Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kekuatan Ruhaniah, Jalan Melakukan Perubahan



Jumat , 12 Juli 2024



Telah dibaca :  546

Berdiskusi dengan K.H. Ulil Abshar  Abdalla memang sepertinya tidak terasa bosan, meskipun waktu diskusi cukup lumayan lama sekitar 4 jam. Setiap mendengar wejangan atau petuah-petuahnya selalu saja ada kebaruan yang bisa diambil dari pemikirannya. Hebatnya lagi, Ia mampu menjelaskan pembahasan yang terlihat ruwet menjadi mudah dipahami oleh para pendengar dari segala segmen latarbelakang pendidikanya. Bahkan sesuatu yang terlihat sederhana seperti kata “tamyis” yang sering digunakan dalam kajian fikih, bisa dikemas menjadi makna baru dalam kontek persoalan-persoalan sosial.

Tentu saja, Ketika berdiskusi dengannya harus ada syarat yang wajib dipenuhi yaitu “tidak boleh mendengar sepotorng-potong”, “harus tuntas”, dan “harus khatam”. Jika tidak, bisa menimbulkan “salah paham”, apalagi dihadapan orang-orang yang menpunyai “pemahaman yang salah”, malah bertambah ruwet tidak karuan.

Penulis sedikit membahas kata “tamyis” sebelum membahas judul di atas. Bahwa dalam literatur fikih, tamyis sering dianalogikan untuk kelompok orang yang sudah mempunyai kemampuan membedakan benar dan salah. Dari sisi pertumbuhan biologis, ada perubahan-perubahan seperti bagi laki-laki ditandai telah bermimpi basah, sedangkan anak perempuan telah datang bulan(mentruasi).

Dalam konteks sosial, kata “tamyis” merupakan terminologi dari kemampuan seseorang membedakan mana yang pantas dilihat (looked) dan mana yang pantas untuk diamati (seen) sebagai bagian yang memberi manfaat. Karena kenyataannya, tidak semua yang bisa dilihat perlu dilakukan pengamatan, tetapi sesuatu yang diamati maka proses pendahuluannya adalah pada penglihatan. Keduanya mempunyai output yang berbeda-beda dan sekaligus menjadi identitas kualitas orang tersebut. Sebab secara garis besarnya memang manusia secara operasional mempunyai dua kebiasaan; melihat dan mengamati. Melihat adalah kerja operional orang-orang pada umumnya, sedangkan mengamati adalah kerja orang-orang khusus atau malah pada level tertentu bisa masuk pada kelompok khususul khusus.

Mengapa demikian?

Dasar pemikirannya sebenarnya pada manusia itu sendiri sebagai sumber perubahan peradaban. Dalam sejarah, kita telah belajar peradaban-peradaban besar manusia. Di balik kehebatannya, ada manusia yang agung plus mulia yang telah melakukan transformasi perubahan sehingga  masyarakat tersebut benar-benar tampil berbeda dari sebelumnya. Sebut saja peradaban yang tertulis dalam kitab suci atau buku-buku sejarah seperti Cina, Romawi dan Persia.

Ketika Islam datang, masyarakat arab yang sebelumnya mempunyai tabiat jahiliah berubah menjadi “madinah” yang “munawarah”. Dulu sebelum mengenal Islam, mereka senantiasa menumpahkan darah, permusuhan, minum-minuman keras, saat setelah mengenal Islam mereka berubah menjadi masyarakat bertamadun. Perubahan yang sangat revolusioner tersebut bermula dari kehadiran manusia yang teragung yaitu Nabi Muhammad saw.

Kekuatan dasar nabi sebagai bekal utama dalam melakukan perubahan masyarakat bersumber dari kedalaman pemahaman spiritual yang sangat mapan. Paradigma hidup sebagai ‘abdullah telah melahirkan totalitas kehidupannya semata-mata hanya mencari ridha Allah swt. Hatinya dan orientasi hidupnya semata-mata untuk menegakan panji-panji Islam agar bisa menjadi rahmat semesta alam. Pemikiran yang absolut semata-mata mencari ridha-Nya telah menjadi daya gebrak yang luarbiasa dan sangat efektif sekali dalam merubah tatanan masyarakat arab menjadi modern dan masyarakat di luar arab telah mendapatkan keberkahannya menjadi masyarakat yang penuh dengan ajaran-ajaran kemuliaan, bahkan bangsa barat sendiri pun telah mengakui keberkahan dari ajaran Islam.

