Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketemu, Langsung Dialog Tol Langit



Minggu , 15 Desember 2024



Telah dibaca :  573

Sekitar jam 17.00, saya ketemu Rektor IAI Tafaquh Fiddin Dumai Dr. H. Ahmad Rozai Akbar,M.A di Hotel Surya Kota Duri. Saya memanggil nya Bang Rozai. Dia kadang memanggilku mas kyai, pak kyai, atau langsung saja mas Imam. Mungkin karena husnudzon nya, kalau diskusi tidak mau nyinggung-nyinggung politik, pilkada dan sejenisnya.”kyai pasti diskusi agama, masa politik” pikirnya.

Padahal kyai, ustadz, buya, tokoh agama jenis nya macam-macam. Kata Gus Mus; ada kyai kampung, kyai pemerintah dan kyai medsos (Bisri, 2010). Sayangnya saya tidak masuk ketiga kategori tersebut; bukan kampung, bukan pemerintah, buka medsos. Panggilan “kyai” oleh Bang Rozai sebatas wujud keakraban, bukan keilmuan dan kesholehan. Sebab kalau keakraban sudah terbangun dengan baik, panggilan apapun tetap “masuk”. Apalagi kalau orang Jawa Timur bisa saja memanggil “diaancuukkk!!!”. Tidak tersinggung. Bahkan saat sholat di “plorot” sarung teman nya pun “cengar-cengir” berjamaah. Ada kesamaan frekwensi yang menyebabkan segala asesoris tidak mengotori dan menghilangkan subtansi. Sebagaimana para sahabat nabi yang kadang bertemu “guyonan” sehingga nabi dari jarak jauh memandang nya tersenyum sambil “geleng-geleng” melihat sahabat-sahabatnya. Meskipun demikian, mereka tetap tercatat sebagai sahabat nabi terbaik dan orang-orang yang sangat mulia dalam pandangan Allah SWT.

“Bang Rozai, kita ngopi depan Indomaret saja” kata ku. Ia setuju. Kami berjalan, beli kopi botol dan duduk-duduk di depanya. Indomaret dekat Hotel Surya.

“Kyai, kita lanjutkan diskusi kita yang terputus waktu di Pakning saat MTQ beberapa tahun lalu” kata Bang Rozai membuka pembicaraan.

Saya lupa. Tapi ia masih sangat ingat, yaitu tentang “Manunggaling Gusti”. Ternyata kajian tersebut pada beberapa tahun lalu menjadi sangat menarik. Buktinya ia masih ingat dan membahas persoalan tersebut. Saking tertariknya, malah Bang Rozai sedang melakukan penelitian  berkaitan kajian tauhid. Terutama berkaitan dengan sanad keilmuan buku-buku yang membahas tentang “sifat duapuluh” yang secara geneologis dan perjalanan geografis sudah jauh berada di negara-negara pusat peradaban Islam sebelum masuk ke Indonesia. Bang Rozai cukup faseh menyebutkan buku-buku kajian tauhid. Ma’lum, ia setiap hari selalu mengkaji nya, memegang bukanya dan ditambah lagi sedang melakukan penelitian tentang persoalan tersebut. Jadi, saya harus benar-benar menimba ilmu tentang ilmu-ilmu berkaitan sifat duapuluh yang ia sedang dikaji dan rencana mau diterbikan menjadi jurnal.

Menurut kyai, seberapa penting kajian sifat dua puluh sebagaimana yang diajarkan oleh orang kita dulu?” tanya Bang Rozai kepada ku.

“ Sifat duapuluh telah mempertemukan dua ilmu menjadi satu yaitu ilmu dhohir dan ilmu batin. Ilmu tersebut telah melahirkan kesempurnaan hidup seseorang dalam memaknai “sangkan paraning dumadi” jawab ku.

Kelihatannya ia sedikit setuju. Meskipun tidak langsung menjawab, Bang Rozai mencoba menjelaskan bahwa perjalanan intelektual ilmuwan dulu sudah jauh melampui batas-batas intelektual yaitu tidak hanya sebatas pada “fi sutur”, tapi sudah merambah wilayah “fi sudur”. Kini saat era modern semua serba mudah untuk mendapat akses data-data ilmu, tapi kajian-kajian ilmu terlihat “garing” dan tidak menyentuh qalbu. Ilmu-ilmu sekarang mengalami kesulitan untuk mengantarkan pembaca mendapatkan nilai-nilai spiritual. Sehingga semakin bertambah ilmu, bukan semakin tawadhu, tapi terkadang malah bertambah takabur. Bukan ilmu padi, malah ilmu pakis.

