Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Jihad Politik Kaum Santri di Pilpres 2024



Rabu , 18 Oktober 2023



Telah dibaca :  791

Mulai hari minggu, badan sudah terasa panas. rasanya ingin tidur terus. Nyaris tidak bisa aktivitas sama sekali, kecuali ngajar. Itupun harus membawa tisu. Keluar-masuk ruang kelas. Suara “bendeng” ( ada perubahan suara ) leher terasa sakit. Hilang konsentrasi. Namun, hari ini saya mencoba menulis untuk memulyakan Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2023.

Memperingati Hari Santri berarti mengenang kembali tentang semangat jihad politik kaum santri akibat kembalinya tentara Kolonial Belanda (NICA) ingin menguasai kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Para pejuang dan para santri sowan (menemui) Hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari dan meminta fatwa terkait sikap kolonialisme tersebut. Diantara hasil ijtihadnya yaitu membela tanah air dari penjajahan hukum nya fardhu ‘ain dan wajib bagi setiap orang untuk membela tanah airnya”. Ijtihad pendiri NU ini telah mampu menggerakan jihad fi sabilillah. Hubbul wathan minal iman, mencintai tanah air sebagian dari iman. Mati membela tanah air mati sahid. Itu prinsip. Para pejuang dan para santri menyerang Markas Bridge 49 Mahratta pimpinan Jenderal Mallaby.  Perang ini terjadi pada tanggal 27-29 Oktober 1945. Dalam pertempuran tersebut, Jendral Mallaby dan sekitar 2000 pasukannya tewas.  

Peristiwa ini menjadi catatan penting tentang resolusi jihad yang dicetuskan oleh KH.Hasyim Asy’ari. Untuk mengenang pengorbanan ulama dan para santri, Pemerintah Joko Widodo menetapkan peristiwa tersebut sebagai Hari Santri melalui keputusan presiden (kepres) pada 15 oktober 2015 nomor 22 tahun 2015. Meskipun banyak yang pro dan kontra berkaitan dengan urgensinya, Pemerintahan Joko Widodo telah memberikan ruang penghargaan terhadap eksistensi santri yang sebelum pemerintahannya selalu termarginalkan.

 Jihad Santri di Pilpres 2024

Pemilihan presiden (pilpres) 2024 bisa dikatakan sebagai jihad kaum santri dalam konstestasi politik nasional saat ini. Meskipun kalkulasi logika, keputusan-keputusan politik oleh para elit politik kaum santri sering terjadi ketegangan, konflik ada pro dan kontra di internal  ulama NU. Namun ketegangan ini seolah-olah sudah menjadi tradisi. Hal ini karena berangkat dari pijakan berfikir para ulama NU. Pertama, sebagian ulama yang menggunakan pendekatan fiqh klasik dengan rujukan kitab-kitab politik seperti yang ditulis oleh Al-Mawardi, Al-Ghozali, Al-Farabi dan lain-lain. Kitab-kitab ini menjelaskan tentang pentingnya politik dan agama sebagai satu-kesatuan laksana dua sisi mata uang. Tugas utama dari politik yaitu menjaga agama dan melegalisasikan syariat Islam dalam aspek kehidupan sosial-politik. Agama berperan memberikan pengawasan moral agar pemerintahan tidak melenceng terlalu jauh. Itu sebabnya, para ilmuwan Islam di atas telah memberikan syarat-syarat untuk menjadi seorang kepala negara. Landasan ini yang menurut penulis artikel ini memberi peluang adanya harmonisasi partai politik Islam tradisional maupun modernis sebagaimana yang telah dipraktekan oleh Muhaimin. Meskipun alasan-alasan ini masih bisa diperdebatkan pada aspek-aspek lain berkaitan dengan persoalan kepentingan partai politik dan kekuasaan di antara partai pengusungnya.

Kedua, sebagian ulama NU juga mempunyai referensi kitab-kitab klasik yang mempunyai hujah tidak kalah nya dengan kitab-kitab tersebut di atas. Ada ilmuwan seperti Husein Haikal, Ali Ashgar, Ali Abd Al-Raziq, Ibn Khaldun dan lain-lain telah menyuguhkan pentingnya subtansi ajaran Islam dalam menjadi referensi tegaknya sebuah negara seperti ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan derajat dan terjaminnya supremasi hukum. Tawaran-tawaran pemikiran Husain Haikal dan teman-teman tentu atas dasar dari ajaran Islam yang memang tidak secara tegas memberikan perangkat sistem kenegaraan dan ketatanegaraan, juga fakta sejarah bahwa pemerintah Islam selalu menggunakan sistem pemerintahan berbeda-beda sejak zaman nabi sampai saat sekarang ini. Kelompok ulama yang masuk golongan ini sangat terbuka terhadap partai politik nasionalis, baik mendukung ataupun menjadi bagian dari Pengurus Partai Politik.

