Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Khataman Al-Qur’an Akbar; Mengetuk Pintu Langit



Minggu , 16 Maret 2025



Telah dibaca :  732

Mulai tadi malam [tepatnya minggu dinihari sekitar jam 12.01 WIB] sampai menjelang waktu berbuka puasa Kementrian Agama RI mengadakan khataman Al-Qur’an. 350.000 khataman ditempuh dalam satu hari. Gerakan khataman nasional di lingkup kementrian agama dalam rangka menyambut malam nuzul al-qur’an. Sekaligus sebagai wasilah mengetuk pintu langit. Harapannya turun rahmat dari allah, diampuni dosa-dosa nya dan terbebas dari api neraka. “Wabil khusus” untuk kepentingan nasional, bangsa dan negara Indonesia terbebas dari marabahaya. Ma’lum, bahaya suatu negara saat ini seperti datangnya penyakit. Ujug-ujug datang, ujug-ujug pergi. Dengan wasilah bacaan Al-Qur’an, semoga menjadi “sifaun” untuk bangsa Indonesia tercinta.

Khataman Al-Qur’an merupakan tradisi pesantren tradisional yang kini me-nasional. Jika anda pernah nyantri di pesantren model tersebut, pasti akan menemukan tradisi khataman Al-Qur’an. Biasanya ada santri yang sudah khatam binadzar plus bilghoib 30 juz,maka para santri lain melakukan simaan atau semaan bacaan-bacaan sang hafidz, mendengar dan sambil membetulkan jika ada yang yang salah. Akhirnya khataman Al-Qur’an menjadi budaya baru di pesantren tradisional dengan nama “semaan” Al-Qur’an.

Kata “semaan” atau “simaan” sendiri merupakan serapan dari bahasa Arab, "sami'a-yasma'u" yang artinya "mendengar". Kata tersebut dalam lidah Jawa menjadi simaan atau semaan, yaitu tradisi para jamaah mendengar sang hafidz sedang membaca Al-Qur’an, sekaligus membuka Al-Qur’an untuk mencocokan hafalan-hafalan tersebut. itu sebabnya ada perbedaan dengan khataman al-qur’an dan semaan Al-Qur’an. Jika khataman tidak mewajibkan yang membaca al-qur’an itu hafidz. Seperti khataman Al-Qur’an 30 juz dalam bulan ramadhan, berarti bisa juga membaca, bisa juga menghafal. Jika semaan, pasti ada hafidz yang sedang menghatamkan Al-Qur’an dalam waktu tertentu. Bisa satu hari satu malam [24] khatam 30 juz. Ada 1 malam kurang, khatam 30 juz. Contoh tradisi tarawih 30 juz setiap malam di Pesantren Al-Falah Temboro.

Tradisi khataman dan semaan Al-Qur’an di pesantren-pesantren tradisional memang terasa aura positifnya. Jika anda memasuki area tersebut, maka yang anda lihat adalah para santri yang memegang mushaf. Duduk di berbagai tempat, diteras masjid, teras asrama, di bawah pohon, di samping maqam para pendiri pesantren atau para masyayikh, atau juga kadang duduk-duduk di bebatuan di batu-batu besar pinggir Sungai. Jadi hafalan menjadi suatu kenikmatan, datang dari hati. Bukan paksaan. Itu sebabnya, di Pesantren Tradisional meskipun tidak mempunyai biaya besar, mereka bisa menghafal nya dengan baik hingga 30 juz. Biasanya ditempuh dengan normal dua setengah tahun sampai tiga tahun. Itu sudah hatam dan hafal.

Aura positifnya juga membawa keberkahan bagi masyarakat sekitar pesantren. Mereka yang merasakan. Masyarakat seperti di sekitar pesantren API di Magelang atau masyarakat di Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Jawa Timur adalah dulunya masyarakat islam abangan dan sebagian besar juga non-muslim. di sekitar pesantren Darussalam, adalah masyarakat beragama hindu. Sebagian malah ateis. Para pemimpin pesantren dan para ustadz sudah terbiasa mendapat teror fisik dan non-fisik seperti santet. Pimpinan dan para santri hanya bersifat bertahan. Tidak melawan. Mereka memasrahkan urusan kepada Allah. Mereka tetap ngaji kitab dan khataman Al-Qur’an dengan sangat istiqomah. Walhasil, kini masyarakat non-muslim dengan kesadaran diri masuk Islam. laa ikraha fi dien. Tidak ada paksaan.

