Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Khasiat Sayur Gulai Terong untuk Kecerdasan Spiritual



Sabtu , 30 November 2024



Telah dibaca :  739

Sabtu ini( 30 November 2023) saya benar-benar sangat sibuk. Dari Tarbiyah memberi sambutan, langsung terbang ke Bandara DKI yang Ketua Prodinya Hikmah Muftiana MA. Belum selesai acara, Syeikh Rino Rialdi dan Syeikh Prayugo. Keduanya minta berkah agar saya bisa memberi sepatah dua patah kata dan doa restu. Padahal kedua syeikh tersebut doa nya bisa menggetarkan langit. Apalagi kalau masuk “tanggal tua”. Saya jawab: “ Saya doakan jarak jauh, semoga acara sukses“. hp berdering. Kaprodi yang selalu berpenampilan gaul, Juwandi mengirim SMS. Ia meminta saya untuk nguji mahasiswa HKI yang cita-citanya ada yang jadi hakim, dosen dan ibu rumah tangga. Saking sibuk, sampai saya lupa janjian dengan mahasiswa akan mengisi kuliah secara daring. Sudah itu, mungkin pengaruh umur. Jadi kadang pelupa. Eehhhh, Syafa’atul Habib ( saya tanya katanya bukan keturunan nabi, ma’lum naruh habib nya di belakang) nambah kerja. Ia minta foto bersama. Untuk mengenang kebaikannya, saya “pampang” foto mereka di tulisan edisi hari ini.

saya kadang mikir : “apakah seperti ini rasanya kalau jadi bupati?”.  Kadang saya berfikir:”seperti ini kok jadi rebutan, padahal letih luarbiasa”. tapi bagi orang yang tahu seni kepemimpinan politik, letih dan seambreg persoalan tetap enjoy saja. Ia telah menikmati dinamika kesremawutan persoalan dengan santai, rilek dan terasa nikmat seperti menikmati indah nya pemandangan di tepi Pantai bersama dengan kekasihnya. Bagi orang yang bukan “maqam” nya, tidak kuat melihat nya. Apalagi merasakannya.

Manusia memang mempunyai ukuran “wadah” berbeda-beda. Ada bakat berbeda-beda. Ada orang bakat blantik Sapi. Ketika ia jadi khatib jum’at, maka pembahasannya banyak mengutip surat al-baqarah dan kisah nabi yusuf. Ia sangat fasih menceritakan tujuah tahun makmur dan tujuh tahun paceklik. Ada ahli agama jadi politisi, sedikit-sedikit dalil pakai ilmu cocokologi. Contoh ahli agama jadi tim-sukses.

Contoh pertama:

Saudara-saudara, Tuhan kita berapa? Satuuuuuuuu !!!

Nabi kita berapa? Satuuuuuuuuuuuuu !!!

Kitab suci kita berapa? Satuuuuuuu!!!

Maka, tidak salah apabila bapak, ibu, dan saudara-saudara semua memilih pasangan nomor urut satu (lalu keluarlah ayat-ayat atau hadist untuk memperkuat dalil kampanye).

Contoh kedua:

Saudara-saudara, sahadat kita disebut apa? Syahadatainnnnnnnn!!!

Kita harus berbakti kepada siapa? Kedua orang tuaaaaa!!!!

Tangan kita berapa, kaki kita berapa, mata kita berapa? Duaaannnnnnn!!!

Apakah ibu-ibu mau mau dimadu atau tetap setia berdua dengan suaminya? Berdua….!!!

(lalu keluar ayat-ayat atau hadist-hadistnya)

Contoh ketiga

Saudara-saudara kita harus taat kepada allah, rasul dan ulil amri. Berapa jumlah nya? Tigaaaa!!!!

Ketika ruku dan sujud berapa jumlah yang dibaca? Tigaaaaa!!!

Untuk mengenal tahap-tahap beragama, nabi memperkenalkan: iman, islam, ikhsan. Berapa jumlah nya? Tigaaaa!!!

(lalu keluarlah dalil ayat dan hadist)

contoh keempat:

Allah menciptakan arah mata angin: barat, timur, utara selatan. Ada berapa? Empatttt.!!!

Allah menciptakan unsur manusia dari tanah, udara, api dan air. Ada berapa unsur? Empatttttt…!!!

