
Berdiskusi dengan K.H. Ulil Abshar Abdalla memang sepertinya tidak terasa bosan,
meskipun waktu diskusi cukup lumayan lama sekitar 4 jam. Setiap mendengar wejangan
atau petuah-petuahnya selalu saja ada kebaruan yang bisa diambil dari
pemikirannya. Hebatnya lagi, Ia mampu menjelaskan pembahasan yang terlihat
ruwet menjadi mudah dipahami oleh para pendengar dari segala segmen
latarbelakang pendidikanya. Bahkan sesuatu yang terlihat sederhana seperti kata
“tamyis” yang sering digunakan dalam kajian fikih, bisa dikemas menjadi makna
baru dalam kontek persoalan-persoalan sosial.
Tentu saja, Ketika berdiskusi dengannya
harus ada syarat yang wajib dipenuhi yaitu “tidak boleh mendengar
sepotorng-potong”, “harus tuntas”, dan “harus khatam”. Jika tidak, bisa
menimbulkan “salah paham”, apalagi dihadapan orang-orang yang menpunyai “pemahaman
yang salah”, malah bertambah ruwet tidak karuan.
Penulis sedikit membahas kata “tamyis”
sebelum membahas judul di atas. Bahwa dalam literatur fikih, tamyis sering
dianalogikan untuk kelompok orang yang sudah mempunyai kemampuan membedakan
benar dan salah. Dari sisi pertumbuhan biologis, ada perubahan-perubahan
seperti bagi laki-laki ditandai telah bermimpi basah, sedangkan anak perempuan
telah datang bulan(mentruasi).
Dalam konteks sosial, kata “tamyis”
merupakan terminologi dari kemampuan seseorang membedakan mana yang pantas
dilihat (looked) dan mana yang pantas untuk diamati (seen)
sebagai bagian yang memberi manfaat. Karena kenyataannya, tidak semua yang bisa
dilihat perlu dilakukan pengamatan, tetapi sesuatu yang diamati maka proses
pendahuluannya adalah pada penglihatan. Keduanya mempunyai output yang
berbeda-beda dan sekaligus menjadi identitas kualitas orang tersebut. Sebab
secara garis besarnya memang manusia secara operasional mempunyai dua
kebiasaan; melihat dan mengamati. Melihat adalah kerja operional orang-orang
pada umumnya, sedangkan mengamati adalah kerja orang-orang khusus atau malah
pada level tertentu bisa masuk pada kelompok khususul khusus.
Mengapa demikian?
Dasar pemikirannya sebenarnya pada manusia
itu sendiri sebagai sumber perubahan peradaban. Dalam sejarah, kita telah
belajar peradaban-peradaban besar manusia. Di balik kehebatannya, ada manusia
yang agung plus mulia yang telah melakukan transformasi perubahan sehingga masyarakat tersebut benar-benar tampil
berbeda dari sebelumnya. Sebut saja peradaban yang tertulis dalam kitab suci
atau buku-buku sejarah seperti Cina, Romawi dan Persia.
Ketika Islam datang, masyarakat arab yang
sebelumnya mempunyai tabiat jahiliah berubah menjadi “madinah” yang
“munawarah”. Dulu sebelum mengenal Islam, mereka senantiasa menumpahkan darah,
permusuhan, minum-minuman keras, saat setelah mengenal Islam mereka berubah
menjadi masyarakat bertamadun. Perubahan yang sangat revolusioner tersebut
bermula dari kehadiran manusia yang teragung yaitu Nabi Muhammad saw.
Kekuatan dasar nabi sebagai bekal utama
dalam melakukan perubahan masyarakat bersumber dari kedalaman pemahaman
spiritual yang sangat mapan. Paradigma hidup sebagai ‘abdullah telah melahirkan
totalitas kehidupannya semata-mata hanya mencari ridha Allah swt. Hatinya dan
orientasi hidupnya semata-mata untuk menegakan panji-panji Islam agar bisa
menjadi rahmat semesta alam. Pemikiran yang absolut semata-mata mencari ridha-Nya
telah menjadi daya gebrak yang luarbiasa dan sangat efektif sekali dalam
merubah tatanan masyarakat arab menjadi modern dan masyarakat di luar arab
telah mendapatkan keberkahannya menjadi masyarakat yang penuh dengan
ajaran-ajaran kemuliaan, bahkan bangsa barat sendiri pun telah mengakui
keberkahan dari ajaran Islam.
