Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kebangkitan Nasional atau Rasional ?



Minggu , 19 Mei 2024



Telah dibaca :  650

Senin tanggal 20 Mei 2024 merupakan hari kebangkitan nasional yang ke-116. Para pimpinan dan pegawai di perkantoran pemerintah pusat sampai daerah, perguruan tinggi, sekolah-sekolah dan sejenisnya mendapat surat edaran agar melaksanakan upacara dalam rangka memperingati hari kebangkitan nasional. Tujuannya sederhana: pertama, menumbuhkan nasionalisme di kalangan para pegawai dan kedua mencontoh etos kerja para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Kira-kira itu gambaran sederhana tujuan pemerintah massif dalam menghidupkan hari-hari besar nasional.

Meskipun sederhana, menurut penulis peringatan tersebut cukup penting. Pemerintah kemungkinan telah mendeteksi secara diri pertarungan ideologi dan serbuan budaya telah masuk tanpa batas melalui HP gengam atau jaringan internet. Pengaruhnya jelas tidak secara langsung. Persentuhan secara rutin melalui akses internet sedikit demi sedikit mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup para pegawai. Semua ini akan berdampat pada hal-hal yang bersifat negatif seperti mulai hilang rasa cinta terhadap bangsa dan negara, tumbuh kebencian yang tidak konstruktif dan secara terang-terangan menganggap pemerintah thagut serta wajib dilawan sebagai bagian bentuk jihad.

Jika masyarakat struktural tersebut bisa terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran kanan dan kiri, apalagi masyarakat kultural yang secara hirarki terlepas dari seperangkat aturan yang mengikat nya seperti para petani, pedagang, pelaut dan para pekerja lainnya serta kelompok-kelompok masyarakat dari beragam komunitas. Selain itu, ada juga kelompok intelektual telah mengenyam Pendidikan tinggi, tapi secara nasib kurang beruntung. Kompleksitas kelompok-kelompok tersebut terkadang lebih hebat lagi menghadapi persaingan hidup. Bahkan kelompok-kelompok tersebut lebih mudah terkena doktrin yang merusak sendi-sendi nasional.

Kelompok kultural adalah masyarakat yang kurang peduli terhadap peringatan hari kebangkitan nasional. Mereka lebih paham tentang hari kebangkitan rasional, yaitu kesadaran diri dalam melakukan perubahan kualitas diri baik secara evolusi maupun revolusi. Tentu saja, proses tersebut tidak semuanya mengalami keberuntungan. Kelompok yang gagal dan belum berhasil sering disebut sebagai pengangguran. Mereka membutuhkan akses dan lapangan pekerjaan yang diciptakan oleh pemerintah maupun pihak-pihak swasta. Namun membuka lapangan pekerjaan ternyata tidak semudah iklan yang sering terdengar yang didengungkan oleh calon legislatif dan eksekutif. Ada regulasi dengan beragam pertimbangan dan ada beragam kepentingan yang berada di dalamnya, baik bersifat ideologis maupun pragmatis.

Masyarakat kultural yang tidak begitu memperdulikan persoalan peluang-peluang dari pemerintah maupun swasta adalah masyarakat mandiri. Mereka ingin menjadi diri sendiri dan bekerja secara terus-menerus untuk membangun jati diri yang kuat dan berkualitas di masa mendatang. Mereka mengasah keahlian dan keyakinan diri untuk melakukan suatu perubahan nasib dengan hal-hal kecil dan kurang dilirik oleh masyarakat pada umumnya: seperti jualan somay, cilok, bakso, bubur ayam jalanan, dan sejenisnya.

Secara sepintas masyarakat kultural dengan pekerjaan terlihat “kurang bergensi”, ternyata mampu memperbaiki ekonomi keluarganya, bahkan terkadang jauh lebih baik dari kelompok struktural yang bekerja di perkantoran. Bagi kaum berdasi atau berseragam melihat mereka dengan pandangan kurang bersahabat dan status sosialnya seolah-olah berada di bawahnya, namun ketika kita mengetahui seberapa pendapatan mereka, terkadang membuat kita iri atas ketawadhuan mereka dalam membangun sikap hidup sederhana.

Penulis pernah bertemu seorang penjual somay. Sebut saja Mas Manto. Ia asli Brebes dan merantu di wilayah Riau. Dulu sebelum ke Riau ia pernah jualan somay di Jakarta. Bisnis kecil-kecilan gagal dan akhirnya pergi ke daerah jauh dari ibu kota, tempat yang dipilih adalah salah satu kabupaten di provinsi Riau.

Suatu hari penulis bertemu dengannya di Kempang ( transportasi laut terbuat dari kayu dan memuat sekitar 30 kendaraan roda dua). Kami ngobrol sebagai sesama perantauan. Hasil perbincangan kami, bahwa Mas Manto setiap hari menghabiskan 1000 pentol somay. Satu pentol seharga Rp.1000,00, jadi 1000 pentol terkumpul duit sebanyak Rp. 1000.000,00/hari.

Ketika ditanya biaya operasional pembuatan somay plus untuk biaya makan sehari-hari, Manto mengeluarkan biaya sebanyak Rp. 500.000,00. Jadi, pendapatan bersih sekitar Rp. 500.000,00/hari. Jika dihitung satu bulan, Manto bisa menyimpan Rp. 7.000.000,00.

Pertanyaannya, berapa jumlah Manto-Manto di Indonesia yang mempunyai jiwa mandiri dan tidak ketergantungan terhadap lowongan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah dan pihak swasta?. Penulis belum mengetahuinya secara mendetail. Hanya saja, negara yang kuat secara ekonominya adalah mempunyai warga negara yang mempunyai jiwa kemandirian yang hebat. Sebab hanya jiwa kemandirian yang tumbuh kuat pada dirinya yang melahirkan bangsa dan negara hebat.

Jadi kebangkitan nasional yang diharapkan oleh pemerintah Indonesia dan juga para pahlawan bangsa Indonesia masa lalu adalah kebangkitan rasional setiap individu untuk mengenal diri sendiri sebagai warga negara berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Para pendiri bangsa (founding fathers) mengharapkan kepada generasi penerus agar nasionalisme diwujudkan menjadi generasi yang bermartabat dan menjaga kewibawaan diri dengan menjadikan “tangan berada di atas” dan trengginas membantu kepada “tangan-tangan yang berada di bawah”. Hanya cara seperti itu, bangsa Indonesia berwibawa dan dihargai oleh negara dan bangsa lain. Tanpa adanya kebangkitan rasionalitas, maka peringatan kebangkitan nasional bisa terjebak pada seremonialitas dan hanya di atas kertas. Semoga saja itu tidak terjadi.

Sebagai penutup, penulis mengucapkan “Selamat Hari Kebangkitan Nasional”, semoga sisa-sisa umur kita mampu memberikan hal terbaik untuk bangsa dan negara serta agama kita melalui tanggungjawab yang telah diamanahkan kepada kita baik pekerjaan maupun keluarga kecil kita. Semoga Allah swt senantiasa memberi kekuatan kepada kita baik dhohir maupun batin menjadi warga negara yang tanggung, hebat dan bermartabat. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


Avatar

Imam hakim

Jiwanya nasionalis, etos kerjanya rasionalis..manjur banget Gus..

   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876