
Saya mendapat kiriman berita dari teman
tentang peristiwa penembakan yang terjadi di kantor mui pusat. Namanya Mustafa.
Informasi dari media online, dia ingin mendapat legalitas sebagai wakil Nabi. Entah
gimana cerita nya, saya pun kurang mendalami berita tersebut. Jika peristiwa itu sudah selesai, maka tidak perlu
lagi dibuat berita terkesan menjadi bombastis dan melebar kemana-mana. Apalagi
di tahun-tahun politik, berita menjadi mudah berubah warna. Berita satu bisa
beranak menjadi sepuluh. Semua ingin berkomentar dan ingin membangun opini
untuk untuk menunjukan sebagai “manusia sejati” sebagai pejuang rakyat dan
penegak keadilan. Persoalan benar-salah nanti dulu, yang terpenting sudah
memperkenalkan labelitas bungkus. Apakah ada kesesuaian dengan isinya, ini
urusan nanti-nanti saja..
Dalam sejarah kehidupan manusia, selalu
saja muncul orang mengaku sebagai Nabi. Sebenarnya peritiwa ini bukan yang
pertama. Tahun-tahun lalu sudah ada beberapa orang yang telah mengaku nabi;
pertama, Lia Eden. Pemilik nama Lia Aminuddin ini mengaku dirinya sudah bertemu
dengan Malaikat Jibril. Dia menganggap dirinya telah mendapatkan wahyu dari
nya. sebagai reinkarnasi dari Bunda Maria, anak Lia Eden adalah reinkarnasi
dari Nabi Isa. Ia akan menjadi juru selamat sebelum datangnya Hari Kiamat. Akibat
ulahnya, Lia Eden dijebloskan ke dalam penjara tahun 2006 dan 2009. Kedua, Ahmad
Musaddeq atau Abdul Salam mengaku menjadi Nabi. Dia mengaku dirinya nabi
terakhir setelah Nabi Muhammad s.a.w. Sebagaimana Lia Eden, dia pun mengaku
mendapat wahyu dan menjadi pemimpin kepercayaan dari al-qiyadah al-islamiyah
atau aliran kepercayaan yang melakukan sinkrentisme beberapa ajaran.
Ketiga, Nanang. Seorang warga Probolinggo mengunggah sebuah postingan di media
sosial yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang nabi dan mempunyai
kemampuan mengidentifikasi siapa-siapa yang akan masuk Surga dan Neraka.
Keempat, Sensen Komara adalah salah seorang yang mengaku menjadi nabi dan
mendapatkan wahyu dari Tuhan melalui mimpinya. Sri Hartati. Seorang perempuan
dari Pekalongan Jawa Tengah. Ia mengaku sebagai Nabi dan Rasul. Pengalaman
spritiual ketika menderita sakit keras tahun 2009 silam, sebagai pengalaman
yang luarbiasa. Dia kemudian membuat kitab dengan nama Na’sum.
Di berbagai belahan dunia, fenomena seperti
ini pun sudah mafhum sering terjadi. Pengakuan ini bukan sebatas pengakuan
tanpa sebab. Pengalaman spiritual yang tidak biasa dan mengantarkan suatu
keyakinan sebagai bagian peristiwa anugerah dari Tuhan. Pengalaman ini dan
terbuka nya suatu kegaiban-kegaiban menjadi dirinya tidak kuat untuk menerima
nya. Pengalaman-pengalaman ini yang kemudian merefleksikan diri sebagai manusia
yang suci dan mempunyai tugas untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan yang
dianggap sebagai bagian dari tugas suci ini. Pengalaman spiritual yang demikian
hebat kemudian diasumsikan sebagai pengalaman yang jika dikomperasikan merasa
tidak berbeda jauh dengan apa yang pernah dialami oleh para nabi dan rasul pada
masa dulu. Jika nabi Yusuf dan nabi Ibrahim bermimpi mendapat wahyu dari Allah,
maka orang-orang seperti mereka (bisa jadi) mengatakan demikian. Begitu juga
ketika Nabi Muhammad ketakutan dan berkeringat dingin karena bertemu dengan Malaikat
Jibril, apakah pengalaman spiritual mereka bertemu dengan hal-hal ghaib tidak
bisa sebagai bagian tanda kenabian atau
kerasulan?
