
Idul fitri adalah kado terindah dari Tuhan
untuk umat nabi Muhammad saw. Pada hari itu, mereka mendapatkan bingkisan
berupa: diberi kebebasan makan dan minum yang melimpah, dosa-dosanya telah
diampuni, dan tercatat sebagai hamba-hamba Allah yang diterima segala ibadah
dan amal sholeh nya.
Idul Fitri berasal dari kata ‘id dan
al-fitr. Kata ‘id artinya kembali dan kata al-fitr artinya berbuka puasa atau
diperbolehkan makan kembali. Berarti hari raya Idul Fitri sebenarnya hari raya
yang memperbolehkan makan di siang hari. Hal ini disebabkan pada bulan bulan
ramadhan, Allah memerintahkan berpuasa tidak makan dan minum serta hal-hal yang
membatalkan nya.
Sebagian ulama membuat definisi berbeda
dengan tidak menghilangkan makna tersebut di atas. Kata Idul Fitri berasal dari
‘id dan fitrah. Kata ‘id berarti kembali dan fitrah diartikan asal kehidupan
manusia yang masih bersih seperti bayi baru lahir. Dasar pemikiran ini berangkat dari sabda Nabi bahwa setiap
bayi yang lahir selalu dalam keadaan fitrah atau suci. Siapapun bayi tersebut
dan melalui proses apapun baik melalui proses perkawinan secara sah maupun
proses salah, tidak mempengaruhi status bayi yang suci. Islam tidak mengenal
dosa warisan. Meskipun orang tua nya melakukan maksiat, bayi tersebut tetap
dalam keadaan suci.
Menurut penulis, makna Idul Fitri “manusia
kembali pada fitrahnya” menjadi pembahasan menarik. Ia tidak hanya sebatas
kembali diperbolehkan makan dan minum saja, yang terlihat kurang “greget”
pada aspek-aspek manusia yang sangat komplek. Pemaknaan Idul Fitri sebagai tarikat
(metode) manusia menuju pada hakikat kesucian diri merupakan jalan berliku untuk mencapai status sebagai insan mutaqin.
Jalan perubahan kearah tersebut baik ditinjau dari ayat al-qur’an, hadist dan
ibadah puasa itu sendiri sudah cukup mengajarkan akan pentinya manusia kembali
ke fitrahnya. Saya kira, dalam tulisan ini tidak akan menyebutkan sumber-sumber
tersebut di atas. Saya menyakini para pembaca sudah ma’lum tentang hal
tersebut.
Meskipun demikian, penulis bisa merangkum beberapa
penisbatan kedudukan bulan ramadhan bisa ditelusuri sebagai berikut; Pertama, Allah
telah menjadikan bulan ramadhan sebagai jalan lahirnya manusia dengan status
mutaqin. Kedua, Allah telah menjadikan bulan ramadhan sebagai waktu turunya
Al-Qur’an. Ketiga, Allah telah menjadikan bulan ramadhan sebagai tempat turun lailatul
qadr. Keempat, Kanjeng nabi Muhammad menjelaskan bulan ramadhan sebagai
bulan pelebur dosa-dosa melalui hadistnya sebagai berikut; “Barangsiapa
yang berpuasa karena iman dan mengharapkan ridha Allah, maka dosa-dosa yang
telah dilakukan sebelumnya diampuni oleh Allah swt. Kelima, kanjeng nabi juga
menjelaskan amalan-amalan wajib pahalanya dilipatgandakan, dan amalan-amalan
sunnah distatuskan seperti amalan wajib dalam hal kualitas pahalanya.
Penisbatan-penisbatan tersebut telah
menempatkan status bulan ramadhan sebagai bulan pelatihan mengendalikan hawa
nafsu secara dhohir seperti makan, minum dan berhubungan suami-istri. Pengendalian
diri pada asepk bersifat batiniah seperti terhindar dari sifat ujub, sombong,
dengki dan penyakit-penyakit hati lainnya. Kanjeng nabi Muhammad
bersabda,”Banyak orang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga”. Sabda
nabi tersebut semakin memperjelas bahwa puasa melibatkan aspek spiritual. Ketika
pada aspek spiritual atau jiwa baik, maka aspek dhohir pun baik. islam lebih
menekankan pada kebaikan batiniah. Ketika aspek batiniah rusak, maka rusak
perlaku dhohiriyah, jika batiniah baik, maka baik juga perilaku dhohiriyah.
