Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Seorang Nenek Mengajarkan Arti Kehidupan tanpa Perlu Dalil



Kamis , 25 Januari 2024



Telah dibaca :  629

Ada seorang nenek yang sudah berumur sekitar 75 tahun. Usia nya kurang lebih sama dengan usia kemerdekaan Indonesia. Setiap dia makan,tidak pernah mengambil lauk lebih dari satu. Ketika saya tanya apa alasannya, dia menjawab singkat ,”ora ilok jukuk lewih siji (tidak etis mengambil lebih dari satu)”. Ketika mengambil nasi,diapun mengambil secukupnya. Diperkirakan habis. Nyaris setiap makan tidak ada sisa nasi di piringnya. Hebatnya lagi, dia tidak mengambil lauk yang jauh dari jangkauan tangannya. Meskipun lauk tersebut lebih enak. Tapi dia hanya mengambil lauk yang berada didekatnya yang secara kualitas kurang nikmat.

Berat sekali mengamalkan pola hidup seperti nenek tadi. Bahkan saudaranya yang laki-laki sama. Pola makan menggunakan konsep “secukupnya”. Tidak sampai pada level kenyang. Tapi nyatanya,  hidup nya tetap bahagia. Umurnya panjang dan fisik nya terlihat segar. Apa semua ini karena pengaruh pola makan atau karena hatinya tidak “nggringsang” atau”ngoyo”, sehingga syaraf dan otot-ototnya telah terpola dengan pola rilek, tidak tegang dan tetap lentur. Sehingga ini membantu peredaran darah menjadi lancar.

Saya kadang juga berfikir, orang-orang tua dulu ketika makan dan minum tidaklah berlebihan. Entah karena mungkin pengalaman orang tua dan saudara-saudara ku yang hidup serba kekurangan (jika tidak dikatakan miskin ). Orang tua dulu, rata-rata mempunyai keluarga besar, anaknya banyak. Orang tua harus membagi nasi dan/atau nasi campur ubi kepada anak-anaknya. Mereka harus duduk di lantai atau di kursi yang terbuat dari kayu dan mengelilingi meja. Lalu ibu nya membagi nasi dan lauk nya, yang jauh dari kenyang. Yang terpenting ada makanan masuk ke dalam perut. Itu sudah cukup disebut sarapan atau makan. Pola hidup yang demikian sederhana telah menghasilkan generasi yang sehat, cerdas dan berakhlak karimah.

Saya mencoba menelusuri ayat Al-Quran atau hadist Nabi Muhammad saw yang membahas makan dan minum. Pertama, Allah telah berfirman dalam QS. Al Araf[7]: 31. "Makan dan minumlah kalian, namun jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang suka bersikap berlebihan’. Kedua,Kanjeng nabi Muhammad saw dawuh "Tidaklah seorang manusia memenuhi perutnya yang lebih buruk daripada memenuhi perut itu dengan makanan. Cukuplah seorang manusia beberapa suap yang mampu mempertahankan kekuatannya. Jika tidak bisa, hendaklah membagi perutnya menjadi tiga bagian: sepertiga makanan, sepertiga minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas." (HR. Tirmidzi).

