
Saat menuju”masa tenang” menjelang
pencoblosan pemilu 2024, penulis akan menampilkan suatu kisah yang menarik dari
Hatim Al-Ashom. Saat masih kecil, penulis sering mendapatkan kisah menarik
tentangnya, yaitu kemampuan menutup aib orang lain sehingga Allah angkat
derajatnya menjadi kekasih-Nya (Waliyullah). Langkah yang terlibat
sederhana, namun sungguh sulit ketika dipraktekan. Pikiran, ucapan dan
perbuatan kadang bertemu pada suatu titik, dan sering tidak kuasa membuka
segala sesuatu yang tidak menyenangkan pada diri kita. Tapi, Hatim Al Ashom mempunyai
kemampuan itu. Akhirnya Tuhan pun mengangkat menjadi kekasih-Nya.
Salah satu kisah yang menarik
tentang dirinya yaitu saat pergi ke pasar. Ketika dia ingin membeli suatu
kebutuhan, dia mampir di kedai yang kebetulan seorang gadis cantik. Karena ada
sesuatu hal, tidak terasa keluar angin dari perutnya. Suaranya terdengar jelas
dan nyaring. Muka sang gadis tersebut langsung pucat memerah. Meskipun
demikian, dia tetap melayani penjual dengan muka yang sangat pucat karena
menahan malu. Tapi saat gadis cantik tadi bertanya kepada Hatim Al Ashom,
seolah-olah tidak mendengar. Berkali-kali gadis bertanya, bahkan dikeraskan
pertanyaannya, sang pembeli tetap tidak mendengar. Akhirnya, wajah penjual tadi
berubah cerah. Ia merasa bahwa saat ia buang angin, sang pembeli tadi tidak
mendengar. Setelah itu, ia memanggil lebih keras lagi, akhirnya ia pun baru
mendengar. Konon, gara-gara ini sang pembeli yang tidak lain adalah Hatim Al
Asham diangkat menjadi kekasih nya Allah swt.
Sebenarnya penulis melalui tulisan
artikel ini ingin menyampaikan beberapa hal ajaran Hatim Al Ashom tentang
kehidupan untuk menuju tangga kemulyaan. Menurutnya ada beberapa jalan untuk
mencapai keagungan hamba melalui konsep “tawakal” atas keputusan Allah swt,
yaitu: pertama, saya tahu bahwa rezeki saya tidak akan diambil oleh orang lain,
oleh karena itu saya tidak akan gelisah; kedua saya tahu bahwa kewajiban tidak
dapat dikerjakan oleh orang lain, oleh karena itu saya tidak berani
meninggalkan kewajiban kepada Allah swt; saya tahu bahwa mati akan datang
tibe-tiba, oleh karena itu maka saya selalu siap menghadapinya; saya tahu bahwa
tuhan melihat saya kapan dan dimana saja saya berada, oleh karena itu saya malu
berbuat sesuka hati
Hatim al Ashom mengajarkan kepada
penulis bahwa ajaran Islam tentang ketentuan hidup sudah diatur dengan
sebaik-baiknya oleh Allah swt. Konstestasi apapun nama dan dengan cara apapun
dilakukan, sebenarnya suatu proses kehidupan untuk menjalankan perintah Allah
yaitu berikhtiar. Disisi lain, kontestasi juga merupakan suatu jalan membuka
keghaiban hati, bahwa Allah telah memutuskan ikhtiar hamba-hamba-Nya dengan
keputusan terbaik dan mengandung hikmah yang agung. Sebab sekecil apapun
ciptaan-Nya tidak ada yang batil. Semuanya selalu saja mengandung kebaikan bagi
hamba-hamba-Nya yang selalu menghidupkan
gelombang-gelombang tawakal dan menyadari bahwa keputusan allah adalah yang
terbaik. Q.S. At-Thalaq[65] :2-3 : “Barang siapa yang bertaqwa kepada Allah
niscaya Dia (Allah) akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki
dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal
kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan kebutuhannya”. Q.S.
