Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kehebatan di Atas Kehebatan



Minggu , 12 Januari 2025



Telah dibaca :  568

“Selagi masih diberkahi umur ini, saya akan menyumbangkan diri untuk kebaikan kepada siapapun. Meskipun kadang hanya sebatas senyum”.

Los Angeles terbakar menjadi trending topic beberapa hari ini. Mengalahkan berita STY dan Patrick Kluivert. Kalah viral. STY  “si-wajah tegang” dan Patrick Kluivert “si-wajah menggemaskan”. Keduanya pada persoalan sepakbola. Wajah sty ramai bermunculan di medsos. Sepertinya kehilangan sosok STY. Dulu, ia ditertawakan. Diremehkan. Ia telah mampu membuat sebagian masyarakat Indonesia tersenyum dan tertawa. Sekarang Patrick Kluivert mendapat perlakuan sama. Apakah ia bisa membuat pecinta sepak bola tertawa bangga di kemudian hari?

Musibah Los Angeles membuat mata tertuju kepada nya.  Media Sosial menayang video kebakaran. Sangat mengerikan. Beberapa media online membuat berita. Terkadang sangat bombastis. Media Online CNBC Indonesia membuat judul:”Update Terkini 'Neraka' di Los Angeles, Korban Jiwa-Kerugian Ekonomi”. detikNews agak sedikit bombastis “Potret Kehancuran Los Angeles Akibat Kebakaran Hutan”. liputan6.com dan BBC hampir sama:” Penyebab Kebakaran Los Angeles”. kompas.com Api Sangat Cepat Meluas, Kebakaran Los Angeles karena Apa?”. Sama seperti tempo.co Kerugian Kebakaran Hutan Los Angeles Diperkirakan Tembus Rp 2.447 T”.

Amerika Serikat selalu menjadi daya tarik. Berita baik dan buruk ada di sana. Jika dilihat dari kualitas pendidikan dunia, 7 dari 10 Perguruan Tinggi terbaik dari AS. Sisanya dari Inggris (https://www.antaranews.com, 2024). Dari segi hiburan, AS juga termasuk pusat hiburan terbesar di dunia. Kita sering mendengar bintang film Hollywood, tempat dan pusatnya di Los Angeles (https://travel.tribunnews.com, 2023)

Kedua data tersebut terkesan kontradiktif. Dalam konsep Islam,kualitas pendidikan berbanding lurus dengan moral yang agung. Tentu tidak bagi negara tersebut yang menganut kapitalisme dan rasionalisme mutlak. Keduanya mengacu kepada materialisme. Ukuran kebenaran dan kesalahan pada akal pikiran dan kesepakatan bersama. Kebebasan tanpa batas menjadi kritik ajaran Islam yang kemudian menjadi antipati mereka terhadap beberapa kebijakan politik yang sering kontradiktif.

Kebijakan politik negara AS yaitu politik ganda. Siapapun yang menguntungkan negara tersebut dibela mati-matian. Contoh pada perang Irak-Iran tahun 1980-1988, AS mendukung Irak (https://id.wikipedia.org, n.d.). Pada perang teluk Irak-Kuwait, AS lebih memilih membela kuwait (https://en.wikipedia.org, n.d.).

Penulis secara pribadi kagum pada kualitas pendidikan di AS. Para ilmuwan Islam pun sebagian mengaguminya. Para alumni negara tersebut cukup berhasil mewarnai pemikiran di negara Indonesia. sebut saja seperti Nurcholish Madjid, Syafi’i Ma’arif, M. Din Syamsuddin, Ulil Absar, dan lain-lain. mereka memberi penjelasan agama Islam dengan cara pandang mereka. Ada juga dengan cara pandang perpaduan antara AS dan pesantren seperti Ulil Absar. Sangat menarik.

