
Sabtu ini( 30 November 2023) saya benar-benar
sangat sibuk. Dari Tarbiyah memberi sambutan, langsung terbang ke Bandara DKI
yang Ketua Prodinya Hikmah Muftiana MA. Belum selesai acara, Syeikh Rino Rialdi
dan Syeikh Prayugo. Keduanya minta berkah agar saya bisa memberi sepatah dua patah
kata dan doa restu. Padahal kedua syeikh tersebut doa nya bisa menggetarkan
langit. Apalagi kalau masuk “tanggal tua”. Saya jawab: “ Saya doakan jarak
jauh, semoga acara sukses“. hp berdering. Kaprodi yang selalu berpenampilan
gaul, Juwandi mengirim SMS. Ia meminta saya untuk nguji mahasiswa HKI yang
cita-citanya ada yang jadi hakim, dosen dan ibu rumah tangga. Saking sibuk,
sampai saya lupa janjian dengan mahasiswa akan mengisi kuliah secara daring. Sudah
itu, mungkin pengaruh umur. Jadi kadang pelupa. Eehhhh, Syafa’atul Habib ( saya
tanya katanya bukan keturunan nabi, ma’lum naruh habib nya di belakang) nambah
kerja. Ia minta foto bersama. Untuk mengenang kebaikannya, saya “pampang”
foto mereka di tulisan edisi hari ini.
saya kadang mikir : “apakah seperti ini
rasanya kalau jadi bupati?”. Kadang saya
berfikir:”seperti ini kok jadi rebutan, padahal letih luarbiasa”. tapi bagi
orang yang tahu seni kepemimpinan politik, letih dan seambreg persoalan tetap
enjoy saja. Ia telah menikmati dinamika kesremawutan persoalan dengan santai,
rilek dan terasa nikmat seperti menikmati indah nya pemandangan di tepi Pantai bersama
dengan kekasihnya. Bagi orang yang bukan “maqam” nya, tidak kuat melihat nya. Apalagi
merasakannya.
Manusia memang mempunyai ukuran “wadah”
berbeda-beda. Ada bakat berbeda-beda. Ada orang bakat blantik Sapi. Ketika
ia jadi khatib jum’at, maka pembahasannya banyak mengutip surat al-baqarah dan
kisah nabi yusuf. Ia sangat fasih menceritakan tujuah tahun makmur dan tujuh
tahun paceklik. Ada ahli agama jadi politisi, sedikit-sedikit dalil pakai ilmu cocokologi.
Contoh ahli agama jadi tim-sukses.
Contoh pertama:
Saudara-saudara, Tuhan kita berapa? Satuuuuuuuu
!!!
Nabi kita berapa? Satuuuuuuuuuuuuu !!!
Kitab suci kita berapa? Satuuuuuuu!!!
Maka, tidak salah apabila bapak, ibu, dan
saudara-saudara semua memilih pasangan nomor urut satu (lalu keluarlah
ayat-ayat atau hadist untuk memperkuat dalil kampanye).
Contoh kedua:
Saudara-saudara, sahadat kita disebut apa? Syahadatainnnnnnnn!!!
Kita harus berbakti kepada siapa? Kedua orang
tuaaaaa!!!!
Tangan kita berapa, kaki kita berapa, mata
kita berapa? Duaaannnnnnn!!!
Apakah ibu-ibu mau mau dimadu atau tetap
setia berdua dengan suaminya? Berdua….!!!
(lalu keluar ayat-ayat atau
hadist-hadistnya)
Contoh ketiga
Saudara-saudara kita harus taat kepada
allah, rasul dan ulil amri. Berapa jumlah nya? Tigaaaa!!!!
Ketika ruku dan sujud berapa jumlah yang
dibaca? Tigaaaaa!!!
Untuk mengenal tahap-tahap beragama, nabi
memperkenalkan: iman, islam, ikhsan. Berapa jumlah nya? Tigaaaa!!!
(lalu keluarlah dalil ayat dan hadist)
contoh keempat:
Allah menciptakan arah mata angin: barat,
timur, utara selatan. Ada berapa? Empatttt.!!!
Allah menciptakan unsur manusia dari tanah,
udara, api dan air. Ada berapa unsur? Empatttttt…!!!
(lalu keluarlah dalil-dalil nya).