Puasa pada dimensi dhohir berarti menahan
segala yang membatalkan puasa. Ketika Idul Fitri datang, umat Islam
diperbolehkan makan-makanan yang lahir dari nilai-nilai puasa. makan dan minum
adalah simbol kerakusan manusia. Mengapa demikian?. Setiap orang berlomba-lomba
mengejar dunia dalam wujud pangkat, jabatan dan harta sebenarnya bersumber dari
kebutuhan perut. Itu realita dan tidak bisa dihindarinya. Hubungan manusia
rusak juga karena kebutuhan perut. Bahkan terjadi perkelahian antar manusia
juga karena kebutuhan perut. Istilah pangkat, jabatan, bisnis dan sebagainya
adalah keberagaman metode untuk mencapai kepuasan perut. Itu sebabnya, ketika
bekerja hanya untuk semata-mata mengumpulkan kekayaan dalam pandangan Islam
sangat hina.
Islam mengajarkan agar manusia mencari
penghidupan dunia dan jangan melupakan kepentingan akherat. Bahasa
sederhananya, bekerja niatnya untuk ibadah kepada Allah swt. Islam mempersilahkan bahkan sangat
menganjurkan umatnya mempunyai etos kerja tinggi, professional dan mencapai apa
yang disebut sebagai “ya’ulu wala yu’la ‘alaih”, manusia yang paling
tinggi peradabannya. Perilaku tersebut sudah dipraktekan oleh umat terdahulu. Namun
Islam melarang segala proses profesionalitas yang melahirkan kekayaan dan
jabatan yang menjadi berhala-berhala. Islam melarang segala bentuk kegiatan, aktivitas, mengejar jabatan, memperbaiki kualitas pendidikan, mengumpulkan harta yang tidak disinari oleh ruh tauhid. semua aktivitas tersebut harus berlandaskan pada tauhid. Itu sebabnya, Tuhan menghadirkan
bulan ramadhan agar ia kembali ke
fitrah diri. Maka, bulan syawal hari pertama disebut dengan Idul Fitri.
Idul fitri bisa dilihat dari dua aspek; pertama
manusia pasca puasa kembali normal menjalankan kehidupanyaitu makan,minum dan
berhubungan intim terhadap pasangan hidupnya. Semua itu adalah kebutuhan naluri
manusia yang tidak bisa ditinggalkan. Semua itu juga bagian dari ibadah.
Mencari dan mendapatkannya juga ibadah. Kedua, manusia secara normal mempunyai
hati yang senantiasa menerima kebaikan dan menolak segala keburukan. Siapapun manusia
ketika berada dalam dua pilihan senantiasa hati akan memilih kebaikan dan
menolak keburukan.
Orang bijak memberi nasehat singkat; “Tanya
pada hatimu yang paling dalam”. Sebab hati adalah sumber kebenaran hakiki. Ia tidak
menolak kebenaran. Namun hati begitu
pasif. Sedangkan nafsu sangat aktif. Meskipun tidak semua orang mampu berbicara
kebenaran, tapi sangat sulit merealisasikan kebenaran tersebut dalam alam
nyata. Setiap orang mempunyai pilihan-pilihan sendiri dengan segala
pertimbangan. Ada pertimbangan berdasarkan kesadaran dengan segala resikonya.
Ada pertimbangan berdasarkan perasaan dengan kurang mempertimbangkan efek yang
ditimbulkan. Ada pertimbangan berdasarkan kalkulasi untung dan rugi dengan
mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan pada sisi lain dan nilai-nilai kemanusiaan
dalam perspektif lain. Ada pertimbangan kemanusiaan tetapi sebenarnya
mengorbankan nilai kemanusiaan itu sendiri. Seperti orang tua memberikan segala
apa yang diminta oleh anaknya karena pertimbangan kasih sayang sebagai orang
tua. Padahal kasih sayang yang dilakukan oleh nya sangat membahayakan anak itu
sendiri dalam jangka panjangnya. Dari sini penulis bisa memahami bahwa makna
kemanusiaan tidak selama jadi barometer suatu kebenaran yang harus
diperjuangkan. Ada berbagai pertimbangan beragam aspek untuk melihat makna
kemanusiaan benar-benar sesuai dengan prosedur baik ditinjau dari segi moral,
agama, pendidikan atau nilai-nilai budaya setempat.
