Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Ateis Mampu Melembutkan Hati Wahabi dan Syiah



Senin , 13 Maret 2023



Telah dibaca :  535

Permusuhan Arab Saudi dan Iran cukup lama. Kita bisa membuka bukti-bukti lembaran sejarah betapa kedua negara ini sebagai musuh bebuyutan. Ada beberapa peristiwa yang memperkuat fakta tersebut antara lain; Pertama, pada tahun 1987 Arab Saudi mendukung Irak dalam melawan Iran. Ini terkenal dengan perang Irak-Iran atau perang teluk-I. Dibelakang Irak ada AS dan Arab Saudi. ironisnya, pada perang Kuwait-Irak pada tahun 1990, as bermusuhan dengan Irak. ia menjadi sekutu Kuwait. ini disebut sebagai perang teluk-II. pada tahun 2003 terjadi perang teluk-III. Irak head to head AS. Irak kalah. Presiden Sadam Husain mendapat hukuman, digantung atas tuduhan kejahatan kemanusiaan. kedua, awal tahun 2016, Arab Saudi mengeksekusi ulama besar aliran Syiah; Nimr Baqir Al Nimr. Dia adalah ulama sekelas Ayatollah Khumaini di mata pemerintah Iran. Ketiga, kematian Soleiman dan Abu Mahdi Al-Muhandis dalam serangan udara AS pada awal tahun 2020. Qasem Soleiman dibunuh oleh AS. Tapi ada irisan dengan Arab Saudi sebagai sekutu AS. Maka, kemerahan Iran terhadap AS sama kemarahannya kepada Arab Saudi.

Permusuhan tersebut merupakan wujud dari kedua negara untuk menjadi penguasa tunggal di Timur Tengah. Arab Saudi sebagai kekuatan baru ingin menjadi Khalifah atau penguasa tunggal atas berbagai negara Timur Tengah. Hal yang sama iran menjadi penguasa tunggal di wilayah Timur Tengah. salah satu caranya menguasa kilang minyak bumi. Rebutan ini menjadi pemicu utama selain sentimen ideologi wahabi-syiah. keduanya mencari koalisi. arab saudi berkoalisi dengan AS, Iran dengan Uni Soviet(sekarang Rusia-pen) dan Cina. Salah satu contoh terbaru beberapa waktu lalu tentang konflik Suriah. Iran mem-back up pemerintah yang sah, Bashar Al-Assad. Sedangkan Arab Saudi membantu para pemberontak, termasuk ISIS internasional. Warga Indonesia yang ikut peperangan di Suriah sekitar 1000-an orang. ISIS kalah. Warga Indonesia yang terafiliasi isis ingin kembali ke Indonesia. Ini menjadi problem. Sebab mereka sudah menolak NKRI, dan menyatakan diri keluar dari warga Negara Indonesia dan ingin ikut mendirikan khilafah di Suriah.

Jika dillihat dari segi kekuatan angkatan perang, Arab Saudi dan Iran adalah pada level kedua. Level pertama Cina dan Amerika Serikat. Jika dilihat dari sisi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, Iran jauh lebih unggul dari Arab. Itu sebabnya, Arab Saudi melakukan reformasi besar-besar soal pendidikan. Para pangeran dan keluarga bangsawan ramai-ramai kuliah di barat dalam bidang saint dan teknologi. Mereka ingin mengalahkan musuh bebuyutan, Iran. Maka jangan heran, berkaitan paham keagamaan masyarakat Arab Saudi saat sekarang ini lebih moderat, bahkan saat ini sudah mulai meniru model Islam Indonesia yang sangat tasamuh dan tasawut. Berbagai terobosan pemimpin baru, Arab Saudi ingi menjadi negara yang modern, tidak kolot dan menghilangkan stigma sebagai Negara Wahabi dan berpandangan ekstrem. Gejala ini bisa dilihat di sekitar Masjid Nabawi dan Masjid Haram. Mereka bisa hidup berdampingan dengan paham agama Islam yang beragam. Termasuk dalam hal melaksanakan ibadah. Mereka moderat. mereka sudah terbiasa mata kaki tertutup dan sebagian sudah terbiasa membawa tasbih. Kalau toh keluar kata-kata “haram” kepada para jamaah, hanya sebatas untuk mengganti kalimat “tidak boleh” agar bisa gantian orang lain yang jumlahnya ratusan ribu. Contoh saja saat ziarah ke makam nabi. Jika tidak dijadwal dan dibiarkan, akan menimbulkan madarat lebih besar seperti terjadi kerumusan masal yang berujung pada kemungkinan kecelakaan atau kematian masal akibat berdesak-desakan. Begitu juga orang yang membaca Al-Qur’an di Dekat Ka’bah, langsung diharamkan. Sebab ribuan orang ingin memegang, mencium Ka’bah sebagai wujud rindu kepadanya. Mencium Ka’bah dibiarkan dan tidak ada larangan, tapi membaca Al-Qur’an diharamkan, karena mengganggu antrian orang yang ingin mencium Ka'bah. itu sebabnya jika ingin membaca Al-Qur'an agak jauh Ka'bah dan bukan pada area untuk Thowaf. Kata haram sebatas untuk mendisplinkan ibadah Umrah dan Haji.

Kembali ke pokok persoalan, kenapa Cina mampu membuat Arab Saudi dan Iran rujuk(10/3)? Penulis menilai ada pergeseran kekuatan ekonomi dunia. Kekuatan ekonomi Amerika Serikat melemah dan menguatnya kekuatan ekonomi Cina. Hal ini karena dipicu oleh sistem perdagangan klasik AS yang kaku model rambo. Isinya senantiasa menciptakan konflik dan perang. setelah terjadi perang, AS jualan senjata perang. Sedangkan Cina menjual ilmu pengetahuan dan teknologi terapan untuk kebutuhan beragam aspek kehidupan. Hal ini penulis bisa melihat di sekitar kita. Kebutuhan dapur mulai dari Piring, Kompor, Dispenser sampai pada Tusuk Gigi dikuasi oleh ekonomi Cina. Artinya Cina lebih jeli menguasi pangsa pasar siap pakai ketimbang AS yang masih membanggakan dengan teknologi-teknologi perangnya.

Sebenarnya kedekatan Arab Saudi kepada Cina sudah beberapa tahun lalu. Mulai tahun 2016, Cina sebagai pembeli Minyak Tanah terbesar Arab Saudi. Tahun 2022, Cina dan Arab Saudi menekan 34 kesepakatan investasi senilai US$30 milyar. Sedangkan Cina dan Iran adalah sahabat lama karena ada kesamaan ideologi sosialis. Ini wujud keseriusan Iran melawan hegemoni AS di Timur Tengah dengan membuka kerjasama negara-negara adi daya baru dan Negara-negara Timur Tengah yang mempunyai kesamaan ideologi. Ini kerjasama saling menguntungkan yaitu menguasai sumber daya alam, terutama minyak bumi di Timur Tengah.

Kini Timur Tengah kembali mencatat sejarah, Cina mampu melunakan hati Arab Saudi dan Iran yang selama ini terus berseteru. Ini berita yang sangat menarik. Paling tidak ada harapan stabilitas keamanan bisa semakin baik. Bahkan bisa jadi, ini kekuatan baru untuk sama-sama mengintervensi kekuatan Yahudi di Palestina. Jadi, ada peluang lebih besar dari sebatas kepentingan persoalan ekonomi, yaitu kemerdekaan negara palestina. Jika ini benar-benar terwujud, maka Cina menjadi kekuatan baru yang mampu mewujudkan perdamaian dunia. Apakah ini akan terwujud? Wallahu a’lam.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884