Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kenapa Gus Yahya Menjadi Viral ?



Kamis , 09 Februari 2023



Telah dibaca :  527

WA saya dari berbagai grup NU, mulai dari grup Struktural, Kultural, sampai pada banom-banomnya; ISNU, GP Ansor, IPNU dan lain-lain telah nge-share sebuah video Sang Ketua PBNU mencium tangan kiai sepuh yang duduk di Emper [entah itu lokasinya dimana, sebab saya tidak ada dilokasi dan tidak juga datang ke tempat tersebut]. Walaupun tidak se-viral pak Jokowi yang duduk bareng dengan penjual sayur yang kleteh di pasar tradisional atau bahkan tidak se-viral Khalifah Umar bin Khatab yang malam-malam ‘nggotong’ satu Karung Gandum ke seorang Janda yang suaminya meninggal di Medan Pertempuran[saya tidak tahu berapa kali kebiasaan ini dilakukan oleh Umar bin Khatab. Sayangnya, para Ulama tidak menjelaskan berapa kali kunjungan kerja yang begini. Satu kisah dan selalu diulang-ulang].

Saya kira apa yang dilakukan oleh K.H. Yahya Cholil Staquf yang dikenal Gus Yahya, hal yang biasa-biasa saja. Itu sudah etika Ulama Pesantren atau lebih khas lagi Ulama NU dan lebih umum lagi sudah kebiasaan umat Islam di Indonesia. Tradisi di Pesantren dan internal NU baik kultural maupun Struktural senantiasa menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda. Begitu juga di Kultural, walaupun sudah mendapat posisi strategis dan mampu mengambil kebijakan-kebijakan organisasi, tetap tunduk dan taat serta menghormati orang yang lebih tua merupakan suatu keharusan. Tidak boleh mentang-mentang merasa benar lalu menggunakan kata-kata pembenar” Saya tidak melihat siapapun, entah kiai tua atau ulama kalau tidak sesuai dengan syariat dan organisasi maka bukan kiai yang benar.”

Ini yang saat ini mulai terjadi. Jabatan, harta kekayaan, dan luas nya pengaruh telah mengikis nilai-nilai Akhlakul Karimah. Padahal antara “kebenaran dan ber-etika” adalah dua hal yang berbeda. Bagaimanapun di dalam sejarah telah mencatat, bahwa perbedaan pandangan Kiai As’ad dan Gus Dur yang sangat tajam di Muktamar NU Yogyakarta tidak melunturkan tradisi NU untuk menghormati ulama yang lebih tua tanpa harus meninggalkan prinsip yang telah menjadi garis-garis besar organisasi  PBNU yang dilakukan oleh Gus Dur dan kabinetnya. Gus Dur tetap ‘sungkem’ sebagaimana hari-hari sebelumnya. Seolah-olah tidak ada perbedaan dan permasalahan sama sekali antara dia dan Kiai As’ad. Ini adalah keunikan dan kekhasan tradisi Nahdliyin baik yang kultural maupun struktural.

Ketika ada Video Gus Yahya mencium Ulama sepuh yang duduk di Emper menjadi viral, jusru saya sedih. Bukan pada peristiwa tersebut, tapi pada sebagian realita masyarakat yang sudah mulai kehilangan nilai-nilai moralitas yang agung yang sudah hidup ratusan tahun di Indonesia. Budaya ‘Cium Tangan’ seolah-olah menjadi barang langka. Padahal itu jatidiri masyarakat Indonesia. Maka, berita Gus Yahya satu sisi terlihat aneh bagi sebagian orang yang buta literasi peradaban, satu sisi menjadi semacam ‘Oase Peradaban’ yang mampu menembus relung hati yang paling dalam, bahwa setinggi apapun jabatan yang kita peroleh ada yang lebih tinggi yaitu Akhlak al-Karimah.

Penulis yang sering menjadi tempat curhat masyarakat dari segala tingkatan menerima berbagai aduan yang sangat menyedihkan. Ada seorang tokoh pendidikan yang sedih atas anak saudaranya yang berubah 180 derajat. Dari dulu yang ‘andap asor’ kini berubah dratis dengan tidak lagi mau ‘mencium tangan orang tuanya’ karena dianggap syirik. Bahkan dia pun berani meng-kafir-kan orang tua nya sendiri. Kisah ini mempunyai beragam kejadian dalam wujud berbeda. Ini suatu peristiwa pada  krisis budaya bangsa sendiri dan ‘kranjingan’ dengan budaya orang lain yang merasa lebih islami dan sesuai dengan syariat. Mereka pun karena tidak memahami makna hakikat dari syariat terjebak pada hal-hal yang sebenarnya budaya dikultuskan seolah-olah bagian dari syariat. Sehingga orang yang tidak mengikutinya dianggap bagian dari orang yang melawan syariat, syirik, dan kafir. Na’udzubillah mindalik.

Namun terlepas dari viral atau tidak Video Gus Yahya tersebut, saya secara pribadi optimis bahwa masih banyak putra-putri bangsa yang mencintai budaya tentang cara  berkata dan berperilaku model khas Indonesia. NU sebagai organisasi agama yang lahir dari rahim para Ulama yang menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas yang agung tentu saja apa yang dilakukan oleh Gus Yahya menjadi pesan Akbar bahwa tradisi ini harus dirawat dan dilestarikan serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik dalam kontek Struktural maupun Kultural. Itulah salah satu tradisi NU yang ditawarkan menjadi bagian dalam  membangun peradaban.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884