Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kacamata Baitullah



Rabu , 14 Mei 2025



Telah dibaca :  378

Suatu hari, teman saya kehilangan sesuatu yang cukup berharga di sekitar Ka’bah saat melakukan Thawaf. Ia baru sadar saat sudah keluar dari Masjid Haram dan hampir sampai di hotel.

Awal ceritanya begini. Ia selalu gagal mencium hajar aswad dan tidak bisa sholat sunnah di lokasi Hijr Ismail. Lalu dia curhat kepadaku.

Saat berada di kamar, ia bertanya tentang tip bisa mencium Hajar Aswad dan sholat di Hijr Ismail. Saya menceritakan. Terlihat menyakinkan sekali ceritanya.

Ia iri kepada ku yang hampir setiap waktu sholat di Hijr Ismail. Memang saat saya berada di Masjid Haram, setelah selesai biasanya tidak langsung pulang. Biasanya menunggu antrian menuju Hijr Ismail dan sholat dua raka’at. Kadang juga cuma duduk-duduk melihat kekasih-kekasih Allah yang semua punya wajah ceria.  Bersinar karena muncul dari ketulusan hati.

“Alhamdulillah mas, saya bisa mencium Hajar Aswad, meskipun dompet ku hilang tak apa-apa lah” kata teman ku.

Teman ku satu kamar tadi memang termasuk mempunyai kelebihan. Salah satu kelebihan nya yaitu suka membeli minyak wangi yang cukup mahal di Tanah Suci. Kebetulan juga saya punya kelebihan, suka minta minta wangi. Mungkin karena berkah dia memberi minyak wangi, sebelum berangkat minta doa restu. Ingin mencium Hajar Aswad. Terkabul. Tapi dompet hilang. Mungkin minta doa nya kurang kumplit. Untung saja dia tidak minta nambah istri.

Untung hari berikutnya bertemu seorang jamaah dan ngobrol kalau dompetnya hilang. Ia memberi saran untuk pergi ke tempat lost and found atau pos keamanan. Entah gimana ceritanya, hari berikutnya saat saya lagi tidur di kamar hotel, dia pun dengan riang gembira mengatakan bahwa dompetnya telah ketemu. Lebih Bahagia lagi, isi dompetnya tidak ada hilang sama sekali.

“Kita tidak boleh berprasangkan jelek di tanah suci, di tempat tersebut langit sangat dekat, para malaikat turun ke bumi dan doa-doa nya mustajab” nasehat seorang ulama kepada ku. Sudah lama, tapi masih saya ingat.

Ucapan ulama tadi ternyata berdasarkan pada hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hadis tersebut berbunyi: "Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk adalah ucapan yang paling dusta."

Sungguh sangat dahsyat hadist tersebut. Satu hadist Nabi mampu membentuk sikap kepatuhan ratusan jamaah, bahkan jutaaan jamaah haji dan umrah dalam menjaga “krentege ati” terhadap potensi-potensi berfikir negatif di tanah suci. Mereka dengan latarbelakang yang berbeda suku,etnis, bangsa dan negara serta bahasa dan budaya bisa mempunyai kesepahaman sama dan kesadaran universal bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang dhaif dan sedang sama-sama membutuhkan kasih sayang-Nya. Mereka juga sama-sama merasakan sebagai umat Nabi Muhammad yang berharap syafaat nya besok di Hari Akhirat.

Jadi umat Islam menggunakan Kacamata Baitullah yaitu cara pandang dengan pendekatan kehambaan secara totalitas. Orang-orang yang menghambakan diri kepada Allah secara totalitas hanya menyakini bahwa Allah Sang Pencipta dan selain Allah mempunyai status sama yaitu sama-sama mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Nya. Cara pandang seperti ini membuat mereka tetap tersenyum saat terinjak kakinya, kesikut pipinya oleh tangan-tangan para  jamaah. Tidak ada yang marah. Semua nya suasana damai dalam satu tujuan. Senyum kemaafan dan penuh kasih sayang.

Entah apakah kenangan indah tersebut tetap kekal sampai di negara masing-masing atau masih tetap terpatri dalam hati. Saya masih bertanya-tanya saat sekarang ini. Hanya saja, ada beberapa fenomena yang sering terlihat di permukaan, kebiasaan sumeh, sumeleh dan sumringah seolah-olah berubah menjadi sumuh (tidak bersahabat), ora sumeleh, dan gampang sumuk (panas) ketika ada hal-hal yang dianggap tidak menyenangkan di dalam hati. Kejernihan mata air kehidupan dalam hati, berubah menjadi mata air kekeruhan, nieng, butek dan kotor.

Mungkin itu hanya fatamorgana saja, kesalahan mata indrawi atas segala fenomena. Mungkin kita memang harus belajar menggunakan kacamata dengan pendekatan kacamata Baitullah. Sulit, tapi harus terus belajar mencapai maqam tersebut.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872