Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kekuasaan, Doa dan Cinta



Sabtu , 10 Februari 2024



Telah dibaca :  434

Saya memakai kaos warna hitam adalah hadiah dari IAIN Pare-Pare. Selalu saya pakai. Saat liburan dan berjalan-jalan dengan istri, saya pun memakai. Kenapa? Karena ada gambar yang sangat unik. Gambar kaosnya adalah Rumah Adat Tanah Toraja. Sangat mengesankan. IAIN merupakan Perguruan Tinggi Islam, sedangkan kaosnya simbol adat yang identik dengan budaya non-muslim. Dari IAIN ini saya mendapatkan pesan bahwa Indonesia harus disatukan dalam keberagaman keyakinan agama, suku dan budaya. Itulah Indonesia. Tanpa adanya keberagaman, maka tidak ada Indonesia. Ketika menginginkan Indonesia tetap berdiri, maka keberagaman harus dipertahankan. Bahkan kata Gus Dur,”Apapun akan saya lakukan agar Indonesia tetap utuh”. Bahkan dengan tegas mengatakan bahwa “Keutuhan Negara dan bangsa lebih penting daripada sekadar jabatan”.

Hari-hari ini, rasa-rasanya wilayah langit sangat sibuk. Doa permohonan terus berkumandang. Untung saja, doa tidak diarahkan ke bagian Kesra. Mungkin jika doa dalam wujud proposal, sudah berapa ribu mesin fotocopi rusak dan sudah berapa ribu PNS dan honorer di kesra masuk rumah sakit akibat penyakit maag kambuh akibat telah dan  tensi darah naik. Untung saja, kerajaan langit tidak seperti kerajaan milik Sun Go Kong. Karena konflik dengan para dewa akibat salah paham, surga kena tendang kera sakti tadi. Akhirnya hancur berkeping-keping. Untung saja, wilayah langit memakai konsep sederhana, “Berdoalah kepadaku, niscaya akan aku kabulkan doa-doamu”. Untungnya, Islam telah menerima dengan luas seluruh doa tanpa perlu aturan administrasi yang ribet. Sesibuk apapun langit terlihat tenang. Saat di malam hari, saya melihat ke langit jutaan bahkan milyaran cahaya bintang tetap memuji dan bertasbih kepada Allah swt. Saat datang pagi hari, matahari tetap mengeluarkan cahaya dan terus menyehatkan manusia dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan serta membantu proses fotosintesis. Semua kembali lagi untuk kemanfaatan umat manusia. Sungguh Allah begitu sayang kepada kita semua. Sang Pencipta yang mempunyai sifat Rahman dan Rahim telah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan dan saksi karena Allah, walaupun kesaksian itu memberatkan dirimua sendiri, itu bapakmu, atau kerabatmu. Jika dia kaya atau miskin, Allah lebih layak tahu kemaslahatan keduanya. Maka, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Jika kamu memutarbalikan kata-kata atau berpaling, sesungguhnya Allah maha teliti terhadap segala apa yang kamu kerjakan”.

Allah telah menjadikan kita sebagai saksi proses kehidupan. Para peserta pesta demokrasi menjadi saksi kekuatan diri ketika telah melakukan segala ikhtiar. Anda akan bertemu beberapa saksi yang bisa jadi itu saudaramu, mertua mu, adikmu atau iparmu. Anda dan saudara anda akan berbicara tentang makna kebenaran dan keadilan.  Anda akan berbicara keadilan dan kebenaran, hal sama saudara anda akan dalam sudut pandang berbeda. Ketika tidak ada titik temu, lahir konflik. Mulut berbicara kotor, pikiran dikuasai nafsu, emosi pun naik. Saat emosi naik, dan tenaga tinggi, maka lampiasan nya kadang dalam wujud negatif membayakan sesama saudara sendiri.

Proses kehidupan, apalagi dalam dunia politik selalu punya potensi yang kadang sulit dicerna dengan akal pikiran yang sehat. Saudara mu terkadang terlihat seperti musuh mu. Musuh mu di masa lalu terkadang hari ini berubah menjadi sahabat dekatmu yang terkadang melebihi saudaramu. Dari sini, terlihat bahwa persaudaraan dibangun atas sebuah kepentingan, bukan atas sebuah landasan kasih-sayang. Kahlil Gibran mengatakan; “Jika kamu tidak bekerja dengan cinta, tetapi hanya dengan kebencian, lebih baik tinggalkan pekerjaanmu”. Apa artinya suatu pekerjaan ketika kita sama-sama menebarkan kebencian. Padahal pekerjaan bernilai menyenangkan dan membuat kita hidup lama dan kekal lahir dari rasa cinta yang mendalam. Cinta telah menjadikan apa yang kita lakukan bermakna. Bahkan saat orang lain melempar kotoran kepada kita, cinta mampu mengeluarkan sinar keagungan dalam tumpukan sampah.

