
Sumadi tersenyum bahagia melihat rombongan para alumni pesantren, santri dan masyarakat yang mahabbah terhadap ulama berbondong-bondong menghadiri acara khaul masyayikh di Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti. Pria paruh baya ini berumur sekitar 50-60 tahun. Dia duduk di dekat Pelabuhan, tapi jauh dari keramaian orang. Dia duduk seorang diri sambil menikmati Rokok Kretek Gudang Garam Merah. Rambutnya panjang memutih, sampai-sampai sebagian telinganya tertutup. Peci hitam mulai berubah warna “klopot” Jagung tua. Baju koko warna putih sudah lusuh. Meskipun demikian, dia terlihat merdeka dan bahagia duduk di pojok Kedai seorang diri ditemani rokok kretek dan kopi hangat di meja plastik.

Entah kenapa senyumnya berubah menjadi
sedih. Kedua mata nya memerah. Pelan tapi pasti, air mata mengalir membasahi
pipi tidak terkendali. Laksana mata air, mengumpul dan menetes. Kini dia
benar-benar menangis. Namun tidak terdengar. Sesekali, lengan tangan kanan mengusap
muka akibat luapan tangisan yang tidak terkendali.
“Assalamu’alaikum, pak Muhsin”, suara
seseorang laki-laki muda mengagetkan lamunan dan tangisan nya. Dia pun sibuk
mengusap air matanya, lalu melihat ke arah nya.
“Wa’alaikum salam, eh, nak Badrun, silahkan
duduk” jawab Sumadi. Masyarakat
memanggil bukan Sumadi, tapi Muhsin. Ceritanya, ketika dia nyantri, nama nya ganti
menjadi Ahmad Muhsin oleh kyai nya. Wajar, jika generasi setelah angkatan nya
tidak mengenal nama asli nya, kecuali generasi seangkatan atau di atas angkatan
nya di desa tersebut.
Badrun adalah pemuda daerah tersebut.
Setiap Jum’at ngaji Kitab Kuning di Rumah Sumadi. Kadang juga dalam pengajian
disisipi tentang kisah dan nilai-nilai kehidupan pesantren dan dunia santri.
Badrun mengenal nya sebagai orang tua yang “lurus-lurus”, pagi kadang bekerja serabutan
di Pasar, malam nya membuka pengajian tentang ilmu fiqh, tasawuf dan tauhid.
“Saya perhatikan, sejak tadi pak Muhsin
menangis, padahal kampung kita kedatangan para ulama, kyai, ustadz masyarakat
dan para tamu dari berbagai daerah bahagia menyambut acara khaul masyayikh,
apakah pak Muhsin tidak bahagia?” tanya Badrun.
Sumadi diam. Lalu dia menjawab dengan
panjang lebar kepada Badrun:
“ Nak Badrun, saya ingat ketika ingin
nyantri di pulau Jawa, orang tua saya
hanya memberi beberapa rupiah untuk bekal berangkat di Pesantren. Pak De saya
yang mengantar ke pesantren. Kami naik Bus dari Pekanbaru sampai ke Jawa. Entah
berapa hari waktu itu, kira-kira 5 hari baru sampai di tempat tujuan.”
“Setelah sampai di pesantren, kami pergi ke
rumah pengasuh. Pak De menyerahkan saya ke Pengasuh Pesantren. Setelah beberapa
lama, datang seorang ustadz dan mengantar aku ke Asrama dan di tempatkan di Kamar.
Pertama duduk malam itu, tidak masalah. Namun ketika sudah larut malam, saya tidak
bisa tidur. Sebab tidak ada Bantal, Kasur, dan Selimut. Kamar yang luas 4 meter
persegi berisi 15 santri. Kamar penuh dengan Lemari. Isinya kitab-kitab, baju
bahkan kadang ada juga sambal kiriman dari orang tua. Saya tidur, tidak lama
terbangun. Tidur model “tidur ayam”. Saya tengok jam dinding, masih jam 02.00.
Saya merasa, waktu sangat panjang dan membosankan. Saya tidak bisa tidur, suara
dengkuran, atau para santri yang belum tidur kadang bergurau sampai larut
malam. Ini pengalaman yang belum pernah terjadi ketika berada di rumah. Pagi hari kepala
terasa pusing.”