Kenapa kekuatan spiritual menjadi sangat penting dalam merubah tatanan kehidupan masyarakat yang komprehensif? Sebab kekuatan ini yang mampu menselaraskan seluruh hubungan vertikal dan horizontal. Sebab pada hakikatnya seluruh alam membutuhkan dua dimensi yang tidak bisa dipisahkan. Ketika manusia mencoba memisahkan keduanya, maka akan terjadi kepincangan peradaban yang sangat mengerikan. Hal ini bisa dilihat saat sekarang ini di negara-negara barat, saat mereka telah maju di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, namun telah terjadi suatu kemerosotan moral yang tidak terkendali. Mereka akhirnya mengalami kebingungan hidup, dan terus mencari hakikat kebenaran yang bisa melahirkan kedamaian hidup.

Sejarah Islam telah memberikan suatu pembelajaran yang sangat berharga. Ketika nabi bertemu dengan Suraqah bin Malik, penulis bisa melihat kedalaman keimanannya sehingga seluruh hatinya penuh dengan kalimat tauhid dan terpancar pada seluruh tubuh nya sinar-sinar keimanan, keyakinan, kewibawaan dan keagungan, sehingga orang-orang yang kosong iman dan hanya bermodal amarah semata, maka akan luluh dihadapannya seperti manusia kehilangan kerangka tubuhnya. Lihat kisah Suraqah bin Malik yang gagah berani, dengan lantang dan sesumbar ia akan membunuh nabi dengan pedangnnya. Namun saat ia berada di depan nabi, ia seolah-olah seluruh kekuatannya tersedot oleh kekuatan dan kewibawaan Nabi Muhammad saw. Itulah hakikat kekuatan iman yang “meluber” dan membasahi seluruh tubuh nabi Muhammad saw, sehingga setiap orang melihatnya terlihat sangat wibawa.

Pola penerapan kekuatan spiritual model nabi telah diterapkan oleh umat Islam dalam segala aliran dan pemahaman keislamannya. Pada masyarakat Indonesia, kita telah diperkenalkan perjuangan para ulama yang dikenal dengan sebutan wali songo. Dari mereka melahirkan para ulama besar seperti hadratusyeikh KH Hasyim Asy’ari yang mendirikan Nahdlatul Ulama dan KH Ahmad Dahlan mendirikan Muhamadiyah. Kedua ulama tersebut telah membentuk model Islam moderat yang sangat relevan dengan peradaban manusia saat sekarang ini.

Kaum syiah iran juga telah mengambil Pelajaran tentang pentingnya kekuatan spiritual dari Nabi Muhammad dan kesuhudan Ali bin Abi Thalib. Pada tahun 1980-an, generasi muda Islam pernah sangat nge-fans terhadap ayatollah khomaini. Setiap jalan dan tempat-tempat, kamar-kamar aktivis terpampang gambar nya yang sangat karismatik. Meskipun Sebagian generasi muda NU sangat mengidolakan khomaini, tetapi tidak tergerus oleh firkah syiah. Namun kekuatan spriritual atas kemampuannya menggerakan seluruh rakyat Iran dalam menumbangkan Mohammad Reza Pahlevi telah menginspirasi anak-anak muda Islam.

Peristiwa menarik di Indonesia yang perlu saya tulis disini adalah saat K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggal dunia. Meskipun semasa kehidupannya penuh dengan kontroversi, tapi kematiannya telah menunjukan kekuatan spiritual Gus Dur sangat luarbiasa. Kematiannya telah mengundang jutaan anak bangsa lintas suku, etnis, agama dan keyakinan mengantarkan ke tempat peristirahatan. Bahkan hingga kini, makam nya selalu dibanjiri oleh para peziarah. Pemikiran-pemikirannya terus mengalir dan menjadi rujukan dalam menciptakan tatanan kehidupan yang harmonis dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Dari beberapa kisah di atas, bisa diambil pelajar bahwa kekuatan spiritual sebenarnya menjadi kekuatan yang sangat efektif dalam merubah dan mengubah perilaku masyarakat yang penuh keagungan. Sebab keagungan manusia hakikatnya lahir dari keagungan spiritual yang merembes kepada seluruh alam semesta dan membentuk hakikat peradaban manusia yang hakiki.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13560


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876