Al-An’am [6]: 38 berbunyi:“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di
bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya
merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami
luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan”
Tawakal berasal dari kata wakala-yakilu
yang berarti mewakilkan, dan dari kata ini terbentuk kata wakil. Kata wakil
bisa diartikan dengan “pelindung”. Seorang muslim yang telah berikhtiar
kemudian dia tawakal berarti setelah melakukan pekerjaan semaksimal mungkin,
lalu ia memasrahkannya kepada yang mewakili-Nya yang mempunyai hak untuk
menilai yaitu Allah swt. Q.S. Al-An’am [6]: 102 berbunyi: “ Dan Dia (Allah)
atas segala sesuatu menjadi wakil”. Orang yang bertawakal laksana burung
yang terbang pagi hari dalam keadaan lapar dan sore hari pulang dalam keadaan
kenyang.
Tawakal berangkat dari suatu kegiatan kegiatan yang professional, bukan
asal-asalan dan bukan abal-abal. Landasanya jelas, bahwa Allah tidak akan
merubah suatu kaum kecuali dia sendiri yang mau merubah-Nya. Ini adalah proses
syariat kehidupan, dan hakikat kehidupan yang memutuskan yaitu Allah swt.
kewajiban yang melekat pada diri hamba-hamba-Nya adalah berusaha. Ketika seseorang
mulai start melakukan kegiatan, maka saat itu argo penilaian
terus berjalan dan akan masuk pada dua tempat; baik dan tidak baik, ibadah dan
bukan ibadah. Semua ini akan dikumpulkan dan ditimbang prosentase untuk
mendapatkan surga atau neraka. Barangsiapa berbuat sekecil apapun akan
mendapatkan balasan sesuai dengan kadar kualitas kebaikan tersebut. Jadi, Allah
menerima dan menilai proses, dan tersebut di nilai dalam wujud
penghargaan-penghargaan atau hukuman-hukuman.Kenapa Allah menilai suatu proses
bukan hasil? Sebab kualitas sejati manusia bukan pada hasil. Suatu hasil bisa
didapat karena beberapa faktor; bisa karena prestasi, faktor kerabat, atau juga
rasa kasih-sayang. Allah bahkan memasukan surga hamba-hamba Nya bukan karena banyak
amal, tapi karena rahmat-Nya. Maknanya, bahwa pada wilayah tertentu Allah
memerintahkan manusia untuk menjalankan ikhtiar sebaik mungkin, tapi pada saat
tertentu hak prerogatif-Nya berlaku. Pada wilayah ini perilaku manusia
dalam pandangan Allah bukan perilaku sebatas dhohiriyah semata, tapi
setiap perilaku manusia harus juga menghubungkan nya menjadi bagian nilai yang
bersifat ritualitas yang hanya mengharapkan ridha Allah swt. Ironisnya,
progresifitas manusia dalam menajalankan ikhtiar politik atau apa saja sering
berhenti pada ikhtiar yang menjadikan dunia sebagai ritualitas. Jadi sebagian
kelompok manusia melakukan serangkaian kampanye hanya berhenti pada tataran
persoalan perut, kesenangan duniawi, jabatan, kekayaan, kehormatan. Semua ditaruh
di dalam hati dan pikiran, sehingga iman dan cinta kepada Allah hanya memenuhi
ruang kecil di sudut hati. Semua sudah penuh dengan angan-angan kekuasaan,
kekayaan dan jabatan. Ritualitas yang seharusnya menghubungkan aktivitas
semakin cinta kepada Allah, malah lahir tuhan-tuhan baru dalam wujud perhiasan
dunia
Ada sebuah hadit Nabi Muhammad saw
bersabda; “Barangsiapa padanya ada penganiayaan terhadap saudaranya berupa
harta benda atau sesuatu (yang lain) maka hendaklah ia meminta halalnya dari
padanya sekarang, sebelum (tiba masanya) tidak ada dinar dan tidak adanya dirham
