
Suatu hari Abu Nawas pergi ke Pasar bersama
anak nya yang masih remaja. Pasarnya cukup jauh dan melintasi gurun pasir. Karena
musim Pasar, banyak orang yang pergi berbelanja atau berdagang ke Pasar. Abu Nawas
membawa kendaraan Keledai [ukuran lebih kecil dari Kuda]. Karena kasihan
terhadap anak nya, Abu Nawas menyuruh anak nya naik keledai. Baru beberapa
langkah, dari belakang ada seorang penunggang kuda dan mendekati Abu Nawas dan
berkata kepada nya, “Hei Abu Nawas, apakah kamu tidak mengajarkan akhlak kepada
anak-anak mu. Sehingga dia tega membiarkan orang tua nya kepanasan sedangkan
dia malah enak-enak di atas keladai?”. Abu Nawas berfikir dan benar juga apa
yang dikatakan oleh penunggang kuda tersebut. Akhirnya, Abu Nawas naik kuda
bersama anak nya. Saat berpapasan orang dijalan, Abu Nawas pun mendapatkan
kritik lebih pedas lagi, “Hei Abu Nawas, apakah kamu dan anak mu tidak punya
perasaan. Ini adalah Keledai bukan Kuda. Pantaskan kamu menyiksa Keledai dengan
beban seberat itu?”. Lalu Abu Nawas dan anak nya sama-sama turun dan menuntun Keledai
nya, orang-orang pun tertawa dan berkata, “Wahai Abu Nawas, Allah menciptakan Keledai
untuk menjadi kendaraan manusia bukan untuk dituntun”. Lalu, Abu Nawas menaiki
Keledai, dan anak nya menuntun nya. Orang yang melihatpun masih menyalahkan Abu
Nawas dengan kalimat begini, “Wahai Abu Nawas, apakah kamu sudah kehilangan
kasih-sayang kepada anak mu sendiri. Begitu tega, dirimu enak di punggung Keledai,
sementara anak mu dibiarkan berjalan di tanah pasir yang panas dan tandus”
Anda tidak perlu bertanya tentang status cerita
di atas, apakah ini shohih atau dhoif, atau shohih mutawatir atau dhoif
mutawatir yang terus berlangsung secara turun-menurun. Saya hanya mendengar
dari para ustadz waktu kecil dan itupun sudah mulai lupa. Namun saya, anda dan
kita terkadang posisi hidup pada saat tertentu pernah mengalami seperti abu
nawas. Serba salah dan tidak ada yang benar. Orang sibuk menilai diri kita dan
kita sering menjadi obyek kajian seolah-olah mereka begitu peduli terhadap diri
kita. tapi sebenarnya tidak lah demikian. Bahkan kadang perhatian orang lain
kepada kita bukan karena “watawasaubil haq watawasaubis syobr”, tapi ingin menjatuhkan
dalam wujud nasehat-nasehat dan dalil-dalil agama. Sedangkan mereka sendiri
sebenarnya tidak mengenal diri nya sendiri. namun dirinya sering sudah merasa
nyaman dalam kebenaran menurut versinya. Sikap hidup seperti ini sering terjadi
dan menimpa diri kita.
Ada seorang ustadz kampung. Karena peran
sebagai tokoh agama dan menjadi panutan di tengah masyarakat statusnya berubah
sebutan menjadi “Kiai”. Sang kiai adalah manusia seperti yang lain; punya
keluarga, anak, kebutuhan hidup dan lain-lain. Kyai juga manusia yang kadang
sakit, sehat, kadang punya duit, dan kadang sering pinjam hutang karena
anak-anak nya sudah besar dan butuh biaya kuliah atau biaya untuk pesta
anak-anak nya yang akan menikah. Namun sering masyarakat mempresepsikan sebagai
seorang manusia “setengah dewa”. Masyarakat sering berfikir bahwa seorang
ustadz, kiai, buya, ajengan dan sebutan lain nya adalah manusia yang jarak
hubungan nya dengan Allah hanya berjarak “beberapa centimeter”. Sangat dekat. Sehingga
apa yang dia butuhkan dengan mudah mendapatkan dengan doa-doa makbul nya. Karenanya,
ketika ada seorang ustadz melakukan aktivitas yang dilakukan oleh kebanyakan manusia,
maka masyarakat pun akan berkomentar negatif. Seolah-orang sang ustadz keluar
dari pakem sebagai manusia suci.
