Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Iuran dan Kemandirian NU



Sabtu , 20 Mei 2023



Telah dibaca :  423

Beberapa tahun lalu saya berkumpul dengan orang-orang  hebat “Min Jumlatil ‘Ulama” muda dari kader nu kabupaten kepulauan meranti seperti Muhamad Nurdin, Khosairi, Muhammad Dalhar, Mardio Hasan, Abdul Rauf, Mungidan Al-Hafidz, Moh. Shodiq, Chanifuddin dan lain-lain. Salah satu tema yang diangkat cukup hebat, yaitu: mengangkat marwah NU. Beberapa usulan yang masuk antara lain; Pertama, mendirikan Lembaga Perguruan Tinggi yang berciri khas NU; kedua, mendirikan pesantren yang tidak mengajar ilmu agama saja, tetapi santri juga mendapat pendidikan kewirausaahaan, peternakan, dan pertanian; Ketiga, mendirikan Kantor PCNU bersama badan otonom.

Saya mendengar beberaa usulan  kiai muda atau intelektual muda NU tentu saja sangat setuju. Saya “mbatin” bahwa mereka mempunyai ghirah besar untuk menghidupan ajaran aswaja di Tanah Jantan. Saya betul-betul mendapatkan berkah dari “sawir” para pejuang NU, terutama berkah bagaimana cara merokok menggunakan metode Imam Malik,”Tidak perlu beli rokok, tapi bisa merokok lebih dari satu”. Agar terlihat professional, kami pun membuat semacam maping dan mengumpulkan data berbagai kemungkinan-kemungkinan dari berbagai cita-cita tersebut lebih mudah terealisasikan. Akhirnya dibahas satu-satu, pertama jika mendirikan perguruan tinggi membutuhkan beberapa yang tidak boleh dilupakan berupa; jumlah calon dosen dengan ijazah minimal S2 yang linear dengan program studi yang dibutuhkan minimal satu prodi 6 orang, gedung perkuliahan dan tidak lupa dukungan dana yang kuat. Kedua mendirikan pesantren yang istilah saya “pesantren transformatif” yang mengadopsi kebutuhan dunia dan akherat untuk saat ini sudah cukup banyak pesantren. Saya kira Pesantren yang ada ditingkatkan kualitasnya. Ketiga tentang pendirian gedung kantor NU. Ini membutuhkan lahan dan biaya juga tidak sedikit.

Akhirnya rembug punya rembug, para kiai muda mengkerucutkan pada pendirian kantor PCNU besama banom. Harapannya ketika mempunyai gedung sendiri atas jerih payah bersama bisa digunakan untuk berbagai kegiatan ke-NU-an baik berkaitan untuk seluruh banom-banom yang ada.

Menghidupkan Tradisi Iuran Warga NU

Hari-hari berikut nya kami pun sering kumpul dan sering rapat “kedai kopi” membahas tentang apa yang telah diinginkan bersama yaitu mendirikan kantor NU. Saya mempunyai usul untuk melakukan gerakan “GERSENU” yaitu gerakan seribu Nahdlatul Ulama. Maksud nya adalah setiap warga NU menyisihkan duit nya sehari atau seminggu seribu rupiah. Ini hanya sebatas istilah gerakan amal jariyah. Bisa saja nanti ada yang satu minggu menyumbang 10.000, atau 20.000, atau 50.000, bahkan bisa jadi 100.000.

Ide ini sempat ditertawakan oleh orang yang berfikir maju, tapi tidak punya pondasi kokoh. Pola pikir model “tlembungan” atau “balon”, yang indah dilihat, tapi saat terkena Jarum Pentul langsung meledak. Saya tidak memperdulikan kata-kata miring dan senyum mengejek atas ide saya yang dianggap terlalu kampungan dan kurang “cag-ceg, das-des”. saya tidak peduli. Sejak kecil saya telah bergelut dengan pola ini saat masih menjadi anggota “bawang kontong” IPNU di Kemranjen Banyumas. Alhamdulillah pola iuran sangat efektif untuk membangkitkan militansi kader Nahdlatul Ulama di tempat saya bermain dulu. Terbukti juga, ketika pada tahun 2001 saat covid-10, saya pulang ke kemranjen, sekolah-sekolah berbasis NU sangat banyak, maju dan bahkan jumlah siswa nya ada yang mengalahkan sekolah-sekolah negeri. Semua ini buah dari militansi kader melakukan gerakan organisasi melalui iuran.