(yaitu hari kiamat) dimana semua harta kekayaan dunia sudah tidak ada gunanya. Sebab
jika ia mempunyai amal sholeh, maka diambillah amal shaleh itu dari padanya
sesuai dengan penganiayaannya. Dan jika ia tidak mempunyai kebajikan, maka
diambillah semua kesalahannya temannya yang dianiaya kemudian dibebankan
kepadanya
Walhasil, dari pemaparan di atas
tawakal telah menjadi ukuran kedewasaan dan kekhusu’an seorang muslim dalam
melakukan segala aktivitas, termasuk dalam berpolitik apakah itu legislatif maupun
eksektutif. Pesta demokrasi sangat membuka peluang manusia lupa akan hakikatnya
sebagai hamba Allah. Mereka pada wilayah-wilayah ini kadang berubah meniadakan
Allah, dan mendahulukan akal dan harta benda. Pada sisi lain, Kadang
berperilaku memaksa Allah agar
berkehendak pada diri-Nya dan melukai orang lain. Ayat al-Qur’an dan Hadist
serta hujjah sering menjadi pembenar argumentasi dan aktivitasnya bahwa dirinya
paling benar yang lain adalah salah. Pada tataran syariat bisa jadi berbeda
pandangan dan produk hukum yang dihasilkan oleh mereka. Tapi pada tataran ruhaniah,
sebenarnya mereka adalah keluarga besar hamba-hamba Allah yang sama-sama sedang
menjalankan perintah-Nya berupa ikhtiar untuk mencapai suatu cita-cita.
Pasti akan datang kekecewaan dalam
menjalankan proses saat melihat hasilnya ketika tidak sesuai harapan. Namun saat
bersandar akan keagungan Tuhan dalam
menjalankan berproses, maka kekecewaan boleh sebatas mampir sebentar sebagai
wujud seorang manusia, tapi tidak boleh terlalu lama sebagai bukti bahwa sisi
kesadaran tawakal benar-benar terpatri dalam hati. Orang yang bertawakal adalah
orang yang menerima proses dengan ketulusan hati tanpa perlu adanya tinggi hati
atau iri dan dengki. Ia menyadari, bahwa ia telah menjalan perintah-nya Allah
yang menurut ukurannya sudah sesuai dengan syariat-Nya. Apapun hasilnya, Allah
akan tetap memulyakan orang-orang yang menyandarkan diri kepada-Nya. Sebagai balasan,
Allah akan memberi rezki yang tidak disangka-sangka sebagai rezki terbaik dan
lebih baik dari apa yang dicita-citakan sebelumnya. Sungguh indah keputusan Allah
bukan?
Akhyar, T. (1992). The Secret of Sufi.
Semarang : CV. Asy-Syifa'.
Al-Maliki, M. b. (t.t). Mafahim Yajibu
an Tushahhah . Surabaya .
An-Naisabury, I. A.-Q. (1997). Risalatul
Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf . Surabaya : Risalah Gusti .
an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul
Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya :
Risalah Gusti.
Azra, A. (1999). Konteks Berteologi di
Indonesia Pengalaman Islam . Jakarta Selatan : Paramadina .
Baqir, H. (2020). Agama di Tengah
Musibah Perspektif Spiritual . Nuralwala.
Rakhmat, J. (1998). Reformasi Sufistik.
Bandung : Pustaka Hidayah .
Sahli, M. (1981). Amaliah Surgawi
terjemah at-Targhib wat Tarhib. Jakarta : Pustaka Amani.
Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah,
Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .
Shihab, Q. (2011). Tafsir Al-Mishbah:
Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an. Jakarta : Lentera Hati.
Sukarnawadi TGH, H. (2003). Menelusuri
Penduduk Langit Bersama 40 Kekasih Allah . Jakarta : CV Dunia Ilmu.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876