Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Jebakan Spiritual para Nabi Palsu



Rabu , 03 Mei 2023



Telah dibaca :  441

Saya mendapat kiriman berita dari teman tentang peristiwa penembakan yang terjadi di kantor mui pusat. Namanya Mustafa. Informasi dari media online, dia ingin mendapat legalitas sebagai wakil Nabi. Entah gimana cerita nya, saya pun kurang mendalami berita tersebut. Jika  peristiwa itu sudah selesai, maka tidak perlu lagi dibuat berita terkesan menjadi bombastis dan melebar kemana-mana. Apalagi di tahun-tahun politik, berita menjadi mudah berubah warna. Berita satu bisa beranak menjadi sepuluh. Semua ingin berkomentar dan ingin membangun opini untuk untuk menunjukan sebagai “manusia sejati” sebagai pejuang rakyat dan penegak keadilan. Persoalan benar-salah nanti dulu, yang terpenting sudah memperkenalkan labelitas bungkus. Apakah ada kesesuaian dengan isinya, ini urusan nanti-nanti saja..

Dalam sejarah kehidupan manusia, selalu saja muncul orang mengaku sebagai Nabi. Sebenarnya peritiwa ini bukan yang pertama. Tahun-tahun lalu sudah ada beberapa orang yang telah mengaku nabi; pertama, Lia Eden. Pemilik nama Lia Aminuddin ini mengaku dirinya sudah bertemu dengan Malaikat Jibril. Dia menganggap dirinya telah mendapatkan wahyu dari nya. sebagai reinkarnasi dari Bunda Maria, anak Lia Eden adalah reinkarnasi dari Nabi Isa. Ia akan menjadi juru selamat sebelum datangnya Hari Kiamat. Akibat ulahnya, Lia Eden dijebloskan ke dalam penjara tahun 2006 dan 2009. Kedua, Ahmad Musaddeq atau Abdul Salam mengaku menjadi Nabi. Dia mengaku dirinya nabi terakhir setelah Nabi Muhammad s.a.w. Sebagaimana Lia Eden, dia pun mengaku mendapat wahyu dan menjadi pemimpin kepercayaan dari al-qiyadah al-islamiyah atau aliran kepercayaan yang melakukan sinkrentisme beberapa ajaran. Ketiga, Nanang. Seorang warga Probolinggo mengunggah sebuah postingan di media sosial yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang nabi dan mempunyai kemampuan mengidentifikasi siapa-siapa yang akan masuk Surga dan Neraka. Keempat, Sensen Komara adalah salah seorang yang mengaku menjadi nabi dan mendapatkan wahyu dari Tuhan melalui mimpinya. Sri Hartati. Seorang perempuan dari Pekalongan Jawa Tengah. Ia mengaku sebagai Nabi dan Rasul. Pengalaman spritiual ketika menderita sakit keras tahun 2009 silam, sebagai pengalaman yang luarbiasa. Dia kemudian membuat kitab dengan nama Na’sum.

Di berbagai belahan dunia, fenomena seperti ini pun sudah mafhum sering terjadi. Pengakuan ini bukan sebatas pengakuan tanpa sebab. Pengalaman spiritual yang tidak biasa dan mengantarkan suatu keyakinan sebagai bagian peristiwa anugerah dari Tuhan. Pengalaman ini dan terbuka nya suatu kegaiban-kegaiban menjadi dirinya tidak kuat untuk menerima nya. Pengalaman-pengalaman ini yang kemudian merefleksikan diri sebagai manusia yang suci dan mempunyai tugas untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan yang dianggap sebagai bagian dari tugas suci ini. Pengalaman spiritual yang demikian hebat kemudian diasumsikan sebagai pengalaman yang jika dikomperasikan merasa tidak berbeda jauh dengan apa yang pernah dialami oleh para nabi dan rasul pada masa dulu. Jika nabi Yusuf dan nabi Ibrahim bermimpi mendapat wahyu dari Allah, maka orang-orang seperti mereka (bisa jadi) mengatakan demikian. Begitu juga ketika Nabi Muhammad ketakutan dan berkeringat dingin karena bertemu dengan Malaikat Jibril, apakah pengalaman spiritual mereka bertemu dengan hal-hal ghaib tidak bisa sebagai  bagian tanda kenabian atau kerasulan?

