
“Selagi masih diberkahi umur ini, saya akan
menyumbangkan diri untuk kebaikan kepada siapapun. Meskipun kadang hanya
sebatas senyum”.
Los Angeles terbakar menjadi trending
topic beberapa hari ini. Mengalahkan berita STY dan Patrick Kluivert. Kalah
viral. STY “si-wajah tegang” dan
Patrick Kluivert “si-wajah menggemaskan”. Keduanya pada persoalan sepakbola.
Wajah sty ramai bermunculan di medsos. Sepertinya kehilangan sosok STY. Dulu,
ia ditertawakan. Diremehkan. Ia telah mampu membuat sebagian masyarakat
Indonesia tersenyum dan tertawa. Sekarang Patrick Kluivert mendapat perlakuan
sama. Apakah ia bisa membuat pecinta sepak bola tertawa bangga di kemudian
hari?
Musibah Los Angeles membuat mata tertuju
kepada nya. Media Sosial menayang video
kebakaran. Sangat mengerikan. Beberapa media online membuat berita. Terkadang
sangat bombastis. Media Online CNBC Indonesia membuat judul:”Update Terkini
'Neraka' di Los Angeles, Korban Jiwa-Kerugian Ekonomi”. detikNews agak
sedikit bombastis “Potret Kehancuran Los Angeles Akibat Kebakaran Hutan”.
liputan6.com dan BBC hampir sama:” Penyebab Kebakaran Los Angeles”. kompas.com” Api Sangat Cepat Meluas, Kebakaran Los
Angeles karena Apa?”. Sama
seperti tempo.co ” Kerugian Kebakaran Hutan Los Angeles Diperkirakan Tembus Rp 2.447 T”.
Amerika Serikat selalu menjadi daya tarik.
Berita baik dan buruk ada di sana. Jika dilihat dari kualitas pendidikan dunia,
7 dari 10 Perguruan Tinggi terbaik dari AS. Sisanya dari Inggris
Kedua data tersebut terkesan kontradiktif. Dalam
konsep Islam,kualitas pendidikan berbanding lurus dengan moral yang agung. Tentu
tidak bagi negara tersebut yang menganut kapitalisme dan rasionalisme mutlak. Keduanya
mengacu kepada materialisme. Ukuran kebenaran dan kesalahan pada akal pikiran
dan kesepakatan bersama. Kebebasan tanpa batas menjadi kritik ajaran Islam yang
kemudian menjadi antipati mereka terhadap beberapa kebijakan politik yang
sering kontradiktif.
Kebijakan politik negara AS yaitu politik
ganda. Siapapun yang menguntungkan negara tersebut dibela mati-matian. Contoh
pada perang Irak-Iran tahun 1980-1988, AS mendukung Irak
Penulis secara pribadi kagum pada kualitas
pendidikan di AS. Para ilmuwan Islam pun sebagian mengaguminya. Para alumni
negara tersebut cukup berhasil mewarnai pemikiran di negara Indonesia. sebut
saja seperti Nurcholish Madjid, Syafi’i Ma’arif, M. Din Syamsuddin, Ulil Absar,
dan lain-lain. mereka memberi penjelasan agama Islam dengan cara pandang
mereka. Ada juga dengan cara pandang perpaduan antara AS dan pesantren seperti
Ulil Absar. Sangat menarik.
AS bagi sebagian masyarakat muslim dunia
menimbulkan persoalan dilematis. Dijauhi “ngamuk”, didekati tambah “kemaruk”.
Ia sebagai negara yang mempunyai kekuatan politik, ekonomi, pendidikan dan
kekuasaan telah menempatkan diri nya sebagai polisi dunia. Bagi umat Islam
jelas sebagai polusi dunia. Itu sebabnya, sebagian umat Islam melihat kebakaran
yang terjadi sering dikaitkan dengan Firman Allah pada Q.S. An-Nisa ([4]:140) sebagai
berikut:
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada
kalian di dalam Al-Qur’an, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah
diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kalian
duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena
sesungguhnya kalian serupa dengan mereka. Sesunguhnay Allah akan mengumpulkan
semua orang munafik dan orang kafir di dalam jahanam”.
AS adalah simbol suatu bangsa dan negara
yang bisa terjadi pada diri kita dalam sikap dan tingkah lakunya. Suatu kaum
yang sering diberi keistimewaan akal pikiran, kecerdasan dan kemakmuran ekonomi
sering meremehkan firman-firman Allah. Dalam Al-Qur’an dilabeli pada kaum
yahudi secara umum. Pada tulisan kemaren pun saya telah sedikit menceritakan
salah satu warga yahudi yang bernama Qarun. Sering kecerdasan, kekuasaan dan
kekayaan menjadi berhala-hala yang tidak disadarinya. Alam bawah sadar
menyakini semua itu adalah penentu kehidupan, meskipun kita ruku’ dan sujud.
Allah telah berfirman: “اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ
“, artinya: “bimbinglah kami ke jalan yang lurus”. Prof. Wahbah As-Suhaili mengartikan kalimat
tersebut merupakan permohonan kepada Allah untuk membimbing ke arah kebenaran
dan jalan menuju hidayah yang mengantarkan keakraban kepada-Nya
Jika AS sebagai simbol “kedurhakaan” dari
kehebatan yang ada pada nya, jangan sampai menular pada diri kita sebagai
seorang muslim. AS yang menempatkan diri sebagai pendekar demokrasi, kebebasan,
dan modernisasi ternyata pada titik tertentu seperti suatu negara yang sangat
lemah. Kehebatan teknologi, kecerdasan akal dan yang terbaru ada kecerdasan
buatan “Artificial Intellegency” atau AI tidak mampu mengendalikan api
dan arah mata angin. Semua ludes. Kerugian mencapai ribuan trilyun dolar
amerika. Dalam pandangan Allah, semua yang ada di dunia ini bagai debu-debu
yang berterbangan. Sangat mudah sekali menghancurkan ciptaan-ciptaan manusia.
Sejarah sebenarnya pengulangan peristiwa
dengan bentuk yang berbeda-beda. Tuhan tidak membedakan orang beriman apa tidak
dalam masyarakat. Saat sudah ada perasaan ujub, bangga diri, merasa hebat, maka
sangat mudah bagi Tuhan menghancurkan kelompok tersebut sebagaimana kaum nabi
Daud, Musa, dan para nabi pada masa dulu. Mereka bukan karena tidak mengakui
Allah. Mereka merasa lebih hebat dari yang lain. Itulah awal kehancuran akibat
ulah mereka sendiri. bencana datang karena mereka telah membuat kerusakan di
darat, laut dan udara.
AS sebagai refleksi diri kita
masing-masing. Kemulyaan kehidupan sering membuat kita lupa terhadap hakikat
diri sebagai manusia. Itu sebabnya, Tuhan memberikan pembelajaran kepada
manusia untuk senantiasa petunjuk agar senantiasa berada pada “siratal
mustaqim”. Tidak mudah konsisten dalam jalur ilahiyah. Banyak godaan yang
sering membuat diri kita bergeser pada garis-garis yang diperintahkan oleh-Nya.
Salah satu langkah kecil yang bernilai besar yaitu melakukan olah sikap tawadhu
kepada Allah dengan senantiasa berdoa agar mendapatkan petunjuk kebaikan dan
hidayah dari-Nya.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872