(lalu keluarlah dalil-dalil nya).

Silahkan anda buat contoh-contoh yang lain. Semakin banyak nomor kelihatanya semakin sulit juga membuat contohnya. Tapi bagi politikus, tidak ada yang tidak bisa. Apalah arti sebuah nomor. 

Itu lumrah dalam dunia marketing. Meskipun antara das sein dan das sollen berbeda tidak masalah. Social marketing memang seperti itu. Antara iklan dan apa yang diiklan berbeda faktanya seperti perbedaan antara utara dan selatan. Tapi para penerima informasi seolah-olah sama. Itu sebabnya, banyak orang membeli sesuatu terkadang bukan karena kebutuhan, tapi karena gaya hidup. Wajar jika masyarakat sekarang ini banyak yang menjadi korban iklan. Tapi terkadang tidak menyadari. Sebab sudah merasakan nikmat gaya hidup yang telah terbentuk oleh iklan tadi.

Bagaimanapun juga kehidupan sosial kata orang tua dulu seperti roda berputar. Ada yang sering dilupakan oleh sebagian orang agar roda berhenti saat kita berada di atas. Sedangkan di bawah kadang ingin adanya sirkulasi udara bisa berjalan normal. Tidak terasa “sumpeg” di bawah.  Orang-orang yang berada di bawah adalah orang-orang yang sebenarnya beragam persoalan yang terkadan tidak terdeteksi oleh level di atas.

Itu sebabnya, kanjeng nabi dan para sahabat sering turba (turun ke bawah, istilah anggota DPR “reses”) ke bawah menengok denyut nadi masyarakat biasa. Bahkan para ustadz sering mengutip kisah Umar bin Khatab “mikul”satu karung gandum untuk janda miskin atas empat sosial yang sangat tinggi (padahal ustadz nya sendiri kadang malu juga mikul “gabah” untuk di bawah ke rumah nya sendiri. Malu kalau-kalau jama’ah nya mentertawakan nya, dan merendahkan status sebagai ustadz).

Para pejabat sekarang ini telah duduk di kursi kenikmatan. Ada yang tidak boleh dilupakan yaitu rumangsa semua serba tahu, merasa hebat dan merasa paling bisa menyelesaikan masalah.

Orang tua kita dulu memberi tamsil jangan seperti Pohon Kelapa. Orang-orang yang suka kegiatan pramuka tahu bahwa Pohon Kelapa semua sisi bagiannya bermanfaat semua. Mulai dari daun sampai pada akarnya. Orang-orang yang ikut kegiatan pramuka menggunakan Simbol Kelapa. Ia berharap semua memberi manfaat.

Tapi ada yang dilupakan. Kadang pohon kelapa terlalu egois dan merasa paling hebat. saya, anda dan kita yang berada di posisi sebagai orang yang dinaikan “seranting lebih tinggi” dan masyarakat kadang merasa hebat. Kesana-kesini “gunting pita” meresmikan ini dan itu. Tapi itu hanya sebatas simbol dan tidak boleh lepas kontrol.

Kita harus belajar seperti Sayur Terong. Ia mempunyai tubuh kecil, pendek dan kadang tidak dilihat oleh orang-orang banyak. Ia merasa tidak mempunyai apa-apa, keahlian mungkin tidak ada. Tapi sikap tawadhu’ Pohon Terong ini yang menyebabkan namanya harum di bumi dan di langit. Buktinya apa?Saat para Supir dan penumpang istirahat di Terminal atau di Warteg mereka makan dan mereka minta Sayur Terong. Kelapa tidak disebut sama sekali. Padahal yang menyebabkan enak itu santan kelapa, tapi yang disebut adalah terong nya.

Saya dan anda mungkin posisi saat sekarang ini hanya sebatas Terong yang terkadang “disempar” sana-sini. Tidak dilihat, tidak diperhatikan. Tapi saya dan anda memang harus tetap istiqomah melakukan hal-hal yang terbaik tanpa harus berharap pada pujian manusia. Sebab ketika kita benar-benar mengabdi kepada Allah swt dengan tulus, Allah akan mengangkat derajat nya dari hal-hal yang tidak pernah dibayangkan oleh kita sebelumnya.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872