Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Keajaiban Baju No-Formal



Selasa , 26 November 2024



Telah dibaca :  525

Ini adalah foto non-formal saya dan Prof. Ramdhani. Ceritanya saya tidak tahu jika rombongan prof sudah sampai Kampus.  Ketika mereka sampai Bengkalis sekitar 17.40, saya masih memakai kaos. Barusan pulang dari lokasi wisuda lihat-lihat para panitia mempersiapkan keperluaan wisuda. Ma'lum wisuda seperti acara pernikahan. Bikin sibuk. apalagi di daerah kepulauan yang selalu ada gangguan klasik; listrik mati atau kurang daya. Ma'lum, listrik tenaga Diesel.

Pikiran ku turun dari Kapal Roro, rombongan langsung ke Hotel. Ternyata tidak. Prof Ramdhani langsung ke Kampus. Sidak. Ia terlihat masih “ngos-ngosan” karena perjalanan yang melelahkan. Harus melintasi udara, darat, dan laut. Saya juga “ngos-ngosan” karena dipelototi oleh prof yang kalau merokok “sambung menyambung menjadi satu”. Bayangkan, setelah keliling memeriksa setiap bagian ruangan, ternyata hanya satu pertanyaan yang diberikan kepada ku: “asbak nya mana?”.

Memang kadang hidup butuh rilek. Tidak harus menggunakan baju formal seperti dokter di Rumah Sakit. Saya kadang berfikir, jangan-jangan Indonesia terlalu banyak orang sakit karena dokter berseragam warna putih. Mereka melihat dokter takut, melihat ruangan bedah takut, melihat suntik takut, tiba-tiba keluar dari ruang operasi ada pasien mati takut. Jangan-jangan para pasien semakin sakit di Rumah Sakit gara-gara baju seragam berwana putih. Coba kalau para dokter memakai baju gaul, yang ada tulisan di punggungnya, umpamanya: Manchester Uniter, Tottenham Hotspur,Persebaya, Persija, Bonek Sholeh dan sejenisnya. Atau ada kalimat gaul: “anda memasuki kawasan wajib senyum”, “anda sopan, kami segan”. Tapi kalau bisa jangan tulisan yang berbunyi seperti ini: “Kutunggu Jandamu!!”.

Mungkin perlu ada terobosan baru supaya pekerjaan formal terlihat tidak terlalu formal dari segi baju. Umpanya para dokter memakai baju batik, atau baju-baju  casual atau gaul seperti para artis atau anak-anak muda. Ramah. Murah senyum dan pola bertanya seperti pola model antar teman atau tetangga dekat. Pokok nya dokter nya “gaul”, humble dan bersahabat. Untuk dokter anak-anak bisa juga memakai baju yang ada gambar kartunya atau apa saja yang mencerminkan dunia anak-anak (bukan berarti kalau pasien yang sudah tua, dokternya memakai baju yang ada gambar “kerandanya”, bukan itu maksudnya).

Saya kira Rumah Sakit, Perkantoran tidak harus sama dengan ruangan militer, kehakiman, dan kejaksaan yang kadang hanya menyajikan warna-warna yang kaku,tegas, tegang dan menyeramkan. Pelayanan publik adalah pelayanan yang mendekatkan diri dengan masyarakat. Anda tahu masyarakat di sekitar kita: ada petani, buruh pasar dan buruh pelabuhan, honorer, dan beragam pekerjaan dan status sosial. Kadang saya secara pribadi malas berurusan dengan para pegawai kantoran karena persoalan seragam yang terlihat elit dan terkesan tidak bersahabat. Seragam telah menciptakan "gap" hanya untuk kelompok tertentu saja. Saya kira jika mereka memakai baju gaul dan bisa diterima di seluruh masyarakat, mungkin masyarakat semakin betah bertemu dan berdiskusi tentang segala persoalan dengan senang hati.

Tentu saja bukan berarti saya tidak menyukai seragam perkantoran. Kira-kira bisa tidak disederhanakan, umpanya karena ada tujuan untuk menanamkan nasionalisme anak-anak sekolah tetap memakai baju merah-putih di hari senin karena upacara. Atau menghargai adat daerah, hari selasa memakai baju adat daerah masing-masing. Selebihnya terserah, memakai baju yang penting sopan dan tetap menjunjung tinggi moralitas. Apalagi saat sekarang ini dunia semakin tidak ada batas, maka memakai baju yang mencerminkan keegaliteran dan kebersamaan serta kesetaraan bagiku sesuatu yang dibutuhkan saat sekarang ini. Mana tahu, dengan cara seperti itu bisa mengurangi jarak antara pejabat tinggi dengan pejabat biasa seperti pada gambar di atas. Bisa ngopi bareng, bisa “roko’an bareng” dan bisa guyon bareng dan tentu saja bisa menyelesaikan persoalan dengan lebih kekeluargaan. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam Hakim

Baju tdk mesti formal dan boleh tdk seragam..namun kgtn mesti formal dan senantiasa sehaluan..he he he

Admin

sehati, hehehe

Avatar

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872