Akhirnya kami sepakat untuk melakukan gerakan iuran. Sudah berjalan dua tahun enam bulan, gerakan iuran mencapai jumlah sekitar 25 juta. Atas saran dari kiai Nurdin, duit digunakan untuk membeli material bangunan. Tujuannya agar progress pembangunan cepat terealisasi. Dalam proses pembangunan pondasi berjalan, sekitar terkumpul kurang-lebih 40 juta. Sebab banyak dari berbagai pihak membantu pembangunan pondasi; ada wujud pasir, batu,besi, semen, tenaga dan lain-lain. saya kira ini suatu gerakan luarbiasa. Tanpa perlu memikirkan proposal dan tanpa perlu memikirkan potongan dana bantuan, gerakan iuran berjalan terlihat pelan, tapi mempunyai hasil yang pasti.

Makna Iuran bagi Organisasi Nadlatul Ulama

Iuran adalah bukti kemandirian organisasi NU. Ini yang diterapkan hadratusyeikh kh hasyim asy’ari. Saat makam rasulullah akan dibongkar oleh kaum wahabi, mbah hasyim dan para ulama bergerak untuk menyelamatkan nya. akhirnya para donatur pun mengumpulkan biaya untuk berangkat ke Arab Saudi. Atas berkah dialog dengan raja Arab, akhirnya makam rasulullah selamat dari pembongkaran yang dilakukan oleh kaum Wahabi. Dari sini, iuran mempunyai berkah luar biasa. ia menjadi wasilah bagi umat Islam seluruh dunia bisa menyaksikan dan ziarah ke makam Rasulullah s.a.w.

Bagi NU, iuran bukan pada persoalan “besar” dan “kecil” apa yang diberikan kepada nu. Besar iuran tidak menjadi “riya”, kecil iuran tidak merasa “hina”. Semua sesuai kapasitas dan kemampuan para anggota nya. hal ini pun dilakukan oleh para sahabat nabi, mereka melakukan gerakan iuran untuk membantu sahabat-sahabat yang membutuhkan bantuan dengan jumlah yang beragam. Konsep mencari ridha Allah menjadi tidak ada istilah “besar” dan “kecil” dalam berhidmat kepada NU. Semua mempunyai semangat menjaga tradisi nabi, para sahabat, tabi’in, tabi’in-tabi’in dan para ulama melalui jam’iyah NU. Jadi, jika hal ini dikelola dengan baik, sedikit-demi sedikit perjuangan NU untuk membangun kemaslahatan umat semakin terlihat hasil nya.

Perlu Wadah Organisasi Kuat dan Modern

Gerakan iuran yang dirintis beberapa tahun belakangan ini sudah mulai mendapat sambutan positif dari warha nadhliyin di kabupaten kepulauan meranti. Tentu saja yang dibutuhkan saat sekarang ini yaitu membangun organisasi sebagai gerakan gerakan membangun peradaban. Organisasi NU di level kabupaten, bahkan pada tingkat lebih rendah sebenarnya adalah benar-benar hakikat dari realita kekuatan jamaah dan jam’iyah. Jika organisasi apa adanya, hasil nya pun biasa-biasa saja. Itu sebabnya, menggerakan organisasi NU bukan sebatas mengaku sebagai  orang NU dengan dibuktikan atas segala amalan-nya, tapi juga menyatu batin pada dirinya semangat perjuangan yang digelorakan oleh Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari. Jika ini sudah ada, maka organisasi NU akan mempunyai wibawa sebagai penjaga dan pengayom serta pendidik umat. Tapi jika pelaku nya belum bisa melaksanakan hal tersebut, organisasi hanya sebatas papan nama atau pun sebatas SK di atas kertas. Ia berguna saat kontestasi pemilihan dan (ironis nya) digunakan sebagai alat kendaraan “ngojek” mencari penumpang di pinggir jalan untuk mendapat harga yang murah. Semoga kader NU Meranti mendapat kekuatan untuk menjaga marwah para Muassis NU. Amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879