Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Joko Pinurbo adalah Kita; Malu Tapi Fakta



Selasa , 21 Januari 2025



Telah dibaca :  541

Iseng-iseng setelah sarapan agak terlambat (Jam 09.32 pesan sarapan, selesai makan jam 09.45), saya membuka HP yang tertinggal di meja. Ada telpon dari istri, ada juga postingan puisi Joko Pinurbo nylonong di HP ku (https://www.facebook.com, n.d.).  saya pun baru tahu kalau ia adalah seorang sastrawan. Meninggal tanggal 24 April 2024. Berikut puisi yang menampar sangat keras terutama diriku sendiri:

Tuhan, Ponsel saya dibanting Gempa,

Nomor kontak saya hilang semua,

Satu-satunya yang tersisa adalah nomor-Mu

Tuhan berkata:

Dan itulah satu-satunya nomor

Yang tidak pernah kau sapa

Saya tidak tahu agama saudara Joko Pinurbo, meskipun saya tahu dimana dia sekolah, kuliah dan meninggal dunia. Tapi saya yakin di KTP nya ada status agama nya. Saya juga yakin bahwa ia seorang sastrawan yang agamis pada agama dan Tuhan yang ia yakini. Salah satu bukti puisi curahan hati yang paling dalam di atas. itu realita hidup beragama. Bertuhan tapi merasa tidak bertuhan. Beragama tetapi agama dilupakan, yang bukan agama seolah-olah sakral melebihi agama. Semua menjadi simbolisasi diri, bukan jati diri yang sesungguhnya.

Padahal persaksian kita saat di alam ruh itu sangat jelas dan tegas. Allah telah berfirman dalam Q.S.Al-A’raf ([7]: 172) sebagai berikut: “ Allah berfirman;” Bukankah aku ini Tuhan mu?” Mereka menjawab, “Benar, kami menjadi saksi”. Q.S. Al-Luqman ([31]: 34) sebagai berikut: “Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari kiamat; dan dia yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh Allah Maha Mengetahui Maha Mengenal”.

Anda dan saya sudah beragama dan sudah mengetahui status agama nya, tapi kita belum mengenal nya dengan baik. Sudah berapa kali sehari nama Tuhan kita disebut dalam sholat dan doa. Tuhan sering dijadikan tempat curhat saat lagi sedih, susah, dan berbagai persoalan yang menimpa kita. Tentu tidak masalah. Sah-sah saja. Karena tempat curhat terbaik sebenarnya Sang Maha Penyelesai Masalah yaitu Allah SWT. Tapi nyatanya, terkadang juga Tuhan di kalahkan kualitasnya oleh teman dan relasi kita. Sering suara manusia lebih didengar daripada suara Tuhan. Maha penyelesai masalah kadang berubah statusnya pada diri manusia, makhluk bukan pada Sang Pencipta.

Sekali lagi kita harus jujur, Tuhan sering dijadikan tempat parkir saat otak kita macet, pikiran kalut, dan karir nyangkut, serta ekonomi semrawut. Kita tiba-tiba menjadi sholeh dadakan. Tumbuh rasa sadar bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Itupun kadang-kadang. Itupun kadang memohon, meminta dan berharap kepada-nya dan belum juga selesai persoalan yang menimpa kita muncul kebimbangan dalam hati: “Jangan-jangan Tuhan tidak mendengarkan doa kita”. Atau ada kalimat yang ekstrem lagi: “Jangan-jangan Tuhan tidak menabulkan doa kita”. Negatif thinking pun muncul saat keinginan belum terpenuhi. Padahal Tuhan sudah sangat jelas berfirman: “Bisa jadi apa yang kita harapkan baik menurutmu, belum tentu menurut Tuhan. Jelek menurut mu belum tentu jelek menurut Tuhan”. Tapi konsep hidup firman tersebut sering terpental dalam pikiran hati kita. Entah kenapa hati kita separah itu?.

Kenapa sih kita mendekat dengan Tuhan hanya sebatas lagi susah? Kenapa sih saat kita bahagia terlalu santai mendekat kepada-Nya. Apakah keindahan Tuhan kalah sama kecantikan-ketampanan pasangan anda, apakah keagungan Tuhan kalah dengan keagungan usaha dan rumah anda, apakah kemulyaan Tuhan kalah dengan kemulyaan atasan anda, apakah kekuasaan Tuhan kalah dengan juragan atau mandor anda?. Kenapa bisa terjadi seperti ini?

Apakah anda tidak pernah meresapi secara mendalam bahwa jabatan,harta, kebun, rumah, kecantikan, ketampanan, anak-anak dan semua bersifat fana? Kendaraan mobil anda yang masih kredit yang anda bangga-banggakan hanya terasa indah saat pertama beli dan semakin membosankan dan terasa ketinggalan model nya saat sudah berjalan beberapa tahun kedepan. Proses evolusi dunia tidak seperti bidadari yang semakin lama semakin cantik dan mempesona. Evolusi tubuh kita adalah evolusi fana semakin hari semakin rusak. Ironisnya, kata penyair di atas, Tuhan tidak pernah disapa, ditelpon dan diajak diskusi tentang masa depan kita.

Itulah sebagian keajaiban dunia yang sering dilupakan. Kita terlalu lama dicecoki informasi menyesatkan tentang keajaiban dunia hanya sebatas Candi Borobudur, Piramida, dan sejenisnya. Padahal keajaiban terhebat di dunia sebenarnya manusia beragama tetapi ia lebih mengenal makhluknya daripada Tuhan nya. Ajaibnya lagi, sudah seperti itu ingin pula selamat dunia dan akherat. Itulah keajaiban nyata di dunia saat sekarang ini. Semoga Allah selalu memberi kekuatan untuk semakin mengenal-Nya lebih baik.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? Ticket: SENDING 0,75255396 BTC. Receive >>> h

851sn8

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872