Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kado Terindah dari Tuhan



Sabtu , 13 April 2024



Telah dibaca :  1615

Idul fitri adalah kado terindah dari Tuhan untuk umat nabi Muhammad saw. Pada hari itu, mereka mendapatkan bingkisan berupa: diberi kebebasan makan dan minum yang melimpah, dosa-dosanya telah diampuni, dan tercatat sebagai hamba-hamba Allah yang diterima segala ibadah dan amal sholeh nya.

Idul Fitri berasal dari kata ‘id dan al-fitr. Kata ‘id artinya kembali dan kata al-fitr artinya berbuka puasa atau diperbolehkan makan kembali. Berarti hari raya Idul Fitri sebenarnya hari raya yang memperbolehkan makan di siang hari. Hal ini disebabkan pada bulan bulan ramadhan, Allah memerintahkan berpuasa tidak makan dan minum serta hal-hal yang membatalkan nya.

Sebagian ulama membuat definisi berbeda dengan tidak menghilangkan makna tersebut di atas. Kata Idul Fitri berasal dari ‘id dan fitrah. Kata ‘id berarti kembali dan fitrah diartikan asal kehidupan manusia yang masih bersih seperti bayi baru lahir. Dasar pemikiran  ini berangkat dari sabda Nabi bahwa setiap bayi yang lahir selalu dalam keadaan fitrah atau suci. Siapapun bayi tersebut dan melalui proses apapun baik melalui proses perkawinan secara sah maupun proses salah, tidak mempengaruhi status bayi yang suci. Islam tidak mengenal dosa warisan. Meskipun orang tua nya melakukan maksiat, bayi tersebut tetap dalam keadaan suci.

Menurut penulis, makna Idul Fitri “manusia kembali pada fitrahnya” menjadi pembahasan menarik. Ia tidak hanya sebatas kembali diperbolehkan makan dan minum saja, yang terlihat kurang “greget” pada aspek-aspek manusia yang sangat komplek. Pemaknaan Idul Fitri sebagai tarikat (metode) manusia menuju pada hakikat kesucian diri  merupakan  jalan berliku  untuk mencapai status sebagai insan mutaqin. Jalan perubahan kearah tersebut baik ditinjau dari ayat al-qur’an, hadist dan ibadah puasa itu sendiri sudah cukup mengajarkan akan pentinya manusia kembali ke fitrahnya. Saya kira, dalam tulisan ini tidak akan menyebutkan sumber-sumber tersebut di atas. Saya menyakini para pembaca sudah ma’lum tentang hal tersebut.

Meskipun demikian, penulis bisa merangkum beberapa penisbatan kedudukan bulan ramadhan bisa ditelusuri sebagai berikut; Pertama, Allah telah menjadikan bulan ramadhan sebagai jalan lahirnya manusia dengan status mutaqin. Kedua, Allah telah menjadikan bulan ramadhan sebagai waktu turunya Al-Qur’an. Ketiga, Allah telah menjadikan bulan ramadhan sebagai tempat turun lailatul qadr. Keempat, Kanjeng nabi Muhammad menjelaskan bulan ramadhan sebagai bulan  pelebur dosa-dosa  melalui hadistnya sebagai berikut; “Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka dosa-dosa yang telah dilakukan sebelumnya diampuni oleh Allah swt. Kelima, kanjeng nabi juga menjelaskan amalan-amalan wajib pahalanya dilipatgandakan, dan amalan-amalan sunnah distatuskan seperti amalan wajib dalam hal kualitas pahalanya.  

Penisbatan-penisbatan tersebut telah menempatkan status bulan ramadhan sebagai bulan pelatihan mengendalikan hawa nafsu secara dhohir seperti makan, minum dan berhubungan suami-istri. Pengendalian diri pada asepk bersifat batiniah seperti terhindar dari sifat ujub, sombong, dengki dan penyakit-penyakit hati lainnya. Kanjeng nabi Muhammad bersabda,”Banyak orang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga”. Sabda nabi tersebut semakin memperjelas bahwa puasa melibatkan aspek spiritual. Ketika pada aspek spiritual atau jiwa baik, maka aspek dhohir pun baik. islam lebih menekankan pada kebaikan batiniah. Ketika aspek batiniah rusak, maka rusak perlaku dhohiriyah, jika batiniah baik, maka baik juga perilaku dhohiriyah.

