
Kebahagiaan manusia itu berjenjang. Itu keyakinan
ku sebagai seorang muslim. semakin tinggi jenjang kebahagiaan, semakin berat
ujiannya. Itu sudah hukum kehidupan. Ketika kita menginginkan suatu kebahagiaan
yang lebih besar, maka ada ujian-ujian yang lebih besar lagi. Ada orang bahagia
bisa karena menikmati minum kopi berbeda rasa bahagia mendapatkan istri. Orang yang
Bahagia mendapatkan gelar S1 akan berbeda rasanya setelah mendapatkan gelar S3.
Dan orang yang mendapatkan jabatan sebagai ketua RT akan berbeda rasanya dengan
orang yang mendapatkan jabatan sebagai seorang anggota DPRD, Bupati atau Wakil
Bupati. Semakin tinggi perjuangan, semakin berkualitas nilai kebahagiaan. Meskipun
rasa gembira sama, tapi kualitas nya berbeda-beda.
Laporan World Happiness Report telah
merangkum ada 10 negara yang masyarakat nya mempunyai rasa hidup bahagia yaitu:
Finlandia, Denmark, Islandia, Swedia, Belanda, Kosta Rika, Norwegia, Israel,
Luksemburg, dan Meksiko. Indikatornya mengacu kepada: PDB Perkapita, Dukungan
Sosial, Harapan Hidup Sehat, Kebebasan Dalam Mengambil Keputusan Hidup,
Kedermawanan dan Tingkat Rendahnya Korupsi.
Kita boleh tidak mempercayai data-data tersebut
di atas. Kita boleh saja membela diri bahwa diri kita, masyarakat kita, bahkan
bangsa kita jauh lebih bahagia dari mereka. Boleh-boleh saja. Tentu saja, kita
juga harus bertanya kepada diri sendiri, apakah indikator-indikator di atas mempunyai
kualitas sangat baik pada diri kita?
Tentang kebahagiaan penulis menampilkan Q.S.
Al-Baqarah ayat 25 sebagai berikut:
وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ
مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًاۙ
قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًاۗ
وَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ ٢٥
Artinya:
Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal
saleh bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang di bawahnya mengalir
sungai-sungai. Setiap kali diberi rezeki buah-buahan darinya, mereka berkata,
“Inilah rezeki yang diberikan kepada kami sebelumnya.” Mereka telah diberi
(buah-buahan) yang serupa dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan
yang disucikan. Mereka kekal di dalamnya.
Dalam Islam puncak kebahagiaan secara garis besarnya ada dua yaitu “الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا “ dan “ وَعَمِلُوا
الصّٰلِحٰتِ “. Keduanya tidak bisa dipisahkan. Orang
beriman berarti orang yang hidup memasrahkan diri kepada Allah SWT. Sedangkan orang
beramal sholeh merupakan wujud dari orang-orang yang beriman yang mempunyai
karya terbaik dalam menciptakan tatanan kehidupan yang bersumber dari
firman-firman Tuhan. Aplikasinya yaitu bisa memberi kebahagiaan dalam kehidupan
di dunia. Jauh lagi kebahagiaan di akherat.
Kaum muslimin yang mempunyai tingkat amalun sholihun (hasil karya yang
sholih) mempunyai dimensi wilayah kerja yang sangat luas. Ia tidak ada batasnya.
Sebab semakin maju kehidupan semakin luas jangkauan nya dan semakin kreatis dan
inovatif manusia dalam menciptakan karya untuk bisa bertahan hidup dan
mewujudkan kebahagiaan. Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah. Semakin kreatif
semakin memberi hasil yang mampu memberi rasa bahagia kepada masyarakatnya. Ini
yang sekarang ini diharapkan oleh masyarakat terhadap pemerintah baru pasangan Prabowo-Gibran.
