
Setelah upacara hari kesaktian Pancasila di
pagi ini (01-10-2024) saya mengajak Mas Ari sekertaris SPI untuk ngopi di depan
kampus. Sebenarnya sebelum acara sudah ngopi. Saat keluar dari warung, Mas Ari ingin
nyusul. Tapi kami sudah selesai sarapan; Pak Miskam, Mas Chanif dan Saya. Dari
awal memang sengaja saya ingin “ngerjain” pak miskam. Setelah makan, saya
langsung ngomong sama mas chanif; “ora usah mbayar, pagi ini pak miskam
ingin sedekah”. Pak Miskam sedikit kaget juga. Tapi ia tetap mbayar juga.
Selesai minum kopi langsung ke Lokasi upacara
hari Kesaktian Pancasila. Prosesi berjalan dengan terbit. Mahasiswa penuh. Ma’lum
acara pas jadwal kuliah. Susah mengumpulkan mahasiswa ketika hari libur seperti
pada Hari Kemerdekaan dan Idul Adha.
Selesai acara, saya masuk di ruang siyasah.
Mahasiswa banyak yang tidak hadir. Mungkin sudah tahu ada hari Kesaktian Pancasila.
Mungkin juga sudah tahu kalau acara seperti itu (mungkin lhoo…) biasanya kuliah
agak sedikit longgar. Sebab kebetulan juga, saat saya menunggu mahasiswa, satu
deretan belum ada dosen. Ada beberapa mahasiswa yang sedang ngobrol di teras lokal.
Saya ketemua satu dosen sedikit metal, pak zulfila (meskipun demikian, kata
sebagian mahasiswa ia adalah dosen yang sangat baik. Saya agak ragu testimoni
dari mahasiswa tersebut,hehehe).
Saya duduk seorang diri. Dari jauh ada mahasiswa
berjalan dan menghampiriku. Setelah cium tangan, ia ngobrol tentang kuliah dan
cita-cita saat selesai kuliah. Mahasiswa tadi sudah membaca peluang-peluang
setelah lulus nanti.
Mahasiswa tadi masih semester lima. Saya kira
ia masuk pada bagian generasi emas. Cita-citanya ingin membahagiakan orang tua.
Ingin menjadi hakim dan lain-lain. Anak muda memang begitu, cita-cita selalu
menggelora. Saya salut kepadanya.
“Pak, nanti kalau KKN apakah bisa menentukan
Lokasi sendiri” tanya
mahasiswa tadi.
“Itu bagian P3M yang mengelola. Untuk apa
tanya segala. Kamu khan masih semester lima” saya jawab singkat.
Dia pun menjelaskan mengapa ia tanya
demikian. Salah satunya adalah saat ini ia sedang belajar bisnis yang sudah
ditangani beberapa waktu lalu. Untuk biaya kulah dan juga memenuhi kebutuhan
keluarga.
Saya pun menjelaskan bahwa bisnis adalah
pekerjaan yang sangat menyenangkan. Saya menceritakan kepadanya bahwa saya juga
sudah mulai dagang kecil-kecilan sejak MTs. Kadang jualan ES, kadang jualan
mainan. Saat SLTA, saya sudah jualan sapu, keset dari sabut kelapa, dan beraneka
ragam sikat antar provinsi. Ikut anak nya Pak De. Sangat merasakan kenikmatan
mencari uang sendiri. Letih. Tapi nikmat. Ada kepuasan dan kebanggaan.
“Bisnis apa” tanya ku.
“Arang Tempurung ” jawabnya.
Ia pun menjelaskan teknis pembakarannya. Teknik
pengiriman ke Pekanbaru. Berapa ton. Berapa biaya operasional mobil. Kadang ada
juga preman di jalan minta, juga sudah dihitung. Setelah dihitung-hitung, cukup
lumayan. Jika setiap minggu bisa mendapat bersih dua juta, satu bulan bisa
memegang tujuh juta. Lumayan untuk keluarga dan biaya kuliah.
“Saran bapak, bisnis mu dilanjutkan. Kuliah
mu jangan sampai tertinggal. Jangan biasakan membuat alasan bahwa gara-gara
karena bisnis, kuliah jadi macet. Jangan sampai itu terjadi pada mu!” nasehatku pada nya.
Ia mengangguk. Lalu saya pun menceritakan
pengalaman ku saat masih belajar di pesantren yang orang tua tidak pernah
mengirim. Saya harus kerja dan sambil belajar.
“Dulu saya seperti mu juga, saat saya
belajar di pesantren dan tidak pernah dikirim oleh orang tua, saya bekerja. Jadi
tukang masak. Sekitar 250 santri. Jam 04.00 sudah bangun dan masak”.
“Dulu masak belum memakai gas. Masih memakai
kayu bakar. Saat lagi nunggu nasi matang, tangan kiri membetulkan kayu bakar agar
tidak mati apinya, tangan kanan memegang kitab al-fiyah dan jauhirul maknun. Alhamdulillah
hapal. Bahkan kitab jauhirul maknun dijatah dua tahun hapal, saya hapalkan
hanya satu tahun. Hapalan sambil bekerja”.
Entah saya senang sekali jika ada mahasiswa
yang nyambi kerja. Jika kuliah dengan ku lambat gara-gara kerja, maka langsung
saya maafkan. Tidur pun saya biarkan. Tidak akan saya bangunkan. Khawatir ketika
lagi tidur mimpi bertemu Nabi Khaidir.
Saya berfikiran sederhana, bahwa hidup
penuh dengan tantangan. Tidak semua alumni mahasiswa masuk menjadi manusia
berdasi dan bersepatu. Mereka bisa merubah mindset bahwa kuliah adalah
sarana untuk mengenal diri saat ini dan masa datang. Ketika saat menjadi
mahasiswa sudah mengenal diri, maka ia akan semakin bisa mengenal orang lain. Dari
sini sebenarnya kearifan diri akan muncul. Dari sini juga ia akan menyadari
bahwa hidup yang sesungguhnya saat mengenal diri bisa hidup “berdikari”
berdiri di kaki sendiri. Ia sudah kurang sebagai beban, tapi mampu mengurangi
beban untuk orang lain dan negara. Sebab manusia emas di masa mendatang adalah generasi
yang mandiri bukan hidup penuh dengan imitasi. Semakin maju, semakin hebat negara,
maka semakin besar jiwa kemandirian masyarakat dan kurang tergantung kepada orang
lain. Dalam kontek negara, sudah kurang ketergantungan dengan bangsa lain. Saya
kira Itulah hakikat bagian dari makna kesaktian Pancasila.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3568
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2948
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875