Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Jangan Menutup Pintu Rezeki Mu!



Minggu , 15 Juni 2025



Telah dibaca :  516

Alhamdulillah minggu ini telah menyelesaikan buku ke-lima di tahun 2025. Insya Allah akhir Juni atau awal Juli, ISBN sudah klir.

Saya kaget, draff buku kelima cukup tebal. Sekitar 530 halaman.  Sang penerbit telah mengirim draf bukunya. Mungkin sepanjang saya menulis buku, baru kali ini punya buku “berbadan bongsor”. Mungkin juga karena proses pembuatan buku ini sangat mendukung. Sepanjang tahun 2024 lebih banyak musim penghujan, musim nya para pengantin baru dan pasangan lama yang selalu merasa baru.

Setelah sholat maghrib, saya keluar dari pertapaan. Syeikh Rino Riyaldi dengan sopan mengajaku ngopi. Anda bisa membayangkan betapa mengerikan orang yang baru keluar dari pertapaan, pasti minum plus makannya banyak. Semua yang terlihat di mata enak-enak semua.

Syeikh Rino tidak peduli-seberapa banyak makanan yang saya habiskan, dia siap menanggung segala penderitaan akibat ulah ku. Atau malah sebaliknya, ia sedang mengamalkan hadist Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa yang memberi makan kepada seorang mukmin hingga membuatnya kenyang dari rasa lapar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam salah satu pintu surga yang tidak dimasuki oleh orang lain” (HR Thabrani).

Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat saudara-saudara kita yang beragam status sosial. Kita sering menemukan para penyanyi turun gunung dengan bermodal sound sistem dan micropon apa adanya. Mereka bernyanyi saat kita berada di Rumah Makan. Tujuannya menghibur dan mencari rezeki. Saat kita memberi uang seadanya, ada ucapan terima kasih secara tulus dari hati nya.

Kadang saat anda selesai makan, ada tukang parkir datang mendekatimu, lalu anda memberi uang seadanya. Dari mulutnya dengan spontanitas mendoakan kebaikan kepada kita.

Tukang parkir dan para penyanyi amatir yang sering dilihat punya profesi berbeda, tapi punya rasa yang sama, sama-sama perlu mendapatkan kasih sayang dan penghormatan. Mereka juga mempunyai suatu titipan yang diberikan allah berupa doa-doa mustajab. Mungkin bukan untuk dirinya sendiri. tapi untuk orang lain sangat mustajab.

Orang-orang yang hidup dalam penderitaan laksana seperti seseorang yang “kelilipen” [mata terkena sesuatu benda kecil atau debu]. Dia sendiri tidak bisa menghilangkan, maka orang lain yang membantu menyebul mata nya. Sehingga rasa sakit secara pelan-pelan pun hilang.

Kehidupan dunia saat ini mungkin terlihat modern. Tapi Tuhan tidak terpengaruh dengan istilah modern atau tradisional. Hukum Tuhan tetap berlaku sepanjang zaman. Barangsiapa yang berbuat baik, maka kebaikan hakikatnya untuk dirinya sendiri.

Saat kita sedang berbuat baik kepada orang lain sebenarnya sedang menabung kebaikan untuk diri kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita dan bisa jadi keluarga besar kita. Itu hukum Tuhan.

Betapa tinggi status kebaikan, sampai-sampai para waliyullah berijtihad bahwa para kekasih Allah mempunyai tingkatan derajat tertinggi dihadapan-Nya adalah orang-orang ahli kebaikan.

Ahli kebaikan lahir dari berbagai macam sebab. Ada ahli kebaikan lahir karena ia sudah tercukupi secara ekonomi [hartawan]. Ada ahli kebaikan lahir karena ia sudah merasa cukup atas segala pemberian Allah pada dirinya[padahal secara kasat mata hidupnya masih belum pantas disebut orang kaya]. Semua kebaikan dilakukan hanya semata-mata panggilan jiwa untuk membantu dan menyenangkan orang lain.

Saya melihat fenomena tersebut. Saya melihat para dosen ngumpul-ngumpul mempersiapkan bahan-bahan akreditasi banyak membawa bontrotan. Ada mie sagu mentah, jagung rebus, pilus, roti lebihan lebaran dan lain-lain. Mereka makan bareng. Susah-senang bersama-sama.

Jika kita tidak mempunyai apa-apa dan hanya punya kemampuan mendoakan kebaikan kepada orang lain, maka hakikat nya sedang mendoakan kebaikan untuk dirinya sendiri.

Mendoakan kebaikan orang lain terlihat sederhana dan tidak mempunyai efek perubahan yang cukup “nendang”. Ketika perilaku doa kebaikan sudah malakah-berurat dan berakar dalam kepribadian-maka efek perubahan sangat luarbiasa.

Dari doa-doa model orang-orang yang seperti ini yang sering doanya sangat dekat dengan langit.

Doa mustajab bukan sebatas milik para tokoh masyarakat, tokoh agama dan para pembesar. Literatur klasik dan kisah-kisah kekinian telah menampilkan doa-doa mustajab dari hamba-hamba Allah yang tidak dikenal di hamparan bumi, tapi sangat akrab di pelataran langit. Itu sebabnya, kita tidak boleh merendahkan siapapun manusia di sekitar kita. Semua ada keistimewaan yang tidak dipunyai oleh orang lain.

Itu sebabnya, orang tua dulu mengajarkan kepada sebagian dari kita agar jangan sampai rezeki kita ditutupi karena menyakiti orang lain, cita-cita terhalang karena menghina orang lain dan harapan-harapan kita terlambat dikabulkan oleh-Nya karena menutup pintu rezeki orang lain.

Dan pada malam hari ini, siapapun yang sedang berbuat baik hakikatnya sedang membangun wasilah terbuka lorong-lorong terkabulnya doa mereka. Kita hanya bisa mendoakan, semoga amal kebaikan orang-orang yang tidak bisa disebut dituliskan ini, akan mendapatkan balasan yang baik sekali. amin.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875