Puasa pada dimensi dhohir berarti menahan segala yang membatalkan puasa. Ketika Idul Fitri datang, umat Islam diperbolehkan makan-makanan yang lahir dari nilai-nilai puasa. makan dan minum adalah simbol kerakusan manusia. Mengapa demikian?. Setiap orang berlomba-lomba mengejar dunia dalam wujud pangkat, jabatan dan harta sebenarnya bersumber dari kebutuhan perut. Itu realita dan tidak bisa dihindarinya. Hubungan manusia rusak juga karena kebutuhan perut. Bahkan terjadi perkelahian antar manusia juga karena kebutuhan perut. Istilah pangkat, jabatan, bisnis dan sebagainya adalah keberagaman metode untuk mencapai kepuasan perut. Itu sebabnya, ketika bekerja hanya untuk semata-mata mengumpulkan kekayaan dalam pandangan Islam sangat hina.

Islam mengajarkan agar manusia mencari penghidupan dunia dan jangan melupakan kepentingan akherat. Bahasa sederhananya, bekerja niatnya untuk ibadah kepada Allah swt.  Islam mempersilahkan bahkan sangat menganjurkan umatnya mempunyai etos kerja tinggi, professional dan mencapai apa yang disebut sebagai “ya’ulu wala yu’la ‘alaih”, manusia yang paling tinggi peradabannya. Perilaku tersebut sudah dipraktekan oleh umat terdahulu. Namun Islam melarang segala proses profesionalitas yang melahirkan kekayaan dan jabatan yang  menjadi berhala-berhala. Islam melarang segala bentuk kegiatan, aktivitas, mengejar jabatan, memperbaiki kualitas pendidikan, mengumpulkan harta yang tidak disinari oleh ruh tauhid. semua aktivitas tersebut harus  berlandaskan pada  tauhid. Itu sebabnya, Tuhan menghadirkan  bulan ramadhan agar  ia kembali ke fitrah diri. Maka, bulan syawal hari pertama disebut dengan Idul Fitri.

Idul fitri bisa dilihat dari dua aspek; pertama manusia pasca puasa kembali normal menjalankan kehidupanyaitu makan,minum dan berhubungan intim terhadap pasangan hidupnya. Semua itu adalah kebutuhan naluri manusia yang tidak bisa ditinggalkan. Semua itu juga bagian dari ibadah. Mencari dan mendapatkannya juga ibadah. Kedua, manusia secara normal mempunyai hati yang senantiasa menerima kebaikan dan menolak segala keburukan. Siapapun manusia ketika berada dalam dua pilihan senantiasa hati akan memilih kebaikan dan menolak keburukan.

Orang bijak memberi nasehat singkat; “Tanya pada hatimu yang paling dalam”. Sebab hati adalah sumber kebenaran hakiki. Ia tidak  menolak kebenaran. Namun hati begitu pasif. Sedangkan nafsu sangat aktif. Meskipun tidak semua orang mampu berbicara kebenaran, tapi sangat sulit merealisasikan kebenaran tersebut dalam alam nyata. Setiap orang mempunyai pilihan-pilihan sendiri dengan segala pertimbangan. Ada pertimbangan berdasarkan kesadaran dengan segala resikonya. Ada pertimbangan berdasarkan perasaan dengan kurang mempertimbangkan efek yang ditimbulkan. Ada pertimbangan berdasarkan kalkulasi untung dan rugi dengan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan pada sisi lain dan nilai-nilai kemanusiaan dalam perspektif lain. Ada pertimbangan kemanusiaan tetapi sebenarnya mengorbankan nilai kemanusiaan itu sendiri. Seperti orang tua memberikan segala apa yang diminta oleh anaknya karena pertimbangan kasih sayang sebagai orang tua. Padahal kasih sayang yang dilakukan oleh nya sangat membahayakan anak itu sendiri dalam jangka panjangnya. Dari sini penulis bisa memahami bahwa makna kemanusiaan tidak selama jadi barometer suatu kebenaran yang harus diperjuangkan. Ada berbagai pertimbangan beragam aspek untuk melihat makna kemanusiaan benar-benar sesuai dengan prosedur baik ditinjau dari segi moral, agama, pendidikan atau nilai-nilai budaya setempat.

