
Mulai tadi malam [tepatnya minggu dinihari sekitar
jam 12.01 WIB] sampai menjelang waktu berbuka puasa Kementrian Agama RI mengadakan
khataman Al-Qur’an. 350.000 khataman ditempuh dalam satu hari. Gerakan khataman
nasional di lingkup kementrian agama dalam rangka menyambut malam nuzul al-qur’an.
Sekaligus sebagai wasilah mengetuk pintu langit. Harapannya turun rahmat dari
allah, diampuni dosa-dosa nya dan terbebas dari api neraka. “Wabil khusus”
untuk kepentingan nasional, bangsa dan negara Indonesia terbebas dari marabahaya.
Ma’lum, bahaya suatu negara saat ini seperti datangnya penyakit. Ujug-ujug
datang, ujug-ujug pergi. Dengan wasilah bacaan Al-Qur’an, semoga menjadi
“sifaun” untuk bangsa Indonesia tercinta.
Khataman Al-Qur’an merupakan tradisi
pesantren tradisional yang kini me-nasional. Jika anda pernah nyantri di
pesantren model tersebut, pasti akan menemukan tradisi khataman Al-Qur’an.
Biasanya ada santri yang sudah khatam binadzar plus bilghoib 30
juz,maka para santri lain melakukan simaan atau semaan bacaan-bacaan
sang hafidz, mendengar dan sambil membetulkan jika ada yang yang salah. Akhirnya
khataman Al-Qur’an menjadi budaya baru di pesantren tradisional dengan
nama “semaan” Al-Qur’an.
Kata “semaan” atau “simaan”
sendiri merupakan serapan dari bahasa Arab, "sami'a-yasma'u"
yang artinya "mendengar". Kata tersebut dalam lidah Jawa menjadi simaan
atau semaan, yaitu tradisi para jamaah mendengar sang hafidz sedang membaca
Al-Qur’an, sekaligus membuka Al-Qur’an untuk mencocokan hafalan-hafalan tersebut.
itu sebabnya ada perbedaan dengan khataman al-qur’an dan semaan Al-Qur’an.
Jika khataman tidak mewajibkan yang membaca al-qur’an itu hafidz. Seperti khataman
Al-Qur’an 30 juz dalam bulan ramadhan, berarti bisa juga membaca, bisa juga
menghafal. Jika semaan, pasti ada hafidz yang sedang menghatamkan Al-Qur’an dalam
waktu tertentu. Bisa satu hari satu malam [24] khatam 30 juz. Ada 1 malam
kurang, khatam 30 juz. Contoh tradisi tarawih 30 juz setiap malam di Pesantren
Al-Falah Temboro.
Tradisi khataman dan semaan Al-Qur’an di
pesantren-pesantren tradisional memang terasa aura positifnya. Jika anda
memasuki area tersebut, maka yang anda lihat adalah para santri yang memegang
mushaf. Duduk di berbagai tempat, diteras masjid, teras asrama, di bawah pohon,
di samping maqam para pendiri pesantren atau para masyayikh, atau juga kadang
duduk-duduk di bebatuan di batu-batu besar pinggir Sungai. Jadi hafalan menjadi
suatu kenikmatan, datang dari hati. Bukan paksaan. Itu sebabnya, di Pesantren
Tradisional meskipun tidak mempunyai biaya besar, mereka bisa menghafal nya
dengan baik hingga 30 juz. Biasanya ditempuh dengan normal dua setengah tahun
sampai tiga tahun. Itu sudah hatam dan hafal.
Aura positifnya juga membawa keberkahan
bagi masyarakat sekitar pesantren. Mereka yang merasakan. Masyarakat seperti di
sekitar pesantren API di Magelang atau masyarakat di Pesantren Darussalam Blokagung
Banyuwangi, Jawa Timur adalah dulunya masyarakat islam abangan dan sebagian
besar juga non-muslim. di sekitar pesantren Darussalam, adalah masyarakat
beragama hindu. Sebagian malah ateis. Para pemimpin pesantren dan para ustadz
sudah terbiasa mendapat teror fisik dan non-fisik seperti santet. Pimpinan dan
para santri hanya bersifat bertahan. Tidak melawan. Mereka memasrahkan urusan
kepada Allah. Mereka tetap ngaji kitab dan khataman Al-Qur’an dengan sangat
istiqomah. Walhasil, kini masyarakat non-muslim dengan kesadaran diri masuk Islam.
laa ikraha fi dien. Tidak ada paksaan.