Silahkan anda buat contoh-contoh yang lain. Semakin banyak nomor kelihatanya semakin sulit juga membuat contohnya. Tapi bagi politikus, tidak ada yang tidak bisa. Apalah arti sebuah nomor.
Itu lumrah dalam dunia marketing. Meskipun antara
das sein dan das sollen berbeda tidak masalah. Social marketing
memang seperti itu. Antara iklan dan apa yang diiklan berbeda faktanya seperti
perbedaan antara utara dan selatan. Tapi para penerima informasi seolah-olah sama.
Itu sebabnya, banyak orang membeli sesuatu terkadang bukan karena kebutuhan,
tapi karena gaya hidup. Wajar jika masyarakat sekarang ini banyak yang menjadi
korban iklan. Tapi terkadang tidak menyadari. Sebab sudah merasakan nikmat gaya
hidup yang telah terbentuk oleh iklan tadi.
Bagaimanapun juga kehidupan sosial kata
orang tua dulu seperti roda berputar. Ada yang sering dilupakan oleh sebagian
orang agar roda berhenti saat kita berada di atas. Sedangkan di bawah kadang
ingin adanya sirkulasi udara bisa berjalan normal. Tidak terasa “sumpeg”
di bawah. Orang-orang yang berada di
bawah adalah orang-orang yang sebenarnya beragam persoalan yang terkadan tidak
terdeteksi oleh level di atas.
Itu sebabnya, kanjeng nabi dan para sahabat
sering turba (turun ke bawah, istilah anggota DPR “reses”) ke
bawah menengok denyut nadi masyarakat biasa. Bahkan para ustadz sering mengutip
kisah Umar bin Khatab “mikul”satu karung gandum untuk janda miskin atas
empat sosial yang sangat tinggi (padahal ustadz nya sendiri kadang malu juga
mikul “gabah” untuk di bawah ke rumah nya sendiri. Malu kalau-kalau jama’ah
nya mentertawakan nya, dan merendahkan status sebagai ustadz).
Para pejabat sekarang ini telah duduk di
kursi kenikmatan. Ada yang tidak boleh dilupakan yaitu rumangsa semua
serba tahu, merasa hebat dan merasa paling bisa menyelesaikan masalah.
Orang tua kita dulu memberi tamsil jangan
seperti Pohon Kelapa. Orang-orang yang suka kegiatan pramuka tahu bahwa Pohon
Kelapa semua sisi bagiannya bermanfaat semua. Mulai dari daun sampai pada
akarnya. Orang-orang yang ikut kegiatan pramuka menggunakan Simbol Kelapa. Ia berharap
semua memberi manfaat.
Tapi ada yang dilupakan. Kadang pohon
kelapa terlalu egois dan merasa paling hebat. saya, anda dan kita yang berada di
posisi sebagai orang yang dinaikan “seranting lebih tinggi” dan
masyarakat kadang merasa hebat. Kesana-kesini “gunting pita” meresmikan
ini dan itu. Tapi itu hanya sebatas simbol dan tidak boleh lepas kontrol.
Kita harus belajar seperti Sayur Terong.
Ia mempunyai tubuh kecil, pendek dan kadang tidak dilihat oleh orang-orang
banyak. Ia merasa tidak mempunyai apa-apa, keahlian mungkin tidak ada. Tapi sikap
tawadhu’ Pohon Terong ini yang menyebabkan namanya harum di bumi dan di
langit. Buktinya apa?Saat para Supir dan penumpang istirahat di Terminal atau
di Warteg mereka makan dan mereka minta Sayur Terong. Kelapa tidak disebut sama
sekali. Padahal yang menyebabkan enak itu santan kelapa, tapi yang disebut
adalah terong nya.
Saya dan anda mungkin posisi saat sekarang
ini hanya sebatas Terong yang terkadang “disempar” sana-sini. Tidak
dilihat, tidak diperhatikan. Tapi saya dan anda memang harus tetap istiqomah
melakukan hal-hal yang terbaik tanpa harus berharap pada pujian manusia. Sebab
ketika kita benar-benar mengabdi kepada Allah swt dengan tulus, Allah akan
mengangkat derajat nya dari hal-hal yang tidak pernah dibayangkan oleh kita
sebelumnya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4547
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2944
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872