Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Ketika Ulama Menjadi Abu Nawas



Sabtu , 29 April 2023



Telah dibaca :  569

Suatu hari Abu Nawas pergi ke Pasar bersama anak nya yang masih remaja. Pasarnya cukup jauh dan melintasi gurun pasir. Karena musim Pasar, banyak orang yang pergi berbelanja atau berdagang ke Pasar. Abu Nawas membawa kendaraan Keledai [ukuran lebih kecil dari Kuda]. Karena kasihan terhadap anak nya, Abu Nawas menyuruh anak nya naik keledai. Baru beberapa langkah, dari belakang ada seorang penunggang kuda dan mendekati Abu Nawas dan berkata kepada nya, “Hei Abu Nawas, apakah kamu tidak mengajarkan akhlak kepada anak-anak mu. Sehingga dia tega membiarkan orang tua nya kepanasan sedangkan dia malah enak-enak di atas keladai?”. Abu Nawas berfikir dan benar juga apa yang dikatakan oleh penunggang kuda tersebut. Akhirnya, Abu Nawas naik kuda bersama anak nya. Saat berpapasan orang dijalan, Abu Nawas pun mendapatkan kritik lebih pedas lagi, “Hei Abu Nawas, apakah kamu dan anak mu tidak punya perasaan. Ini adalah Keledai bukan Kuda. Pantaskan kamu menyiksa Keledai dengan beban seberat itu?”. Lalu Abu Nawas dan anak nya sama-sama turun dan menuntun Keledai nya, orang-orang pun tertawa dan berkata, “Wahai Abu Nawas, Allah menciptakan Keledai untuk menjadi kendaraan manusia bukan untuk dituntun”. Lalu, Abu Nawas menaiki Keledai, dan anak nya menuntun nya. Orang yang melihatpun masih menyalahkan Abu Nawas dengan kalimat begini, “Wahai Abu Nawas, apakah kamu sudah kehilangan kasih-sayang kepada anak mu sendiri. Begitu tega, dirimu enak di punggung Keledai, sementara anak mu dibiarkan berjalan di tanah pasir yang panas dan tandus”

Anda tidak perlu bertanya tentang status cerita di atas, apakah ini shohih atau dhoif, atau shohih mutawatir atau dhoif mutawatir yang terus berlangsung secara turun-menurun. Saya hanya mendengar dari para ustadz waktu kecil dan itupun sudah mulai lupa. Namun saya, anda dan kita terkadang posisi hidup pada saat tertentu pernah mengalami seperti abu nawas. Serba salah dan tidak ada yang benar. Orang sibuk menilai diri kita dan kita sering menjadi obyek kajian seolah-olah mereka begitu peduli terhadap diri kita. tapi sebenarnya tidak lah demikian. Bahkan kadang perhatian orang lain kepada kita bukan karena “watawasaubil haq watawasaubis syobr”, tapi ingin menjatuhkan dalam wujud nasehat-nasehat dan dalil-dalil agama. Sedangkan mereka sendiri sebenarnya tidak mengenal diri nya sendiri. namun dirinya sering sudah merasa nyaman dalam kebenaran menurut versinya. Sikap hidup seperti ini sering terjadi dan menimpa diri kita.

Ada seorang ustadz kampung. Karena peran sebagai tokoh agama dan menjadi panutan di tengah masyarakat statusnya berubah sebutan menjadi “Kiai”. Sang kiai adalah manusia seperti yang lain; punya keluarga, anak, kebutuhan hidup dan lain-lain. Kyai juga manusia yang kadang sakit, sehat, kadang punya duit, dan kadang sering pinjam hutang karena anak-anak nya sudah besar dan butuh biaya kuliah atau biaya untuk pesta anak-anak nya yang akan menikah. Namun sering masyarakat mempresepsikan sebagai seorang manusia “setengah dewa”. Masyarakat sering berfikir bahwa seorang ustadz, kiai, buya, ajengan dan sebutan lain nya adalah manusia yang jarak hubungan nya dengan Allah hanya berjarak “beberapa centimeter”. Sangat dekat. Sehingga apa yang dia butuhkan dengan mudah mendapatkan dengan doa-doa makbul nya. Karenanya, ketika ada seorang ustadz melakukan aktivitas yang dilakukan oleh kebanyakan manusia, maka masyarakat pun akan berkomentar negatif. Seolah-orang sang ustadz keluar dari pakem sebagai manusia suci.