Keberagaman pemikiran politik ulama NU yang komplek berangkat dari referensi kitab-kitab siyasah yang komplit telah melahirkan watak politik kaum nahdiyin sangat cair dan mudah menerima pandangan-pandangan politik yang beragam. Ini dibuktikan, bahwa warga nahdiyin berada di berbagai partai politik. Jadi wajar, jika keputusan-keputusan ulama NU tertentu, tidak serta diikuti oleh ulama lain. Ada semacam independensi pilihan-pilihan politik warga NU untuk menentukan pilihan-pilihan politiknya. Begitu juga, kadang terjadi perselisihan tingkat tinggi dan kadang saling sindir, saling menyerang secara terbuka di Media Massa, Media Online dan Sosial. Tetapi, biasa nya konflik yang kadang mencuat ke permukaan dan kadang ada yang berusaha “ngipas-ngipasi” tidak serta merta mempengaruhi independensi politik ulama NU yang berawal “geger-gegeran” berakhir dengan “ger-ger-an”. Itu sebabnya, ulama NU dengan mudah menerima siapapun kepala negara dalam corak yang beragam. Hal ini berangkat dari tradisi keilmuan mereka sendiri yang melihat politik dari tiga sudut aliran; integralistik, simbiotik dan sekularistik.

Bacawapres Santri

Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan telah mengumumkan bakal calon wakil presiden. Ganjar Pranowo memilih Muhammad Mahfud MD, seorang pakar hukum yang telah mempunyai pengalaman menerapkan trias politica; legilslatif, eksekutif, yudikatif. Anies Baswedan memilih Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Kedua adalah santri dari Nahdlatul Ulama. Secara politik keduanya (selain Khofifah) adalah produk didikan politik dari Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Meskipun kadang dalam pandangan politik, kedua laksana Tom and Jerry, ramai dan berbeda pandangan politik sangat tajam (terutama berkaitan dengan PKB).. Tapi pada saat tertentu mereka tetap ada kebersamaan. Pandangan politik sering berbeda, tapi bersatuan tetap terjaga.

Apakah Prabowo juga akan mengikuti langkah dari Ganjar dan Anies? Persoalan kelihatanya masih dilematis. Prabowo yang terkenal politikus “kurang sabaran” tiba-tiba bisa mengatakan “ojo kesusu, ojo grusa-grusu”, sebuah kalimat politik yang sering menjadi trademark Jokowi. Entah karena memang ada kebingungan menghadapi keputusan MK jika diteruskan memilih Gibran sebagai cawapresnya. Atau memang sedang mencari alternatif lain untuk mencari pasangan yang tepat.

Selain Gibran ada beberapa calon cawapres Prabowo yaitu: Erick Thohir, Airlangga, Khofifah Indar Parawansa dan Yusril Ihza Mahendra. Jika Prabowo memilih Erick Thohir atau Khofifah, maka terjadi pertarungan tiga santri dalam kontestasi pilpres 2024. Khofifah sebagai kader dan ketua Pengurus Pusat muslimat NU yang merupakan bagian Badan Otonom (Banom) NU. Begitu juga Erick Thohir adalah anggota kehormatan Banser dan telah mendapat sertifikat keanggotaan.

Kemungkinan kedua Prabowo memilih Prof Yusril sebagai representasi Islam modernis. Jika, Prabowo memilih nya maka kemungkinan besar suara Islam modernis terbelah menjadi dua; Prabowo dan Anies. Keuntungannya, ketika masuk pada putaran kedua (apakah Prabowo atau Anies) suara Islam modernis akan mengerucut menjadi satu kekuatan, sedikit lemah pada Islam tradisional.

Alhasil, Pendaftaran bacapres dan bacawapres tinggal menghitung hari. Pemilihan cawapres menjadi bagian yang sangat menentukan untuk menaikan elektabilitas mereka. Harapan penulis tentu saja, kontestasi ini bukan sebatas siapa yang menang dan siapa yang berkuasa. Lebih jauh, ada harapan yang sangat besar bagi kalangan santri tradisional maupun modernis (muslim) yaitu mampu mewujudkan semangat jihad fi sabilillah. Makna jihad bagi kalangan santri sebagaimana dalam kitab-kitab klasik seperti Bughyatul Murtasyidin, Iqna dan sejenisnya diartikan sebagai wujud: memperkuat kualitas iman dan ibadah, mereformasi kualitas pendidikan, meningkatkan pendapatan negara dan masyarakat dan menjamin keamanan dan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Siapapun yang menjadi presiden nanti harus mempunyai komitmen kuat untuk mewujudkan makna-makna jihad peradaban tersebut. Semoga saja terwujud. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876