Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika para Kekasih Allah Memasuki Masa Tenang



Jumat , 09 Februari 2024



Telah dibaca :  900

Saat menuju”masa tenang” menjelang pencoblosan pemilu 2024, penulis akan menampilkan suatu kisah yang menarik dari Hatim Al-Ashom. Saat masih kecil, penulis sering mendapatkan kisah menarik tentangnya, yaitu kemampuan menutup aib orang lain sehingga Allah angkat derajatnya menjadi kekasih-Nya (Waliyullah). Langkah yang terlibat sederhana, namun sungguh sulit ketika dipraktekan. Pikiran, ucapan dan perbuatan kadang bertemu pada suatu titik, dan sering tidak kuasa membuka segala sesuatu yang tidak menyenangkan pada diri kita. Tapi, Hatim Al Ashom mempunyai kemampuan itu. Akhirnya Tuhan pun mengangkat menjadi kekasih-Nya.

Salah satu kisah yang menarik tentang dirinya yaitu saat pergi ke pasar. Ketika dia ingin membeli suatu kebutuhan, dia mampir di kedai yang kebetulan seorang gadis cantik. Karena ada sesuatu hal, tidak terasa keluar angin dari perutnya. Suaranya terdengar jelas dan nyaring. Muka sang gadis tersebut langsung pucat memerah. Meskipun demikian, dia tetap melayani penjual dengan muka yang sangat pucat karena menahan malu. Tapi saat gadis cantik tadi bertanya kepada Hatim Al Ashom, seolah-olah tidak mendengar. Berkali-kali gadis bertanya, bahkan dikeraskan pertanyaannya, sang pembeli tetap tidak mendengar. Akhirnya, wajah penjual tadi berubah cerah. Ia merasa bahwa saat ia buang angin, sang pembeli tadi tidak mendengar. Setelah itu, ia memanggil lebih keras lagi, akhirnya ia pun baru mendengar. Konon, gara-gara ini sang pembeli yang tidak lain adalah Hatim Al Asham diangkat menjadi kekasih nya Allah swt.

Sebenarnya penulis melalui tulisan artikel ini ingin menyampaikan beberapa hal ajaran Hatim Al Ashom tentang kehidupan untuk menuju tangga kemulyaan. Menurutnya ada beberapa jalan untuk mencapai keagungan hamba melalui konsep “tawakal” atas keputusan Allah swt, yaitu: pertama, saya tahu bahwa rezeki saya tidak akan diambil oleh orang lain, oleh karena itu saya tidak akan gelisah; kedua saya tahu bahwa kewajiban tidak dapat dikerjakan oleh orang lain, oleh karena itu saya tidak berani meninggalkan kewajiban kepada Allah swt; saya tahu bahwa mati akan datang tibe-tiba, oleh karena itu maka saya selalu siap menghadapinya; saya tahu bahwa tuhan melihat saya kapan dan dimana saja saya berada, oleh karena itu saya malu berbuat sesuka hati (Sukarnawadi TGH, 2003).

Hatim al Ashom mengajarkan kepada penulis bahwa ajaran Islam tentang ketentuan hidup sudah diatur dengan sebaik-baiknya oleh Allah swt. Konstestasi apapun nama dan dengan cara apapun dilakukan, sebenarnya suatu proses kehidupan untuk menjalankan perintah Allah yaitu berikhtiar. Disisi lain, kontestasi juga merupakan suatu jalan membuka keghaiban hati, bahwa Allah telah memutuskan ikhtiar hamba-hamba-Nya dengan keputusan terbaik dan mengandung hikmah yang agung. Sebab sekecil apapun ciptaan-Nya tidak ada yang batil. Semuanya selalu saja mengandung kebaikan bagi hamba-hamba-Nya yang selalu  menghidupkan gelombang-gelombang tawakal dan menyadari bahwa keputusan allah adalah yang terbaik. Q.S. At-Thalaq[65] :2-3 : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia (Allah) akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya”. Q.S. Al-An’am [6]: 38 berbunyi:“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan”

Tawakal berasal dari kata wakala-yakilu yang berarti mewakilkan, dan dari kata ini terbentuk kata wakil. Kata wakil bisa diartikan dengan “pelindung”. Seorang muslim yang telah berikhtiar kemudian dia tawakal berarti setelah melakukan pekerjaan semaksimal mungkin, lalu ia memasrahkannya kepada yang mewakili-Nya yang mempunyai hak untuk menilai yaitu Allah swt. Q.S. Al-An’am [6]: 102 berbunyi: “ Dan Dia (Allah) atas segala sesuatu menjadi wakil”. Orang yang bertawakal laksana burung yang terbang pagi hari dalam keadaan lapar dan sore hari pulang dalam keadaan kenyang.

