
Ada seorang nenek yang sudah berumur
sekitar 75 tahun. Usia nya kurang lebih sama dengan usia kemerdekaan Indonesia.
Setiap dia makan,tidak pernah mengambil lauk lebih dari satu. Ketika saya tanya
apa alasannya, dia menjawab singkat ,”ora ilok jukuk lewih siji (tidak
etis mengambil lebih dari satu)”. Ketika mengambil nasi,diapun mengambil
secukupnya. Diperkirakan habis. Nyaris setiap makan tidak ada sisa nasi di
piringnya. Hebatnya lagi, dia tidak mengambil lauk yang jauh dari jangkauan
tangannya. Meskipun lauk tersebut lebih enak. Tapi dia hanya mengambil lauk
yang berada didekatnya yang secara kualitas kurang nikmat.
Berat sekali mengamalkan pola hidup
seperti nenek tadi. Bahkan saudaranya yang laki-laki sama. Pola makan
menggunakan konsep “secukupnya”. Tidak sampai pada level kenyang. Tapi
nyatanya, hidup nya tetap bahagia.
Umurnya panjang dan fisik nya terlihat segar. Apa semua ini karena pengaruh
pola makan atau karena hatinya tidak “nggringsang” atau”ngoyo”,
sehingga syaraf dan otot-ototnya telah terpola dengan pola rilek, tidak tegang
dan tetap lentur. Sehingga ini membantu peredaran darah menjadi lancar.
Saya kadang juga berfikir, orang-orang
tua dulu ketika makan dan minum tidaklah berlebihan. Entah karena mungkin pengalaman
orang tua dan saudara-saudara ku yang hidup serba kekurangan (jika tidak
dikatakan miskin ). Orang tua dulu, rata-rata mempunyai keluarga besar, anaknya
banyak. Orang tua harus membagi nasi dan/atau nasi campur ubi kepada anak-anaknya.
Mereka harus duduk di lantai atau di kursi yang terbuat dari kayu dan
mengelilingi meja. Lalu ibu nya membagi nasi dan lauk nya, yang jauh dari
kenyang. Yang terpenting ada makanan masuk ke dalam perut. Itu sudah cukup
disebut sarapan atau makan. Pola hidup yang demikian sederhana telah
menghasilkan generasi yang sehat, cerdas dan berakhlak karimah.
Saya mencoba menelusuri ayat Al-Quran
atau hadist Nabi Muhammad saw yang membahas makan dan minum. Pertama, Allah telah
berfirman dalam QS. Al Araf[7]: 31. "Makan dan minumlah kalian, namun
jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang suka bersikap
berlebihan’. Kedua,Kanjeng nabi Muhammad saw dawuh "Tidaklah
seorang manusia memenuhi perutnya yang lebih buruk daripada memenuhi perut itu
dengan makanan. Cukuplah seorang manusia beberapa suap yang mampu
mempertahankan kekuatannya. Jika tidak bisa, hendaklah membagi perutnya menjadi
tiga bagian: sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga lagi untuk
bernafas." (HR. Tirmidzi).