Dalam kajian ilmu psikologi, tentu
pengalaman-pengalaman sebagaimana terjadi pada orang-orang yang mengaku nabi bisa
menjadi suatu permasalahan serius pada kesehatan jiwa nya. Hal yang sama juga
apa yang dituduhkan oleh kaum orientalis kepada nabi Muhammad s.a.w sebagai
bagian bagian peristiwa kejiwaan ketika menerima wahyu pertama. Tuduhan kaum
orientalis tentu sangat menyakitkan umat islam. Tapi sebagian umat Islam pun
mema’lumi, karena berangkat dari filsafat kehidupan bangsa barat yang mengukur
kebenaran sebatas pada kebenaran
rasional dan material semata. Namun kenyataan, bahwa dimensi-dimensi ruhaniah
dan menjadi pengalaman spiritual memang bisa saja terjadi pada manusia-manusia
yang secara jasmani dan ruhani tidak ada persoalan kesehatan. Ada jenis-jenis
orang yang oleh Allah diberikan kemampuan memahami jalan-jalan spiritual yang
tidak dimiliki oleh umumnya manusia. Akibatnya, orang-orang seperti ini sering
mengalami peristiwa spiritual dan kadang bisa diwujudkan dalam realita. Namun demikian,
mereka akan mengalami kesulitan ketika menjelaskan kepada masyarakat secara
rasional. Karenanya, orang-orang umum pun sering tidak mempercayai
persoalan-persoalan tersebut dan dianggap bagian dari dongeng belaka.
Apakah pengalaman ruhaniyah orang-orang
yang mengaku sebagai nabi atau sejenisnya merupakan bagian dari anugerah berupa
ilham, atau kedatangan malaikat atau justru sebaliknya yaitu dari bisikan Setan?
Hamba-hamba Allah yang mempunyai derajat agung ketika mendapatkan suatu bisikan
atau khobar ghaib tentang sebuah wujud kenikmatan tidak serta-merta diterima
begitu saja. Ada suatu kisah menarik yang menimpa pada Syeikh Abdul Qadir
Jilani. Saat dia sedang bermunajat kepada Allah, tiba-tiba ada suara ghaib mengatakan
kepada nya bahwa dosa-dosa nya telah diampuni dan tidak perlu lagi beribadah.
Syeikh Abdul Qadir Jilani dengan tegas menolak perintah dari suara ghaib agar
tidak beribah kepada Allah s.w.t. Baginya, segala sesuatu yang menjadi
pengalaman spiritual ketika bertentangan dengan syariat-syariat islam, maka
bisa dipastika itu bukan dari bisikan yang mendatangkan keselamatan, tapi
bisikan setan yang menyesatkan.
Pengalaman ruhaniah tertinggi dari semua
peristiwa di dunia sebenarnya yang dialami oleh Nabi Muhammad S.A.W. Peristiwa
Isra Mi’raj sebagai peristiwa spiritual sekaligus material merupakan perjalanan
yang Allah bukakan sebagian keagungan
dan kebesaran-Nya sampai di Sidratul Muntaha. Malaikat Jibril pun tidak bisa
sampai pada tingkat tempat tersebut. Tidak ada pengalaman perjalanan di dimensi
ruhaniah setinggi Nabi Muhammad s.a.w. Namun demikian, ketika Rasulullah
selesai melaksanakan perjalanan ini, dia pun kembali sebagai manusia biasa
sebagai basyarun mislukum; ada sakit, ada tangisan kesedihan, lapar,
dahaga, dan membutuhkan makan, istri, anak dan kebutuhan normal sebagai manusia.
Dalam kondisi apapun, Nabi tetap ibadah sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah
s.w.t.
Setiap manusia bisa jadi pernah mengalami
perjalanan spiritual yang mengagungkan diri dan sangat sulit dihilangkan dalam
benak pikiran nya. Namun, Allah dan Rasul-Nya telah membuat rambu-rambu, bahwa
apapun pengalaman ruhaniah dan sedahsyat apapun itu, tidak boleh melabrak aturan
syariat yang ditetapkan oleh-Nya dan Rasul-Nya, yaitu tetap melaksanakan
perintah-perintah Allah dan meninggalkan larang-larangan-Nya. Salah satu
larangan-Nya yaitu mengaku nabi sebagai penutup para nabi. Sebab syariat sudah
menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad adalah penutup dari para Nabi. Jika ada
pengalaman spiritual yang menyalahi aturan-aturan syariat, sebenarnya ujian untuk bisa konsisten terhadap syariat Islam.
Ketika kita posisi mengalami seperti ini dan merasa tidak kuat, maka taubat
merupakan jalan terbaik untuk kembali mengikuti ajaran nabi Muhammad s.a.w.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2981
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2882