Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kenangan Indah Bersama Mandua



Jumat , 03 Maret 2023



Telah dibaca :  227

Saya selalu mengikuti perkembangan Mandua[baca; MAN 2] Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Facebook. Letaknya di Desa Sidomulyo Rangsang Barat. Masih Desa, dan suasana juga masih terjaga dengan baik yaitu suasana masyarakat pedesaan yang mengutamakan gotong-royong, musyawarah, saling menghormati dan menyayangi kepada sesama tanpa membedakan status sosial. Walaupun demikian, ketika berbicara tentang prestasi, Mandua termasuk sekolah yang selalu tanpil dan meraih prestasi baik ditingkat kabupaten maupun nasional. Saat saya masih di sekolah ini pada tahun 2001-an[mungkin juga sebelum saya datang pun] sudah sering mendapatkan prestasi di berbagai bidang. Namun waktu itu masih swasta. Dengan segala keterbatasan, guru-guru yang statusnya guru honorer melakukan transformasi budaya perfikir dan menularkan kepada anak-anak didiknya bahwa siapapun dan dimanapun bisa berprestasi. Bukan sebatas sekolah di kota yang berprestasi, tapi di kampung pun bisa meraih. Kuncinya; man jadda wa jada, siapa yang bersungguh-sungguh maka akan memperoleh apa yang dicita-citakan.


Saya ingat pertama kali ikut mengajar di sekolah ini[ dulu namanya Mas Al-Khairiyah]. Kepala sekolahnya Kiai Sarbaini, BA. Aslinya Tambak Banyumas, Jawa Tengah. Alumni Pesantren Lirboyo. Dia mendapat gelar BA dari pesantren tersebut. Dulu gelar masih dua, kalau tidak “Drs” yang BA[untuk yang bukan S1]. Guru-gurunya sudah mulai ada yang S1, tapi masih banyak tamatan SLTA. Saya pun masih SLTA. Setelah ada penerimaan mahasiswa baru Unilak, saya ikut kuliah. Jurusan Ilmu Hukum. Tahun 2006 sudah mendapatkan gelar SH. Tahun 2007 bersama Pak Mahdar, Mufaroah, Saing Kodir, dan Poniman kuliah Akta Mengajar di Bengkalis selama satu semester. Alhamdulillah selesai di pertengahan 2007. Tahun 2008, saya melanjutkan lagi kuliah Program Magister, Jurusan Pendidikan Islam. Selesai 2010. Pada tahun 2011, Kuliah Program Doktor di UIN Sultan Syarif Qasim Riau. Pada tahun 2013 mengambil masa langkau, dua semester. Tahun 2014 kuliah lagi, dan tahun 20`5 selesai program doktor.

Dulu sekolah Mandua masih kayu. Lokasinya MTSN saat sekarang ini. Karena satu Yayasan, dan MTS nya sudah menjadi negeri, maka MAS Al-Khairiyah pindah dekat rumah nya Kiai Mungidan. Saya  mengenalnya ketika pada ajaran baru dan penambahan guru baru; ada nama Pak Mungidan, Pak Mudasir, Bu Reni, pak Rasyid dan lain-lain. Saya kira ini generasi kedua. Anggaplah generasi tabi’in. saya termasuk generasi assabiqunal awwalun bersama Pak Jami’an, Pak Nurhadi, Pak Nurhakim, Pak Sadikun, Pak Rozali dan lain-lain. Saya sudah lupa nama-namanya.


Selama mengajar di Mandua, saya bertemu dua kepala sekolah. Periode pertama, kepala sekolah nya Pak Sarbaini. Ini masih swasta. Masa-masa paceklik. Namun waktu itu tidak merasa susah. Selesai mengajar, isi nya guyon dan main catur. Saya ingat kalau sudah kumpul guru-guru seperti saya, Pak Mungidan, Pak Adisabtura, Pak Jamingan dan Nurhadi, maka suasana ruang guru menjadi suasana seperti stand up komedi. Ini jelas keberkahan yang luarbiasa. Cara efektif melupakan honor yang belum pasti kapan keluar. Tapi yang jelas, kawan-kawan sudah punya tabungan simpan-pinjam sama Pak Jamingan sebagai bendahara. Sering pinjam jarang menyimpan. Terutama saya, saat akan pulang sekolah, maka pak jamingan menjadi sasaran saya agar bisa dipinjami duit beberapa ribu agar bisa membayar Kempang menuju Selatpanjang.


Pengganti Pak Sarbini, BA adalah Pak Dahroji, S.Ag. Dulu kepala MTSN dan kemudian pindah menjadi Kepala MAS Al-Khairiyah. Pada masa kepemimpinannya, MAS Al-Khairiyah menjadi MAN. Ini prestasi yang sangat luarbiasa. Sebagaimana pendahulunya, Pak Dahroji punya gaya kepemimpinan model kebapakan; mengayomi, mengajari tanpa kesan menggurui. Kami segan terhadapnya. Namun dasar watak susah di atur, kebiasaan guyon dan main catur pun tidak bisa ditinggalkan. Kalau dia datang ke ruang guru, semua pun senyap. Tidak ada yang guyon, diam semuanya. Setelah dia pergi, kami pun menata kembali papan catur, dan bermain sambil menunggu bel masuk berbunyi.

Kenangan yang paling berkesan, terutama saya sendiri pada saat Pak Dahroji yaitu; pertama, setiap hari senin saya terlambat dan tidak bisa ikut upacara bendera. Saya malu sekali. Padahal saya dari Selatpanjang selalu berangkat dengan kapal kempang pertama. Tapi sampai di sekolah selalu terlambat. Kedua, ketika saya izin untuk kuliah Program Doktor, dia pun langsung mengiyakan tanpa banyak pertimbangan. Dari dua peristiwa ini, Pak Dahroji tidak menunjukan tanda-tanda tidak senang terhadap saya, tidak ada perubahan ekspresinya. Mungkin karena saya waktu itu sudah jadi ustadz, jadi sama-sama pengertian. Mungkin begitu. Tapi yang jelas, sikap sebagai seorang kepala sekolah yang mengayomi, memberi suri tauladan, dan memberi semangat untuk terus berkarya benar-benar membekas di hati para guru di Mandua saat itu. Ini yang saya kenang sampai saat sekarang ini. Walaupun sebagaimana manusia, pak Dahroji dan guru-guru yang ada waktu itu juga ada berbagai keterbatasan. Itulah hakikat manusia.


Pada tahun 2017 saya berhenti dari Mandua. Pak Dahroji terlihat keberatan. Namun dia pun menyadari bahwa setiap orang mempunyai jalan hidup sendiri-sendiri. Saat saya ingin mengabdi di STAIN Bengkalis, dia pun merestui. Pada akhir 2017, saya sudah resmi mengajar di STAIN Bengkalis. Semua ini berkah dari Mandua.

Saya yakin, Mandua di bawah kepemimpinan kepala sekolah baru akan terus menoreh prestasi.  Semoga Allah swt senantiasa memberi keberkahan kepada kita semua dan mencatat segala ibadah dan amal kita bagian dari ibadah dan amal yang diterima disisi Allah dan menjadi jalan dipermudah masuk Surganya nanti, amin.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884