Dalam kajian ilmu tasawuf, ilmu ada tiga tingkatan: ainul yaqin, nurul yaqin, dan haqul yaqin (An-Naisabury, 1997). Pada era modern, manusia sedikit banyak terpengaruh perubahan sosial terlalu cepat. Pola perubahan yang sangat menguras energi dan pikiran. Para ilmuwan lebih banyak memfokuskan kulit-kulit perubahan yang sangat cepat dan melakukan kajian-kajian penyelesaiannya. Akibatnya, Sebagian lupa melakukan kajian lebih mendalam berkaitan dengan persoalan ilmu haqul yaqin yang menurut kaum sufi sebagai esensi ilmu itu sendiri. Sebab ilmu tersebut merupakan jalan para kekasih-kekasih Allah dan orang-orang yang telah mendapat maqam mulia sejak dulu hingga saat sekarang ini. Jika memang benar, sekarang sudah sedikit membahas ilmu tersebut, maka bisa jadi karena lahir gejala-gejala dari fenomena alam semakin kesulitan menemukan para ulama yang benar-benar bisa menjadi panutan lahir dan batin. Derasnya ilmu-ilmu dhohir benar-benar telah menggeser trend manusia dalam mencari hakikat suatu kebahagiaan.

“Itu tanda apa kyai?” tanya Bang Rozai

“Itu tanda kita semakin kesemsem terhadap keindahan dunia” jawab ku.

“Apakah hanya sebatas kesemsem saja?” tanya lagi

“Ada unsur lain yang menyebabkan hati kita tidak tenang dalam menjalani hidup, yaitu ada istilah sekarang apa yang disebut post truth” jawab ku.

Persoalan post-truth tidak bisa dianggap sederhana sebagai suatu kondisi yang mempengaruhi ketentangan mata hati. Fenomena post-truth sendiri dapat dijelaskan sebagai suatu kondisi dimana seringnya fakta aktual digantikan oleh daya tarik emosi dan prasangka pribadi dalam upaya mempengaruhi opini publik. Fakta atas suatu peristiwa biasanya disajikan dengan manipulasi sebuah informasi agar sesuai dengan intensi atau kepentingan si penyebar berita, atau lebih buruknya yang disebarkan bukanlah fakta sama sekali. Indonesia sendiri setidaknya terdapat 30 sampai 60 persen orang terpapar hoaks saat mengakses dan berkomunikasi melalui dunia maya. Sementara itu, hanya terdapat 21 sampai 36 persen saja jumlah masyara8kat yang mampu mengenali dan memilah informasi yang didapatkan (https://www.its.ac.id, 2023). Gejala yang belum pernah terjadi kasus hoax sebesar itu pada saat belum terjadi peristiwa internet booming seperti saat sekarang ini. Para pembaca, netizen sudah sangat kesulitan untuk mencari kebenaran di dunia maya. Sebab antara benar dan salah sudah tidak bisa dibedakan secara jelas. Jika korban hoax sebesar 60 persen adalah suatu fakta betapa kondisi saat sekarang ini sangat memprihatinkan sekali.

“Bagaimana penyelesaiannya” kata bang rozai

“Tetap kita menggunakan tol langit, kita harus tetap merealisasikan subtansi manunggaling gusti. Semakin arus informasi bersliweran, Semakin besar kita mendapatkan arus informasi,maka semakin besar kemungkinan kita terjebak menjadi bagian korban. Kita bisa memperminim hal tersebut untuk sedikit  mengurangi informasi dhohiriyah dan memperbanyak mengasah mata batin tentang makna manunggaling gusti. Makna tersebut bukan berarti antara Tuhan dan manusia menjadi satu kesatuan. Tidak sama sekali. makna manunggaling gusti adalah suatu kesadaran spiritual bahwa nabi Muhammad telah mengajarkan hidup menggunakan konsep ihsan. Menurut Nabi Muhammad SAW, ihsan adalah beribadah kepada Allah seolah-olah kita melihat-Nya, dan jika kita tidak bisa melihat-Nya, maka Allah pasti melihat kita (Hanafie, 1983). Adanya kesadaran bahwa kita senantiasa mendapatkan pengawasan dari Allah mendidik kita untuk senantiasa bermesra-mesraan dengan-nya, dan sedikit melupakan “hiruk-pikuk” persoalan dunia. Ada porsi lebih banyak “bercengkrama dengan Allah” dan bergaul dengan internet seperlunya saja. Tujuannya agar tidak over dosis. Sebab over dosis yang diperboleh kan hanya satu, yaitu mahabbah kepada Allah. Sebab Ketika kita sudah bisa mempraktekan hal tersebut, kita mempunyai ketenangan hidup di saat dunia penuh dengan keramaian tanpa batas.

Hotel Surya Kota Duri, 15 Desember 2024



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872