Berikut ini beberapa kejadian yang sudah
saya olah menjadi sebuah cerita. Ada seorang tokoh agama yang berpengaruh di
kampung tersebut. suatu hari dia pergi ke Pasar dengan membawa dua ekor Ayam. Dia
lagi membutuhkan duit untuk membayar SPP anak nya. Ketika dia berjalan di Pasar
dengan pakaian resmi nya; atas baju koko dan bawah sarung serti peci nya sudah
mulai memerah. Dari jarak 10 meteran, dua orang ibu berbisik-bisik, “Masa
seorang ustadz jualan ayam”. Saat ustadz tadi duduk di kedai kopi karena lapar,
lalu pesan lontong dan satu gelas teh panas, ada juga dua orang bapak-bapak
memakai baju gamis berbisik-bisik, “ustadz kok makan di pasar. Padahal kata nabi
sejelek-jelek tempat adalah Pasar”[ padahal yang bisik-bisik itupun sedang
berada di Pasar]. Ketika ustadz tadi beli sayur; ada Kangkung, Bayam dan
sedikit Ikan Laut, tiba-tiba dari belakang ada yang Tanya, “Ustadz, istrinya
mana. Kok tumben belanja ke pasar”. Ada lagi yang berkata lebih menusuk hati, “Ustadz,
ke pasar itu tugas istri. Tugas suami bukan sesederhana ini” kata orang
tersebut tanpa menjelaskan tugas yang benar bagi seorang suami.
Ketika sudah sampai rumah, sang ustadz tadi
ganti baju olah raga, tetangganya pun ada yang usil, “ saya kira atlit gulat”. Ketika
memakai celana Levis, ada yang komentar, “ngalah-ngalahi anak muda”. Ketika berpakaian
necis, ada yang komentar, “ Pubertas level-4”. Ketika memakai kacamata hitam
dan sepatu ada juga yang komentar, “Eling mbah, cucu nya sudah segudang”. Ketika
beli Honda baru atau mobil, ada juga yang komentar, “ Ora kerja kok tuku honda,
pasti memelihara Tuyul”. Bahkan ketika memegang hal-hal yang bersifat religi di
siang hari pun masih dianggap salah. Ketika pagi hari memegang tasbih di depan
rumah, ada yang komentar, “Urip kok cuma wiridan”. Ketika pagi hari jalan-jalan
dengan istrinya, ada juga yang komentar, “ Pagi hari seharusnya untuk kerja
malah jalan-jalan”.
Kisah lebih heboh lagi adalah ketika tokoh
agama berkecimpung dengan hal-hal berbau pemerintahan. Ketika seorang tokoh
agama datang ke rumah pejabat dibilang, “penjilat”. Ketika tidak dekat dengan
pejabat dibilang “sombong dan congkak”. Ketika seorang tokoh agama masuk dunia
politik dibilang, “pragmatis”. Ketika mengkritik partai politik dibilang, “ itu
bukan wilayah kerjamu”. Ketika seorang tokoh agama menjadi calon anggota dewan
dibilang, “ ustadz sudah kehilangan idealis dan sudah materialis”. Ketika tidak
mau menjadi anggota dewan, ustadz pun kena nasehat, “perjuangan agama butuh
kendaraan politik”. Ketika ada tokoh agama menjadi calon kepala daerah, ada
yang bilang, “itu bukan duniamu”. Ketika tidak mencalon jadi kepala daerah, ada
yang bilang, “ustadz harus ikut kompetisi agar kepala daerah tidak jatuh oleh
manusia rusak dan suka korupsi”.
Ketika ada sebagian orang sangat risau
terhadap keadaan pemerintahan, lalu sebagian ulama masuk ke wilayah pemerintahan
ada yang bilang, “Ulama sudah kehilangan taring nya”. Ketika ada ulama yang tidak
menjadi bagian kekuasaan, lalu melakukan kritik dari luar pemerintahan, ada
yang bilang, “Ulama harus bisa menjadi contoh masyarakat dan jangan asal bicara
tanpa data”. Ketika ada kelompok ulama yang tidak masuk di lingkungan
pemerintah dan tidak juga melakukan kritik terhadap pemerintah dibilang begini,
“Ulama kok hanya memikirkan kesholehan diri sendiri.”
