Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kisah Hadratusyeikh, Jepang dan Jalan Kaki



Kamis , 27 Februari 2025



Telah dibaca :  651

Setelah ada program efisiensi anggaran dari pemerintah dan kebetulan  terkena sakit “oyong-oyong”, saya jadi teringat negara Jepang yang dulu pernah menjajah Indonesia. orang tua dulu mengatakan “seumur jagung” menjajah bumi pertiwi. Tapi watak disiplin sangat terasa membekas bagi sebagian kalangan santri di pesantren dan pemuda-pemuda Indonesia.

Seorang ulama besar hadratusyeikh Hasyim Asy’ari membuka kerjasama dengan Jepang, yaitu memberikan pelatihan para santri dalam dinas ketentaraan. Tujuan Jepang agar supaya membantu mereka melawan sekutu. Tapi kyai Hasyim mempunyai rencana lain, yaitu mempersiapkan santri menjadi tentara untuk melawan Jepang sekaligus Sekutu. Sebab saat itu kondisi tentara di Indonesia masih sangat minim. Sikap revolusioner dan jenius tersebut justru mendapat kritikan dari kelompok muslim modernis yang dianggap sebagai bentuk kerjasama yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Padahal keteguhan membela agama dan akidah Islam sangat tinggi. Salah satu kebijakan yang ditentang oleh nya yaitu tradisi seikerei yaitu penghormatan kepada dewa matahari dengan membungkuk badan. Sikap konsisten ini yang menyebabkan ia masuk penjara selama 5 bulan. Berkahnya, ia malah bertambah sehat di penjara. Sang pendiri nahdlatul ulama ini mampu menghatamkan al-qur’an, shoheh bukhari dan kitab hadist dari enam ulama hadist yang dikenal dengan kutubusittah. Itu sebabnya ia mendapatkan gelar hadratusyeikh karena mampu hapal al-qur’an dan enam kitab induk hadist.

Ternyata dari dulu nu sudah dikritik dan dicaci maki oleh kaum modernis dengan anggapan miring. Tapi konsistensi tinggi perjuangan untuk agama dan negara di tengah kritikan, hujatan dan caci maki yang sangat tidak mencerminkan akhlak seorang muslim. Ia terus mempertahankan ajaran Islam dengan tetap menjaga kecintaan terhadap bangsa dan negara menjadi semakin mengkristal untuk melahirkan Indonesia merdeka. Terbukti, para pejuang Islam dari dulu tidak pernah jauh dari para Masyayikh Nahdlatul Ulama hingga kemudian hari melahirkan proklamasi kemerdekaan RI.

Setelah berpuluh-puluh tahun dari kisah penjajahan tersebut di atas, kisah mulai terungkap sebuah kebenaran, yaitu melalui cucu hadratusyeikh Hasyim Asy’ari yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada tahun 2010 Gus Dur melakukan dialog perdamaian dan peradaban dengan Daisaku Ikeda, Presiden Kehormatan Soka Gakkai Tokyo Jepang. Ia mengatakan kepada Gus Dur” Ayahanda Wahid, Kyai Hasyim Asy’ari telah meletakan agama dengan sangat tepat. tugas utama agama yaitu menjunjung moralitas, mengentaskan kemiskinan dan kebodohan. Pemikiran yang sangat jenius”.

Daisaku Ikeda juga mengatakan permintaan maaf atas peristiwa penjajahan Jepang ke Indonesia pada masa lalu. Ia mengatakan bahwa kebijakan pemerintah Jepang saat itu sebenarnya mendapatkan kritikan tajam dari masyarakat Jepang sendiri. sebab bagi ajaran kami, perang dan pembunuhan merupakan perbuatan yang sangat tidak bermoral, kejam dan menjauhkan dari persaudaraan dan perdamaian.

Sikap penyesalan ini saya kira benar-benar tulus. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat dan penghargaan terhadap budaya bangsa jepang dan ajaran-ajaran agama yang tumbuh disitu telah membentuk masyarakat jepang mempunyai sikap patriotisme yang sangat hebat, pengorbanan yang besar dan keinginan untuk bisa berdamai dengan antara bangsa di dunia sangat tinggi. Pasca perang dan hancurnya hirosima dan nagasaki seolah-olah membuka mata masyarakat jepang bahwa apapun alasanya, penjajahan selama nya tidak baik. Itu sebabnya, hingga kini jepang tidak mempunyai keinginan untuk melakukan ekspansi kekuasaan dan penjajahan pola modern. Ia membangun modernisasi bangsanya dengan tetap menjaga tradisi bangsa tetap terjaga dengan sangat baik.

Salah satu tradisi yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari yaitu tradisi berjalan kaki dan membaca buku. Dua tradisi memadukan modern dan tradisional. Dengan membaca buku wawasan semakin luas dan intelektual semakin tinggi, maka peradaban semakin baik. Dengan berjalan kaki, badan semakin sehat, umur semakin panjang dan polusi udara semakin berkurang. Jadi modernisasi yang dikaitkan dengan kemajuan mekanik tidak serta merta menjadi masalah polusi udara. Jika digunakan dengan tepat, maka antara modern dan tradisional bisa berjalan beriringan. Contoh negara Jepang.

Tradisi berjalan kaki juga ada di negara Cina. Mungkin dua-duanya akibat pengaruh ajaran agama budha yang cukup besar di kedua negara tersebut. Ajaran budha ada istilah thudong yaitu ritual berjalan kaki mengikuti tradisi pendiri agama budha. Saya tidak tahu tradisi jalan kaki masyarakat Belanda. Mungkin karena alasan Kesehatan saja, atau memang sudah bosen dengan menggunakan kendaraan honda atau mobil. Bangsa yang dulu katanya pernah menjajah Indonesia selama 350 tahun ini mempunyai tradisi jalan kaki dan naik sepeda. Dua tradisi yang sama-sama bisa menjaga kesehatan lebih baik.

Tapi kenapa kelihatannya masyarakat Indonesia malah sangat keranjingan sekali naik mobil ya? Apakah karena ini bagian dari ciri-ciri masyarakat sedang baligh? Bisa jadi. Masyarakat yang lagi pubertas memang suka mencari identitas diri, ingin mendapat pengakuan diri, merasa paling cantik, ganteng, paling hebat, paling cerdas, paling berjasa dan paling berkuasa. Pendek kata “suka cari perhatian”. Caper. Hanya saja kelemahan dari masa pubertas yaitu jiwa dan emosional nya belum stabil. Suka marah-marah tidak menentu. Jika memang benar, pantas saja sebagian masyarakat Indonesia suka bertindak sembrono. Bagaimana tidak sembrono, wong lagi efisiensi anggaran, disuruh prihatin. Kalau bisa makan “gaplek” apa “oyek”, kok malah makan minyak bensin sampai trillyunan rupiah. Apakah gaji nya masih kurang? Dasar manusia puber, susah dinasehati!!!.

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872