AS bagi sebagian masyarakat muslim dunia menimbulkan persoalan dilematis. Dijauhi “ngamuk”, didekati tambah “kemaruk”. Ia sebagai negara yang mempunyai kekuatan politik, ekonomi, pendidikan dan kekuasaan telah menempatkan diri nya sebagai polisi dunia. Bagi umat Islam jelas sebagai polusi dunia. Itu sebabnya, sebagian umat Islam melihat kebakaran yang terjadi sering dikaitkan dengan Firman Allah pada Q.S. An-Nisa ([4]:140) sebagai berikut:

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kalian di dalam Al-Qur’an, bahwa apabila kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kalian duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena sesungguhnya kalian serupa dengan mereka. Sesunguhnay Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam jahanam”.

AS adalah simbol suatu bangsa dan negara yang bisa terjadi pada diri kita dalam sikap dan tingkah lakunya. Suatu kaum yang sering diberi keistimewaan akal pikiran, kecerdasan dan kemakmuran ekonomi sering meremehkan firman-firman Allah. Dalam Al-Qur’an dilabeli pada kaum yahudi secara umum. Pada tulisan kemaren pun saya telah sedikit menceritakan salah satu warga yahudi yang bernama Qarun. Sering kecerdasan, kekuasaan dan kekayaan menjadi berhala-hala yang tidak disadarinya. Alam bawah sadar menyakini semua itu adalah penentu kehidupan, meskipun kita ruku’ dan sujud.

Allah telah berfirman: “اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ “, artinya: “bimbinglah kami ke jalan yang lurus”.  Prof. Wahbah As-Suhaili mengartikan kalimat tersebut merupakan permohonan kepada Allah untuk membimbing ke arah kebenaran dan jalan menuju hidayah yang mengantarkan keakraban kepada-Nya (Az-Zuhaili, 2013). Penulis Tafsir Qurtubi mengartikan permohonan memberikan kepada kami petunjuk untuk mengamalkan sunnah-sunnah nabi dan melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diperintahkan oleh-Nya. Penulis juga membaca di kitab tersebut ada yang mengartikan dengan makna taubat (Qurthubi, 2015).

Jika AS sebagai simbol “kedurhakaan” dari kehebatan yang ada pada nya, jangan sampai menular pada diri kita sebagai seorang muslim. AS yang menempatkan diri sebagai pendekar demokrasi, kebebasan, dan modernisasi ternyata pada titik tertentu seperti suatu negara yang sangat lemah. Kehebatan teknologi, kecerdasan akal dan yang terbaru ada kecerdasan buatan “Artificial Intellegency” atau AI tidak mampu mengendalikan api dan arah mata angin. Semua ludes. Kerugian mencapai ribuan trilyun dolar amerika. Dalam pandangan Allah, semua yang ada di dunia ini bagai debu-debu yang berterbangan. Sangat mudah sekali menghancurkan ciptaan-ciptaan manusia.

Sejarah sebenarnya pengulangan peristiwa dengan bentuk yang berbeda-beda. Tuhan tidak membedakan orang beriman apa tidak dalam masyarakat. Saat sudah ada perasaan ujub, bangga diri, merasa hebat, maka sangat mudah bagi Tuhan menghancurkan kelompok tersebut sebagaimana kaum nabi Daud, Musa, dan para nabi pada masa dulu. Mereka bukan karena tidak mengakui Allah. Mereka merasa lebih hebat dari yang lain. Itulah awal kehancuran akibat ulah mereka sendiri. bencana datang karena mereka telah membuat kerusakan di darat, laut dan udara.

AS sebagai refleksi diri kita masing-masing. Kemulyaan kehidupan sering membuat kita lupa terhadap hakikat diri sebagai manusia. Itu sebabnya, Tuhan memberikan pembelajaran kepada manusia untuk senantiasa petunjuk agar senantiasa berada pada “siratal mustaqim”. Tidak mudah konsisten dalam jalur ilahiyah. Banyak godaan yang sering membuat diri kita bergeser pada garis-garis yang diperintahkan oleh-Nya. Salah satu langkah kecil yang bernilai besar yaitu melakukan olah sikap tawadhu kepada Allah dengan senantiasa berdoa agar mendapatkan petunjuk kebaikan dan hidayah dari-Nya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872