“Pagi hari, Pak De menemuiku. Dia bertanya apakah betah di Pesantren? Saya hanya diam saja. Mata pun mulai berkaca-kaca. Suasana batin serba salah. Hanya tangisan sebagai teman setia dalam situasi yang tidak menentu ini. Meskipun demikian, Pak De saya tidak memperdulikan tangisanku. Apalagi, dia pernah nyantri, sehingga sudah memahami psikologi santri yang baru saja menerima keadaan yang tidak biasa seperti ini”

Sumadi diam sejenak. Dia mengambil korek
api di saku baju, dan menghidupkan lagi Rokok Sigaret yang sudah mati. Setelah
mengisap beberapa kali, dia pun melanjutkan ceritanya. Kali ini, Sumadi sudah
mulai normal dan tidak lagi kelihatan sedihnya.
“Setelah Pak De pulang, saya harus bisa
beradaptasi dengan situasi di Pesantren. Saya harus bisa tidur dengan fasilitas
apa adanya. Kadang tidur di kamar, kadang di Masjid, kadang di Serambi Masjid.
Lama-kelamaan saya pun bisa menerima keadaan ini. Sebab, semua santri pun sama.
Mereka hidup dalam keadaan serba terbatas, makan terbatas, tidur terbatas, dan
bermain pun terbatas. Hampir semua waktu digunakan untuk belajar, hapalan,
mulai dari doa-doa, tatabahasa arab, sastra arab, sampai pada al-qur’an dan
hadist. Para santri senior biasanya sudah masuk kelas diskusi. Kitabnya tidak
tanggung-tanggung, tebal-tebal. Saya yang masih yunior kadang hanya melihat
dari Jendela atau dari emper masjid ketika melihat mereka berdebat. Saya sangat
menyukai mereka berdiskusi ilmiah atau sawir atau ba’tsul masail. Mereka sangat
fasih membaca dan sangat pandai mengartikan dan menguraikan isi Kitab Kuning.”
“Apakah pak Muhsin rindu suasana pesantren”
tanya Badrun
Sumadi terus menikmati kepulan Rokok Kretek
Gudang Garam Merah. Setelah tinggal sedikit, dibuang di depanya. Dia pun
mengangguk atas pertanyaan Badrun.
“Apa yang membuat rindu” tanya Badrun.
“Suasana kedamaian, hidup serba terbatas
dan serba kekurangan di Pesantren, tapi suasana batin terasa damai” jawab Muhsin.
“Kenapa bisa demikian terkesan” tanya Badrun.
“Nak Badrun, Saat hidup di Pesantren, saya sudah mengalami bertahun-tahun hanya makan ubi rebus di pagi hari, dan siang hari sampai malam hari harus menahan lapar karena tidak ada makanan lagi. Saya dan teman-teman seangkatanku sudah sering puasa bukan karena sunnah Rasul seperti puasa senin-kamis, tapi puasa karena tidak ada yang bisa dimakan. Kadang saking tidak ada makanan, pagi minum air sumur (tidak dimasak), siang hari minum air, malam hari juga minum air tanpa ada makananan yang menyertainya. Kami tidak bisa tidur karena menahan lapar yang luarbiasa.”

Badrun terdiam seperti ikut merasakan
penderitaan masa itu. Dia membayangkan betapa berat hidup dipesantren yang
penuh dengan serba keterbatasan, kekurangan dan penderitaan.
“Apakah
orang tua jarang mengirim uang untuk kebutuhan di Pesantren?” tanya Badrun.
“Ada santri dikirim secara rutin tiap
bulan, ada yang kadang-kadang dikirim, ada yang sama sekali tidak dikirim.
Meskipun demikian, mereka mempunyai solidaritas tinggi. mereka masak bareng.
