-orang hebat “Min Jumlatil ‘Ulama” muda dari
kader nu kabupaten kepulauan meranti seperti Muhamad Nurdin, Khosairi, Muhammad
Dalhar, Mardio Hasan, Abdul Rauf, Mungidan Al-Hafidz, Moh. Shodiq, Chanifuddin
dan lain-lain. Salah satu tema yang diangkat cukup hebat, yaitu: mengangkat
marwah NU. Beberapa usulan yang masuk antara lain; Pertama, mendirikan
Lembaga Perguruan Tinggi yang berciri khas NU; kedua, mendirikan pesantren yang
tidak mengajar ilmu agama saja, tetapi santri juga mendapat pendidikan
kewirausaahaan, peternakan, dan pertanian; Ketiga, mendirikan Kantor PCNU bersama
badan otonom.
Saya mendengar beberaa usulan kiai muda atau intelektual muda NU tentu saja
sangat setuju. Saya “mbatin” bahwa mereka mempunyai ghirah besar untuk
menghidupan ajaran aswaja di Tanah Jantan. Saya betul-betul mendapatkan berkah
dari “sawir” para pejuang NU, terutama berkah bagaimana cara merokok menggunakan
metode Imam Malik,”Tidak perlu beli rokok, tapi bisa merokok lebih dari satu”. Agar
terlihat professional, kami pun membuat semacam maping dan mengumpulkan data
berbagai kemungkinan-kemungkinan dari berbagai cita-cita tersebut lebih mudah
terealisasikan. Akhirnya dibahas satu-satu, pertama jika mendirikan perguruan
tinggi membutuhkan beberapa yang tidak boleh dilupakan berupa; jumlah calon
dosen dengan ijazah minimal S2 yang linear dengan program studi yang dibutuhkan
minimal satu prodi 6 orang, gedung perkuliahan dan tidak lupa dukungan dana
yang kuat. Kedua mendirikan pesantren yang istilah saya “pesantren
transformatif” yang mengadopsi kebutuhan dunia dan akherat untuk saat ini sudah
cukup banyak pesantren. Saya kira Pesantren yang ada ditingkatkan kualitasnya.
Ketiga tentang pendirian gedung kantor NU. Ini membutuhkan lahan dan biaya juga
tidak sedikit.
Akhirnya rembug punya rembug, para kiai
muda mengkerucutkan pada pendirian kantor PCNU besama banom. Harapannya ketika
mempunyai gedung sendiri atas jerih payah bersama bisa digunakan untuk berbagai
kegiatan ke-NU-an baik berkaitan untuk seluruh banom-banom yang ada.
Menghidupkan Tradisi Iuran Warga NU
Hari-hari berikut nya kami pun sering
kumpul dan sering rapat “kedai kopi” membahas tentang apa yang telah diinginkan
bersama yaitu mendirikan kantor NU. Saya mempunyai usul untuk melakukan gerakan
“GERSENU” yaitu gerakan seribu Nahdlatul Ulama. Maksud nya adalah setiap
warga NU menyisihkan duit nya sehari atau seminggu seribu rupiah. Ini hanya
sebatas istilah gerakan amal jariyah. Bisa saja nanti ada yang satu minggu
menyumbang 10.000, atau 20.000, atau 50.000, bahkan bisa jadi 100.000.
Ide ini sempat ditertawakan oleh orang yang
berfikir maju, tapi tidak punya pondasi kokoh. Pola pikir model “tlembungan”
atau “balon”, yang indah dilihat, tapi saat terkena Jarum Pentul
langsung meledak. Saya tidak memperdulikan kata-kata miring dan senyum mengejek
atas ide saya yang dianggap terlalu kampungan dan kurang “cag-ceg, das-des”.
saya tidak peduli. Sejak kecil saya telah bergelut dengan pola ini saat masih
menjadi anggota “bawang kontong” IPNU di Kemranjen Banyumas. Alhamdulillah pola
iuran sangat efektif untuk membangkitkan militansi kader Nahdlatul Ulama di
tempat saya bermain dulu. Terbukti juga, ketika pada tahun 2001 saat covid-10,
saya pulang ke kemranjen, sekolah-sekolah berbasis NU sangat banyak, maju dan
bahkan jumlah siswa nya ada yang mengalahkan sekolah-sekolah negeri. Semua ini
buah dari militansi kader melakukan gerakan organisasi melalui iuran.
