
Mulai hari minggu, badan sudah terasa
panas. rasanya ingin tidur terus. Nyaris tidak bisa aktivitas sama sekali,
kecuali ngajar. Itupun harus membawa tisu. Keluar-masuk ruang kelas. Suara “bendeng” ( ada perubahan suara ) leher terasa sakit. Hilang konsentrasi. Namun, hari ini saya mencoba menulis
untuk memulyakan Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2023.
Memperingati Hari Santri berarti mengenang
kembali tentang semangat jihad politik kaum santri akibat kembalinya tentara Kolonial
Belanda (NICA) ingin menguasai kembali Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Para pejuang dan para santri sowan (menemui) Hadratusyeikh
KH Hasyim Asy’ari dan meminta fatwa terkait sikap kolonialisme tersebut. Diantara hasil ijtihadnya yaitu membela tanah air dari penjajahan hukum nya fardhu
‘ain dan wajib bagi setiap orang untuk membela tanah airnya”. Ijtihad pendiri
NU ini telah mampu menggerakan jihad fi sabilillah. Hubbul wathan minal iman,
mencintai tanah air sebagian dari iman. Mati membela tanah air mati sahid. Itu
prinsip. Para pejuang dan para santri menyerang Markas Bridge 49 Mahratta pimpinan
Jenderal Mallaby. Perang ini terjadi
pada tanggal 27-29 Oktober 1945. Dalam pertempuran tersebut, Jendral Mallaby
dan sekitar 2000 pasukannya tewas.
Peristiwa ini menjadi catatan penting tentang resolusi jihad yang dicetuskan oleh KH.Hasyim Asy’ari. Untuk mengenang pengorbanan ulama dan para santri, Pemerintah Joko
Widodo menetapkan peristiwa tersebut sebagai Hari Santri melalui keputusan
presiden (kepres) pada 15 oktober 2015 nomor 22 tahun 2015. Meskipun banyak
yang pro dan kontra berkaitan dengan urgensinya, Pemerintahan Joko Widodo telah
memberikan ruang penghargaan terhadap eksistensi santri yang sebelum
pemerintahannya selalu termarginalkan.
Jihad
Santri di Pilpres 2024
Pemilihan presiden (pilpres) 2024 bisa
dikatakan sebagai jihad kaum santri dalam konstestasi politik nasional saat ini.
Meskipun kalkulasi logika, keputusan-keputusan politik oleh para elit politik kaum santri sering terjadi ketegangan, konflik ada pro dan kontra di internal ulama NU. Namun ketegangan
ini seolah-olah sudah menjadi tradisi. Hal ini karena berangkat dari pijakan
berfikir para ulama NU. Pertama, sebagian ulama yang menggunakan pendekatan fiqh
klasik dengan rujukan kitab-kitab politik seperti yang ditulis oleh Al-Mawardi,
Al-Ghozali, Al-Farabi dan lain-lain. Kitab-kitab ini menjelaskan tentang
pentingnya politik dan agama sebagai satu-kesatuan laksana dua sisi mata uang. Tugas
utama dari politik yaitu menjaga agama dan melegalisasikan syariat Islam dalam
aspek kehidupan sosial-politik. Agama berperan memberikan pengawasan moral agar
pemerintahan tidak melenceng terlalu jauh. Itu sebabnya, para ilmuwan Islam di
atas telah memberikan syarat-syarat untuk menjadi seorang kepala negara. Landasan ini yang menurut penulis artikel ini memberi peluang adanya harmonisasi partai politik Islam tradisional maupun modernis sebagaimana yang telah dipraktekan oleh Muhaimin. Meskipun alasan-alasan ini masih bisa diperdebatkan pada aspek-aspek lain berkaitan dengan persoalan kepentingan partai politik dan kekuasaan di antara partai pengusungnya.
Kedua, sebagian ulama NU juga mempunyai
referensi kitab-kitab klasik yang mempunyai hujah tidak kalah nya dengan
kitab-kitab tersebut di atas. Ada ilmuwan seperti Husein Haikal, Ali Ashgar,
Ali Abd Al-Raziq, Ibn Khaldun dan lain-lain telah menyuguhkan pentingnya
subtansi ajaran Islam dalam menjadi referensi tegaknya sebuah negara seperti
ketuhanan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan derajat dan terjaminnya supremasi
hukum. Tawaran-tawaran pemikiran Husain Haikal dan teman-teman tentu atas dasar
dari ajaran Islam yang memang tidak secara tegas memberikan perangkat sistem
kenegaraan dan ketatanegaraan, juga fakta sejarah bahwa pemerintah Islam selalu
menggunakan sistem pemerintahan berbeda-beda sejak zaman nabi sampai saat
sekarang ini. Kelompok ulama yang masuk golongan ini sangat terbuka terhadap partai politik nasionalis, baik mendukung ataupun menjadi bagian dari Pengurus Partai Politik.
