Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Keindahan Semu



Selasa , 18 Februari 2025



Telah dibaca :  459

Saya sangat setuju pendapat orang tua-tua dulu bahwa hidup hanya sebatas “sawang-sinawang” atau hanya saling memandang satu dengan lainnya. Orang-orang yang mempunyai duit banyak sudah mulai bosan rekreasi di tempat wisata lokal. Supaya agak terlihat grade status sosial sudah mulai baik, maka mereka mencari tempat wisata di luar daerah atau malah di luar negeri. Mereka pergi ke pantai dan mengambail foto yang ada tulisan khusus sebagai “penanda” bahwa ia pernah sampai di tempat tersebut.

Sebagian masyarakat Indonesia yang sudah men-status-kan diri sebagai kelompok menengah ke atas biasanya membagikan foto-fotonya tentang kegiatan liburan di tempat wisata yang berkelas. Ada rasa bahagia dan bangga bisa berkunjung dan berlibur di tempat tersebut. Ia sudah bosan melihat pantai-pantai yang berada di wilayah Indonesia yang terkenal dengan negara kepulauan. Artinya Indonesia adalah negara ribuan pantai yang statusnya jauh lebih indah dari foto-foto yang mereka kirim di media sosial nya.

Hal yang sama juga bangsa lain. orang Inggris, Amerika, Jerman, Cina dan bangsa-bangsa lain justru tertarik dengan pantai-pantai di Indonesia. Bahkan di antara mereka mulai tertarik dengan gadis-gadis Indonesia. bukan karena cantiknya, tapi karena tertarik pada kulitnya yang kata mereka, kulit gadis-gadis Indonesia berwarna melankolis. Mereka jatuh cinta dan menikah sebagai pasangan antar bangsa.

Bangsa barat memang mulai mencintai gadis-gadis asia. Rekor tertinggi yang ia sukai seperti Cina, Jepang dan Korea. Wajar saja bos FB pun menikah dengan gadis asia. Apakah hanya Sebatas pernikahan atau ada unsur lain.

Dulu para gadis Indonesia menikah dengan bangsa Belanda karena ada misi yaitu mengetahui rahasia kekuatan musuh. Beberapa informasi yang pernah penulis baca beberapa waktu lalu, gadis-gadis korea yang menikah dengan bangsa barat mempunyai tugas sebagai mata-mata. Apakah pernikah antar bangsa yang trend saat sekarang ini mempunyai misi sama? Wallahu a’lam.

Naluri manusia selalu berselancar kepada sesuatu yang menyenangkan. Ia ingin berpindah dari satu kesenangan kepada kesenangan lainnya. siapapun manusia nya, ada kesamaan pada hal tersebut. manusia ingin selalu muda, tampan, cantik, dan selalu menarik perhatian dari lawan jenisnya. Ia ingin menolak ke-fana-an dan ingin kekal selamanya. Dorongan nafsu selalu menghembuskan hal-hal yang demikian. Itu mengapa rasa keinginan tinggi untuk tetap kekal menjadikan watak manusia tidak juga beranjak dewasa dan mengerti hakikat dari makna keabadian yang sebenarnya. Manusia banyak yang terperosok oleh keindahan imajinasi melihat orang lain lebih indah daripada milik sendiri. imajinasi yang tidak terbendung ini yang kemudian menjadi manusia menuruti dorongan nafsu yang sangat kuat laksana kuda lepas dari kendalinya.

Ketika manusia sudah menuruti keinginan satu kepada keinginan lain, maka ia akan mencoba terus rasa baru yang membuat penasaran diri dan menganggap sebagai jalan untuk mendapatkan kebahagiaan batin. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Ketika ia menuruti hal-hal yang baru dan ingin mendapatkan kebahagiaan batin, justru itu tidak didapatkan. Semakin diri sendiri menuruti keinginannya, semakin hati bertambah gersang. Sebab memang watak nafsu demikian, saat semakin menuruti nafsu, hidup seperti minum air mineral dan akan terasa haus dan tidak pernah merasa puas.

Saat ini mungkin kita melihat apa yang kita punya tidak menarik perhatian lagi seperti dulu. Rutinitas yang sering terjadi pada setiap saat terkadang ada rasa jenuh dan ingin mencoba yang baru. Rumah, kendaraan, bahkan pasangan hidup akan menjadi sasaran sebagai bagian daftar yang perlu dicek kembali untuk menuruti keinginan kita.

Boleh-boleh saja, tapi ada yang tidak boleh semua harus dibongkar pasang. Anda boleh saja memperbaiki rumah agar semakin nyaman, memperbaiki kendaraan agar semakin menyenangkan dan memperbaiki pasangannya agar semakin indah di pandang mata. Hanya saja, pasangan kita tidak seperti rumah, kendaraan dan makanan serta baju yang kita pakai.

Ada tamsil bahwa pasangan kita laksana baju yang menutupi aurat. Tapi baju tidak mampu melawan perjalanan usia yang menyebabkan ia rusak. Begitu juga pasangan kita, ia secara pelan-pelan tapi pasti akan mengalami perubahan fisik. Ia tidak lagi cantik atau tampan. Ia tidak lagi se-agresif saat masih muda. Semakin bertambah umur semakin berkurang segala keindahan. Nafsu melihat pasangan semakin sedikit, kejujuran melihat kekurangan semakin nyata.

Pada level ini sebenarnya hakikat keindahan ditampakan oleh Allah SWT. Kita bisa jujur melihat segala kekurangan pasangan kita. Dan kita masih tetap bisa menerima nya dengan ketulusan hati yang mendalam. Sikap menerima dengan tulus segala kekurangan yang nampak akan melahirkan kebahagiaan yang murni sebagai subtansi dari pernikahan tersebut. Saat ini terjadi maka kita akan melihat rahmat Allah SWT turun pada keluarga kita, yaitu keindahan bukan lagi pada fisik, tapi pada kesamaan tujuan untuk sama-sama bisa mendapatkan kenikmatan teragung yaitu mencintai Allah dan Rasul dengan menjalankan kehidupan rumah tangga.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872