Akhirnya kami sepakat untuk melakukan
gerakan iuran. Sudah berjalan dua tahun enam bulan, gerakan iuran mencapai
jumlah sekitar 25 juta. Atas saran dari kiai Nurdin, duit digunakan untuk
membeli material bangunan. Tujuannya agar progress pembangunan cepat
terealisasi. Dalam proses pembangunan pondasi berjalan, sekitar terkumpul
kurang-lebih 40 juta. Sebab banyak dari berbagai pihak membantu pembangunan
pondasi; ada wujud pasir, batu,besi, semen, tenaga dan lain-lain. saya kira ini
suatu gerakan luarbiasa. Tanpa perlu memikirkan proposal dan tanpa perlu
memikirkan potongan dana bantuan, gerakan iuran berjalan terlihat pelan, tapi
mempunyai hasil yang pasti.
Makna Iuran bagi Organisasi Nadlatul Ulama
Iuran adalah bukti kemandirian organisasi
NU. Ini yang diterapkan hadratusyeikh kh hasyim asy’ari. Saat makam rasulullah
akan dibongkar oleh kaum wahabi, mbah hasyim dan para ulama bergerak untuk
menyelamatkan nya. akhirnya para donatur pun mengumpulkan biaya untuk berangkat
ke Arab Saudi. Atas berkah dialog dengan raja Arab, akhirnya makam rasulullah
selamat dari pembongkaran yang dilakukan oleh kaum Wahabi. Dari sini, iuran
mempunyai berkah luar biasa. ia menjadi wasilah bagi umat Islam seluruh dunia
bisa menyaksikan dan ziarah ke makam Rasulullah s.a.w.
Bagi NU, iuran bukan pada persoalan “besar”
dan “kecil” apa yang diberikan kepada nu. Besar iuran tidak menjadi “riya”,
kecil iuran tidak merasa “hina”. Semua sesuai kapasitas dan kemampuan para
anggota nya. hal ini pun dilakukan oleh para sahabat nabi, mereka melakukan
gerakan iuran untuk membantu sahabat-sahabat yang membutuhkan bantuan dengan
jumlah yang beragam. Konsep mencari ridha Allah menjadi tidak ada istilah
“besar” dan “kecil” dalam berhidmat kepada NU. Semua mempunyai semangat menjaga
tradisi nabi, para sahabat, tabi’in, tabi’in-tabi’in dan para ulama melalui
jam’iyah NU. Jadi, jika hal ini dikelola dengan baik, sedikit-demi sedikit
perjuangan NU untuk membangun kemaslahatan umat semakin terlihat hasil nya.
Perlu Wadah Organisasi Kuat dan Modern
Gerakan iuran yang dirintis beberapa tahun
belakangan ini sudah mulai mendapat sambutan positif dari warha nadhliyin di
kabupaten kepulauan meranti. Tentu saja yang dibutuhkan saat sekarang ini yaitu
membangun organisasi sebagai gerakan gerakan membangun peradaban. Organisasi NU
di level kabupaten, bahkan pada tingkat lebih rendah sebenarnya adalah
benar-benar hakikat dari realita kekuatan jamaah dan jam’iyah. Jika
organisasi apa adanya, hasil nya pun biasa-biasa saja. Itu sebabnya,
menggerakan organisasi NU bukan sebatas mengaku sebagai orang NU dengan dibuktikan atas segala amalan-nya,
tapi juga menyatu batin pada dirinya semangat perjuangan yang digelorakan oleh Hadratusyeikh
Hasyim Asy’ari. Jika ini sudah ada, maka organisasi NU akan mempunyai wibawa
sebagai penjaga dan pengayom serta pendidik umat. Tapi jika pelaku nya belum
bisa melaksanakan hal tersebut, organisasi hanya sebatas papan nama atau pun
sebatas SK di atas kertas. Ia berguna saat kontestasi pemilihan dan (ironis
nya) digunakan sebagai alat kendaraan “ngojek” mencari penumpang di
pinggir jalan untuk mendapat harga yang murah. Semoga kader NU Meranti mendapat
kekuatan untuk menjaga marwah para Muassis NU. Amin.
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879