
Setelah selesai melakukan editing tulisan Prof
Samsul Nizar yang ke-45, jam 13.30 saya
pergi ke Rumah Makan New Normal. Perut saya memang benar-benar belum
normal. Mulai pagi belum sarapan. Jadi, untuk menjaga kesehatan, saya harus
mencari menu yang lumayan bagus; ikan Nila bakar. Minumnya, Jeruk peras panas.
Setelah makan, saya langsung pulang. Ingin tidur. Tapi cuaca cukup panas. Saya buka WhathsApp. Ada berita pelantikan Ketua dan Rektor di Perguruan Tinggi Islam. Ada UIN Jambi dan STAIN Bengkalis. Saya kirim beritanya ke Mas Ayub, sahabat saya dari UIN Jambi, yang sering bertemu di acara KKN Serumpun dan Nusantara. Sekalian, saya minta izin akan mengirim artikel ilmiah ke UIN Jambi.
Berita ini sebenarnya tidak mengagetkan. Sebab proses seleksi pimpinan telah dilakukan. Hal sama juga di UIN Jambi. Maka, wajar jika pelantikannya sama. Berarti STAIN Bengkalis masuk 2024 mempunyai Ketua baru. Saya tidak tahu
nanti, apakah kepemimpinan baru menggunakan pendekatan model visi-misi capres-cawapres yang mengusung pola “lanjutkan”, pola “lanjut dan
perbaikan” atau “pola perubahan”. Semua sah-sah saja. Ini
merupakan sebuah proses laksana gelombang lautan. Kadang sedang, tinggi, rendah. Itu biasa-biasa
saja. Apapun bentuk proses nya, itu sebenarnya bagian dari pendewasaan, bahwa Tuhan telah
memberikan ruang “ijtihad” kepada setiap hamba-hamba-Nya untuk melakukan
terbaik. Sukses bukan pada persoalan “mendapatkan apa”, tapi sebenarnya sukses
adalah suatu aktivitas atau proses yang sering disebut “amalun sholihun”.
Setiap orang boleh mempunyai cita-cita. Tapi tidak semua cita-cita wajib berhasil. Tapi setiap proses menuju cita-cita tersebut sudah menjadi bagian
dari amalun sholihun yang dicatat sebagai bagian ibadah. Itu sebabnya,
pada persoalan ini semua sama kedudukanya ( terpilih atau tidak terpilih). Semua proses akan mendapatkan catatan ijtihad
dan niat amalnya di hadapan Sang Pencipta.
Apakah ada seorang pemimpin yang sempurna? Tidak
ada. Kecuali Nabi Muhammad saw. Meskipun kaum Mu’tazilah menilai nya dalam
prespektif rasionalitas yang berbeda dengan Asy’ariyah dan Al-Maturidiyah ( akidah ini menyakini kesempurnaan
diri nabi secara totalitas). Meskipun demikian, kaum Mu'tazilah tetap mengatakan nabi sebagai seorang
pemimpin yang terbaik pada masa nya. Bahkan pendukung ini mengutip pendapat Robeth N Bellah bahwa satu-satu Konstitusi Negara yang nilai-nilai modernnya
melintasi zaman hanya Piagam Madinah
Jika demikian setiap orang bisa mengatakan
bahwa setiap pemimpin senantiasa meninggalkan suatu kenangan yang terindah dan
jasa yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. seperti Orde Baru. Para mahasiswa
pada waktu itu mengecam Soehato dan menginginkan lengser keprabon. Mereka
berhasil
Perubahan Status Perguruan Tinggi, Memberi Warna Baru
Mengenang masa lalu saat pertama bertemu
dengan Prof Samsul sekitar tahun 2016-an. Sekitar 7 bulan setelah saya lulus Program
Doktor di UIN Suska Riau. Kami ngobrol bareng dan bertanya kepadaku tentang pekerjaan
sehari-hari. Saya jawab “Guru MDA Prof”. Dia tersenyum saja. Mungkin saya dianggap bergurau. Tak lama dalam obrolan itu, dia menawarkan kepadaku untuk membantu STAIN Bengkalis yang katanya baru berubah status menjadi negeri. Karena saya berasal
dari pesantren dan waktu S2, Prof Samsul pernah memberi mata kuliah, jadi saya
anggap perintahnya sebagai perintah seorang guru. Itu yang diajarkan dalam Kitab
Ta’lim Muta’alim. Meskipun referensi ini terlihat lebih cocok dan tumbuh subur di pesantren tradisional
Rentang waktu sudah cukup panjang. Mulai tahun
2017 secara resmi saya menjadi dosen STAIN Bengkalis. Sebentar lagi masuk 2024.
