Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Sang Khatib di Persimpangan Jalan



Jumat , 16 Juni 2023



Telah dibaca :  461

Hari ini saya Sholat Jum’at di dekat Kampus. Saya bersyukur tidak mengantuk. Ini luarbiasa. Bukan karena sangat khusu' berdzikir dan memohon kepada Allah agar rezeki ku diturunkan dari segala penjuru mata angin. Bukan juga karena merasa ladzat menyebut asma-Nya, juga bukan karena persoalan materi yang disampaikan oleh Sang Khatib, tapi saya sedang melihat jamaah dan berfikir, “Kira-kira berapa prosentase jamaah” yang menikmati “ladzatnya ngantuk” saat Khatib menyampaikan khutbah. Kadang pikiran nakal saya ingin juga membuat survei “penyebab ngantuk” para jamaah Sholat Jum’at. Saya ingin tahu penyebabnya,”Apakah karena materi nya kurang sesuai selera jamaah yang selalu diulang itu-itu saja, apakah karena pembahasan terlalu tinggi, apakah juga karena faktor lain seperti terlalu serius bekerja dan sholat jum’at cara yang paling efektif untuk menghilangkan rasa capai, apakah karena dibentak-bentak istri lalu menghilangkan “rasa dongkol” dengan pelampiasan datang ke Masjid lebih awal dan istirahat melalui terapi ngantuk. Semua masih misteri.

Materi Yang Penuh Makna Majaz

Sekitar dua bulan ini saya memang tidak pernah menjadi Khatib. Ada beberapa pekerjaan seperti pembuatan Naskah Buku dan Alhamdulillah sudah selesai tiga Naskah Buku. Kini masih ada dua dan masih dalam proses pembuatan. Selain itu juga melakukan beberapa editing naskah buku dari teman-teman yang sedang kuliah di program magister dan doktor. Saya nyaris jarang keluar dari kamar dan selalu “ndekem” serta selalu melototi layar Laptop. Bahkan kadang “boyok” terasa sangat letih dan panas. Kadang tidur, dan jika ada beberapa teman yang menelpon dan SMS kepadaku sering tidak muncul di FB atau WA, maka saya jawab simpel saja, “lagi sibuk” (supaya terlihat super sibuk,hhh).

Kembali ke persoalan Khutbah, sering dan mungkin rata-rata materi yang disampaikan oleh para khatib adalah persoalan-persoalan yang bersifat majaz dan sangat susah diukur secara kuantitatif, bahkan juga kualitatif. Tentu ini bukan semata-mata kesalah dari khatib itu sendiri, namun kitab suci al-Qur’an dan al-Hadist memberikan panduan hal-hal yang bersifat majaz atau multi-tafsir. Contoh kata-kata “taqwa”, “khusu”, “ketenangan batin”, “ikhlas”, “ikhsan”, “dzikir”, “amal sholeh” dan lain-lain. Istilah-istilah yang sudah dikenal sudah lama dan mengetahui definisi-definisinya, namun seringkali saya (secara khusus) kesulitan untuk mengartikan secara pasti makna-makna tersebut. jika demikian, bisa jadi puluhan atau ratusan masyarakat yang mendengarkan pun akan mempunyai pengertian yang berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Sang Khatib.

Ketika Sang Khatib berbicara tentang sholat khusu’, yang terbayang oleh Khatib bisa jadi suatu wujud sholat yang dalam proses pelaksanaan sholat nya “hanya ingat kepada Allah”, dan sudah hilang pada dirinya proses persoalan duniawi. Jadi khatib mencoba membangun makna “khusu” saat sholat adalah proses “bermunajah” saat sholat benar-benar ingat kepada-Nya mulai dari takbir sampai salam.

Definisi khusu’ seperti ini seolah-olah bagi sebagian orang atau khatib pun tidak ada persoalan. Tapi kemudian timbul tanda tanya lagi, bagaimana proses “kaanaka tarahu” dimana saat sholat benar-benar melihat keagungan Allah dan seolah-olah kita hadir disisi-Nya atau kita dalam pengawasan. Persoalan ini adalah sangat dilematis, baik bagi khatib sendiri (jika dia belum mampu melakukannya) dan bagi jamaah yang mempunyai pemahaman yang beragam. Artinya materi yang disampaikan sebenarnya suatu persoalan yang belum tuntas pada diri nya dan harus diberikan kepada orang lain.

