Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kapolda Riau: Antara Filsafat dan Falsafah



Sabtu , 17 Mei 2025



Telah dibaca :  753

Pagi ini saya sengaja membaca doa pendek. Doa sapu jagat”Ya Tuhan kami, berilah kepada kami kebahagiaan di dunia dan akherat, dan jauhkan dari siksa neraka”.

Doa pendek ada tujuan khusus: pertama, pagi ini cuaca sangat panas. Nampaknya mulai masuk musim kemarau. Kedua, agar supaya pak kapolda bisa memberikan sambutan lebih dari cukup. Kelihatannya alam semesta memberkahinya. Saat acara mulai, mendung pun menutup sinar matahari. Acara pagi ini tidak jadi terlihat panas. Angin semilir pelan, dan sangat memberi manfaat sangat baik pagi ini. Semoga demikian adanya. Kita senantiasa berharap rahmat dan ampunan dari-Allah swt.

Menyimak pidato Irjen Pol Dr. Hery Herjawan, S.I.K., M.H., M.Hum seperti bukan pidato seorang polisi. Lebih mirip sebagai seorang dosen. Kami diajak pada suasana untuk sama-sama berfikir dan memikirkan persoalan-persoalan yang kecil tapi berdampak pada wilayah yang lebih luas. Berfikir global, berbuat lokal. Think globaly act localy. Persoalan banjir dan kelangkaan persediaan pangan saat ini melanda, bukan hanya nasional juga internasional. Semua persoalan tersebut bisa dilakukan dan diperbaiki dengan memanfaatkan lahan-lahan kosong dan belum maksimal dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat. Apalagi wilayah Indonesia yang terkenal subur. Tongkat ditanam menjadi pohon. Sungguh karunia Tuhan yang sangat besar sekali terhadap wilayah Indonesia.

Pak Hery Herjawan seorang Kapolda yang berpendidikan doktor menunjukan karakter diri sebagai seorang pemimpin yang menginginkan lembaga nya lebih humanis, egaliter dan menyatu dengan masyarakat. Pola hubungan polisi dan masyarakat adalah pola take and give, diskusi, rembug bareng. Sebab tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan dengan musyawarah. Semua bisa selesai dengan baik. Hukum adalah pilihan paling buntut ketika kedua belah pihak tidak mempunyai titik temu.

Dalam Islam juga terkadang demikian. Penyelesaian persoalan dengan "wasyawirhum". Ketika ada dua perempuan mencari keadilan di depan Nabi Sulaiman dan ingin penyelesaian dengan kekeluargaan. Namun salah satu ibu tidak mau. Ia ngotot dan ingin diselesaikan secara hukum. Akibatnya, ibu yang merasa kuat statusnya justru dijatuhi hukuman. Ia tidak mendapatkan hak untuk mengasuh bayi yang diperselisihkan. Nabi Sulaiman melakukan ijtihad memutuskan hukum melalui pencarian pada inti hukum itu sendiri yaitu memanusiakan manusia. Ketika melihat sisi kemanusiaan muncul, maka Nabi Sulaiman menyakini bahwa orang-orang yang mengedepankan kemanusiaan sebenarnya orang-orang yang telah menjaga terlaksananya hukum dengan baik.

Penulis menilai bahwa Pak Herjawan melihat segala sesuatu pada pendekatan ajaran filsafat dan falsafah. Meskipun menurutnya dua kata tersebut berbeda [tentu saja berbeda dari bahasa dan evolusi kata tersebut saat bersentuhan dengan aspek geografis saat ia berkembang). Inti dari ajaran tersebut yaitu “arif dan bijaksana”. Orang arif dan bijaksana melihat persoalan dengan kacamata obyektif. ia sangat legowo, dan jauh dari sifat “sok sumuci” merasa selalu lebih hebat dari orang lain. Ia terbuka memperbaiki saat salah, sia menerima masukan yang lebih konstruktif dan mempunyai efek kemanfaatan yang lebih luas dan nyata.

Sebagai seorang Kapolda yang berpendidikan doktor dan rasional melihat realita, Pak Herjawan memang dihadapkan berbagai persoalan yang sangat komplek[Tentu  bukan hanya dia saja, semua kapolda, kapolres dan institusi kepolisian secara umum juga sama]. Di era yang semakin terbuka dan peran masyarakat di dunia maya semakin tidak ada batasnya, persoalan memang semakin komplek.

Apalagi persoalan geopolitik dunia semakin tidak jelas arah mata angin-nya. Konflik antar negara sangat berpengaruh pada stabilitas ekonomi, politik dan keamanan. Kita bisa melihat konflik India-Pakistan, Ukraina-AS, Isreal-Palestina, konflik internal Yaman dan Afganistan. Gelombang persoalan tersebut mampu membuat ekonomi dan politik indonesia bergoyang, yang kadang goyangannya merembet ke persoalan-persoalan kehidupan lainnya.

Intitusi polisi memang diharapkan bisa “ngemong” masyarakat. Ma’lum kondisi saat sekarang ini, sebagian masyarakat sangat mudah bersikap dan bertindak terkadang diluar kontrol. Tekanan kehidupan yang semakin sulit telah membawa pikiran manusia semakin sempit dan rumit.

Pada kesempatan tersebut sebenarnya saya ingin bertemu dengan kapolda yang murah senyum, tapi sedikit berwajah dingin. Selain karena ada titipan salam dari seorang hamba Allah yang tentu saja mengenal dekat dengan nya, juga saya ingin ngobrol dan sedikit rembugan tentang ajaran filsafat dan falsafah yang masih “nggantung” dalam pidatonya.

Niat saya ingin ketemu dia belum terwujud. Sahabat ku yang lagi Puasa Dawud harus cepat-cepat pulang karena ada aurad yang harus dibaca pagi hari. Satu lagi, teman ku harus menyelesaikan proyek masjid yang belum tuntas. Jadi, saya harus menemani keduanya.

Tapi saya cukup berbahagia, ada perubahan positif paradigma berfikir teman-teman yang berada di intitusi kepolisian. Tentu saja semua berproses. Apalagi sebagai institusi dengan sistem komando, perubahan tidak bisa diharapkan seperti mengembalikan telapak tangan. Proses secara evolusi ke arah lebih baik. Salah satu bentuk keterbukaan kepolisian yang bisa kita lihat yaitu semakin terbuka rekrutmen anggota nya, termasuk dari kalangan santri dan generasi terbaik dari umat beragama lainnya.

Harapan kedepan, saya menyakini bahwa suatu saat institusi kepolisian akan semakin mampu mengembangkan nilai-nilai filsafat yang dijabarkan oleh pak Kapolda, juga mampu menerapkan falsafah yang diajarkan oleh para ilmuwan Islam seperti Al-Farabi, Al-Ghozali, dan juga tidak ketinggalan ilmuwan yang lahir dari rahim Indonesia yang sangat besar jumlah nya.

Sebagai penutup, semoga program tanam pohon yang telah dilaksanakan tadi pagi mampu menghidupkan pohon kehidupan dalam nurani-nurani kita untuk senantiasa terus menerus menjadi orang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya dan terus mencintai hamba-hamba-Nya dengan pancaran kasih sayang tanpa melihat latarbelakang suku, etnis dan agama. Saat nurani kita hidup, Insya Allah pohon-pohon kehidupan lainnya akan tumbuh bersemi bagai taman-taman bunga yang penuh dengan keharuman.

 



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872