
WA saya dari berbagai grup NU, mulai dari
grup Struktural, Kultural, sampai pada banom-banomnya; ISNU, GP Ansor, IPNU dan
lain-lain telah nge-share sebuah video Sang Ketua PBNU mencium tangan
kiai sepuh yang duduk di Emper [entah itu lokasinya dimana, sebab saya tidak
ada dilokasi dan tidak juga datang ke tempat tersebut]. Walaupun tidak se-viral
pak Jokowi yang duduk bareng dengan penjual sayur yang kleteh di pasar
tradisional atau bahkan tidak se-viral Khalifah Umar bin Khatab yang
malam-malam ‘nggotong’ satu Karung Gandum ke seorang Janda yang suaminya
meninggal di Medan Pertempuran[saya tidak tahu berapa kali kebiasaan ini
dilakukan oleh Umar bin Khatab. Sayangnya, para Ulama tidak menjelaskan berapa
kali kunjungan kerja yang begini. Satu kisah dan selalu diulang-ulang].
Saya kira apa yang dilakukan oleh K.H.
Yahya Cholil Staquf yang dikenal Gus Yahya, hal yang biasa-biasa saja. Itu
sudah etika Ulama Pesantren atau lebih khas lagi Ulama NU dan lebih umum lagi
sudah kebiasaan umat Islam di Indonesia. Tradisi di Pesantren dan internal NU
baik kultural maupun Struktural senantiasa menghormati yang lebih tua dan
menyayangi yang lebih muda. Begitu juga di Kultural, walaupun sudah mendapat
posisi strategis dan mampu mengambil kebijakan-kebijakan organisasi, tetap
tunduk dan taat serta menghormati orang yang lebih tua merupakan suatu
keharusan. Tidak boleh mentang-mentang merasa benar lalu menggunakan kata-kata
pembenar” Saya tidak melihat siapapun, entah kiai tua atau ulama kalau tidak
sesuai dengan syariat dan organisasi maka bukan kiai yang benar.”
Ini yang saat ini mulai terjadi. Jabatan,
harta kekayaan, dan luas nya pengaruh telah mengikis nilai-nilai Akhlakul
Karimah. Padahal antara “kebenaran dan ber-etika” adalah dua hal yang
berbeda. Bagaimanapun di dalam sejarah telah mencatat, bahwa perbedaan
pandangan Kiai As’ad dan Gus Dur yang sangat tajam di Muktamar NU Yogyakarta
tidak melunturkan tradisi NU untuk menghormati ulama yang lebih tua tanpa harus
meninggalkan prinsip yang telah menjadi garis-garis besar organisasi PBNU yang dilakukan oleh Gus Dur dan
kabinetnya. Gus Dur tetap ‘sungkem’ sebagaimana hari-hari sebelumnya.
Seolah-olah tidak ada perbedaan dan permasalahan sama sekali antara dia dan Kiai
As’ad. Ini adalah keunikan dan kekhasan tradisi Nahdliyin baik yang kultural
maupun struktural.
Ketika ada Video Gus Yahya mencium Ulama
sepuh yang duduk di Emper menjadi viral, jusru saya sedih. Bukan pada peristiwa
tersebut, tapi pada sebagian realita masyarakat yang sudah mulai kehilangan nilai-nilai
moralitas yang agung yang sudah hidup ratusan tahun di Indonesia. Budaya ‘Cium
Tangan’ seolah-olah menjadi barang langka. Padahal itu jatidiri masyarakat Indonesia.
Maka, berita Gus Yahya satu sisi terlihat aneh bagi sebagian orang yang buta
literasi peradaban, satu sisi menjadi semacam ‘Oase Peradaban’ yang mampu
menembus relung hati yang paling dalam, bahwa setinggi apapun jabatan yang kita
peroleh ada yang lebih tinggi yaitu Akhlak al-Karimah.
Penulis yang sering menjadi tempat curhat
masyarakat dari segala tingkatan menerima berbagai aduan yang sangat
menyedihkan. Ada seorang tokoh pendidikan yang sedih atas anak saudaranya yang
berubah 180 derajat. Dari dulu yang ‘andap asor’ kini berubah dratis
dengan tidak lagi mau ‘mencium tangan orang tuanya’ karena dianggap syirik.
Bahkan dia pun berani meng-kafir-kan orang tua nya sendiri. Kisah ini mempunyai
beragam kejadian dalam wujud berbeda. Ini suatu peristiwa pada krisis budaya bangsa sendiri dan ‘kranjingan’
dengan budaya orang lain yang merasa lebih islami dan sesuai dengan syariat.
Mereka pun karena tidak memahami makna hakikat dari syariat terjebak pada
hal-hal yang sebenarnya budaya dikultuskan seolah-olah bagian dari syariat.
Sehingga orang yang tidak mengikutinya dianggap bagian dari orang yang melawan
syariat, syirik, dan kafir. Na’udzubillah mindalik.
Namun terlepas dari viral atau tidak Video
Gus Yahya tersebut, saya secara pribadi optimis bahwa masih banyak putra-putri
bangsa yang mencintai budaya tentang cara berkata dan berperilaku model khas Indonesia.
NU sebagai organisasi agama yang lahir dari rahim para Ulama yang
menjunjung tinggi nilai-nilai moralitas yang agung tentu saja apa yang
dilakukan oleh Gus Yahya menjadi pesan Akbar bahwa tradisi ini harus
dirawat dan dilestarikan serta diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik
dalam kontek Struktural maupun Kultural. Itulah salah satu tradisi NU yang ditawarkan
menjadi bagian dalam membangun
peradaban.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2985
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884