Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kenangan dan Harapan dalam Bingkai Sejarah



Kamis , 28 Desember 2023



Telah dibaca :  647

Setelah selesai melakukan editing tulisan Prof Samsul Nizar  yang ke-45, jam 13.30 saya pergi ke Rumah Makan New Normal. Perut saya memang benar-benar belum normal. Mulai pagi belum sarapan. Jadi, untuk menjaga kesehatan, saya harus mencari menu yang lumayan bagus; ikan Nila bakar. Minumnya, Jeruk peras panas.

Setelah makan, saya langsung pulang. Ingin tidur. Tapi cuaca cukup panas. Saya buka WhathsApp. Ada berita pelantikan Ketua dan Rektor di Perguruan Tinggi Islam. Ada UIN Jambi dan STAIN Bengkalis.  Saya kirim beritanya ke Mas Ayub, sahabat saya dari UIN Jambi, yang sering bertemu di acara KKN Serumpun dan Nusantara. Sekalian, saya minta izin akan mengirim artikel ilmiah ke UIN Jambi.

Berita ini sebenarnya tidak mengagetkan. Sebab proses seleksi pimpinan telah dilakukan. Hal sama juga di UIN Jambi. Maka, wajar jika pelantikannya sama. Berarti STAIN Bengkalis masuk 2024 mempunyai Ketua baru. Saya tidak tahu nanti, apakah kepemimpinan baru menggunakan pendekatan model  visi-misi capres-cawapres yang mengusung  pola “lanjutkan”, pola “lanjut dan perbaikan” atau “pola perubahan”. Semua sah-sah saja. Ini merupakan sebuah proses laksana gelombang lautan. Kadang sedang, tinggi, rendah. Itu biasa-biasa saja. Apapun bentuk proses nya,  itu sebenarnya bagian dari pendewasaan, bahwa Tuhan telah memberikan ruang “ijtihad” kepada setiap hamba-hamba-Nya untuk melakukan terbaik. Sukses bukan pada persoalan “mendapatkan apa”, tapi sebenarnya sukses adalah suatu aktivitas atau proses yang sering disebut “amalun sholihun”. Setiap orang boleh mempunyai cita-cita. Tapi tidak semua cita-cita wajib  berhasil. Tapi setiap proses menuju cita-cita tersebut sudah menjadi bagian dari amalun sholihun yang dicatat sebagai bagian ibadah. Itu sebabnya, pada persoalan ini semua sama kedudukanya ( terpilih atau tidak terpilih).  Semua proses akan mendapatkan catatan ijtihad dan niat amalnya di hadapan Sang Pencipta.

Apakah ada seorang pemimpin yang sempurna? Tidak ada. Kecuali Nabi Muhammad saw. Meskipun kaum Mu’tazilah menilai nya dalam prespektif rasionalitas yang berbeda dengan Asy’ariyah dan Al-Maturidiyah ( akidah ini menyakini kesempurnaan diri nabi secara totalitas). Meskipun demikian, kaum Mu'tazilah tetap mengatakan nabi sebagai seorang pemimpin yang terbaik pada masa nya. Bahkan pendukung ini mengutip pendapat Robeth N Bellah bahwa satu-satu Konstitusi Negara yang nilai-nilai modernnya melintasi zaman hanya Piagam Madinah (Madjid, 2009).

Jika demikian setiap orang bisa mengatakan bahwa setiap pemimpin senantiasa meninggalkan suatu kenangan yang terindah dan jasa yang tidak bisa dihilangkan begitu saja. seperti Orde Baru. Para mahasiswa pada waktu itu mengecam Soehato dan menginginkan lengser keprabon. Mereka berhasil (Tutik, 2006). Masuk era reformasi. Tapi setelah berjalan beberapa puluh tahun, sebagian masyarakat pun merindukan kepemimpinannya dianggap tegas dan memberi rasa aman di tengah-tengah masyarakat. itulah sifat manusia. Selalu datang rasa rindu ketika mengenang kenangan yang indah pada masa lalu dan ingin kembali di masa sekarang. Itu sebabnya, setiap negara dan bangsa selalu mencatat para pahlawan yang telah berjasa dalam mewarnai kanfas kehidupan sejarah. Mengenang segala kebaikannya dan mengubur segala keburukannya. Mikul duwur, mendem jero. Kalimat pendek ini merupakan filosofis yang agung dari nenek moyang kita. bahwa boleh berbeda, tapi kejujuran mengakui suatu prestasi dan kemampuan menutup aib saudaranya merupakan moralitas yang lama ditanamkan oleh para pendiri bangsa ini.

