
Sekitar jam 17.00, saya ketemu Rektor IAI Tafaquh Fiddin Dumai Dr.
H. Ahmad Rozai Akbar,M.A di Hotel Surya Kota Duri. Saya memanggil nya Bang
Rozai. Dia kadang memanggilku mas kyai, pak kyai, atau langsung saja mas Imam. Mungkin
karena husnudzon nya, kalau diskusi tidak mau nyinggung-nyinggung politik,
pilkada dan sejenisnya.”kyai pasti diskusi agama, masa politik” pikirnya.
Padahal kyai, ustadz, buya, tokoh agama jenis nya macam-macam. Kata
Gus Mus; ada kyai kampung, kyai pemerintah dan kyai medsos
“Bang Rozai, kita ngopi depan Indomaret saja” kata ku. Ia setuju. Kami
berjalan, beli kopi botol dan duduk-duduk di depanya. Indomaret dekat Hotel
Surya.
“Kyai, kita lanjutkan diskusi kita yang terputus waktu di Pakning saat
MTQ beberapa tahun lalu” kata Bang Rozai membuka pembicaraan.
Saya lupa. Tapi ia masih sangat ingat, yaitu tentang “Manunggaling
Gusti”. Ternyata kajian tersebut pada beberapa tahun lalu menjadi sangat menarik.
Buktinya ia masih ingat dan membahas persoalan tersebut. Saking tertariknya,
malah Bang Rozai sedang melakukan penelitian berkaitan kajian tauhid. Terutama berkaitan
dengan sanad keilmuan buku-buku yang membahas tentang “sifat duapuluh”
yang secara geneologis dan perjalanan geografis sudah jauh berada di negara-negara
pusat peradaban Islam sebelum masuk ke Indonesia. Bang Rozai cukup faseh
menyebutkan buku-buku kajian tauhid. Ma’lum, ia setiap hari selalu mengkaji
nya, memegang bukanya dan ditambah lagi sedang melakukan penelitian tentang
persoalan tersebut. Jadi, saya harus benar-benar menimba ilmu tentang ilmu-ilmu
berkaitan sifat duapuluh yang ia sedang dikaji dan rencana mau diterbikan
menjadi jurnal.
“Menurut kyai, seberapa penting kajian sifat dua puluh
sebagaimana yang diajarkan oleh orang kita dulu?” tanya Bang Rozai kepada
ku.
“ Sifat duapuluh telah mempertemukan dua ilmu menjadi satu yaitu ilmu
dhohir dan ilmu batin. Ilmu tersebut telah melahirkan kesempurnaan hidup
seseorang dalam memaknai “sangkan paraning dumadi” jawab ku.
Kelihatannya ia sedikit setuju. Meskipun tidak langsung menjawab, Bang
Rozai mencoba menjelaskan bahwa perjalanan intelektual ilmuwan dulu sudah jauh
melampui batas-batas intelektual yaitu tidak hanya sebatas pada “fi sutur”,
tapi sudah merambah wilayah “fi sudur”. Kini saat era modern semua serba
mudah untuk mendapat akses data-data ilmu, tapi kajian-kajian ilmu terlihat “garing”
dan tidak menyentuh qalbu. Ilmu-ilmu sekarang mengalami kesulitan untuk
mengantarkan pembaca mendapatkan nilai-nilai spiritual. Sehingga semakin
bertambah ilmu, bukan semakin tawadhu, tapi terkadang malah bertambah takabur. Bukan
ilmu padi, malah ilmu pakis.
Dalam kajian ilmu tasawuf, ilmu ada tiga tingkatan: ainul yaqin,
nurul yaqin, dan haqul yaqin
“Itu tanda apa kyai?” tanya Bang Rozai
“Itu tanda kita semakin kesemsem terhadap keindahan dunia”
jawab ku.
“Apakah hanya sebatas kesemsem saja?” tanya lagi
“Ada unsur lain yang menyebabkan hati kita tidak tenang dalam
menjalani hidup, yaitu ada istilah sekarang apa yang disebut post truth”
jawab ku.
Persoalan post-truth tidak bisa dianggap sederhana sebagai suatu
kondisi yang mempengaruhi ketentangan mata hati. Fenomena post-truth sendiri dapat
dijelaskan sebagai suatu kondisi dimana seringnya fakta aktual digantikan oleh
daya tarik emosi dan prasangka pribadi dalam upaya mempengaruhi opini publik.
Fakta atas suatu peristiwa biasanya disajikan dengan manipulasi sebuah informasi
agar sesuai dengan intensi atau kepentingan si penyebar berita, atau lebih
buruknya yang disebarkan bukanlah fakta sama sekali. Indonesia sendiri
setidaknya terdapat 30 sampai 60 persen orang terpapar hoaks saat mengakses dan
berkomunikasi melalui dunia maya. Sementara itu, hanya terdapat 21 sampai 36
persen saja jumlah masyara8kat yang mampu mengenali dan memilah informasi yang didapatkan
“Bagaimana penyelesaiannya” kata bang rozai
“Tetap kita menggunakan tol langit, kita
harus tetap merealisasikan subtansi manunggaling gusti. Semakin arus informasi
bersliweran, Semakin besar kita mendapatkan arus informasi,maka semakin besar kemungkinan
kita terjebak menjadi bagian korban. Kita bisa memperminim hal tersebut untuk
sedikit mengurangi informasi dhohiriyah
dan memperbanyak mengasah mata batin tentang makna manunggaling gusti. Makna tersebut
bukan berarti antara Tuhan dan manusia menjadi satu kesatuan. Tidak sama
sekali. makna manunggaling gusti adalah suatu kesadaran spiritual bahwa nabi
Muhammad telah mengajarkan hidup menggunakan konsep ihsan. Menurut Nabi Muhammad SAW, ihsan adalah beribadah kepada Allah
seolah-olah kita melihat-Nya, dan jika kita tidak bisa melihat-Nya, maka Allah
pasti melihat kita
Hotel Surya Kota Duri, 15 Desember 2024
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872