
Ini adalah foto non-formal saya dan Prof. Ramdhani. Ceritanya saya tidak tahu jika rombongan prof sudah sampai Kampus. Ketika mereka sampai Bengkalis sekitar 17.40, saya masih memakai kaos. Barusan pulang dari lokasi wisuda lihat-lihat para panitia mempersiapkan keperluaan wisuda. Ma'lum wisuda seperti acara pernikahan. Bikin sibuk. apalagi di daerah kepulauan yang selalu ada gangguan klasik; listrik mati atau kurang daya. Ma'lum, listrik tenaga Diesel.
Pikiran ku turun dari Kapal Roro, rombongan langsung ke Hotel.
Ternyata tidak. Prof Ramdhani langsung ke Kampus. Sidak. Ia terlihat masih “ngos-ngosan”
karena perjalanan yang melelahkan. Harus melintasi udara, darat, dan laut. Saya
juga “ngos-ngosan” karena dipelototi oleh prof yang kalau merokok “sambung
menyambung menjadi satu”. Bayangkan, setelah keliling memeriksa setiap
bagian ruangan, ternyata hanya satu pertanyaan yang diberikan kepada ku: “asbak
nya mana?”.
Memang kadang hidup butuh rilek. Tidak
harus menggunakan baju formal seperti dokter di Rumah Sakit. Saya kadang
berfikir, jangan-jangan Indonesia terlalu banyak orang sakit karena dokter berseragam warna putih. Mereka melihat dokter takut, melihat ruangan bedah
takut, melihat suntik takut, tiba-tiba keluar dari ruang operasi ada pasien
mati takut. Jangan-jangan para pasien semakin sakit di Rumah Sakit gara-gara
baju seragam berwana putih. Coba kalau para dokter memakai baju gaul, yang ada tulisan di
punggungnya, umpamanya: Manchester Uniter, Tottenham Hotspur,Persebaya,
Persija, Bonek Sholeh dan sejenisnya. Atau ada kalimat gaul: “anda memasuki kawasan wajib senyum”, “anda sopan, kami segan”. Tapi kalau bisa jangan tulisan
yang berbunyi seperti ini: “Kutunggu Jandamu!!”.
Mungkin perlu ada terobosan baru supaya
pekerjaan formal terlihat tidak terlalu formal dari segi baju. Umpanya para
dokter memakai baju batik, atau baju-baju casual atau gaul seperti para artis atau
anak-anak muda. Ramah. Murah senyum dan pola bertanya seperti pola model antar
teman atau tetangga dekat. Pokok nya dokter nya “gaul”, humble dan bersahabat. Untuk
dokter anak-anak bisa juga memakai baju yang ada gambar kartunya atau apa saja
yang mencerminkan dunia anak-anak (bukan berarti kalau pasien yang sudah tua,
dokternya memakai baju yang ada gambar “kerandanya”, bukan itu maksudnya).
Saya kira Rumah Sakit, Perkantoran tidak
harus sama dengan ruangan militer, kehakiman, dan kejaksaan yang kadang hanya
menyajikan warna-warna yang kaku,tegas, tegang dan menyeramkan. Pelayanan
publik adalah pelayanan yang mendekatkan diri dengan masyarakat. Anda tahu
masyarakat di sekitar kita: ada petani, buruh pasar dan buruh pelabuhan,
honorer, dan beragam pekerjaan dan status sosial. Kadang saya secara pribadi
malas berurusan dengan para pegawai kantoran karena persoalan seragam yang
terlihat elit dan terkesan tidak bersahabat. Seragam telah menciptakan "gap" hanya untuk kelompok tertentu saja.
Saya kira jika mereka memakai baju gaul dan bisa diterima di seluruh
masyarakat, mungkin masyarakat semakin betah bertemu dan berdiskusi tentang
segala persoalan dengan senang hati.
Tentu saja bukan berarti saya tidak menyukai seragam perkantoran. Kira-kira bisa tidak disederhanakan, umpanya karena ada tujuan untuk menanamkan nasionalisme anak-anak sekolah tetap memakai baju merah-putih di hari senin karena upacara. Atau menghargai adat daerah, hari selasa memakai baju adat daerah masing-masing. Selebihnya terserah, memakai baju yang penting sopan dan tetap menjunjung tinggi moralitas. Apalagi saat sekarang ini dunia semakin tidak ada batas, maka memakai baju yang mencerminkan keegaliteran dan kebersamaan serta kesetaraan bagiku sesuatu yang dibutuhkan saat sekarang ini. Mana tahu, dengan cara seperti itu bisa mengurangi jarak antara pejabat tinggi dengan pejabat biasa seperti pada gambar di atas. Bisa ngopi bareng, bisa “roko’an bareng” dan bisa guyon bareng dan tentu saja bisa menyelesaikan persoalan dengan lebih kekeluargaan.
Penulis : Imam Ghozali
Imam Hakim
Baju tdk mesti formal dan boleh tdk seragam..namun kgtn mesti formal dan senantiasa sehaluan..he he he
Admin
sehati, hehehe
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872