
Alhamdulillah minggu ini telah
menyelesaikan buku ke-lima di tahun 2025. Insya Allah akhir Juni atau awal Juli,
ISBN sudah klir.
Saya kaget, draff buku kelima cukup tebal. Sekitar
530 halaman. Sang penerbit telah mengirim
draf bukunya. Mungkin sepanjang saya menulis buku, baru kali ini punya buku “berbadan
bongsor”. Mungkin juga karena proses pembuatan buku ini sangat mendukung. Sepanjang
tahun 2024 lebih banyak musim penghujan, musim nya para pengantin baru dan
pasangan lama yang selalu merasa baru.
Setelah sholat maghrib, saya keluar dari
pertapaan. Syeikh Rino Riyaldi dengan sopan mengajaku ngopi. Anda bisa
membayangkan betapa mengerikan orang yang baru keluar dari pertapaan, pasti
minum plus makannya banyak. Semua yang terlihat di mata enak-enak semua.
Syeikh Rino tidak peduli-seberapa banyak
makanan yang saya habiskan, dia siap menanggung segala penderitaan akibat ulah
ku. Atau malah sebaliknya, ia sedang mengamalkan hadist Nabi Muhammad SAW: “Barangsiapa
yang memberi makan kepada seorang mukmin hingga membuatnya kenyang dari rasa
lapar, maka Allah akan memasukkannya ke dalam salah satu pintu surga yang tidak
dimasuki oleh orang lain” (HR Thabrani).
Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa
melihat saudara-saudara kita yang beragam status sosial. Kita sering menemukan
para penyanyi turun gunung dengan bermodal sound sistem dan micropon apa
adanya. Mereka bernyanyi saat kita berada di Rumah Makan. Tujuannya menghibur
dan mencari rezeki. Saat kita memberi uang seadanya, ada ucapan terima kasih
secara tulus dari hati nya.
Kadang saat anda selesai makan, ada tukang
parkir datang mendekatimu, lalu anda memberi uang seadanya. Dari mulutnya
dengan spontanitas mendoakan kebaikan kepada kita.
Tukang parkir dan para penyanyi amatir yang
sering dilihat punya profesi berbeda, tapi punya rasa yang sama, sama-sama
perlu mendapatkan kasih sayang dan penghormatan. Mereka juga mempunyai suatu
titipan yang diberikan allah berupa doa-doa mustajab. Mungkin bukan untuk
dirinya sendiri. tapi untuk orang lain sangat mustajab.
Orang-orang yang hidup dalam penderitaan
laksana seperti seseorang yang “kelilipen” [mata terkena sesuatu benda
kecil atau debu]. Dia sendiri tidak bisa menghilangkan, maka orang lain yang
membantu menyebul mata nya. Sehingga rasa sakit secara pelan-pelan pun hilang.
Kehidupan dunia saat ini mungkin terlihat
modern. Tapi Tuhan tidak terpengaruh dengan istilah modern atau tradisional. Hukum
Tuhan tetap berlaku sepanjang zaman. Barangsiapa yang berbuat baik, maka
kebaikan hakikatnya untuk dirinya sendiri.
Saat kita sedang berbuat baik kepada orang
lain sebenarnya sedang menabung kebaikan untuk diri kita, anak-anak kita, cucu-cucu
kita dan bisa jadi keluarga besar kita. Itu hukum Tuhan.
Betapa tinggi status kebaikan,
sampai-sampai para waliyullah berijtihad bahwa para kekasih Allah mempunyai
tingkatan derajat tertinggi dihadapan-Nya adalah orang-orang ahli kebaikan.
Ahli kebaikan lahir dari berbagai macam
sebab. Ada ahli kebaikan lahir karena ia sudah tercukupi secara ekonomi
[hartawan]. Ada ahli kebaikan lahir karena ia sudah merasa cukup atas segala
pemberian Allah pada dirinya[padahal secara kasat mata hidupnya masih belum
pantas disebut orang kaya]. Semua kebaikan dilakukan hanya semata-mata
panggilan jiwa untuk membantu dan menyenangkan orang lain.
Saya melihat fenomena tersebut. Saya
melihat para dosen ngumpul-ngumpul mempersiapkan bahan-bahan akreditasi banyak
membawa bontrotan. Ada mie sagu mentah, jagung rebus, pilus, roti lebihan
lebaran dan lain-lain. Mereka makan bareng. Susah-senang bersama-sama.
Jika kita tidak mempunyai apa-apa dan hanya
punya kemampuan mendoakan kebaikan kepada orang lain, maka hakikat nya sedang
mendoakan kebaikan untuk dirinya sendiri.
Mendoakan kebaikan orang lain terlihat
sederhana dan tidak mempunyai efek perubahan yang cukup “nendang”. Ketika
perilaku doa kebaikan sudah malakah-berurat dan berakar dalam
kepribadian-maka efek perubahan sangat luarbiasa.
Dari doa-doa model orang-orang yang seperti
ini yang sering doanya sangat dekat dengan langit.
Doa mustajab bukan sebatas milik para tokoh
masyarakat, tokoh agama dan para pembesar. Literatur klasik dan kisah-kisah
kekinian telah menampilkan doa-doa mustajab dari hamba-hamba Allah yang tidak
dikenal di hamparan bumi, tapi sangat akrab di pelataran langit. Itu sebabnya,
kita tidak boleh merendahkan siapapun manusia di sekitar kita. Semua ada
keistimewaan yang tidak dipunyai oleh orang lain.
Itu sebabnya, orang tua dulu mengajarkan
kepada sebagian dari kita agar jangan sampai rezeki kita ditutupi karena
menyakiti orang lain, cita-cita terhalang karena menghina orang lain dan
harapan-harapan kita terlambat dikabulkan oleh-Nya karena menutup pintu rezeki
orang lain.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875