Ayat tersebut sangat menarik sekali untuk menjadi renungan. Dua kelompok
yang akan mendapatkan kebahagiaan (orang beriman dan amal sholeh) akan
mendapatkan suatu kenikmatan berupa air, buah-buahan dan pasangan hidup. Ketiga
simbol tersebut ada di surga. Tapi ketiga tersebut juga merupakan simbol
kebahagiaan di dunia. Air dan buah-buahan merupakan simbol kebutuhan pokok. Sehebat
apapun, semakmur apapun suatu negara dalam bidang ilmu dan teknologi sebenarnya
mempunyai orientasi yaitu bisa memberi kebutuhan dasar berupa air dan makanan
pokok. Sebab keberlangsungan suatu peradaban sangat tergantung kepada kebutuhan
pokok tersebut. ketika hilang keduanya, akan terjadi bencana kelaparan di
dunia.
Selain kebutuhan pokok tersebut di atas, sumber kebahagiaan yang kekal
abadi yaitu pernikahan. Bagi negara-negara yang saat ini telah berhasil
mewujudkan kebahagiaan hidup dengan 6 indikator-indikator di atas belum
sempurna ketika mereka belum bisa hidup dengan pasangan nya. Pasangan hidup
bukan pacar, istri simpanan, bukan
pasangan sesama jenis, dan bukan juga pasangan dengan selain manusia. Pasangan
hidup adalah pasangan suami-istri yang sah secara syariat Islam. melalui proses
perkawinan yang benar akan mendapatkan tiga kebahagiaan: Sakinah mawadah, dan rahmah.
Pada sisi kebahagiaan pada terpenuhi kebutuhan hidup dan beberapa nilai
etika sosial dan hukum, negara-negara disebut di atas mempunyai keunggulan yang
kita harus mengakui nya. Kita perlu belajar kepada mereka nilai-nilai positif
untuk meningkatkan kualitas hidup seperti kerja keras, tidak gampang menyerah ketika
ada masalah, mempunyai semangat tinggi, disiplin, patuh terhadap aturan dan
bekerja dengan administrasi baik. Pola hidup yang sangat baik untuk dicontoh.
Keterbukaan belajar menerima hal-hal positif darimana pun sebenarnya
ciri khas dari orang yang sudah mempunyai maqam ‘amalun sholihun. Ia selalu
melakukan perbaikan-perbaikan, evaluasi dan tindak lanjut untuk meningkatkan
kualitas diri. Jadi, tidak ada alasan tidak menerima nya meskipun ia datang
dari musuh kita sekalipun.
Meskipun demikian, kita juga harus tetap berpegang teguh kepada
nilai-nilai syariat yang agung dalam kehidupan sosial seperti: pola minum dan
makan yang halal dan toyibah. Kita tidak perlu mengikuti budaya yang suka
minum-minum dan makan-makan yang merusak diri dan syariat Islam. Kedua, kita
juga harus tetap menjaga kelangsungan peradaban dengan tetap patuh terhadap pasangan
hidup dan menjauhi dari pola hubungan yang dilarang dalam syariat Islam.
Saya pikir, jika pola hidup tersebut tetap dibangun dengan baik. Meskipun
mungkin belum bisa mendapatkan indek kebahagiaan seperti negara-negara tersebut
di atas, paling tidak kita sudah mulai pola hidup yang sesuai dengan naluri
manusia dan syariat Islam yaitu pola makan minum, kerja dan perpasangan dengan standar
Islam. pola hidup yang demikian, yang akan mendapatkan kebahagiaan pada jenjang
berikutnya yaitu mendapatkan surga besok di hari kiamat.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Ketika Kaum Musryikin Menantang Tuhan
31 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   90
Kesuksesan di Antara Ujian, Keterbatasan dan Konsisten Terus Berkarya
30 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   140
Materialisme Atas Nama Tuhan
28 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   131
Dari Kurban Jasmaniah Menuju Kejayaan Ruhaniah
27 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   221
Perseteruan Ahli Dzikir dan Kelompok Penghancur Masjid
25 Mei 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   265
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13816
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4867
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3862
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3518
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      3258