Idul Fitri sebagai hari raya umat
Islam tidak “hampa” pesan-pesan moral. Allah memberi
pesan-pesan yang diselipkan pada hari raya tersebut. Hal yang muncul dari pesan yang bisa diraskan
yaitu Idul Fitri mengingatkan pada diri penulis bahwa manusia terdiri dari dua
unsur; jasmani dan ruhani. Kedua unsur tersebut sangat terikat pada nilai-nilai
moral dan agama yang sering diartikulasikan dalam wujud-wujud kultur yang hidup
di masyarakat. Pesan yang ingin disampaikan, bahwa manusia harus bisa melihat
diri sendiri sebagai ukuran realita ketika melihat orang lain. Jika kita bahagia ketika mendapatkan bantuan orang
lain, begitu juga orang lain dengan respon serupa. Hal yang sama kita sedih
saat dihina oleh orang lain, maka orang lain pun akan merasakan sama.
Kita sudah mengetahui hal tersebut. Namun
sering kita egoisme ingin menang sendiri dengan menganggap diri sendiri yang
sempurna. Padahal jika mau mengurangi standar egois sedikit saja dan menggunakan
kerangka berfikir secara benar, maka ia akan melihat bahwa tidak ada
kesempurnaan tanpa adanya melibatkan unsur lainnya. Ada orang disebut kaya
karena ada orang miskin. Ada orang disebut tampan karena disisi lain ada orang
yang standarnya di bawahnya. Ketika kita merasa kaya dan tampan, lalu
orang-orang miskin dan orang-orang berwajah jelek menjauh dari kehidupannya,
maka ia akan mengalami kebingungan dan merasa hidup menjadi tidak berarti. Ia
seorang diri di istana keangkuhan sedangkan di sekitarnya tidak ada orang yang
mau melihatnya. Semua menjauh tidak memerdulikan status hidunya yang katanya
bangsawan dan rupawan. Betapa hidup terasa sangat gersang.
Kanjeng nabi Muhammad mengatakan,”Barangsiapa
mengenal dirinya sendiri maka mengenal Tuhannya”. Ketika kita sholeh dan semakin
eksklusif dengan kesolehannya, maka kesholehan tersebut sebenarnya
berhala yang disembah nya. Ia bangga dengan segala keasikan ritual tanpa
memperhatikan kehidupan sosial. Proses pengenalan diri sebagai jalan untuk mengenal
Tuhan sebenarnya wujud dari kesadaran diri sebagai hamba yang lemah dan
senantiasa membutuhkan bantuan orang lain. Hal yang sama juga orang lain
membutuhkan kita. Sebab tidak akan sempurna ibadah seseorang ketika dia tidak
membutuhkan orang lain. Secara teoritis, seluruh ibadah kita kepada Allah tidak
bisa melepaskan diri dari orang-orang disekeliling kita. Ketika kita ingin
sholat, sangat terikat dengan para penjual baju, sarung, peci untuk
menghambakan diri kepada Allah dengan sopan dan khusu’. Ketika ingin pergi
haji, kita membutuhkan bank, pesawat terbang yang penerbangan maskapainya
kadang bukan milik dari umat Islam, tapi milik non-muslim. Ketika ingi berbuka
puasa, kita membutuhkan nasi dan sayur mayor serta lauk pauk yang ditanam oleh
para petani. Jadi, semakin banyak mengenal manusia semakin membutuhkan
kehadiran mereka untuk memenuhi kesempurnaan hidup. Ketika proses tersebut
terpenuhi, maka akan tercipta keselarasan hubungan antara manusia dengan
manusia dan manusia dengan Sang Pencipta. Semakin mengenal diri, maka semakin
baik hubungan dengan Sang Pencipta dan sesama manusia.
Penulis : Imam Ghozali
???? Message: Operation 1.0016 BTC. Assure =>> htt
2u9a4q
???? Reminder- Process 1,8216 BTC. GET >> https://
fz59es
???? Reminder- Transfer №XV76. ASSURE > https://te
ka63fx
???? Reminder; Operation 0,75635962 BTC. Receive >
15xphw
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1059
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   809
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   786
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   915
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13546
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4541
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3557
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2936
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2867