Tawakal berangkat dari suatu  kegiatan kegiatan yang professional, bukan asal-asalan dan bukan abal-abal. Landasanya jelas, bahwa Allah tidak akan merubah suatu kaum kecuali dia sendiri yang mau merubah-Nya. Ini adalah proses syariat kehidupan, dan hakikat kehidupan yang memutuskan yaitu Allah swt. kewajiban yang melekat pada diri hamba-hamba-Nya adalah berusaha. Ketika seseorang mulai start melakukan kegiatan, maka saat itu argo penilaian terus berjalan dan akan masuk pada dua tempat; baik dan tidak baik, ibadah dan bukan ibadah. Semua ini akan dikumpulkan dan ditimbang prosentase untuk mendapatkan surga atau neraka. Barangsiapa berbuat sekecil apapun akan mendapatkan balasan sesuai dengan kadar kualitas kebaikan tersebut. Jadi, Allah menerima dan menilai proses, dan tersebut di nilai dalam wujud penghargaan-penghargaan atau hukuman-hukuman.Kenapa Allah menilai suatu proses bukan hasil? Sebab kualitas sejati manusia bukan pada hasil. Suatu hasil bisa didapat karena beberapa faktor; bisa karena prestasi, faktor kerabat, atau juga rasa kasih-sayang. Allah bahkan memasukan surga hamba-hamba Nya bukan karena banyak amal, tapi karena rahmat-Nya. Maknanya, bahwa pada wilayah tertentu Allah memerintahkan manusia untuk menjalankan ikhtiar sebaik mungkin, tapi pada saat tertentu hak prerogatif-Nya berlaku. Pada wilayah ini perilaku manusia dalam pandangan Allah bukan perilaku sebatas dhohiriyah semata, tapi setiap perilaku manusia harus juga menghubungkan nya menjadi bagian nilai yang bersifat ritualitas yang hanya mengharapkan ridha Allah swt. Ironisnya, progresifitas manusia dalam menajalankan ikhtiar politik atau apa saja sering berhenti pada ikhtiar yang menjadikan dunia sebagai ritualitas. Jadi sebagian kelompok manusia melakukan serangkaian kampanye hanya berhenti pada tataran persoalan perut, kesenangan duniawi, jabatan, kekayaan, kehormatan. Semua ditaruh di dalam hati dan pikiran, sehingga iman dan cinta kepada Allah hanya memenuhi ruang kecil di sudut hati. Semua sudah penuh dengan angan-angan kekuasaan, kekayaan dan jabatan. Ritualitas yang seharusnya menghubungkan aktivitas semakin cinta kepada Allah, malah lahir tuhan-tuhan baru dalam wujud perhiasan dunia (Rakhmat, 1998). Akibatnya, terjadi fitnah di mana-mana, permusuhan terjadi bukan dengan orang lain, tapi dengan sesame saudara nya sendiri, lebih mengerikan lagi saling menghantam dan menghancurkan kehormatan dan sampai tega membunuh saudara nya sendiri demi untuk memenuhi Tuhan-Tuhan dalam wujud kesenangan dunia.

Ada sebuah hadit Nabi Muhammad saw bersabda; “Barangsiapa padanya ada penganiayaan terhadap saudaranya berupa harta benda atau sesuatu (yang lain) maka hendaklah ia meminta halalnya dari padanya sekarang, sebelum (tiba masanya) tidak ada dinar dan tidak adanya dirham (yaitu hari kiamat) dimana semua harta kekayaan dunia sudah tidak ada gunanya. Sebab jika ia mempunyai amal sholeh, maka diambillah amal shaleh itu dari padanya sesuai dengan penganiayaannya. Dan jika ia tidak mempunyai kebajikan, maka diambillah semua kesalahannya temannya yang dianiaya kemudian dibebankan kepadanya (Sahli, 1981)”.

Walhasil, dari pemaparan di atas tawakal telah menjadi ukuran kedewasaan dan kekhusu’an seorang muslim dalam melakukan segala aktivitas, termasuk dalam berpolitik apakah itu legislatif maupun eksektutif. Pesta demokrasi sangat membuka peluang manusia lupa akan hakikatnya sebagai hamba Allah. Mereka pada wilayah-wilayah ini kadang berubah meniadakan Allah, dan mendahulukan akal dan harta benda. Pada sisi lain, Kadang berperilaku  memaksa Allah agar berkehendak pada diri-Nya dan melukai orang lain. Ayat al-Qur’an dan Hadist serta hujjah sering menjadi pembenar argumentasi dan aktivitasnya bahwa dirinya paling benar yang lain adalah salah. Pada tataran syariat bisa jadi berbeda pandangan dan produk hukum yang dihasilkan oleh mereka. Tapi pada tataran ruhaniah, sebenarnya mereka adalah keluarga besar hamba-hamba Allah yang sama-sama sedang menjalankan perintah-Nya berupa ikhtiar untuk mencapai suatu cita-cita.

Pasti akan datang kekecewaan dalam menjalankan proses saat melihat hasilnya ketika tidak sesuai harapan. Namun saat bersandar akan keagungan  Tuhan dalam menjalankan berproses, maka kekecewaan boleh sebatas mampir sebentar sebagai wujud seorang manusia, tapi tidak boleh terlalu lama sebagai bukti bahwa sisi kesadaran tawakal benar-benar terpatri dalam hati. Orang yang bertawakal adalah orang yang menerima proses dengan ketulusan hati tanpa perlu adanya tinggi hati atau iri dan dengki. Ia menyadari, bahwa ia telah menjalan perintah-nya Allah yang menurut ukurannya sudah sesuai dengan syariat-Nya. Apapun hasilnya, Allah akan tetap memulyakan orang-orang yang menyandarkan diri kepada-Nya. Sebagai balasan, Allah akan memberi rezki yang tidak disangka-sangka sebagai rezki terbaik dan lebih baik dari apa yang dicita-citakan sebelumnya. Sungguh indah keputusan Allah bukan?

References

Akhyar, T. (1992). The Secret of Sufi. Semarang : CV. Asy-Syifa'.

Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim Yajibu an Tushahhah . Surabaya .

An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .

an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya : Risalah Gusti.

Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .

Baqir, H. (2020). Agama di Tengah Musibah Perspektif Spiritual . Nuralwala.

Rakhmat, J. (1998). Reformasi Sufistik. Bandung : Pustaka Hidayah .

Sahli, M. (1981). Amaliah Surgawi terjemah at-Targhib wat Tarhib. Jakarta : Pustaka Amani.

Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .

Shihab, Q. (2011). Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta : Lentera Hati.

Sukarnawadi TGH, H. (2003). Menelusuri Penduduk Langit Bersama 40 Kekasih Allah . Jakarta : CV Dunia Ilmu.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876