Khalil Gibran mengatakan, “Cinta adalah karunia Tuhan kepada jiwa-jiwa yang peka dan agung. Haruskah kita campakkan kekayaan ini dan kita biarkan babi-babi itu memporak-porandakan dan menginjak-injaknya. Dunia begitu penuh keajaiban dan keindahan. Lalu mengapa kita hidup dalam terowongan sempit yang digali oleh pendeta itu untuk kita. Hidup penuh dengan kebahagiaan dan kebebasan, mengapa kita tetap membiarkan belenggu di pundak dan kita patahkan rantai yang menjerat kaki kita, lalu berjalan bebas menuju kedamaian”.

Pikiran kita telah dipenuhi dengan kotak-kotak yang penuh warna warni. Tapi sayangnya, keberagaman warna yang seharusnya memperindah taman malah berubah menjadi susunan benda-benda yang tidak harmonis. Allah telah menciptakan keberagaman warna agar disusun sebagai suatu bangunan dan taman-taman yang membuat hati semakin damai dan bahagia. Kita akan bertemu dengan mereka pada suatu masa. Saat bertemu, semua telah menjadi kami. Tidak ada lagi perbedaan. Warna telah menyatu menjadi indah dan menjadi kekuatan untuk menebarkan kedamaian di tengah-tengah masyarakat.

Hati kita yang paling dalam sebenarnya adalah tempat suci mutiara-mutiara cinta. Kita akan merasakan kedamaian saat itu berada di dalamnya. Ada rasa tenang dan bahagia. Ali bin Abi Thalib mengatakan, "Allah menjadikan hati-hati manusia saling bertautan, maka percayalah bahwa jodoh telah ditentukan-Nya." "Cinta sejati adalah cinta yang menghidupkan jiwa dan mengantarkan ke surga-Nya." "Doa adalah kunci rahasia mendapatkan pasangan hidup yang terbaik”.

Tuhan akan menemukan kita dengan orang-orang yang kita cintai. Tapi Tuhan akan menyatukan kita dengan orang-orang yang tulus mencintai karena Allah swt. Cinta karena nafsu hanya mampir dalam kehidupan. Cinta karena sebatas wanita dan jabatan hanya mendapatkan seonggok tubuh dan sepiring makanan. Tapi cinta dibangun karena mengagungkan Allah swt, semua kesedihan, keletihan dan penderitaan menjadi sesuatu yang bernilai agung di pandangan-Nya. Maka Allah mengajarkan kepada hamba-hamba-nya tentang cinta dengan simbol kebahagiaan sebagai berikut,” Wahai Tuhan kami, berilah kami kebahagiaan di dunia dan akherat, dan jauhkan dari api neraka”. Itulah cinta sejati, tidak berhenti hanya pada stasiun dunia, tapi jauh menuju stasiun akherat. Jika kita hanya berhenti pada satu stasiun kita akan menyesal. Sebab perjalanan masih jauh dan kita membutuhkan kendaraan untuk mengantarkan ke stasiun selanjutnya.

Mungkin banyak yang membenci dan mencaci maki kita dalam kehidupan yang penuh warna. Orang-orang yang telah hanyut dalam lautan cinta, sudah tidak berfikir lagi mencari api untuk membakar dan membalas caci makian mereka. Orang-orang yang selalu menebarkan kedamaian akan menjadi cahaya kehidupan. Sebaik-baik manusia, yaitu yang mampu memberi manfaat bagi orang lain. Hidup sudah tertanam untuk selalu berbuat terbaik di waktu yang begitu singkat di dunia ini. Salah satu amalan terbaik yaitu memanjatkan doa kepada Allah swt, agar seluruh hati manusia dilimpahi rahmat cinta kepada Allah dan kepada sesama manusia. Semoga kita mampu melihat pesta demokrasi adalah hal yang wajar-wajar saja. Ada yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu persaudaraan yang dibangun atas rasa cinta karena Allah swt. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876