
Saya sangat setuju pendapat orang tua-tua
dulu bahwa hidup hanya sebatas “sawang-sinawang” atau hanya saling memandang
satu dengan lainnya. Orang-orang yang mempunyai duit banyak sudah mulai bosan rekreasi
di tempat wisata lokal. Supaya agak terlihat grade status sosial sudah mulai
baik, maka mereka mencari tempat wisata di luar daerah atau malah di luar
negeri. Mereka pergi ke pantai dan mengambail foto yang ada tulisan khusus sebagai
“penanda” bahwa ia pernah sampai di tempat tersebut.
Sebagian masyarakat Indonesia yang sudah
men-status-kan diri sebagai kelompok menengah ke atas biasanya membagikan
foto-fotonya tentang kegiatan liburan di tempat wisata yang berkelas. Ada rasa bahagia
dan bangga bisa berkunjung dan berlibur di tempat tersebut. Ia sudah bosan
melihat pantai-pantai yang berada di wilayah Indonesia yang terkenal dengan
negara kepulauan. Artinya Indonesia adalah negara ribuan pantai yang statusnya
jauh lebih indah dari foto-foto yang mereka kirim di media sosial nya.
Hal yang sama juga bangsa lain. orang Inggris,
Amerika, Jerman, Cina dan bangsa-bangsa lain justru tertarik dengan pantai-pantai
di Indonesia. Bahkan di antara mereka mulai tertarik dengan gadis-gadis Indonesia.
bukan karena cantiknya, tapi karena tertarik pada kulitnya yang kata mereka,
kulit gadis-gadis Indonesia berwarna melankolis. Mereka jatuh cinta dan menikah
sebagai pasangan antar bangsa.
Bangsa barat memang mulai mencintai
gadis-gadis asia. Rekor tertinggi yang ia sukai seperti Cina, Jepang dan Korea.
Wajar saja bos FB pun menikah dengan gadis asia. Apakah hanya Sebatas pernikahan
atau ada unsur lain.
Dulu para gadis Indonesia menikah dengan
bangsa Belanda karena ada misi yaitu mengetahui rahasia kekuatan musuh. Beberapa
informasi yang pernah penulis baca beberapa waktu lalu, gadis-gadis korea yang
menikah dengan bangsa barat mempunyai tugas sebagai mata-mata. Apakah pernikah
antar bangsa yang trend saat sekarang ini mempunyai misi sama? Wallahu a’lam.
Naluri manusia selalu berselancar kepada
sesuatu yang menyenangkan. Ia ingin berpindah dari satu kesenangan kepada
kesenangan lainnya. siapapun manusia nya, ada kesamaan pada hal tersebut.
manusia ingin selalu muda, tampan, cantik, dan selalu menarik perhatian dari
lawan jenisnya. Ia ingin menolak ke-fana-an dan ingin kekal selamanya. Dorongan
nafsu selalu menghembuskan hal-hal yang demikian. Itu mengapa rasa keinginan
tinggi untuk tetap kekal menjadikan watak manusia tidak juga beranjak dewasa
dan mengerti hakikat dari makna keabadian yang sebenarnya. Manusia banyak yang
terperosok oleh keindahan imajinasi melihat orang lain lebih indah daripada
milik sendiri. imajinasi yang tidak terbendung ini yang kemudian menjadi
manusia menuruti dorongan nafsu yang sangat kuat laksana kuda lepas dari
kendalinya.
Ketika manusia sudah menuruti keinginan
satu kepada keinginan lain, maka ia akan mencoba terus rasa baru yang membuat
penasaran diri dan menganggap sebagai jalan untuk mendapatkan kebahagiaan
batin. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Ketika ia menuruti hal-hal yang
baru dan ingin mendapatkan kebahagiaan batin, justru itu tidak didapatkan. Semakin
diri sendiri menuruti keinginannya, semakin hati bertambah gersang. Sebab memang
watak nafsu demikian, saat semakin menuruti nafsu, hidup seperti minum air
mineral dan akan terasa haus dan tidak pernah merasa puas.
Saat ini mungkin kita melihat apa yang kita
punya tidak menarik perhatian lagi seperti dulu. Rutinitas yang sering terjadi
pada setiap saat terkadang ada rasa jenuh dan ingin mencoba yang baru. Rumah,
kendaraan, bahkan pasangan hidup akan menjadi sasaran sebagai bagian daftar
yang perlu dicek kembali untuk menuruti keinginan kita.
Boleh-boleh saja, tapi ada yang tidak boleh
semua harus dibongkar pasang. Anda boleh saja memperbaiki rumah agar semakin
nyaman, memperbaiki kendaraan agar semakin menyenangkan dan memperbaiki
pasangannya agar semakin indah di pandang mata. Hanya saja, pasangan kita tidak
seperti rumah, kendaraan dan makanan serta baju yang kita pakai.
Ada tamsil bahwa pasangan kita laksana baju
yang menutupi aurat. Tapi baju tidak mampu melawan perjalanan usia yang
menyebabkan ia rusak. Begitu juga pasangan kita, ia secara pelan-pelan tapi pasti
akan mengalami perubahan fisik. Ia tidak lagi cantik atau tampan. Ia tidak lagi
se-agresif saat masih muda. Semakin bertambah umur semakin berkurang segala
keindahan. Nafsu melihat pasangan semakin sedikit, kejujuran melihat kekurangan
semakin nyata.
Pada level ini sebenarnya hakikat keindahan
ditampakan oleh Allah SWT. Kita bisa jujur melihat segala kekurangan pasangan
kita. Dan kita masih tetap bisa menerima nya dengan ketulusan hati yang
mendalam. Sikap menerima dengan tulus segala kekurangan yang nampak akan
melahirkan kebahagiaan yang murni sebagai subtansi dari pernikahan tersebut. Saat
ini terjadi maka kita akan melihat rahmat Allah SWT turun pada keluarga kita,
yaitu keindahan bukan lagi pada fisik, tapi pada kesamaan tujuan untuk
sama-sama bisa mendapatkan kenikmatan teragung yaitu mencintai Allah dan Rasul
dengan menjalankan kehidupan rumah tangga.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872