Ada job decription. Ada santri bagian beli sayur dan lauk, ada yang
mencari kayu bakar. Masak nya bareng-bareng. Jika baru mendapatkan kiriman,
biasanya beli Ikat Laut di sayur santan. Masuk pertengahan bulan, sudah mulai
membuat sambal favorit yaitu Silep Terong. Cara membuat sambal ini; sambal cabe
hijau dicampur dengan parutan kelapa. Lalu di masukan ke dalam plastik kresek
bersama terong. Setelah itu dimasukan ke dalam Kendil(wadah untuk masak nasi)
saat air sedang mendidih dan beras mulai lembut. Sehingga diperkirakan ketika
nasi sudah matang, terong tersebut sudah lembek tanda sudah matang. Ketika sudah
matang, kami bagi tugas. Ada yang mengambil “Talam” atau “Lengser” untuk
menaruh nasih di dalamnya, ada juga yang mencampur sambal dan terong. Setelah selesai,
maka dicampur menjadi satu, diratakan. Setelah rata, para santri (biasanya 3-4
santri) mengelilingi Talam dan makan bersama saat nasi masih mengepul panas. Santri
baru belum terbiasa, dan tidak bisa makan karena masih panas. Jika menunggu
dingin, berarti sudah habis.
“Mungkin
ada kesan yang lebih mendalam dari itu semua?” tanya Badrun
“Di Pesantren dengan segala keterbatasan,
saya merasakan berkah luar biasa. Salah satu berkah yaitu kemampuan santri bisa
mengahapalkan Al-Qur’an, Kitab Kuning dan juga tatabahasa Arab mulai dasar
sampai tingkat tinggi. Mereka juga mempunyai keikhlasan dalam beribadah, bisa
sholat tahajud dengan rutin, malam bisa bangun malam dengan muthola’ah
kitab-kitab. Saat liburan tiba, biasanya
ada pembangunan Asrama. Kami bersama-sama bekerja, mencari material seperti
Pasir dan batu di Sungai. Kami juga “roan” mengerjakan bangunan asrama
tersebut sampai selesai tanpa memikirkan imbalan. Kami mengerjakan segala
perintah guru dan ulama hanya mencari
ridha Allah dan keberkahan dari para ulama di Pesantren.”
Badrun manggut-manggut mendengar jawaban
Sumadi. Jiwa kemandirian dan keikhlasan telah ditanamkan kepada santri di
pesantren. Mereka belajar, bekerja, dan beribadah semata-mata mengharapkan
kemulyaan di hadapan-nya.
Entah juga kenapa tiba-tiba wajah Muhsin
berubah lagi. Kini tidak menangis, tapi suasana terasa hari mendung, kelam dan
kurang berbahagia. Namun Badrun tidak mau bertanya lagi. Dia hanya menunggu apa
yang hendak dikatakan oleh Sumadi. Benar, tidak beberapa lama Sumadi pun
berkata:
“Apakah suasana seperti dulu masih ada di
pesantren? Apakah suasana bangun malam, tahajud dan meneteskan air mata, lalu
setelah sholat tahajud masih ada yang menghapalkan alfiah dan muthola’ah kitab fathul
qarib dan fathul mu’in? Apakah juga, masih ada santri yang duduk-duduk di
pinggir sungai menghapalkan bait Alfiyah Ibnu Malik? Apakah masih ada roan atau
gotong royong membangun asrama mengharapkan keberkahan dari para kyai? Apakah
masih ada cium tangan dan berdiri di pinggir jalan dengan bersikap hormat
ketika para kyai nya melewati jalan tersebut? saya tidak tahu. saya semakin
prihatin melihat dunia sekarang ini. ada dunia medsos, ada dunia twitter yang
penuh dengan nilai-nilai pendangkalan moral generasi muda. Apakah para santri
juga telah ketularan penyakit medsos di pesantren?”
Sumadi memandang Badrun. Badrun pun
memandangnya. Tidak ada jawaban selanjutnya, tapi ada kegelisahan. Sumadi dalam
diam rindu pada masa-masa dimana Pesantren sebagai lembaga pendidikan telah
melahirkan semangat spiritual yang mendalam dalam mewujudkan semangat
beribadah, mencari ilmu dan mengabdi hanya benar-benar mengharapkan ridha dari
Allah dan mengharapkan keberkahan dari para masyayikh.
Selatpanjang, 31 Juli 2023
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4560
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2977
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879