Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Khataman Kitab Turost-Syahadat Rasul



Jumat , 07 Maret 2025



Telah dibaca :  761

Pada pertemuan kedua, penulis akan mengkaji makna syahadt rasul dalam kitab fiqh tipis Sulam Munajat karya dari Syeikh Imam Nawawi Al-Jawi. Semoga kajian ini memberi manfaat.

ومعنيَ اشهد ان محمداَ رسولُ الله اعلمُ واعتقدُ بقلبي ابينُ لغيري ان سيدنا محمد بنَ عبد الله عبدالله ورسولهِ الي كافةِالخلقِ صادقً في كل ما اخبرَ به يجبُ علي كافةِالخلق تصديقهُ ومتابعتهُ ويحرمُ عليهم تكذيبهُ ومخلفتهُ فمنْ كذبه فهو ظالمٌ كافر ومن خالفه فهو عاصٍ خاسر وفقنا الله لكمالِ متابعتهِ كمال التمسكِ بسنته وجعلنا ممن يحيِ احكامَ شرييعتهِ وتوفانا علي ملته وحشرنا في زمرته ووالدِينا واولادنا واخواننا واحبابِنا وجميعِ المسلمينَ امين.

Artinya:

Makna dari [  اشهد ان محمداَ رسولُ الله  ] yaitu saya menyakini dengan mendasarkan kepada al-qur’an dan hadist dan menyakini dalam hatiku serta menunjukan kepada orang lain akan keimananku bahwa sesungguhnya sayid/pemimpin kami Muhammad adalah putra Abdullah merupakan Hamba Allah dan utusan-Nya untuk seluruh makhluk. Ia adalah seorang rasul yang benar dalam setiap apa yang ia katakana. Wajib bagi seluruh makhluk membenarkannya (Nabi Muhammad), mengikutinya. Haram bagi mereka (makhluk) mendustainya dan tidak taat kepadanya. Barangsiapa yang menganggap nabi Muhammad berbohong, maka ia telah menganiaya dirinya sendiri dan jatuh kepada hukum kafir. Barangsiapa yang tidak mentaatinya maka hukumnya durhaka, sesat dan hancur. Semoga allah memberi kekuatan kepada kami untuk mengikutinya secara sempurna, semoga kita mampu mengikuti syariatnya secara tulus Ikhlas lahir dan batin, semoga kita termasuk orang yang menjaga atau melestarikan syariat nya, semoga kita mati dalam keadaan Islam, semoga kita dan orang tua kita, anak-anak kita, saudara-saudara kita dan seluruh umat muslim bisa berkumpul dengan Nabi Muhammad SAW. Amin.

Pembahasan Tatabahasa Arab

Pada kajian ini penulis akan memperkenalkan kata benda [ اسم ] dan kata depan [ حرف الجر ]  yang pertemuan pertama telah di bahas sekaligus jenis-jenis kata depan.

Isim ada yang disebut dengan isim mufrod atau kata benda Tunggal, isim mutsana kata benda terdiri dari dua macam, isim jamak, kata benda lebih dari dua, yaitu tiga benda ke atas.

Contoh-Contoh  :

Kata benda Tunggal [ اسم مفرد  ] seperti : محمدٌ

Kata benda berjumlah dua atau mutsana [اسم مثني  ] seperti : محمدَانِ

Kata benda jamak  [اسم جمع  ] seperti : محمدُوْنَ

Ketika kata-kata benda tersebut diawali dengan kata benda atau huruf jar maka berubah harokat seperti berikut ini:

Kata benda Tunggal [ اسم مفرد  ] seperti : محمدٍ مِنْ

Kata benda berjumlah dua atau mutsana [اسم مثني  ] seperti من محمدَيْنِ:

Kata benda jamak  [اسم جمع  ] seperti : من محمدِيْنَ

Insya Allah pada pertemuan selanjutnya penulis akan membahas lebih dalam tentang kalimat isim baik yang mufrod, mutsana, maupun jamak.