Orang tua dulu jarang menggunakan ayat dan hadist dalam ucapan sehari-hari dalam melaksanakan segala aktivitasnya. Mereka juga ketika memberi nasehat kebaikan dengan sedikit bicara dan banyak memberi contoh. Ketika ada anak-anak nya melakukan suatu hal yang dianggap kurang pantas atau melanggar syariat, orang tua cukup mengatakan begini, " ora ilok atau tidak etis ". Saya mempunyai mbok de yang setiap hari membuat keset yang terbuat dari kain. Ketika masuk waktu sekitar jam 09.00 wib, biasanya pergi ke Mushola yang berada di samping rumahnya. Ketika sudah memasuki usia udzur, anak-anaknya atau cucu-cucu nya mengantar nya untuk berwudhu dan sholat dhuha. Itu amalan setia harinya. Sedangkan adiknya mbok de, adalah bapak saya juga mempunyai amalan yang sama, suka melaksanakan sholat sunnah. Setiap malam selesai sholat tahajud, biasanya membaca sholawat. Pernah suatu hari dalam perjalanan di suatu daerah, saya sangat letih dan tidur cukup nyenyak. Ayah saya membangunkan ku dari tidur. Katanya, ojo turu terus (jangan tidur terus). Lebih unik lagi, model mbok de membangunkan saya saat tidur setelah sholat subuh. Dia membuatkan teh manis panas dan ubi goreng. Keduanya ditaruh di Meja. Setelah itu, dia membangunkanku dan disuruh untuk sarapan. Itu yang dia lakukan. Dia tidak pernah marah dan mengeluarkan dalil bahwa tidur setelah sholat subuh menyebabkan kefakiran dan kemiskinan. Tidak pernah sama sekali. Dia malah menyiapkan sarapan untukku. Ketika lagi sarapan, dia duduk di sampingku sambil memerintah beberapa pekerjaan yang harus dikerjakan saat itu. Akhirnya saya pun tidak bisa tidur lagi dan kemudian melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh mbok de.

Tentang pola makan, mbok de dan orang tua ku- bisa jadi orang orang dulu- sama, makan ala kadarnya. Hasilnya, mereka jarang sakit. Seandainya sakit pun, biasanya sakit kepala, masuk angin, demam biasa dan maag. Apakah pola makan yang seperti ini dan contoh di atas merupakan bagian dari strategi dalam membangun hidup yang sehat dan berkah?.

Lalu kenapa sekarang banyak sekali penyakit. Bahkan penulis sendiri sudah mulai terasa bergetar saat berjalan, dan jantungnya seperti bergetar dag-dig-dug. Ketika konsultasi ke dokter, saya bertanya kondisi jantung ku, “Kenapa jantungku seperti deg-deg-degan terus, apakah saya lagi jatuh cinta atau sakit jantung?”.  Dokter menjawab karena pengaruh pola makan dan ada persoalan pada lambung yang berpengaruh kepada kepala dan jantung.

Penulis juga sering mendengar dan melihat sendiri ada kematian yang mendadak dan, pagi sehat, sore sudah meninggal dunia. Pagi olah raga, sore sudah berada di Keranda. Semua ini sering terjadi sangat begitu cepat. Tapi pada saat yang sama, manusia pun terus berlomba membangun kerajaan harta, pengaruh, jabatan dan segala asesoris dunia tanpa lelah. Seolah-olah hidup seribu tahun. Program pelatihan yang diadakan sering hanya membangun tengan karir, jabatan dan cara mendapatkan kekayaan. Para calon anggota dewan berkeliling ke kampong-kampung dan selalu mengatakan, “saya akan memperjuangkan hak-hak masyarakat”. Para calon eksekutif dari segala tingkatan juga berjanji, “ kami akan menghilangkan kemiskinan”. Semua membahas persoalan tentang ekonomi. Mereka menjanjikan hidup gemah ripah loh jinawi. Para calon pemimpin kurang memperhatikan persoalan spiritual. Mungkin “kurang keren” jika menjadi bagian dari visi-misi yang pantas diangkat di pentas nasional. Padahal, implikasi dari kemiskinan spiritual akan melahirkan manusia yang hilang rasa kemanusiaannya. Laksana hukum rimba, yang menang menggilas yang kalah dan lemah. Nilai-nilai spiritual pun semakin kurang menarik. Manusia pun mulai kurang memperhatikan kebutuhan perbaikan spiritual yang semakin hari semakin terasa hambar. Rasa kemanusiaan menurun, lembut hati mulai terjadi krisis, dan empati kepada sesama manusia hanya sebatas kepentingan dan transaksional.

Jangan-jangan kebencian, penyebar hoax di media sosial, dan saling bermusuhan antar sesama saudara disebabkan karena pikiran dan hati sudah penuh oleh program keduniaan dan kering cahaya ilahiyah telah melanda di jagat raya. Ya Allah, semoga Panjenengan tetap mencurahkan mahabah kepada-Mu di hati ku.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876