Berikut ini beberapa kejadian yang sudah saya olah menjadi sebuah cerita. Ada seorang tokoh agama yang berpengaruh di kampung tersebut. suatu hari dia pergi ke Pasar dengan membawa dua ekor Ayam. Dia lagi membutuhkan duit untuk membayar SPP anak nya. Ketika dia berjalan di Pasar dengan pakaian resmi nya; atas baju koko dan bawah sarung serti peci nya sudah mulai memerah. Dari jarak 10 meteran, dua orang ibu berbisik-bisik, “Masa seorang ustadz jualan ayam”. Saat ustadz tadi duduk di kedai kopi karena lapar, lalu pesan lontong dan satu gelas teh panas, ada juga dua orang bapak-bapak memakai baju gamis berbisik-bisik, “ustadz kok makan di pasar. Padahal kata nabi sejelek-jelek tempat adalah Pasar”[ padahal yang bisik-bisik itupun sedang berada di Pasar]. Ketika ustadz tadi beli sayur; ada Kangkung, Bayam dan sedikit Ikan Laut, tiba-tiba dari belakang ada yang Tanya, “Ustadz, istrinya mana. Kok tumben belanja ke pasar”. Ada lagi yang berkata lebih menusuk hati, “Ustadz, ke pasar itu tugas istri. Tugas suami bukan sesederhana ini” kata orang tersebut tanpa menjelaskan tugas yang benar bagi seorang suami.

Ketika sudah sampai rumah, sang ustadz tadi ganti baju olah raga, tetangganya pun ada yang usil, “ saya kira atlit gulat”. Ketika memakai celana Levis, ada yang komentar, “ngalah-ngalahi anak muda”. Ketika berpakaian necis, ada yang komentar, “ Pubertas level-4”. Ketika memakai kacamata hitam dan sepatu ada juga yang komentar, “Eling mbah, cucu nya sudah segudang”. Ketika beli Honda baru atau mobil, ada juga yang komentar, “ Ora kerja kok tuku honda, pasti memelihara Tuyul”. Bahkan ketika memegang hal-hal yang bersifat religi di siang hari pun masih dianggap salah. Ketika pagi hari memegang tasbih di depan rumah, ada yang komentar, “Urip kok cuma wiridan”. Ketika pagi hari jalan-jalan dengan istrinya, ada juga yang komentar, “ Pagi hari seharusnya untuk kerja malah jalan-jalan”. 

Kisah lebih heboh lagi adalah ketika tokoh agama berkecimpung dengan hal-hal berbau pemerintahan. Ketika seorang tokoh agama datang ke rumah pejabat dibilang, “penjilat”. Ketika tidak dekat dengan pejabat dibilang “sombong dan congkak”. Ketika seorang tokoh agama masuk dunia politik dibilang, “pragmatis”. Ketika mengkritik partai politik dibilang, “ itu bukan wilayah kerjamu”. Ketika seorang tokoh agama menjadi calon anggota dewan dibilang, “ ustadz sudah kehilangan idealis dan sudah materialis”. Ketika tidak mau menjadi anggota dewan, ustadz pun kena nasehat, “perjuangan agama butuh kendaraan politik”. Ketika ada tokoh agama menjadi calon kepala daerah, ada yang bilang, “itu bukan duniamu”. Ketika tidak mencalon jadi kepala daerah, ada yang bilang, “ustadz harus ikut kompetisi agar kepala daerah tidak jatuh oleh manusia rusak dan suka korupsi”.

Ketika ada sebagian orang sangat risau terhadap keadaan pemerintahan, lalu sebagian ulama masuk ke wilayah pemerintahan ada yang bilang, “Ulama sudah kehilangan taring nya”. Ketika ada ulama yang tidak menjadi bagian kekuasaan, lalu melakukan kritik dari luar pemerintahan, ada yang bilang, “Ulama harus bisa menjadi contoh masyarakat dan jangan asal bicara tanpa data”. Ketika ada kelompok ulama yang tidak masuk di lingkungan pemerintah dan tidak juga melakukan kritik terhadap pemerintah dibilang begini, “Ulama kok hanya memikirkan kesholehan diri sendiri.”

