Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kesaktian Pancasila dan Dialog Mahasiswa



Selasa , 01 Oktober 2024



Telah dibaca :  324

Setelah upacara hari kesaktian Pancasila di pagi ini (01-10-2024) saya mengajak Mas Ari sekertaris SPI untuk ngopi di depan kampus. Sebenarnya sebelum acara sudah ngopi. Saat keluar dari warung, Mas Ari ingin nyusul. Tapi kami sudah selesai sarapan; Pak Miskam, Mas Chanif dan Saya. Dari awal memang sengaja saya ingin “ngerjain” pak miskam. Setelah makan, saya langsung ngomong sama mas chanif; “ora usah mbayar, pagi ini pak miskam ingin sedekah”. Pak Miskam sedikit kaget juga. Tapi ia tetap mbayar juga.

Selesai minum kopi langsung ke Lokasi upacara hari Kesaktian Pancasila. Prosesi berjalan dengan terbit. Mahasiswa penuh. Ma’lum acara pas jadwal kuliah. Susah mengumpulkan mahasiswa ketika hari libur seperti pada Hari Kemerdekaan dan Idul Adha.

Selesai acara, saya masuk di ruang siyasah. Mahasiswa banyak yang tidak hadir. Mungkin sudah tahu ada hari Kesaktian Pancasila. Mungkin juga sudah tahu kalau acara seperti itu (mungkin lhoo…) biasanya kuliah agak sedikit longgar. Sebab kebetulan juga, saat saya menunggu mahasiswa, satu deretan belum ada dosen. Ada beberapa mahasiswa yang sedang ngobrol di teras lokal. Saya ketemua satu dosen sedikit metal, pak zulfila (meskipun demikian, kata sebagian mahasiswa ia adalah dosen yang sangat baik. Saya agak ragu testimoni dari mahasiswa tersebut,hehehe).

Saya duduk seorang diri. Dari jauh ada mahasiswa berjalan dan menghampiriku. Setelah cium tangan, ia ngobrol tentang kuliah dan cita-cita saat selesai kuliah. Mahasiswa tadi sudah membaca peluang-peluang setelah lulus nanti.

Mahasiswa tadi masih semester lima. Saya kira ia masuk pada bagian generasi emas. Cita-citanya ingin membahagiakan orang tua. Ingin menjadi hakim dan lain-lain. Anak muda memang begitu, cita-cita selalu menggelora. Saya salut kepadanya.

“Pak, nanti kalau KKN apakah bisa menentukan Lokasi sendiri” tanya mahasiswa tadi.

“Itu bagian P3M yang mengelola. Untuk apa tanya segala. Kamu khan masih semester lima” saya jawab singkat.

Dia pun menjelaskan mengapa ia tanya demikian. Salah satunya adalah saat ini ia sedang belajar bisnis yang sudah ditangani beberapa waktu lalu. Untuk biaya kulah dan juga memenuhi kebutuhan keluarga.

Saya pun menjelaskan bahwa bisnis adalah pekerjaan yang sangat menyenangkan. Saya menceritakan kepadanya bahwa saya juga sudah mulai dagang kecil-kecilan sejak MTs. Kadang jualan ES, kadang jualan mainan. Saat SLTA, saya sudah jualan sapu, keset dari sabut kelapa, dan beraneka ragam sikat antar provinsi. Ikut anak nya Pak De. Sangat merasakan kenikmatan mencari uang sendiri. Letih. Tapi nikmat. Ada kepuasan dan kebanggaan.

“Bisnis apa” tanya ku.

“Arang Tempurung ” jawabnya.

Ia pun menjelaskan teknis pembakarannya. Teknik pengiriman ke Pekanbaru. Berapa ton. Berapa biaya operasional mobil. Kadang ada juga preman di jalan minta, juga sudah dihitung. Setelah dihitung-hitung, cukup lumayan. Jika setiap minggu bisa mendapat bersih dua juta, satu bulan bisa memegang tujuh juta. Lumayan untuk keluarga dan biaya kuliah.

“Saran bapak, bisnis mu dilanjutkan. Kuliah mu jangan sampai tertinggal. Jangan biasakan membuat alasan bahwa gara-gara karena bisnis, kuliah jadi macet. Jangan sampai itu terjadi pada mu!” nasehatku pada nya.

Ia mengangguk. Lalu saya pun menceritakan pengalaman ku saat masih belajar di pesantren yang orang tua tidak pernah mengirim. Saya harus kerja dan sambil belajar.

“Dulu saya seperti mu juga, saat saya belajar di pesantren dan tidak pernah dikirim oleh orang tua, saya bekerja. Jadi tukang masak. Sekitar 250 santri. Jam 04.00 sudah bangun dan masak”.

“Dulu masak belum memakai gas. Masih memakai kayu bakar. Saat lagi nunggu nasi matang, tangan kiri membetulkan kayu bakar agar tidak mati apinya, tangan kanan memegang kitab al-fiyah dan jauhirul maknun. Alhamdulillah hapal. Bahkan kitab jauhirul maknun dijatah dua tahun hapal, saya hapalkan hanya satu tahun. Hapalan sambil bekerja”.

Entah saya senang sekali jika ada mahasiswa yang nyambi kerja. Jika kuliah dengan ku lambat gara-gara kerja, maka langsung saya maafkan. Tidur pun saya biarkan. Tidak akan saya bangunkan. Khawatir ketika lagi tidur mimpi bertemu Nabi Khaidir.

Saya berfikiran sederhana, bahwa hidup penuh dengan tantangan. Tidak semua alumni mahasiswa masuk menjadi manusia berdasi dan bersepatu. Mereka bisa merubah mindset bahwa kuliah adalah sarana untuk mengenal diri saat ini dan masa datang. Ketika saat menjadi mahasiswa sudah mengenal diri, maka ia akan semakin bisa mengenal orang lain. Dari sini sebenarnya kearifan diri akan muncul. Dari sini juga ia akan menyadari bahwa hidup yang sesungguhnya saat mengenal diri bisa hidup “berdikari” berdiri di kaki sendiri. Ia sudah kurang sebagai beban, tapi mampu mengurangi beban untuk orang lain dan negara. Sebab manusia emas di masa mendatang adalah generasi yang mandiri bukan hidup penuh dengan imitasi. Semakin maju, semakin hebat negara, maka semakin besar jiwa kemandirian masyarakat dan kurang tergantung kepada orang lain. Dalam kontek negara, sudah kurang ketergantungan dengan bangsa lain. Saya kira Itulah hakikat bagian dari makna kesaktian Pancasila.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875