Kenapa kekuatan spiritual menjadi sangat
penting dalam merubah tatanan kehidupan masyarakat yang komprehensif? Sebab
kekuatan ini yang mampu menselaraskan seluruh hubungan vertikal dan horizontal.
Sebab pada hakikatnya seluruh alam membutuhkan dua dimensi yang tidak bisa
dipisahkan. Ketika manusia mencoba memisahkan keduanya, maka akan terjadi
kepincangan peradaban yang sangat mengerikan. Hal ini bisa dilihat saat
sekarang ini di negara-negara barat, saat mereka telah maju di bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi, namun telah terjadi suatu kemerosotan moral yang
tidak terkendali. Mereka akhirnya mengalami kebingungan hidup, dan terus
mencari hakikat kebenaran yang bisa melahirkan kedamaian hidup.
Sejarah Islam telah memberikan suatu
pembelajaran yang sangat berharga. Ketika nabi bertemu dengan Suraqah bin
Malik, penulis bisa melihat kedalaman keimanannya sehingga seluruh hatinya
penuh dengan kalimat tauhid dan terpancar pada seluruh tubuh nya sinar-sinar
keimanan, keyakinan, kewibawaan dan keagungan, sehingga orang-orang yang kosong
iman dan hanya bermodal amarah semata, maka akan luluh dihadapannya seperti
manusia kehilangan kerangka tubuhnya. Lihat kisah Suraqah bin Malik yang gagah
berani, dengan lantang dan sesumbar ia akan membunuh nabi dengan pedangnnya.
Namun saat ia berada di depan nabi, ia seolah-olah seluruh kekuatannya tersedot
oleh kekuatan dan kewibawaan Nabi Muhammad saw. Itulah hakikat kekuatan iman
yang “meluber” dan membasahi seluruh tubuh nabi Muhammad saw, sehingga
setiap orang melihatnya terlihat sangat wibawa.
Pola penerapan kekuatan spiritual model
nabi telah diterapkan oleh umat Islam dalam segala aliran dan pemahaman
keislamannya. Pada masyarakat Indonesia, kita telah diperkenalkan perjuangan
para ulama yang dikenal dengan sebutan wali songo. Dari mereka melahirkan para
ulama besar seperti hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari yang mendirikan Nahdlatul
Ulama dan KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhamadiyah. Kedua ulama tersebut telah
membentuk model Islam moderat yang sangat relevan dengan peradaban manusia saat
sekarang ini.
Kaum syiah iran juga telah mengambil
Pelajaran tentang pentingnya kekuatan spiritual dari Nabi Muhammad dan
kesuhudan Ali bin Abi Thalib. Pada tahun 1980-an, generasi muda Islam pernah
sangat nge-fans terhadap ayatollah khomaini. Setiap jalan dan tempat-tempat,
kamar-kamar aktivis terpampang gambar nya yang sangat karismatik. Meskipun
Sebagian generasi muda NU sangat mengidolakan khomaini, tetapi tidak tergerus
oleh firkah syiah. Namun kekuatan spriritual atas kemampuannya menggerakan
seluruh rakyat Iran dalam menumbangkan Mohammad Reza Pahlevi telah
menginspirasi anak-anak muda Islam.
Peristiwa menarik di Indonesia yang perlu
saya tulis disini adalah saat K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggal dunia.
Meskipun semasa kehidupannya penuh dengan kontroversi, tapi kematiannya telah
menunjukan kekuatan spiritual Gus Dur sangat luarbiasa. Kematiannya telah
mengundang jutaan anak bangsa lintas suku, etnis, agama dan keyakinan
mengantarkan ke tempat peristirahatan. Bahkan hingga kini, makam nya selalu
dibanjiri oleh para peziarah. Pemikiran-pemikirannya terus mengalir dan menjadi
rujukan dalam menciptakan tatanan kehidupan yang harmonis dan menjunjung tinggi
nilai-nilai kemanusiaan.
Dari beberapa kisah di atas, bisa diambil
pelajar bahwa kekuatan spiritual sebenarnya menjadi kekuatan yang sangat
efektif dalam merubah dan mengubah perilaku masyarakat yang penuh keagungan.
Sebab keagungan manusia hakikatnya lahir dari keagungan spiritual yang merembes
kepada seluruh alam semesta dan membentuk hakikat peradaban manusia yang
hakiki.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2950
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876