
Senin tanggal 20 Mei 2024 merupakan hari
kebangkitan nasional yang ke-116. Para pimpinan dan pegawai di perkantoran
pemerintah pusat sampai daerah, perguruan tinggi, sekolah-sekolah dan
sejenisnya mendapat surat edaran agar melaksanakan upacara dalam rangka
memperingati hari kebangkitan nasional. Tujuannya sederhana: pertama, menumbuhkan
nasionalisme di kalangan para pegawai dan kedua mencontoh etos kerja
para pahlawan yang telah gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik
Indonesia. Kira-kira itu gambaran sederhana tujuan pemerintah massif dalam
menghidupkan hari-hari besar nasional.
Meskipun sederhana, menurut penulis
peringatan tersebut cukup penting. Pemerintah kemungkinan telah mendeteksi
secara diri pertarungan ideologi dan serbuan budaya telah masuk tanpa batas melalui
HP gengam atau jaringan internet. Pengaruhnya jelas tidak secara langsung. Persentuhan
secara rutin melalui akses internet sedikit demi sedikit mempengaruhi pola pikir
dan gaya hidup para pegawai. Semua ini akan berdampat pada hal-hal yang bersifat
negatif seperti mulai hilang rasa cinta terhadap bangsa dan negara, tumbuh
kebencian yang tidak konstruktif dan secara terang-terangan menganggap pemerintah
thagut serta wajib dilawan sebagai bagian bentuk jihad.
Jika masyarakat struktural tersebut bisa
terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran kanan dan kiri, apalagi masyarakat kultural
yang secara hirarki terlepas dari seperangkat aturan yang mengikat nya seperti
para petani, pedagang, pelaut dan para pekerja lainnya serta kelompok-kelompok masyarakat
dari beragam komunitas. Selain itu, ada juga kelompok intelektual telah
mengenyam Pendidikan tinggi, tapi secara nasib kurang beruntung. Kompleksitas kelompok-kelompok
tersebut terkadang lebih hebat lagi menghadapi persaingan hidup. Bahkan kelompok-kelompok
tersebut lebih mudah terkena doktrin yang merusak sendi-sendi nasional.
Kelompok kultural adalah masyarakat yang
kurang peduli terhadap peringatan hari kebangkitan nasional. Mereka lebih paham
tentang hari kebangkitan rasional, yaitu kesadaran diri dalam melakukan
perubahan kualitas diri baik secara evolusi maupun revolusi. Tentu saja, proses
tersebut tidak semuanya mengalami keberuntungan. Kelompok yang gagal dan belum
berhasil sering disebut sebagai pengangguran. Mereka membutuhkan akses dan
lapangan pekerjaan yang diciptakan oleh pemerintah maupun pihak-pihak swasta. Namun
membuka lapangan pekerjaan ternyata tidak semudah iklan yang sering terdengar
yang didengungkan oleh calon legislatif dan eksekutif. Ada regulasi dengan beragam
pertimbangan dan ada beragam kepentingan yang berada di dalamnya, baik bersifat
ideologis maupun pragmatis.
Masyarakat kultural yang tidak begitu
memperdulikan persoalan peluang-peluang dari pemerintah maupun swasta adalah masyarakat
mandiri. Mereka ingin menjadi diri sendiri dan bekerja secara terus-menerus
untuk membangun jati diri yang kuat dan berkualitas di masa mendatang. Mereka mengasah
keahlian dan keyakinan diri untuk melakukan suatu perubahan nasib dengan
hal-hal kecil dan kurang dilirik oleh masyarakat pada umumnya: seperti jualan
somay, cilok, bakso, bubur ayam jalanan, dan sejenisnya.
Secara sepintas masyarakat kultural dengan
pekerjaan terlihat “kurang bergensi”, ternyata mampu memperbaiki ekonomi
keluarganya, bahkan terkadang jauh lebih baik dari kelompok struktural yang
bekerja di perkantoran. Bagi kaum berdasi atau berseragam melihat mereka dengan
pandangan kurang bersahabat dan status sosialnya seolah-olah berada di
bawahnya, namun ketika kita mengetahui seberapa pendapatan mereka, terkadang membuat
kita iri atas ketawadhuan mereka dalam membangun sikap hidup sederhana.
Penulis pernah bertemu seorang penjual
somay. Sebut saja Mas Manto. Ia asli Brebes dan merantu di wilayah Riau. Dulu sebelum
ke Riau ia pernah jualan somay di Jakarta. Bisnis kecil-kecilan gagal
dan akhirnya pergi ke daerah jauh dari ibu kota, tempat yang dipilih adalah
salah satu kabupaten di provinsi Riau.
Suatu hari penulis bertemu dengannya di Kempang
( transportasi laut terbuat dari kayu dan memuat sekitar 30 kendaraan roda
dua). Kami ngobrol sebagai sesama perantauan. Hasil perbincangan kami, bahwa Mas
Manto setiap hari menghabiskan 1000 pentol somay. Satu pentol seharga Rp.1000,00,
jadi 1000 pentol terkumpul duit sebanyak Rp. 1000.000,00/hari.
Ketika ditanya biaya operasional pembuatan somay
plus untuk biaya makan sehari-hari, Manto mengeluarkan biaya sebanyak Rp.
500.000,00. Jadi, pendapatan bersih sekitar Rp. 500.000,00/hari. Jika dihitung
satu bulan, Manto bisa menyimpan Rp. 7.000.000,00.
Pertanyaannya, berapa jumlah Manto-Manto di
Indonesia yang mempunyai jiwa mandiri dan tidak ketergantungan terhadap
lowongan pekerjaan yang disediakan oleh pemerintah dan pihak swasta?. Penulis belum
mengetahuinya secara mendetail. Hanya saja, negara yang kuat secara ekonominya
adalah mempunyai warga negara yang mempunyai jiwa kemandirian yang hebat. Sebab
hanya jiwa kemandirian yang tumbuh kuat pada dirinya yang melahirkan bangsa dan
negara hebat.
Jadi kebangkitan nasional yang diharapkan
oleh pemerintah Indonesia dan juga para pahlawan bangsa Indonesia masa lalu
adalah kebangkitan rasional setiap individu untuk mengenal diri sendiri sebagai
warga negara berdikari (berdiri di atas kaki sendiri). Para pendiri
bangsa (founding fathers) mengharapkan kepada generasi penerus agar nasionalisme
diwujudkan menjadi generasi yang bermartabat dan menjaga kewibawaan diri dengan
menjadikan “tangan berada di atas” dan trengginas membantu kepada “tangan-tangan
yang berada di bawah”. Hanya cara seperti itu, bangsa Indonesia berwibawa dan
dihargai oleh negara dan bangsa lain. Tanpa adanya kebangkitan rasionalitas,
maka peringatan kebangkitan nasional bisa terjebak pada seremonialitas dan
hanya di atas kertas. Semoga saja itu tidak terjadi.
Sebagai penutup, penulis mengucapkan “Selamat
Hari Kebangkitan Nasional”, semoga sisa-sisa umur kita mampu memberikan hal
terbaik untuk bangsa dan negara serta agama kita melalui tanggungjawab yang
telah diamanahkan kepada kita baik pekerjaan maupun keluarga kecil kita. Semoga
Allah swt senantiasa memberi kekuatan kepada kita baik dhohir maupun batin menjadi
warga negara yang tanggung, hebat dan bermartabat.
Penulis : Imam Ghozali
Imam hakim
Jiwanya nasionalis, etos kerjanya rasionalis..manjur banget Gus..
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2953
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876