Idul Fitri sebagai hari raya umat Islam  tidak  “hampa” pesan-pesan moral. Allah memberi pesan-pesan yang diselipkan pada hari raya tersebut.  Hal yang muncul dari pesan yang bisa diraskan yaitu Idul Fitri mengingatkan pada diri penulis bahwa manusia terdiri dari dua unsur; jasmani dan ruhani. Kedua unsur tersebut sangat terikat pada nilai-nilai moral dan agama yang sering diartikulasikan dalam wujud-wujud kultur yang hidup di masyarakat. Pesan yang ingin disampaikan, bahwa manusia harus bisa melihat diri sendiri sebagai ukuran realita ketika melihat orang lain. Jika  kita bahagia ketika mendapatkan bantuan orang lain, begitu juga orang lain dengan respon serupa. Hal yang sama kita sedih saat dihina oleh orang lain, maka orang lain pun akan merasakan sama.

Kita sudah mengetahui hal tersebut. Namun sering kita egoisme ingin menang sendiri dengan menganggap diri sendiri yang sempurna. Padahal jika mau mengurangi standar egois sedikit saja dan menggunakan kerangka berfikir secara benar, maka ia akan melihat bahwa tidak ada kesempurnaan tanpa adanya melibatkan unsur lainnya. Ada orang disebut kaya karena ada orang miskin. Ada orang disebut tampan karena disisi lain ada orang yang standarnya di bawahnya. Ketika kita merasa kaya dan tampan, lalu orang-orang miskin dan orang-orang berwajah jelek menjauh dari kehidupannya, maka ia akan mengalami kebingungan dan merasa hidup menjadi tidak berarti. Ia seorang diri di istana keangkuhan sedangkan di sekitarnya tidak ada orang yang mau melihatnya. Semua menjauh tidak memerdulikan status hidunya yang katanya bangsawan dan rupawan. Betapa hidup terasa sangat gersang.

Kanjeng nabi Muhammad mengatakan,”Barangsiapa mengenal dirinya sendiri maka mengenal Tuhannya”. Ketika kita sholeh dan semakin eksklusif dengan kesolehannya, maka kesholehan tersebut sebenarnya berhala yang disembah nya. Ia bangga dengan segala keasikan ritual tanpa memperhatikan kehidupan sosial. Proses pengenalan diri sebagai jalan untuk mengenal Tuhan sebenarnya wujud dari kesadaran diri sebagai hamba yang lemah dan senantiasa membutuhkan bantuan orang lain. Hal yang sama juga orang lain membutuhkan kita. Sebab tidak akan sempurna ibadah seseorang ketika dia tidak membutuhkan orang lain. Secara teoritis, seluruh ibadah kita kepada Allah tidak bisa melepaskan diri dari orang-orang disekeliling kita. Ketika kita ingin sholat, sangat terikat dengan para penjual baju, sarung, peci untuk menghambakan diri kepada Allah dengan sopan dan khusu’. Ketika ingin pergi haji, kita membutuhkan bank, pesawat terbang yang penerbangan maskapainya kadang bukan milik dari umat Islam, tapi milik non-muslim. Ketika ingi berbuka puasa, kita membutuhkan nasi dan sayur mayor serta lauk pauk yang ditanam oleh para petani. Jadi, semakin banyak mengenal manusia semakin membutuhkan kehadiran mereka untuk memenuhi kesempurnaan hidup. Ketika proses tersebut terpenuhi, maka akan tercipta keselarasan hubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan Sang Pencipta. Semakin mengenal diri, maka semakin baik hubungan dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

???? Message: Operation 1.0016 BTC. Assure =>> htt

2u9a4q

Avatar

???? Reminder- Process 1,8216 BTC. GET >> https://

fz59es

Avatar

???? Reminder- Transfer №XV76. ASSURE > https://te

ka63fx

Avatar

???? Reminder; Operation 0,75635962 BTC. Receive >

15xphw

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1059

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   809

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   786

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   915

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13546


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4541


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2867