Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kesedihan dan Syafa'at Nabi



Sabtu , 30 Agustus 2025



Telah dibaca :  458

Ketika masyarakat jahiliyah semakin tidak jelas peradabannya, seorang manusia berwajah tampan -laksana bulan purnama dan matahari -memancarkan cahaya di wajah nya sedih dan gundah hatinya. Tidak tenang. Kesedihannya tidak membuat redup nya pancaran wajah nya yang agung. Namun demikian, guratan kesedihan tetap terlukis di wajah nya yang sangat bersih.

Ia mengasingkan diri. Bukan karena tidak mau hidup bermasyarakat. Ia mengasingkan diri sebagai upaya spiritual untuk mendapatkan keteguhan hati dan pancaran jiwa dan mendapatkan kebenaran hakiki. Tujuannya pun berhasil. Malaikat Jibril datang menemuinya dan memberinya ajaran tuhan masuk ke dalam dadanya. Manusia yang agung itu adalah Nabi Muhammad SAW.

Ketika telah menemukan suatu kebenaran dan melimpah ilmu di dadanya, Nabi Muhammad SAW Kembali bermasyarakat. Ia tidak hanya menjadi anggota masyarakat, tapi menjadi pelopor perubahan masyarakat tersebut.

Perubahan yang dilakukan oleh Nabi adalah perubahan kebutuhan dasar yang kadang tidak didasari oleh manusia. Perubahan itu yang disebut dengan “makarimal akhlak”, budi pekerti yang luhur.


Ketika masyarakat jahiliyah memandang kaum perempuan sebagai makhluk kurang terhormat dan pembawa sial, Nabi Muhammad justru menjadikan kaum perempuan pembawa berkah. Jika kaum jahiliyah melihat bahwa kejayaan ada pada laki-laki yang kuat perang, maka Nabi meletakan kejayaan suatu bangsa terletak pada perempuan yang sholehah.

Ketika masyarakat jahiliyah mendewa-dewakan kasta bangsawan, hartawan,kekayaan, jabatan dan kekuatan militer sebagai simbol keagungan manusia, maka Nabi Muhammad mengajarkan kesetaraan derajat dengan tetap mengedepankan etika nya. Pejabat dan rakyat bisa duduk bareng karena keimanan dan ketakwaan. Ia berbeda dalam administrasi karena jabatan dan status administrasi lainnya. Mereka bisa bertemu dengan sangat mudah. Mereka juga bisa membatasi perilaku atas kedudukan masing-masing dengan sangat indah.

Ketika masyarakat jahiliyah mengisi malam hari dengan minum-minuman keras dan menghabiskan waktu di tempat hiburan, maka Nabi Muhammad mengajak para sahabat untuk menghidupkan malam dengan dzikrullah dan mengkaji ilmu pengetahuan. Itu sebabnya, para sahabat-sahabat Nabi lahir sebagai generasi penuh dengan ilmu pengetahuan, kezuhudan dan selalu mengharapkan keridhaan-Nya.


Kini umat Nabi Muhammad telah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Sangat besar jumlahnya. Nomor dua setelah agama Kristen. Mereka semua mencintai nabi Muhammad, menyebutnya dan mengharapkan syafaat nya.

Keagungan umat Nabi Muhammad terlihat luarbiasa. Saat berada di Masjid Nabawi, kita melangkahi bahu jamaah tidak ada yang marah. Kita duduk berhimpitan. Saling pandang dan saling senyum. Mereka pun tidak segan-segan membagikan makanan dan minuman yang mereka punya. Mereka melakukan secara spontanitas. Bukan rekayasa, bukan juga karena ini dipuja. Mereka benar-benar melihat kita adalah saudara. Hanya dengan bahasa isyarat, kita bisa bersahabat dengannya laksana sahabat karib yang sudah terjalin begitu lama.


Saat berada di masjidil haram, umat Islam melakukan thawaf. Semua manusia berubah menjadi tampan dan cantik. Inner body benar-benar menebar ke seluruh tubuh. Lantunan jutaan manusia melafadzkan asma Allah tidak pernah putus. Semua menjadi satu dalam keberagaman warna kulit, suku, etnis, pangkat, jabatan dan status sosial lainnya. Semua menyatu dalam rangka menghambakan diri kepada Sang Penguasa Alam Semesta.

Ya Rasul, Yang Nabi kekasihku teragung…

Saat anda meninggal dunia, kesedihan dalam bingkai sejarah Umat Panjenengan tidak bisa dihapus dari ingatanku. Bahkan peristiwa terpilihnya Abu Bakar sebagai khalifah menyebabkan dirinya traumatik ketika mengenang masa-masa saat ia dipilih menjadi khalifah. Dari peristiwa itu, mulai ada benih-benih jahiliyah muncul di antara Umat Rasul.

Haruskah Aisyah dan muawiyah melakukan kudeta kepada Ali bin Abi Thalib. Haruskah pasukan Yazid bin Muawiyah membunuh Sayidina Husein dan keluarganya dengan sangat sadis di Padang Karbala?. Para pembunuh cucu nabi juga mengharapkan syafaat Nabi dan saat sholat juga selalu menyebut nabi.

Saya tidak bisa berspekulasi atas peristiwa tersebut. Sudah berabad-abad kejadian tersebut. Hanya catatan sejarah yang telah merekam peristiwa ini.

Peristiwa yang bisa direkam Umat Nabi terlihat sangat jelas saat sekarang ini adalah kejadian beberapa waktu lalu dan saat sekarang ini. Dari ojol sampai pada demonstrasi berkelanjutan dan terus terjadi pengrusakan di berbagai tempat perkantoran dan fasilitas umum.

Ya Rasul,

Panjenengan telah melihat dengan jelas umat-umat panjengenan saat sekarang ini. Mungkin panjenengan sangat sedih sekali, dan selalu meneteskan air mata sebagaimana saat malam hari bermunajat kepada Allah SWT. Saya teringat di sebuah hadist saat akan meninggal, panjenengan mengucapkan “umati, umati, umati…”. Apakah ini pertanda kesedihannya atas segala fenomena perilaku umatnya yang telah lalai terhadap “perseduluran” atas nama agama dan bergeser atas nama jabatan, kekayaan dan kehormatan. Saya tidak mengetahuinya.

Saya hanya berkeyakinan, di dalam kesedihan yang mendalam, baginda Rasulullah SAW tetap sangat menyayangi kepada umat nya dan akan tetap memberi syafaat nya. Penulis berharap, semoga rasa kasih sayang tumbuh subur lagi di hati umat Islam sebagaimana kasih sayang Nabi terhadap mereka di Hari Kiamat nanti. Dan bangsa Indonesia kembali tenang dan sistem pemerintahan semakin baik dan memberi manfaat yang lebih besar untuk kesejahteraan umat.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13557


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4549


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2875