Perubahan Status Perguruan Tinggi, Memberi Warna Baru  

Mengenang masa lalu saat pertama bertemu dengan Prof Samsul sekitar tahun 2016-an. Sekitar 7 bulan setelah saya lulus Program Doktor di UIN Suska Riau. Kami ngobrol bareng dan bertanya kepadaku tentang pekerjaan sehari-hari. Saya jawab “Guru MDA Prof”. Dia tersenyum saja. Mungkin saya dianggap bergurau. Tak lama dalam obrolan itu, dia menawarkan kepadaku untuk membantu STAIN Bengkalis yang katanya baru berubah status menjadi negeri. Karena saya berasal dari pesantren dan waktu S2, Prof Samsul pernah memberi mata kuliah, jadi saya anggap perintahnya sebagai perintah seorang guru. Itu yang diajarkan dalam Kitab Ta’lim Muta’alim. Meskipun referensi ini terlihat lebih cocok  dan tumbuh subur di pesantren tradisional (Dhofier, 2011), saya mencoba menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, orang tua mengajarkan untuk memberi penghormatan kepada guru (siapapun gurunya), maka semampu saya menerapkan ajaran orang tua yang didapat dari pesantren.

Rentang waktu sudah cukup panjang. Mulai tahun 2017 secara resmi saya menjadi dosen STAIN Bengkalis. Sebentar lagi masuk 2024. Selama dalam proses kepemimpinan sepanjang itu, Prof Samsul telah memberikan yang terbaik. Meskipun belum semua bisa menerima kerangka besar nya bagi sebagian orang-orang yang mengikuti rentak kepemimpinannya.

Mungkin saja gaya kepemimpinannya terbawa pengaruh dari nama nya, yaitu Samsul yang mempunyai arti matahari. Pada saat tertentu, dia laksana matahari di pagi hari. Dia menyinari pepohonan dan membantu proses fotosintesis membantu daun-daunnya mempercepat tumbuh warna hijau, akar dan batang pohon semakin kuat dan menghasilkan buah yang beragam rasa. Kadang juga laksana matahari di siang hari yang terasa “sangat menyengat” ketika mengenai kulit. Bahkan kadang terasa tidak tahan. Tapi sifat sinar matahari memang tidak memilih-milih benda. Semua terkena sinarnya. Sebab diantara mereka ada juga benda yang membutuhkan sinar yang cukup panas untuk bisa eksis di ekosistemnya. Kadang juga laksana matahari di sore hari, menyejukan dan memberikan wejangan, arahan tentang pentingnya suatu harmonisasi dalam langkah untuk membangun STAIN lebih baik di masa mendatang.

Apakah Prof Samsul sukses membawa STAIN sebagai perguruan tinggi yang stara dengan perguruan tinggi yang ada di belahan nusantara? Saya jawab belum sepenuhnya berhasil. Dengan keterbatasan SDM yang pada masa nya,  mayoritas dosen tetap non-PNS yang jabatan fungsionalnya rata-rata asisen ahli dan lektor 200-300. Dia harus bersaing dengan perguruan tinggi negeri yang SDM nya sudah mapan. Jelas sangat sulit untuk mewujudkan keseteraan status Perguruan Tinggi. Apalagi ada keterbatasan anggaran yang tidak sama dengan perguruan tinggi yang sudah mempunyai BLU. Bahkan seandainya ada Lampu Aladin pun, tidak mampu merubah keadaan. Sebab Lampu Aladin pun tidak pernah kuliah.

Itu sebabnya melihat keberhasilan Prof Samsul ditinjau dari prespektif lain seperti kemampuannya telah merubah status Perguruan Tinggi swasta menjadi negeri. Dari STAIN Insya Allah akan berubah menjadi IAIN. Bantuan penambahan gedung SBSN yang cukup banyak (bisa jadi terbanyak untuk ukuran STAIN di Indonesia), serta keberhasilan mengurus Dosen non-PNS dan para pegawai menjadi dosen PPPK dan pegawai PPPK. Dari sini kita harus belajar jujur, bahwa setiap pemimpin selalu saja ada jasa yang baik dan kebijakan yang harus dipertahankan, ditambah dan diperbaiki.

Harapan untuk Ketua Baru 

Setiap pergantian kepemimpian di Perguruan Tinggi selalu mengharapkan adanya perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan yang memang harus segera di perbaiki. Sebab tantangan perguruan tinggi ke depan semakin besar dan berat. Tuntutan semakin tinggi di tengah keterbatasan yang ada. Apalagi era digitalisasi segala aspek sudah mulai terasa. Menuju arah tersebut adalah sebuah pekerjaan yang tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Sebab dampak dari digitalisasi tidak hanya semakin menyempitnya penggunaan SDM, tapi juga efek sosial, politik, dan agama serta budaya semakin besar. Bahkan adanya beberapa program digitalisasi pendidikan juga telah menjadi problem baru dan tantangan yang tidak bisa dianggap mudah. Perlu kerja keras dan melakukan akselerasi menghadapi era tersebut. Belum lagi, kemampuan pendidikan dalam menjaga identitas nilai-nilai kearifan lokal di tanah melayu. Suatu problem yang memang tidak sederhana.