Dakwah khataman Al-Qur’an model pesantren
persis seperti model nabi dan para sahabat. Pelan-pelan dengan pendekatan
budaya, tidak langsung membabat habis tradisi mereka. Persis seperti seorang
mualaf pada masa nabi yang masih suka berbuat maksiat. Nabi tidak melarang,
nabi hanya ingin sholat jangan sampai ditinggalkan. Akhirnya lambat laun,
mualaf tadi menjadi muslim yang kaffah.
Kesukaan masyarakat mualaf dan non-muslim
di sekitar pesantren Darussalam blokagung macam-macam. Ada yang suka dangdutan,
suka music metal, dan hiburan tradisional. Pihak pesantren meresponnya. Setiap akhirussanah
[akhir tahun kegiatan pesantren], pihak pesantren mengadakan hiburan-hiburan
apa yang dicintai oleh masyarakat setempat. Acara hiburan. Di alun-alun samping
pesantren. Masyarakat pun berdatangan. Muslim dan non-muslim. akhirnya, mereka
mengerti dan mengenal pesantren. Lambat laun, mereka bertanya-tanya tentang pesantren
dan lambat laun mereka pun bersyahadat masuk pesantren dan menjadi muslim yang
baik.
Bagi generasi muda Islam yang lagi “baligh”
beragama dan melihat fenomena di atas langsung “otak nya panas” dan
men-justifikasi sebagai pesantren yang merusak akidah. Itulah bukti ketika mata
melihat. Selalu saja salah jika tidak menggunakan mata hati. Berbicara ilmiah,
tapi telah menerjang metodologi ilmiah sendiri tanpa mau melakukan penelitian
lebih mendalam.
Para pengkritik tidak melihat secara
langsung keberkahan masyarakat di sekitar pesantren. Mereka hanya brisik di
media sosial dengan menebar fitnah,tapi mengaku sebagai penganut Islam kaffah. Padahal
masyarakat yang dulu non-muslim dan mualaf sekitar pesantren tradisional, kini
hidup dengan penuh kebahagiaan. Jika anda santri dan berjalan-jalan di pasar,
maka akan dengan mudah menemukan para pedagang sayur memberi sayur-mayur atau
makanan gratis kepada para santri. Mereka sudah tidak lagi menghitung materi. Mereka
telah mendapatkan lebih dari sekadar materi yaitu ketenangan hati. Berkah
tenang hati, ekonomi mereka berkah. Bisa menyekolahkan anak-anak nya ke
perguruan tinggi, pesantren, bisa beli tanah, membuat rumah dan bisa pergi ke
baitullah dengan harta usaha mereka.
Kementrian agama bisa jadi sedang melihat
diri sendiri sedang menggunakan metode sistem pesantren tradisional yang selalu
mentradisikan khataman al-qur’an. Kementrian agama ingin keberkahan terbuka
dari langit, bumi dan dari segala arah penjuru mata angin. Ma’lum, hari ini
persoalan nasional yang sangat komplek dan akal pikiran buntu untuk
menyelesaikan problematika dengan segera. Disisi lain,sebagian manusia sedang
mabuk besar-besaran terhadap kehidupan dunia. Para pejabat tingkat tinggi
sedang pesta pora minum “bir oplosan” dengan “minyak tanah”, pertamina dengan
petralit dan “minyak goreng”. Mendem. Apa-apa dimakan, diontal, di keruk
habis-habis. Gaji bulan dan tunjangan sudah sangat besar, tapi belum puas. Seperti
sudah mempunyai Gunung Emas, tetapi masih menginginkan hamparan lautan menjadi
intan berlian. Dipagar, dikapling dan dimiliki dengan paksa. Hari ini,
benar-benar masalah di sebagian masyarakat yang hidup di garis katulistiwa ini
sedang terkena penyakit hubd dunya mencapai stadium 4.
Mengetuk pintu langit adalah jawabanya. Membaca
ayat-ayat Al-Qur’an adalah terapinya. Dan merealisasikan ayat-ayat-Nya dalam
kehidupan sehari-hari adalah tirakatnya. Semoga berkah khataman Al-Qur’an akbar
benar-benar membawa keberkahan akbar yaitu adanya taubatan nasuha besar-besaran.
Sebab dengan cara-cara tersebut, al-qur’an benar-benar sebagai sifaun dalam
segala penyakit hati, dhohir, individual dan kolektif. Semoga.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2940
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872