
Iseng-iseng setelah sarapan agak terlambat
(Jam 09.32 pesan sarapan, selesai makan jam 09.45), saya membuka HP yang
tertinggal di meja. Ada telpon dari istri, ada juga postingan puisi Joko
Pinurbo nylonong di HP ku
Tuhan, Ponsel saya dibanting Gempa,
Nomor kontak saya hilang semua,
Satu-satunya yang tersisa adalah nomor-Mu
Tuhan berkata:
Dan itulah satu-satunya nomor
Yang tidak pernah kau sapa
Saya tidak tahu agama saudara Joko Pinurbo,
meskipun saya tahu dimana dia sekolah, kuliah dan meninggal dunia. Tapi saya
yakin di KTP nya ada status agama nya. Saya juga yakin bahwa ia seorang
sastrawan yang agamis pada agama dan Tuhan yang ia yakini. Salah satu bukti
puisi curahan hati yang paling dalam di atas. itu realita hidup beragama. Bertuhan
tapi merasa tidak bertuhan. Beragama tetapi agama dilupakan, yang bukan agama
seolah-olah sakral melebihi agama. Semua menjadi simbolisasi diri, bukan jati
diri yang sesungguhnya.
Padahal persaksian kita saat di alam ruh
itu sangat jelas dan tegas. Allah telah berfirman dalam Q.S.Al-A’raf ([7]: 172)
sebagai berikut: “ Allah berfirman;” Bukankah aku ini Tuhan mu?” Mereka
menjawab, “Benar, kami menjadi saksi”. Q.S. Al-Luqman ([31]: 34) sebagai
berikut: “Sesungguhnya hanya di sisi Allah ilmu tentang hari kiamat; dan dia
yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada di dalam rahim. Dan tidak
ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan
dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi
mana dia akan mati. Sungguh Allah Maha Mengetahui Maha Mengenal”.
Anda dan saya sudah beragama dan sudah
mengetahui status agama nya, tapi kita belum mengenal nya dengan baik. Sudah berapa
kali sehari nama Tuhan kita disebut dalam sholat dan doa. Tuhan sering
dijadikan tempat curhat saat lagi sedih, susah, dan berbagai persoalan yang
menimpa kita. Tentu tidak masalah. Sah-sah saja. Karena tempat curhat terbaik
sebenarnya Sang Maha Penyelesai Masalah yaitu Allah SWT. Tapi nyatanya,
terkadang juga Tuhan di kalahkan kualitasnya oleh teman dan relasi kita. Sering
suara manusia lebih didengar daripada suara Tuhan. Maha penyelesai masalah kadang
berubah statusnya pada diri manusia, makhluk bukan pada Sang Pencipta.
Sekali lagi kita harus jujur, Tuhan sering
dijadikan tempat parkir saat otak kita macet, pikiran kalut, dan karir nyangkut,
serta ekonomi semrawut. Kita tiba-tiba menjadi sholeh dadakan. Tumbuh rasa
sadar bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang. Itupun kadang-kadang. Itupun
kadang memohon, meminta dan berharap kepada-nya dan belum juga selesai
persoalan yang menimpa kita muncul kebimbangan dalam hati: “Jangan-jangan Tuhan
tidak mendengarkan doa kita”. Atau ada kalimat yang ekstrem lagi: “Jangan-jangan
Tuhan tidak menabulkan doa kita”. Negatif thinking pun muncul saat
keinginan belum terpenuhi. Padahal Tuhan sudah sangat jelas berfirman: “Bisa
jadi apa yang kita harapkan baik menurutmu, belum tentu menurut Tuhan. Jelek menurut
mu belum tentu jelek menurut Tuhan”. Tapi konsep hidup firman tersebut sering terpental
dalam pikiran hati kita. Entah kenapa hati kita separah itu?.
Kenapa sih kita mendekat dengan Tuhan hanya
sebatas lagi susah? Kenapa sih saat kita bahagia terlalu santai mendekat
kepada-Nya. Apakah keindahan Tuhan kalah sama kecantikan-ketampanan pasangan
anda, apakah keagungan Tuhan kalah dengan keagungan usaha dan rumah anda,
apakah kemulyaan Tuhan kalah dengan kemulyaan atasan anda, apakah kekuasaan Tuhan
kalah dengan juragan atau mandor anda?. Kenapa bisa terjadi seperti ini?
Apakah anda tidak pernah meresapi secara
mendalam bahwa jabatan,harta, kebun, rumah, kecantikan, ketampanan, anak-anak
dan semua bersifat fana? Kendaraan mobil anda yang masih kredit yang anda
bangga-banggakan hanya terasa indah saat pertama beli dan semakin membosankan
dan terasa ketinggalan model nya saat sudah berjalan beberapa tahun kedepan. Proses
evolusi dunia tidak seperti bidadari yang semakin lama semakin cantik dan
mempesona. Evolusi tubuh kita adalah evolusi fana semakin hari semakin rusak. Ironisnya,
kata penyair di atas, Tuhan tidak pernah disapa, ditelpon dan diajak diskusi
tentang masa depan kita.
Itulah sebagian keajaiban dunia yang sering
dilupakan. Kita terlalu lama dicecoki informasi menyesatkan tentang keajaiban
dunia hanya sebatas Candi Borobudur, Piramida, dan sejenisnya. Padahal keajaiban
terhebat di dunia sebenarnya manusia beragama tetapi ia lebih mengenal
makhluknya daripada Tuhan nya. Ajaibnya lagi, sudah seperti itu ingin pula
selamat dunia dan akherat. Itulah keajaiban nyata di dunia saat sekarang ini. Semoga
Allah selalu memberi kekuatan untuk semakin mengenal-Nya lebih baik.
Penulis : Imam Ghozali
???? Ticket: SENDING 0,75255396 BTC. Receive >>> h
851sn8
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872