Ketika saya mengikuti acara Forum Konsultasi Publik Ranwal RPJPD Kabupaten Bengkalis pada tanggal Desember 2023, saya mengusulkan adanya pembangunan berbasis nilai-nilai melayu. Ia menjadi pijakan di dalam arus deras modernisasi saat sekarang ini. Artinya sederas apapun, nilai-nilai tersebut tetap hidup dan menjadi way of life masyarakat bengkalis. Waktu itu saya mencontohkan di berbagai daerah di Jawa seperti di Yogyakarta (dan kota-kota lainnya) ada kajian yang disebut Javanologi (begitu juga di berbagai Perguruan Tinggi, ini menjadi kajian yang sangat penting). Melalui kajian ini, nilai-nilai tetap hidup. Anak-anak mulai dari kecil mengerti tentang peribahasa, ajaran etika, tata bahasa, sastra, kamus bahasa jawa dan segala sisi terdokumentasi dengan baik. Bahkan sekarang ini sudah ada sekolah-sekolah seperti SMK Karawitan, SMK berkaitan dengan pewayangan dan sejenisnya. Akibatnya, semua yang berkaitan dengan budaya dan nilai-nilai secara otomasi terjaga. Itu sebabnya, semua situs yang ada di Jawa tetap terjaga dan bukan saja sebagai warisan leluhur, tapi juga menjadi sumber pendapatan daerah yang sangat besar.

Saya hanya membayangkan saja, jika di sekolah-sekolah anak-anak tidak hanya diajarkan huruf melayu, tetapi juga diajarkan tentang peribahasa, ajaran-ajaran orang tua tentang moral, nilai-nilai kebajikan, tatabahasa, kamus Indonesia-melayu percakapan sehari-hari dan sejenisnya. Tentu harus terdokumentasi dalam bentuk buku-buku, majalah dan lain-lain. namun, usul saya waktu itu belum mendapatkan respon yang serius. Mungkin usulan saya  kurang canggih dan  terlihat kolot, dan hanya melihat pada satu sisi kecil sejarah,bahwa bahasa Indonesia juga bahasa melayu. Padahal dalam dialek sehari-hari, bahasa melayu mempunyai kekayaan bahasa yang sangat luarbiasa yang tidak terekam dalam bahasa Indonesia.

Jika usulan saya di Pemda belum secara nyata direspon dalam wujud nyata, maka STAIN Bengkalis saya kira sudah mulai memikirkan persoalan ini. Apalagi STAIN telah menyatakan diri sebagai “Kampus Melayu”. Saya kira dari kampus ini bisa lahir buku-buku berbahasa melayu, peribahasa melayu, pantun melayu, karya tulis melayu, kamus bahasa melayu. Jadi ini menjadi semakin besar dan berkembang perbendaharaan nilai-nilai budaya yang tidak hanya dikenal di masyarakat pada tulisan arab melayu dan kain melayu.

Jika ini sesuatu yang penting dan bisa menjadi pelopor penjaga nilai-nilai budaya melayu sebagai way of life, maka STAIN Bengkalis mempunyai tanggung-jawab tentang hal tersebut. Ini berarti, kepemimpinan baru juga sudah mulai memikirkan hal-hal seperti ini dan bukan sebatas pada pekerjaan yang bersifat administrasi saja. Kadang dosen semakin banyak administrasi semakin stress dan tidak sempat melakukan penelitian dan pengabdian.

Sebagai penutup tulisan ini, saya mengucapkan selamat kepada Dr.H. Abu Anwar, M.Ag. Jika pendahulunya, Prof Samsul yang mempunyai arti matahari dan menyinari tanpa pandang bulu, maka Dr. Anwar mempunyai arti beragam cahaya yang mampu memberi sinar kehidupan, kebajikan, kesetaraan, dan kehidupan intelektual semakin terasa serta mengembangkan peradaban melayu yang telah dicanangkan oleh pendahulunya. selamat bertugas, Semoga STAIN Bengkalis di masa datang semakin baik dan membawa keberkahan.

Daftar Pustaka 

al-Qurtubi, A. '. (n.d.). Al-Jami' Al-Ahkam Al-Qur'an . Beirut: Al-Resalah .

Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .

Dhofier, Z. (2011). Tradisi Pesantren Studi Pandangan Hidup Kyai dan Visinya Mengenai Masa Depan Indonesia, Cet.8. Jakarta: LP3ES.

Madjid, N. (2009). Cita-Cita Politik Islam. Jakarta : Paramadina.

Munawar-Rachman, B. (2006). Ensiklopedi Nurcholish Madjid Pemikiran Islam di Kanvas Peradaban, Jilid. 2, Cet. 1, . Indramayu, : Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaytun, 2006, hlm. 769-1744.

Munawar-Rachman, B. (2008). Ensiklopedi Nurcholish Madjid. Indramayu : Yayasan Pesantren Indonesia Al-Zaitun .

Rahman, F. (1996). Major Themes of The Qur'an, terj; Anas Mahyuddin. Bandung : Pustaka .

Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .

Tutik, T. T. (2006). Pokok-Pokok Hukum Tata Negara. Yogyakarta : Prestasi Pustaka .

Yusuf, K. M. (2008). Analisis Qur'ani terhadap Pemikiran Ibn Sina dan al-Ghazali Mengenai Dimensi Rohani dan Pembentukan Perilaku. Pekanbaru: Suska Press.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876