Dakwah khataman Al-Qur’an model pesantren persis seperti model nabi dan para sahabat. Pelan-pelan dengan pendekatan budaya, tidak langsung membabat habis tradisi mereka. Persis seperti seorang mualaf pada masa nabi yang masih suka berbuat maksiat. Nabi tidak melarang, nabi hanya ingin sholat jangan sampai ditinggalkan. Akhirnya lambat laun, mualaf tadi menjadi muslim yang kaffah.

Kesukaan masyarakat mualaf dan non-muslim di sekitar pesantren Darussalam blokagung macam-macam. Ada yang suka dangdutan, suka music metal, dan hiburan tradisional. Pihak pesantren meresponnya. Setiap akhirussanah [akhir tahun kegiatan pesantren], pihak pesantren mengadakan hiburan-hiburan apa yang dicintai oleh masyarakat setempat. Acara hiburan. Di alun-alun samping pesantren. Masyarakat pun berdatangan. Muslim dan non-muslim. akhirnya, mereka mengerti dan mengenal pesantren. Lambat laun, mereka bertanya-tanya tentang pesantren dan lambat laun mereka pun bersyahadat masuk pesantren dan menjadi muslim yang baik.

Bagi generasi muda Islam yang lagi “baligh” beragama dan melihat fenomena di atas langsung “otak nya panas” dan men-justifikasi sebagai pesantren yang merusak akidah. Itulah bukti ketika mata melihat. Selalu saja salah jika tidak menggunakan mata hati. Berbicara ilmiah, tapi telah menerjang metodologi ilmiah sendiri tanpa mau melakukan penelitian lebih mendalam.

Para pengkritik tidak melihat secara langsung keberkahan masyarakat di sekitar pesantren. Mereka hanya brisik di media sosial dengan menebar fitnah,tapi mengaku sebagai penganut Islam kaffah. Padahal masyarakat yang dulu non-muslim dan mualaf sekitar pesantren tradisional, kini hidup dengan penuh kebahagiaan. Jika anda santri dan berjalan-jalan di pasar, maka akan dengan mudah menemukan para pedagang sayur memberi sayur-mayur atau makanan gratis kepada para santri. Mereka sudah tidak lagi menghitung materi. Mereka telah mendapatkan lebih dari sekadar materi yaitu ketenangan hati. Berkah tenang hati, ekonomi mereka berkah. Bisa menyekolahkan anak-anak nya ke perguruan tinggi, pesantren, bisa beli tanah, membuat rumah dan bisa pergi ke baitullah dengan harta usaha mereka.

Kementrian agama bisa jadi sedang melihat diri sendiri sedang menggunakan metode sistem pesantren tradisional yang selalu mentradisikan khataman al-qur’an. Kementrian agama ingin keberkahan terbuka dari langit, bumi dan dari segala arah penjuru mata angin. Ma’lum, hari ini persoalan nasional yang sangat komplek dan akal pikiran buntu untuk menyelesaikan problematika dengan segera. Disisi lain,sebagian manusia sedang mabuk besar-besaran terhadap kehidupan dunia. Para pejabat tingkat tinggi sedang pesta pora minum “bir oplosan” dengan “minyak tanah”, pertamina dengan petralit dan “minyak goreng”. Mendem. Apa-apa dimakan, diontal, di keruk habis-habis. Gaji bulan dan tunjangan sudah sangat besar, tapi belum puas. Seperti sudah mempunyai Gunung Emas, tetapi masih menginginkan hamparan lautan menjadi intan berlian. Dipagar, dikapling dan dimiliki dengan paksa. Hari ini, benar-benar masalah di sebagian masyarakat yang hidup di garis katulistiwa ini sedang terkena penyakit hubd dunya mencapai stadium 4.

Mengetuk pintu langit adalah jawabanya. Membaca ayat-ayat Al-Qur’an adalah terapinya. Dan merealisasikan ayat-ayat-Nya dalam kehidupan sehari-hari adalah tirakatnya. Semoga berkah khataman Al-Qur’an akbar benar-benar membawa keberkahan akbar yaitu adanya taubatan nasuha besar-besaran. Sebab dengan cara-cara tersebut, al-qur’an benar-benar sebagai sifaun dalam segala penyakit hati, dhohir, individual dan kolektif. Semoga.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872