Selama dalam proses kepemimpinan sepanjang itu, Prof Samsul telah memberikan
yang terbaik. Meskipun belum semua bisa menerima kerangka besar nya bagi
sebagian orang-orang yang mengikuti rentak kepemimpinannya.
Mungkin saja gaya kepemimpinannya terbawa
pengaruh dari nama nya, yaitu Samsul yang mempunyai arti matahari. Pada saat
tertentu, dia laksana matahari di pagi hari. Dia menyinari pepohonan dan
membantu proses fotosintesis membantu daun-daunnya mempercepat tumbuh warna hijau,
akar dan batang pohon semakin kuat dan menghasilkan buah yang beragam rasa. Kadang
juga laksana matahari di siang hari yang terasa “sangat menyengat” ketika
mengenai kulit. Bahkan kadang terasa tidak tahan. Tapi sifat sinar matahari
memang tidak memilih-milih benda. Semua terkena sinarnya. Sebab diantara mereka
ada juga benda yang membutuhkan sinar yang cukup panas untuk bisa eksis di
ekosistemnya. Kadang juga laksana matahari di sore hari, menyejukan dan
memberikan wejangan, arahan tentang pentingnya suatu harmonisasi dalam langkah
untuk membangun STAIN lebih baik di masa mendatang.
Apakah Prof Samsul sukses membawa STAIN sebagai perguruan tinggi yang stara dengan perguruan tinggi yang ada di belahan
nusantara? Saya jawab belum sepenuhnya berhasil. Dengan keterbatasan SDM yang
pada masa nya, mayoritas dosen tetap
non-PNS yang jabatan fungsionalnya rata-rata asisen ahli dan lektor 200-300. Dia
harus bersaing dengan perguruan tinggi negeri yang SDM nya sudah mapan. Jelas sangat
sulit untuk mewujudkan keseteraan status Perguruan Tinggi. Apalagi ada
keterbatasan anggaran yang tidak sama dengan perguruan tinggi yang sudah
mempunyai BLU. Bahkan seandainya ada Lampu Aladin pun, tidak mampu merubah
keadaan. Sebab Lampu Aladin pun tidak pernah kuliah.
Itu sebabnya melihat keberhasilan Prof
Samsul ditinjau dari prespektif lain seperti kemampuannya telah merubah status Perguruan
Tinggi swasta menjadi negeri. Dari STAIN Insya Allah akan berubah menjadi IAIN.
Bantuan penambahan gedung SBSN yang cukup banyak (bisa jadi terbanyak untuk
ukuran STAIN di Indonesia), serta keberhasilan mengurus Dosen non-PNS dan para
pegawai menjadi dosen PPPK dan pegawai PPPK. Dari sini kita harus belajar
jujur, bahwa setiap pemimpin selalu saja ada jasa yang baik dan kebijakan yang
harus dipertahankan, ditambah dan diperbaiki.
Harapan untuk Ketua Baru
Setiap pergantian kepemimpian di Perguruan
Tinggi selalu mengharapkan adanya perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan
yang memang harus segera di perbaiki. Sebab tantangan perguruan tinggi ke depan
semakin besar dan berat. Tuntutan semakin tinggi di tengah keterbatasan yang
ada. Apalagi era digitalisasi segala aspek sudah mulai terasa. Menuju arah
tersebut adalah sebuah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Sebab
dampak dari digitalisasi tidak hanya semakin menyempitnya penggunaan SDM, tapi
juga efek sosial, politik, dan agama serta budaya semakin besar. Bahkan adanya beberapa program digitalisasi pendidikan juga telah menjadi problem baru dan tantangan yang tidak bisa dianggap mudah. Perlu kerja keras dan melakukan akselerasi menghadapi era tersebut. Belum lagi, kemampuan pendidikan dalam menjaga identitas nilai-nilai kearifan lokal di tanah melayu. Suatu problem yang memang tidak sederhana.
Ketika saya mengikuti acara Forum
Konsultasi Publik Ranwal RPJPD Kabupaten Bengkalis pada tanggal Desember 2023,
saya mengusulkan adanya pembangunan berbasis nilai-nilai melayu. Ia menjadi
pijakan di dalam arus deras modernisasi saat sekarang ini. Artinya sederas
apapun, nilai-nilai tersebut tetap hidup dan menjadi way of life masyarakat
bengkalis. Waktu itu saya mencontohkan di berbagai daerah di Jawa seperti di Yogyakarta
(dan kota-kota lainnya) ada kajian yang disebut Javanologi (begitu juga di berbagai Perguruan Tinggi, ini menjadi kajian yang sangat penting). Melalui kajian ini,
nilai-nilai tetap hidup. Anak-anak mulai dari kecil mengerti tentang
peribahasa, ajaran etika, tata bahasa, sastra, kamus bahasa jawa dan segala
sisi terdokumentasi dengan baik. Bahkan sekarang ini sudah ada sekolah-sekolah
seperti SMK Karawitan, SMK berkaitan dengan pewayangan dan sejenisnya. Akibatnya,
semua yang berkaitan dengan budaya dan nilai-nilai secara otomasi terjaga. Itu sebabnya,
semua situs yang ada di Jawa tetap terjaga dan bukan saja sebagai warisan
leluhur, tapi juga menjadi sumber pendapatan daerah yang sangat besar.
