
Suatu hari, teman saya kehilangan sesuatu yang cukup berharga di sekitar Ka’bah saat melakukan Thawaf. Ia baru sadar saat sudah keluar dari Masjid Haram dan hampir sampai di hotel.
Awal ceritanya begini. Ia selalu gagal mencium hajar aswad dan tidak bisa sholat sunnah di lokasi Hijr Ismail. Lalu dia curhat kepadaku.
Saat berada di kamar, ia bertanya tentang
tip bisa mencium Hajar Aswad dan sholat di Hijr Ismail. Saya menceritakan. Terlihat
menyakinkan sekali ceritanya.
Ia iri kepada ku yang hampir setiap waktu
sholat di Hijr Ismail. Memang saat saya berada di Masjid Haram, setelah selesai
biasanya tidak langsung pulang. Biasanya menunggu antrian menuju Hijr Ismail dan
sholat dua raka’at. Kadang juga cuma duduk-duduk melihat kekasih-kekasih Allah
yang semua punya wajah ceria. Bersinar karena
muncul dari ketulusan hati.
“Alhamdulillah mas, saya bisa mencium Hajar
Aswad, meskipun dompet ku hilang tak apa-apa lah” kata teman ku.
Teman ku satu kamar tadi memang termasuk
mempunyai kelebihan. Salah satu kelebihan nya yaitu suka membeli minyak wangi
yang cukup mahal di Tanah Suci. Kebetulan juga saya punya kelebihan, suka minta
minta wangi. Mungkin karena berkah dia memberi minyak wangi, sebelum berangkat
minta doa restu. Ingin mencium Hajar Aswad. Terkabul. Tapi dompet hilang. Mungkin
minta doa nya kurang kumplit. Untung saja dia tidak minta nambah istri.
Untung hari berikutnya bertemu seorang
jamaah dan ngobrol kalau dompetnya hilang. Ia memberi saran untuk pergi ke tempat
lost and found atau pos keamanan. Entah gimana ceritanya, hari berikutnya saat
saya lagi tidur di kamar hotel, dia pun dengan riang gembira mengatakan bahwa
dompetnya telah ketemu. Lebih Bahagia lagi, isi dompetnya tidak ada hilang sama
sekali.
“Kita tidak boleh berprasangkan jelek di
tanah suci, di tempat tersebut langit sangat dekat, para malaikat turun ke bumi
dan doa-doa nya mustajab” nasehat seorang ulama kepada ku. Sudah lama, tapi masih saya ingat.
Ucapan ulama tadi ternyata berdasarkan pada
hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Hadis
tersebut berbunyi: "Jauhilah prasangka buruk, karena prasangka buruk
adalah ucapan yang paling dusta."
Sungguh sangat dahsyat hadist tersebut. Satu
hadist Nabi mampu membentuk sikap kepatuhan ratusan jamaah, bahkan jutaaan
jamaah haji dan umrah dalam menjaga “krentege ati” terhadap potensi-potensi
berfikir negatif di tanah suci. Mereka dengan latarbelakang yang berbeda
suku,etnis, bangsa dan negara serta bahasa dan budaya bisa mempunyai
kesepahaman sama dan kesadaran universal bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah
yang dhaif dan sedang sama-sama membutuhkan kasih sayang-Nya. Mereka juga
sama-sama merasakan sebagai umat Nabi Muhammad yang berharap syafaat nya besok
di Hari Akhirat.
Jadi umat Islam menggunakan Kacamata Baitullah
yaitu cara pandang dengan pendekatan kehambaan secara totalitas. Orang-orang
yang menghambakan diri kepada Allah secara totalitas hanya menyakini bahwa Allah
Sang Pencipta dan selain Allah mempunyai status sama yaitu sama-sama
mengharapkan rahmat dan kasih sayang-Nya. Cara pandang seperti ini membuat
mereka tetap tersenyum saat terinjak kakinya, kesikut pipinya oleh
tangan-tangan para jamaah. Tidak ada
yang marah. Semua nya suasana damai dalam satu tujuan. Senyum kemaafan dan penuh
kasih sayang.
Entah apakah kenangan indah tersebut tetap
kekal sampai di negara masing-masing atau masih tetap terpatri dalam hati. Saya
masih bertanya-tanya saat sekarang ini. Hanya saja, ada beberapa fenomena yang
sering terlihat di permukaan, kebiasaan sumeh, sumeleh dan sumringah seolah-olah
berubah menjadi sumuh (tidak bersahabat), ora sumeleh, dan
gampang sumuk (panas) ketika ada hal-hal yang dianggap tidak
menyenangkan di dalam hati. Kejernihan mata air kehidupan dalam hati, berubah
menjadi mata air kekeruhan, nieng, butek dan kotor.
Mungkin itu hanya fatamorgana saja,
kesalahan mata indrawi atas segala fenomena. Mungkin kita memang harus belajar
menggunakan kacamata dengan pendekatan kacamata Baitullah. Sulit, tapi harus
terus belajar mencapai maqam tersebut.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872