
Setelah pensiun dari dunia pertelevisian
(maksudnya sudah tidak nonton TV) selama hampir 8 tahun, nyaris saya tidak pernah
mendapatkan informasi tentang pertandingan sepak bola. Dulu, saat masih pecandu
TV, saya mempunyai arsip jadwal pertandingan Piala Asia, Dunia dan sebagainya. Tentu
saja, resign dari dunia pertelevisian bukan karena hijrah dan sudah
taubat untuk fokus ibadah, tapi karena kalah sama anak anak, yaitu anis dan
faiz. Anies kelas dua SD, faiz TK. Kedua tergolong anak anak yang khyasi’un
(orang orang yang khusu’) jika ketemu film upin ipin. Jika remot sudah dalam
genggamannya, TV benar benar dalam kekuasaannya. Saya mengalah dan sebagai
gantinya mencari film kartun lawas kesukaanku di android; Tom and Jerry dan Donal
Bebek.
Beberapa hari ini FB penuh berita tentang
sepak bola. Ada kalimat “Indonesia membantai Vietnam!!!”. Saya kira itu
adalah ungkaan majaz ironi yang menunjukan kebalikannya. Malum, saat sekarang
ini dunia majaz tumbuh subur. Mula mula ditunjukan pada persoalan politik, tapi
kemudian melebar kemana mana termasuk ke sepak bola.
Indonesia menang melawan Vietnam 3-0. Hebatnya
lagi menang di kandang lawan. Bravo !. hebat, luarbiasa !. ini prestasi bukan
main main. Menunggu 20 tahun Indonesia untuk bisa melumatkan Vietnam. Bahkan alam
bawah sadar masyarakat Indonesia sudah lama pesimis menang jika Indonesia melawan Vietnam. Bermain seri
saja atau 0-0, itu sudah hebat. Ini malah menang 3-0, sungguh sangat spektakuler.
Kemenangan sepak bola di bulan ramadhan
benar benar semacam jihad yang penuh misteri. Inilah yang dimaksud ramadhan
sebagai bulan kemenangan. Benar benar menang. Anda yang bukan pecandu sepak
bola, pasti tidak merasakan kekuatan ruh yang maha kuat untuk mengekpresikan
saat kemenangan dengan luapan gembira yang luarbiasa dan tangisan kesedihan
yang sangat mendalam saat kalah. Anda boleh tertawa melihat orang yang suka mancing
dan pulang hanya mendapatkan ikan satu ekor sebesar jempol kaki, sebab anda
bukan ada di dunia nya. Kita mempunyai suatu kecintaan tertentu yang
menyebabkan hidup kita penuh semangat, kehangatan yang sangat harmoni.
Sepak bola adalah nama lain dari bagian
jihad-jihad kontemporer. Jika merujuk pada makna asli dalam kamus arab seperti lisanul
‘arab, atau kamus Indonesia al-munawir jihad mempunyai arti
sungguh-sungguh. Hal sama juga di sebagian ayat al-qur’an dan hadist nabi sama,
yaitu sungguh-sungguh. Kemudian dalam terminology fiqh sering diartikan sebagai
“qital ‘ala kufar” perang melawan kaum kafir.
Para ulama klasik sebenarnya telah
melakukan beragam definisi jihad yang cukup canggih pada masanya. Kitab Hasiyah
I’anatu Thalibin mengartikan jihad pada penekanan sebagai “wasail” atau
metodologi dengan menggunakan argumentasi ilmiah yang berlandaskan syariat
dalam menyelesaikan persoalan. Kitab Fathul Mu’in juga telah menjelaskan bahwa
jihad dalam kontek luas antara lain berkaitan dengan agama, ilmu pengetahuan
dan juga daf’u dharari ma’sum. Pada kalimat terakhir ini, bahwa jihad
dalam kontek ulama klasik yaitu menghilangkan dharar atau kerusakan. Kontek
rusak itu luas, bisa rusak dari kebodohan, keahilan dan tidak mempunyai
pekerjaan. Maka berusaha sungguh-sungguh mencintai keahilan pada dirinya dan
menjadi bagian jalan untuk mendapatkan rezki Allah dari keahlian tersebut
sebenarnya bagian dari jihad.
Kita bisa melihat bahwa permainan sepak
bola saat ini menjadi bagian dari profesi yang kemudian melahirkan manusia professional.
Sepak bola adalah profesi sebagaimana ASN, pegawai pemda dan lain-lain. Bahkan
bisa dibilang ketika olah raga ini ditekuni dengan serius, penghasilannya bisa
jauh melebihi orang yang tiap hari kerja di kantor yang menunggu gaji bulanan. Anda
bisa membayangkan saja, saat mereka bisa bermain dengan professional,
pendapatanya bisa mencapai 1 milyar tiap bulan. ASN manapun pasti kalah dengan
pendapatannya.
Permainan sepak bola sebenarnya bagian dari
jihad di era modern. Dulu jihad klasik diartikan dengan perang berhadap-hadapan
dan saling membunuh. Kini perang tidak harus membunuh. Perang sejati dalam
kitab I’anatut Tholibin justru menggunakan strategi menundukan musuh tanpa
mengalirkan darah di tanah. Ketika bangsa Indonesia mampu menundukan bangsa
lain dengan segudang prestasi, maka secara mental mereka telah kalah oleh
bangsa Indonesia. Saat mental telah kalah, maka saat itu Indonesia telah mampu
sebagai pemenang perang ekonomi, politik, pendidikan dan peradaban.
Kini bangsa Indonesia tidak pernah diserang
senjata oleh negara maju. Namun sebenarnya
telah dijajah oleh produk negara-negara maju. Itu penjajahan majazi dan hakiki.
Menang tanpa menjatuhkan lawan. Itu kemanangan sejati. Kita bisa bangga kemana-mana
membawa HP yang supercanggih dan pamer kepada siapap saja sebenarnya sedang
menunjukan pada diri sendiri statusnya sebagai “bangsa yang terjajah”. Sebab kita
telah dibuat tergantung dengan segala ilmu pengetahuan dan teknologi bangsa
maju. Mereka dengan leluasa mengatur kehidupan kita dengan gaya mereka.
Jadi, bagi anda yang tidak suka sepak bola
(apalagi sampai menghukumi haram karena tidak ada dalilnya, yang tidak seperti
olah raga memanah dan berkuda jelas ada dalil), janganlah mengomentari dengan
menunjukan diri sebagai orang yang sholeh dan paling dekat dengan Tuhan nya. Pesimisme
anda dengan pendekatan religiusitas jelas menggambarkan kesempitan cara melihat
Islam secara universal. Para pemain sepak bola (dengan segala keterbatasannya)
telah mengharumkan nama baik Indonesia patut diapresiasi. Dan saya dalam
kesempatan ini juga mengucapkan “Selamat dan senantiasa sukses sepakbola Indonesia!”
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876