Saya hanya membayangkan saja, jika di
sekolah-sekolah anak-anak tidak hanya diajarkan huruf melayu, tetapi juga
diajarkan tentang peribahasa, ajaran-ajaran orang tua tentang moral,
nilai-nilai kebajikan, tatabahasa, kamus Indonesia-melayu percakapan
sehari-hari dan sejenisnya. Tentu harus terdokumentasi dalam bentuk buku-buku,
majalah dan lain-lain. namun, usul saya waktu itu belum mendapatkan respon yang
serius. Mungkin usulan saya kurang
canggih dan terlihat kolot, dan hanya
melihat pada satu sisi kecil sejarah,bahwa bahasa Indonesia juga bahasa melayu.
Padahal dalam dialek sehari-hari, bahasa melayu mempunyai kekayaan bahasa yang
sangat luarbiasa yang tidak terekam dalam bahasa Indonesia.
Jika usulan saya di Pemda belum secara
nyata direspon dalam wujud nyata, maka STAIN Bengkalis saya kira sudah mulai
memikirkan persoalan ini. Apalagi STAIN telah menyatakan diri sebagai “Kampus
Melayu”. Saya kira dari kampus ini bisa lahir buku-buku berbahasa melayu,
peribahasa melayu, pantun melayu, karya tulis melayu, kamus bahasa melayu. Jadi
ini menjadi semakin besar dan berkembang perbendaharaan nilai-nilai budaya yang
tidak hanya dikenal di masyarakat pada tulisan arab melayu dan kain melayu.
Jika ini sesuatu yang penting dan bisa
menjadi pelopor penjaga nilai-nilai budaya melayu sebagai way
of life, maka STAIN Bengkalis mempunyai tanggung-jawab tentang hal tersebut.
Ini berarti, kepemimpinan baru juga sudah mulai memikirkan hal-hal seperti ini
dan bukan sebatas pada pekerjaan yang bersifat administrasi saja. Kadang dosen
semakin banyak administrasi semakin stress dan tidak sempat melakukan
penelitian dan pengabdian.
Sebagai penutup tulisan ini, saya mengucapkan selamat kepada Dr.H. Abu Anwar, M.Ag. Jika pendahulunya, Prof Samsul yang mempunyai arti matahari dan menyinari tanpa pandang bulu, maka Dr. Anwar mempunyai arti beragam cahaya yang mampu memberi sinar kehidupan, kebajikan, kesetaraan, dan kehidupan intelektual semakin terasa serta mengembangkan peradaban melayu yang telah dicanangkan oleh pendahulunya. selamat bertugas, Semoga STAIN Bengkalis di masa datang semakin baik dan membawa keberkahan.
Daftar Pustaka
al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami'
Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .
Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam .
Jakarta Selatan : Paramadina .
Dhofier, Z. (2011). Tradisi Pesantren Studi Pandangan Hidup Kyai dan
Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Cet.8. Jakarta: LP3ES.
Madjid, N. (2009). Cita-Cita Politik Islam. Jakarta : Paramadina.
Munawar-Rachman, B. (2006). Ensiklopedi Nurcholish Madjid Pemikiran Islam
di Kanvas Peradaban, Jilid. 2, Cet. 1, . Indramayu, : Yayasan Pesantren
Indonesia Al-Zaytun, 2006, hlm. 769-1744.
Munawar-Rachman, B. (2008). Ensiklopedi Nurcholish Madjid. Indramayu :
Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaitun .
Rahman, F. (1996). Major Themes of The Qur'an, terj; Anas Mahyuddin.
Bandung : Pustaka .
Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .
Tutik, T. T. (2006). Pokok-Pokok Hukum Tata Negara. Yogyakarta : Prestasi
Pustaka .
Yusuf, K. M. (2008). Analisis Qur'ani terhadap Pemikiran Ibn Sina dan
al-Ghazali Mengenai Dimensi Rohani dan Pembentukan Perilaku. Pekanbaru: Suska
Press.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3572
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876