Keberagaman pemikiran politik ulama NU yang komplek berangkat dari referensi
kitab-kitab siyasah yang komplit telah melahirkan watak politik kaum nahdiyin sangat cair dan mudah menerima pandangan-pandangan politik yang beragam. Ini dibuktikan, bahwa warga nahdiyin berada di berbagai partai politik. Jadi wajar,
jika keputusan-keputusan ulama NU tertentu, tidak serta diikuti oleh ulama
lain. Ada semacam independensi pilihan-pilihan politik warga NU untuk menentukan pilihan-pilihan politiknya. Begitu juga, kadang terjadi perselisihan tingkat tinggi dan kadang saling sindir, saling menyerang secara terbuka di Media Massa, Media Online dan Sosial. Tetapi, biasa
nya konflik yang kadang mencuat ke permukaan dan kadang ada yang berusaha
“ngipas-ngipasi” tidak serta merta mempengaruhi independensi politik ulama NU yang berawal “geger-gegeran”
berakhir dengan “ger-ger-an”. Itu sebabnya, ulama NU dengan mudah menerima
siapapun kepala negara dalam corak yang beragam. Hal ini berangkat dari tradisi
keilmuan mereka sendiri yang melihat politik dari tiga sudut aliran;
integralistik, simbiotik dan sekularistik.
Bacawapres Santri
Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan telah
mengumumkan bakal calon wakil presiden. Ganjar Pranowo memilih Muhammad Mahfud
MD, seorang pakar hukum yang telah mempunyai pengalaman menerapkan trias
politica; legilslatif, eksekutif, yudikatif. Anies Baswedan memilih
Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Kedua adalah santri dari Nahdlatul Ulama. Secara
politik keduanya (selain Khofifah) adalah produk didikan politik dari
Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Meskipun kadang dalam pandangan politik, kedua
laksana Tom and Jerry, ramai dan berbeda pandangan politik sangat tajam
(terutama berkaitan dengan PKB).. Tapi pada saat tertentu mereka tetap ada kebersamaan.
Pandangan politik sering berbeda, tapi bersatuan tetap terjaga.
Apakah Prabowo juga akan mengikuti langkah
dari Ganjar dan Anies? Persoalan kelihatanya masih dilematis. Prabowo yang
terkenal politikus “kurang sabaran” tiba-tiba bisa mengatakan “ojo
kesusu, ojo grusa-grusu”, sebuah kalimat politik yang sering menjadi trademark
Jokowi. Entah karena memang ada kebingungan menghadapi keputusan MK jika
diteruskan memilih Gibran sebagai cawapresnya. Atau memang sedang mencari
alternatif lain untuk mencari pasangan yang tepat.
Selain Gibran ada beberapa calon cawapres Prabowo
yaitu: Erick Thohir, Airlangga, Khofifah Indar Parawansa dan Yusril Ihza
Mahendra. Jika Prabowo memilih Erick Thohir atau Khofifah, maka terjadi
pertarungan tiga santri dalam kontestasi pilpres 2024. Khofifah sebagai kader
dan ketua Pengurus Pusat muslimat NU yang merupakan bagian Badan Otonom (Banom)
NU. Begitu juga Erick Thohir adalah anggota kehormatan Banser dan telah
mendapat sertifikat keanggotaan.
Kemungkinan kedua Prabowo memilih Prof
Yusril sebagai representasi Islam modernis. Jika, Prabowo memilih nya maka
kemungkinan besar suara Islam modernis terbelah menjadi dua; Prabowo dan Anies.
Keuntungannya, ketika masuk pada putaran kedua (apakah Prabowo atau Anies)
suara Islam modernis akan mengerucut menjadi satu kekuatan, sedikit lemah pada
Islam tradisional.
Alhasil, Pendaftaran bacapres dan bacawapres tinggal
menghitung hari. Pemilihan cawapres menjadi bagian yang sangat menentukan untuk
menaikan elektabilitas mereka. Harapan penulis tentu saja, kontestasi ini bukan
sebatas siapa yang menang dan siapa yang berkuasa. Lebih jauh, ada harapan yang
sangat besar bagi kalangan santri tradisional maupun modernis (muslim) yaitu
mampu mewujudkan semangat jihad fi sabilillah. Makna jihad bagi kalangan
santri sebagaimana dalam kitab-kitab klasik seperti Bughyatul Murtasyidin, Iqna
dan sejenisnya diartikan sebagai wujud: memperkuat kualitas iman dan ibadah,
mereformasi kualitas pendidikan, meningkatkan pendapatan negara dan masyarakat
dan menjamin keamanan dan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Siapapun yang menjadi presiden nanti harus mempunyai komitmen kuat
untuk mewujudkan makna-makna jihad peradaban tersebut. Semoga saja terwujud.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2970
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876