Jadi, status anda di mata masyarakat seperti kisah di atas tadi. Selalu saja tidak ada yang benar sepanjang orang-orang yang menilai kita belum mengetahui status kita yang sebenarnya. Mereka hanya mampu menilai diri kita, sebagaimana kita mampu menilai mereka dengan kacamata terbatas. Sayangnya dalam keadaan terbatas, sering menarik sebuah kesimpulan seolah-olah menjadi suatu kebenaran mutlak. Sehingga dengan data yang masih diragukan kebenarannya, kita sering berani mengatakan dengan cara vulgar di depan public. Akibatnya terjadi kegaduhan, fitnah dan saling menempatkan diri-sendiri sebagai orang yang paling benar, bersih dan punya komitmen tinggi dalam menegakan nilai-nilai kebaikan. Sedangkan orang lain dianggap sebagai kelompok yang dituduh dengan narasi-narasi negatif.

Bagi para politikus yang kehidupan nya selalu terjadi dramatika dan terus mengalami dinamika tanpa henti, membangun narasi politik melalui opini-opini tetap bisa dibenarkan. Mereka bisa berbicara “A” pada hari ini, dan besok sudah berubah menjadi “B,C,D dan seterusnya”. Saat narasi hal seperti ini dilemparkan kepada masyarakat, maka tanggapan-tanggapan masyarakat pun akan beragam. Saat ini terjadi, maka kebenaran pun menjadi sangat relatif. Satu-satunya kebenaranya yang bisa dipegang adalah kepentingan itu sendiri.

Bagi orang-orang yang tidak masuk pada wilayah politik seperti para akademis, tokoh agama, tokoh agama dan masyarakat umum yang memang tidak ada hubungan dengan kepentingan-kepentingan politis, melihat keberagaman tersebut sebagai jalan untuk melakukan inventarisasi dan kemudian melakukan penyelesaian dengan cara yang berbeda-beda. Seorang akademisi mempunyai kewajiban memberi data-data dan memberikan jawaban-jawaban dengan data-data ilmiah. Setelah itu, terserah para pengambil kebijakan. Apakah akan menyelesaikan dengan mengikuti pandangan akademisi atau melalui langkah-langkah politisi. Ketika sampai disini, para akademisi sudah tidak mempunyai kewenangan lagi. Karena dia tidak punya kekuasaan untuk itu.

Bagi para tokoh agama melakukan inventarisis berbagai kasus, lalu memberikan nasehat kepada para pemegang kekuasaan. Lagi-lagi posisi nya seperti akademisi, para ulama atau tokoh masyarakat hanya sebatas memberikan rekomendasi atau masukan untuk kebaikan. Mereka hanya sampai disini, dan tidak punya kewenangan lebih jauh lagi mengintervensi kebijakan-kebijakan yang syarat dengan multi-kepentingan.

Bagaimanapun juga sehebat apapun seorang Abu Nawas, tetap Abu Nawas yang tidak mempunyai kekuatan telunjuk nya untuk merubah air menjadi api atau sebaliknya. Abu Nawas hanya sebatas mempunyai i’tikad baik, kemampuan baik untuk memberikan pencerahan kepada orang-orang yang dianggap membutuhkan hal-hal tersebut. Artinya dengan segala kemampuan intelektualnya, Abu Nawas telah melaksanakan fungsi sebagai amar ma’ruf nahi mungkar dengan cara nya. bukan kata Nabi ketika sudah dilakukan semua jalan, maka terakhir adalah doa. Dan doa itu adalah wujud dari amar ma’ruf nahi mungkar secara langsung dikomunikasikan kepada Tuhan. Harapannya, Allah memberi jalan terbaik menurut-nya, bukan menurut ulama, tokoh masyarakat dan politisi.

Namun lagi-lagi, salah satu kesalahan Abu Nawas di atas jangan diulangi lagi karena terlalu sibuk mendengar dan menerima masukan dari orang lain yang kadang kita tidak membutuhkan sama sekali. Biarkan diri kita mempunyai prinsip hidup yang bisa jadi bertentangan dengan pandangan orang lain, namun memberi kebahagiaan dan kedamaian pada diri sendiri. Jika memang prinsip yang dilakukan suatu kebenaran, maka suatu saat pun akan terlihat dan orang lain pun akan mengakui nya tanpa harus mengatakannya. Menjalankan prinsip hidup dengan tetap menghargai orang lain, adalah salah satu cara bisa berdamai dengan diri sendiri dan orang sekitarnya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   918

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13584


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4578


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2895