Jadi, status anda di mata masyarakat
seperti kisah di atas tadi. Selalu saja tidak ada yang benar sepanjang
orang-orang yang menilai kita belum mengetahui status kita yang sebenarnya. Mereka
hanya mampu menilai diri kita, sebagaimana kita mampu menilai mereka dengan
kacamata terbatas. Sayangnya dalam keadaan terbatas, sering menarik sebuah
kesimpulan seolah-olah menjadi suatu kebenaran mutlak. Sehingga dengan data
yang masih diragukan kebenarannya, kita sering berani mengatakan dengan cara
vulgar di depan public. Akibatnya terjadi kegaduhan, fitnah dan saling
menempatkan diri-sendiri sebagai orang yang paling benar, bersih dan punya
komitmen tinggi dalam menegakan nilai-nilai kebaikan. Sedangkan orang lain
dianggap sebagai kelompok yang dituduh dengan narasi-narasi negatif.
Bagi para politikus yang kehidupan nya
selalu terjadi dramatika dan terus mengalami dinamika tanpa henti, membangun
narasi politik melalui opini-opini tetap bisa dibenarkan. Mereka bisa berbicara
“A” pada hari ini, dan besok sudah berubah menjadi “B,C,D dan seterusnya”. Saat
narasi hal seperti ini dilemparkan kepada masyarakat, maka tanggapan-tanggapan
masyarakat pun akan beragam. Saat ini terjadi, maka kebenaran pun menjadi
sangat relatif. Satu-satunya kebenaranya yang bisa dipegang adalah kepentingan
itu sendiri.
Bagi orang-orang yang tidak masuk pada
wilayah politik seperti para akademis, tokoh agama, tokoh agama dan masyarakat
umum yang memang tidak ada hubungan dengan kepentingan-kepentingan politis,
melihat keberagaman tersebut sebagai jalan untuk melakukan inventarisasi dan
kemudian melakukan penyelesaian dengan cara yang berbeda-beda. Seorang akademisi
mempunyai kewajiban memberi data-data dan memberikan jawaban-jawaban dengan
data-data ilmiah. Setelah itu, terserah para pengambil kebijakan. Apakah akan
menyelesaikan dengan mengikuti pandangan akademisi atau melalui langkah-langkah
politisi. Ketika sampai disini, para akademisi sudah tidak mempunyai kewenangan
lagi. Karena dia tidak punya kekuasaan untuk itu.
Bagi para tokoh agama melakukan
inventarisis berbagai kasus, lalu memberikan nasehat kepada para pemegang kekuasaan.
Lagi-lagi posisi nya seperti akademisi, para ulama atau tokoh masyarakat hanya
sebatas memberikan rekomendasi atau masukan untuk kebaikan. Mereka hanya sampai
disini, dan tidak punya kewenangan lebih jauh lagi mengintervensi
kebijakan-kebijakan yang syarat dengan multi-kepentingan.
Bagaimanapun juga sehebat apapun seorang Abu
Nawas, tetap Abu Nawas yang tidak mempunyai kekuatan telunjuk nya untuk merubah
air menjadi api atau sebaliknya. Abu Nawas hanya sebatas mempunyai i’tikad
baik, kemampuan baik untuk memberikan pencerahan kepada orang-orang yang
dianggap membutuhkan hal-hal tersebut. Artinya dengan segala kemampuan
intelektualnya, Abu Nawas telah melaksanakan fungsi sebagai amar ma’ruf nahi
mungkar dengan cara nya. bukan kata Nabi ketika sudah dilakukan semua
jalan, maka terakhir adalah doa. Dan doa itu adalah wujud dari amar ma’ruf
nahi mungkar secara langsung dikomunikasikan kepada Tuhan. Harapannya, Allah
memberi jalan terbaik menurut-nya, bukan menurut ulama, tokoh masyarakat dan
politisi.
Namun lagi-lagi, salah satu kesalahan Abu
Nawas di atas jangan diulangi lagi karena terlalu sibuk mendengar dan menerima
masukan dari orang lain yang kadang kita tidak membutuhkan sama sekali. Biarkan
diri kita mempunyai prinsip hidup yang bisa jadi bertentangan dengan pandangan
orang lain, namun memberi kebahagiaan dan kedamaian pada diri sendiri. Jika
memang prinsip yang dilakukan suatu kebenaran, maka suatu saat pun akan
terlihat dan orang lain pun akan mengakui nya tanpa harus mengatakannya. Menjalankan
prinsip hidup dengan tetap menghargai orang lain, adalah salah satu cara bisa
berdamai dengan diri sendiri dan orang sekitarnya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3587
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      3008
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895