Orang tua dulu jarang menggunakan
ayat dan hadist dalam ucapan sehari-hari dalam melaksanakan segala
aktivitasnya. Mereka juga ketika memberi nasehat kebaikan dengan sedikit bicara
dan banyak memberi contoh. Ketika ada anak-anak nya melakukan suatu hal yang
dianggap kurang pantas atau melanggar syariat, orang tua cukup mengatakan
begini, " ora ilok atau tidak etis ". Saya mempunyai mbok
de yang setiap hari membuat keset yang terbuat dari kain. Ketika masuk
waktu sekitar jam 09.00 wib, biasanya pergi ke Mushola yang berada di samping
rumahnya. Ketika sudah memasuki usia udzur, anak-anaknya atau cucu-cucu
nya mengantar nya untuk berwudhu dan sholat dhuha. Itu amalan setia harinya. Sedangkan
adiknya mbok de, adalah bapak saya juga mempunyai amalan yang sama, suka
melaksanakan sholat sunnah. Setiap malam selesai sholat tahajud, biasanya
membaca sholawat. Pernah suatu hari dalam perjalanan di suatu daerah, saya
sangat letih dan tidur cukup nyenyak. Ayah saya membangunkan ku dari tidur. Katanya,
ojo turu terus (jangan tidur terus). Lebih unik lagi, model mbok de
membangunkan saya saat tidur setelah sholat subuh. Dia membuatkan teh manis panas
dan ubi goreng. Keduanya ditaruh di Meja. Setelah itu, dia membangunkanku dan
disuruh untuk sarapan. Itu yang dia lakukan. Dia tidak pernah marah dan
mengeluarkan dalil bahwa tidur setelah sholat subuh menyebabkan kefakiran dan
kemiskinan. Tidak pernah sama sekali. Dia malah menyiapkan sarapan untukku. Ketika
lagi sarapan, dia duduk di sampingku sambil memerintah beberapa pekerjaan yang
harus dikerjakan saat itu. Akhirnya saya pun tidak bisa tidur lagi dan kemudian
melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh mbok de.
Tentang pola makan, mbok de
dan orang tua ku- bisa jadi orang orang dulu- sama, makan ala kadarnya. Hasilnya,
mereka jarang sakit. Seandainya sakit pun, biasanya sakit kepala, masuk angin,
demam biasa dan maag. Apakah pola makan yang seperti ini dan contoh di atas
merupakan bagian dari strategi dalam membangun hidup yang sehat dan berkah?.
Lalu kenapa sekarang banyak sekali
penyakit. Bahkan penulis sendiri sudah mulai terasa bergetar saat berjalan, dan
jantungnya seperti bergetar dag-dig-dug. Ketika konsultasi ke dokter,
saya bertanya kondisi jantung ku, “Kenapa jantungku seperti deg-deg-degan terus,
apakah saya lagi jatuh cinta atau sakit jantung?”. Dokter menjawab karena pengaruh pola makan dan
ada persoalan pada lambung yang berpengaruh kepada kepala dan jantung.
Penulis juga sering mendengar dan
melihat sendiri ada kematian yang mendadak dan, pagi sehat, sore sudah
meninggal dunia. Pagi olah raga, sore sudah berada di Keranda. Semua ini sering
terjadi sangat begitu cepat. Tapi pada saat yang sama, manusia pun terus
berlomba membangun kerajaan harta, pengaruh, jabatan dan segala asesoris dunia
tanpa lelah. Seolah-olah hidup seribu tahun. Program pelatihan yang diadakan
sering hanya membangun tengan karir, jabatan dan cara mendapatkan kekayaan. Para
calon anggota dewan berkeliling ke kampong-kampung dan selalu mengatakan, “saya
akan memperjuangkan hak-hak masyarakat”. Para calon eksekutif dari segala
tingkatan juga berjanji, “ kami akan menghilangkan kemiskinan”. Semua membahas
persoalan tentang ekonomi. Mereka menjanjikan hidup gemah ripah loh jinawi.
Para calon pemimpin kurang memperhatikan persoalan spiritual. Mungkin “kurang
keren” jika menjadi bagian dari visi-misi yang pantas diangkat di pentas
nasional. Padahal, implikasi dari kemiskinan spiritual akan melahirkan manusia
yang hilang rasa kemanusiaannya. Laksana hukum rimba, yang menang menggilas
yang kalah dan lemah. Nilai-nilai spiritual pun semakin kurang menarik. Manusia
pun mulai kurang memperhatikan kebutuhan perbaikan spiritual yang semakin hari
semakin terasa hambar. Rasa kemanusiaan menurun, lembut hati mulai terjadi
krisis, dan empati kepada sesama manusia hanya sebatas kepentingan dan
transaksional.
Jangan-jangan kebencian, penyebar hoax
di media sosial, dan saling bermusuhan antar sesama saudara disebabkan karena
pikiran dan hati sudah penuh oleh program keduniaan dan kering cahaya ilahiyah
telah melanda di jagat raya. Ya Allah, semoga Panjenengan tetap
mencurahkan mahabah kepada-Mu di hati ku.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876