Dalam kajian ilmu psikologi, tentu pengalaman-pengalaman sebagaimana terjadi pada orang-orang yang mengaku nabi bisa menjadi suatu permasalahan serius pada kesehatan jiwa nya. Hal yang sama juga apa yang dituduhkan oleh kaum orientalis kepada nabi Muhammad s.a.w sebagai bagian bagian peristiwa kejiwaan ketika menerima wahyu pertama. Tuduhan kaum orientalis tentu sangat menyakitkan umat islam. Tapi sebagian umat Islam pun mema’lumi, karena berangkat dari filsafat kehidupan bangsa barat yang mengukur kebenaran  sebatas pada kebenaran rasional dan material semata. Namun kenyataan, bahwa dimensi-dimensi ruhaniah dan menjadi pengalaman spiritual memang bisa saja terjadi pada manusia-manusia yang secara jasmani dan ruhani tidak ada persoalan kesehatan. Ada jenis-jenis orang yang oleh Allah diberikan kemampuan memahami jalan-jalan spiritual yang tidak dimiliki oleh umumnya manusia. Akibatnya, orang-orang seperti ini sering mengalami peristiwa spiritual dan kadang bisa diwujudkan dalam realita. Namun demikian, mereka akan mengalami kesulitan ketika menjelaskan kepada masyarakat secara rasional. Karenanya, orang-orang umum pun sering tidak mempercayai persoalan-persoalan tersebut dan dianggap bagian dari dongeng belaka.

Apakah pengalaman ruhaniyah orang-orang yang mengaku sebagai nabi atau sejenisnya merupakan bagian dari anugerah berupa ilham, atau kedatangan malaikat atau justru sebaliknya yaitu dari bisikan Setan? Hamba-hamba Allah yang mempunyai derajat agung ketika mendapatkan suatu bisikan atau khobar ghaib tentang sebuah wujud kenikmatan tidak serta-merta diterima begitu saja. Ada suatu kisah menarik yang menimpa pada Syeikh Abdul Qadir Jilani. Saat dia sedang bermunajat kepada Allah, tiba-tiba ada suara ghaib mengatakan kepada nya bahwa dosa-dosa nya telah diampuni dan tidak perlu lagi beribadah. Syeikh Abdul Qadir Jilani dengan tegas menolak perintah dari suara ghaib agar tidak beribah kepada Allah s.w.t. Baginya, segala sesuatu yang menjadi pengalaman spiritual ketika bertentangan dengan syariat-syariat islam, maka bisa dipastika itu bukan dari bisikan yang mendatangkan keselamatan, tapi bisikan setan yang menyesatkan.

Pengalaman ruhaniah tertinggi dari semua peristiwa di dunia sebenarnya yang dialami oleh Nabi Muhammad S.A.W. Peristiwa Isra Mi’raj sebagai peristiwa spiritual sekaligus material merupakan perjalanan yang Allah bukakan sebagian  keagungan dan kebesaran-Nya sampai di Sidratul Muntaha. Malaikat Jibril pun tidak bisa sampai pada tingkat tempat tersebut. Tidak ada pengalaman perjalanan di dimensi ruhaniah setinggi Nabi Muhammad s.a.w. Namun demikian, ketika Rasulullah selesai melaksanakan perjalanan ini, dia pun kembali sebagai manusia biasa sebagai basyarun mislukum; ada sakit, ada tangisan kesedihan, lapar, dahaga, dan membutuhkan makan, istri, anak dan kebutuhan normal sebagai manusia. Dalam kondisi apapun, Nabi tetap ibadah sebagaimana yang dianjurkan oleh Allah s.w.t.

Setiap manusia bisa jadi pernah mengalami perjalanan spiritual yang mengagungkan diri dan sangat sulit dihilangkan dalam benak pikiran nya. Namun, Allah dan Rasul-Nya telah membuat rambu-rambu, bahwa apapun pengalaman ruhaniah dan sedahsyat apapun itu, tidak boleh melabrak aturan syariat yang ditetapkan oleh-Nya dan Rasul-Nya, yaitu tetap melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larang-larangan-Nya. Salah satu larangan-Nya yaitu mengaku nabi sebagai penutup para nabi. Sebab syariat sudah menjelaskan, bahwa Nabi Muhammad adalah penutup dari para Nabi. Jika ada pengalaman spiritual yang menyalahi aturan-aturan syariat, sebenarnya  ujian untuk bisa konsisten terhadap syariat Islam. Ketika kita posisi mengalami seperti ini dan merasa tidak kuat, maka taubat merupakan jalan terbaik untuk kembali mengikuti ajaran nabi Muhammad s.a.w.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2882