Penjelasan Tentang Syahadat Rasul

Syahadat Rasul merupakan satu rangkaian dengan syahadat tauhid. Seseorang ingin masuk Islam, maka dalam berikrar harus dua syahadat sekaligus yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul [ اشهد ان محمداَ رسولُ الله   ]

Persaksian kita terhadap muhammad sebagai nabi dan juga rasul. Implementasinya kita sebagai seorang muslim harus juga menyakini apa yang disampaikan oleh nya merupakan suatu kebenaran dan tidak ada kedustaan darinya. Meskipun apa yang ia sampaikan sangat tidak diterima oleh akal. Impossibel. Tapi kita harus menyakini[iman] secara mutlak tanpa keraguan. Sebab keimanan tidak selama harus diuji kebenaran dengan akal. Tidak semua harus diterima dengan akal. Sebab apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad berasal dari Allah SWT. Kedudukan Allah dan makhluk tidak sama. Allah kekal sedangkan makhluk itu fana. Akal pikiran manusia juga bisa hancur bersama dengan kematian nya di dunia. Maka sangat tidak pantas jika akal pikiran manusia menyamakan status Tuhan Yang Maha Agung dengan manusia yang serba kekurangan.

Akal bisa berfikir tapi belum tentu benar. Akal sebagai jalan mendapat kebenaran. Tapi kebenaran akal masih bisa diperdebatkan oleh orang lain. Sedangkan kebenaran Allah jika toh bisa diperdebatkan, maka kebenaran-Nya tetap kekal. Maka jalan yang sangat penting bagi seorang muslim yaitu membenarkan apa-apa yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW secara kaffah.

Nabi Muhammad adalah tangga mengenal Allah SWT. Melalui lisannya, manusia bisa mengenal firman-firman-Nya yang disampaikan lagi kepada para sahabat-sahabat nya. Nabi, keluarga, anak-anaknya dan para sahabat telah mendapatkan sinar dari firman-firman-Nya. Kita selalu berdoa agar semua keluarga besar dan seluruh kaum muslimin senantiasa mendapatkan keberkahan dari Rasulullah dan mendapatkan kemulyaan besok di alam barzah dan alam akherat nanti yaitu sebagai ahlu surga. Amin.

Berkaitan dengan pemahaman, tentu setiap sahabat mempunyai pemahaman yang berbeda-beda. Keberagaman manusia dalam kehidupan sosial saat itu mempunyai kemungkinan adanya perbedaan pendapat. Ini semakin terasa saat nabi meninggal dunia. Perbedaan pandangan yang belum pernah terpikirnya muncul di kalangan para sahabat.

Itu hal yang biasa. Seperti kita sendiri saat orang tua masih hidup. Kita hidup tenang. Semua ada penyelesaian dari orang tua baik oleh ayah maupun ibu kita. Seolah-olah saat orang tua masih hidup seluruh problem kehidupan selesai. Namun saat salah satu mereka meninggal dunia, maka satu persatu masalah mulai muncul seperti persoalan warisan, harta hibah, ikatan persaudaraan dan hal-hal lainnya mulai membutuhkan jawaban yang harus bisa mencerminkan suasana yang bijaksana.

Ketika nabi meninggal dunia, maka berbagai persoalan muncul yang sebelumnya belum pernah terfikirkan yaitu pembukuan Al-Qur’an dalam satu mushaf. Abu bakar tidak mau membukukan karena dianggap bid’ah sebab tidak ada sumber secara tekstual pembukan Al-Qur’an dalam firman-firman Allah dan hadist nabi. Umar bin Khatab berijtihad bahwa pekerjaan kodifikasi Al-Qur’an menjadi satu mushaf tetap bernilai pahala meskipun secara tekstual tidak ada sumbernya. Akhirnya Abu Bakar menerima usulan Umar bin Khatab. Wallahu a’lam.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872