Jika dibahas lebih lanjut lagi, apakah “anta’buda kaanaka tarahu” hanya sebatas makna definisi di dalam sholat sehingga ketika selepas sholat terbebas dari aturan-aturan tersebut atau juga diluar sholat. Sebab sering sang khatib menyampaikan definisi tersebut adalah saat pada prosesi sholat. Ketika seorang jamaah mampu melakukan hal yang demikian, maka sudah masuk pada golongan orang-orang yang khusus’. Padahal ruh dari sholat adalah kesadaran total kepada-Nya sebagaimana yang sering dibaca dalam sholat, “inna sholati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rob al-‘alamiin”. Dimensi doa ini sebenarnya lintas ibadah, bukan hanya dalam proses sholat, tapi juga ibadah-ibadah diluar sholat. Dimensi-dimensi ini yang kemudian menjadi pembahasan selanjutnya apa yang disebut dengan takwa.

Ketika berbicara takwa, Kanjeng Nabi Muhammad dengan sangat simpel mengatakan “ha huna”, takwa itu disini (sambil menunjuk ke arah dada). Lalu para Khatib sering mendefinisikan takwa sebagai suatu aktivitas dalam, “melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya”. Dua definisi ini secara tekstual mengetahui artinya, tapi sangat sulit mengetahui maksud secara tepat. Dua definisi ini yang kemudian melahirkan interpretasi yang beragam baik di kalangan ulama, kiai, buya, ustadz dan para jamaah.

Anggap saja kita mencoba mendefinisikan secara sederhana bahwa takwa menjalankan perintah-perintah Allah. Lalu kita rajin sholat dan menjalankan perintah-perintah-Nya. tapi disisi lain, Allah justru mengancam kita dengan kalimat “para pendusta agama”, yaitu orang-orang yang “menghardik anak yatim” dan tidak memberi “makan orang-orang miskin”, dan di kalimat selanjutnya, “ maka celakalah orang yang sholat”, yaitu orang-orang yang “lalai terhadap shalatnya”, riya dan enggan memberi bantuan”.

Ternyata sholat khusu’ yang saya imajinasikan sebagai bagian dari sifat ikhsan atas kemampuan kesadaran total kehambaan kita kepada-Nya saat sholat, disisi lain Allah menampar kita dengan sangat keras bahwa kita masih tergolong “pendusta agama” atau “orang yang celaka dalam sholatnya”. Sholat ternyata ada hubungan pada dimensi sosial dan hebatnya lagi di ayat tersebut menjelaskan sholat dengan ukuran-ukuran yang sangat sederhana yaitu sholat yang baik dan diterima yaitu tidak melalaikan sholat dan selalu membantu orang lain.

Alhasil semakin banyak ayat-ayat al-qur’an dan al-hadist yang menjadi pembahasan dan kemudian melahirkan definisi yang beragam makna bahwa kebenaran absolut ketika berada di tangan manusia akan melahirkan keberagaman interpretasi makna. Tentu saja kita melihat dari sisi positif nya bahwa rahasia Tuhan membuat demikian menunjukan pada sifat Rahman dan Rahim-Nya. Kita tidak bisa membayangkan jika seluruh definisi-definisi ritual dibuat secara “saklek” dalam firman-Nya dan tidak ada tafsir nya, bisa jadi umat manusia tidak mampu melaksanakan secara kaffah atau utuh. Berkah peran ulama kemudian lahir lah makna “kaffah” dalam menjalankan perintah-perintah-nya dan meninggalkan larangan-larangan-nya lebih bisa dipahami.

Bisa jadi para jamaah yang “ngantuk berat” saat khatib menyampaikan khutbah nya adalah bagian dari ijtihad mereka dalam merealisasikan makna Takwa, bahwa “daripada tidak mengantuk dan “ngrasani” khatib yang khutbah nya sangat “puuuanjangg”, akhirnya mereka memilih lebih baik “ngantuk”. Kita bisa saja berdebat soal cara berfikir jamaah seperti itu. Tapi Tuhan mempunyai otoritas menerima segala amal manusia di sisi-Nya. dari sini ini sebenarnya, kita kemudian diajari untuk berfikir positif kepada sesama hamba-hamba-Nya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879