
Setelah ada program efisiensi anggaran dari
pemerintah dan kebetulan terkena sakit “oyong-oyong”,
saya jadi teringat negara Jepang yang dulu pernah menjajah Indonesia. orang tua
dulu mengatakan “seumur jagung” menjajah bumi pertiwi. Tapi watak disiplin
sangat terasa membekas bagi sebagian kalangan santri di pesantren dan
pemuda-pemuda Indonesia.
Seorang ulama besar hadratusyeikh Hasyim Asy’ari
membuka kerjasama dengan Jepang, yaitu memberikan pelatihan para santri dalam
dinas ketentaraan. Tujuan Jepang agar supaya membantu mereka melawan sekutu. Tapi
kyai Hasyim mempunyai rencana lain, yaitu mempersiapkan santri menjadi tentara
untuk melawan Jepang sekaligus Sekutu. Sebab saat itu kondisi tentara di Indonesia
masih sangat minim. Sikap revolusioner dan jenius tersebut justru mendapat
kritikan dari kelompok muslim modernis yang dianggap sebagai bentuk kerjasama yang
bertentangan dengan ajaran Islam.
Padahal keteguhan membela agama dan akidah Islam
sangat tinggi. Salah satu kebijakan yang ditentang oleh nya yaitu tradisi
seikerei yaitu penghormatan kepada dewa matahari dengan membungkuk badan. Sikap
konsisten ini yang menyebabkan ia masuk penjara selama 5 bulan. Berkahnya, ia
malah bertambah sehat di penjara. Sang pendiri nahdlatul ulama ini mampu
menghatamkan al-qur’an, shoheh bukhari dan kitab hadist dari enam ulama hadist
yang dikenal dengan kutubusittah. Itu sebabnya ia mendapatkan gelar hadratusyeikh
karena mampu hapal al-qur’an dan enam kitab induk hadist.
Ternyata dari dulu nu sudah dikritik dan
dicaci maki oleh kaum modernis dengan anggapan miring. Tapi konsistensi tinggi perjuangan
untuk agama dan negara di tengah kritikan, hujatan dan caci maki yang sangat
tidak mencerminkan akhlak seorang muslim. Ia terus mempertahankan ajaran Islam
dengan tetap menjaga kecintaan terhadap bangsa dan negara menjadi semakin mengkristal
untuk melahirkan Indonesia merdeka. Terbukti, para pejuang Islam dari dulu tidak
pernah jauh dari para Masyayikh Nahdlatul Ulama hingga kemudian hari melahirkan
proklamasi kemerdekaan RI.
Setelah berpuluh-puluh tahun dari kisah
penjajahan tersebut di atas, kisah mulai terungkap sebuah kebenaran, yaitu melalui
cucu hadratusyeikh Hasyim Asy’ari yaitu Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Pada tahun
2010 Gus Dur melakukan dialog perdamaian dan peradaban dengan Daisaku Ikeda,
Presiden Kehormatan Soka Gakkai Tokyo Jepang. Ia mengatakan kepada Gus Dur”
Ayahanda Wahid, Kyai Hasyim Asy’ari telah meletakan agama dengan sangat tepat.
tugas utama agama yaitu menjunjung moralitas, mengentaskan kemiskinan dan
kebodohan. Pemikiran yang sangat jenius”.
Daisaku Ikeda juga mengatakan permintaan
maaf atas peristiwa penjajahan Jepang ke Indonesia pada masa lalu. Ia mengatakan
bahwa kebijakan pemerintah Jepang saat itu sebenarnya mendapatkan kritikan
tajam dari masyarakat Jepang sendiri. sebab bagi ajaran kami, perang dan
pembunuhan merupakan perbuatan yang sangat tidak bermoral, kejam dan menjauhkan
dari persaudaraan dan perdamaian.
Sikap penyesalan ini saya kira benar-benar
tulus. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat dan
penghargaan terhadap budaya bangsa jepang dan ajaran-ajaran agama yang tumbuh
disitu telah membentuk masyarakat jepang mempunyai sikap patriotisme yang
sangat hebat, pengorbanan yang besar dan keinginan untuk bisa berdamai dengan antara
bangsa di dunia sangat tinggi. Pasca perang dan hancurnya hirosima dan nagasaki
seolah-olah membuka mata masyarakat jepang bahwa apapun alasanya, penjajahan
selama nya tidak baik. Itu sebabnya, hingga kini jepang tidak mempunyai
keinginan untuk melakukan ekspansi kekuasaan dan penjajahan pola modern. Ia membangun
modernisasi bangsanya dengan tetap menjaga tradisi bangsa tetap terjaga dengan
sangat baik.
Salah satu tradisi yang terlihat dalam
kehidupan sehari-hari yaitu tradisi berjalan kaki dan membaca buku. Dua tradisi
memadukan modern dan tradisional. Dengan membaca buku wawasan semakin luas dan
intelektual semakin tinggi, maka peradaban semakin baik. Dengan berjalan kaki,
badan semakin sehat, umur semakin panjang dan polusi udara semakin berkurang. Jadi
modernisasi yang dikaitkan dengan kemajuan mekanik tidak serta merta menjadi
masalah polusi udara. Jika digunakan dengan tepat, maka antara modern dan
tradisional bisa berjalan beriringan. Contoh negara Jepang.
Tradisi berjalan kaki juga ada di negara Cina.
Mungkin dua-duanya akibat pengaruh ajaran agama budha yang cukup besar di kedua
negara tersebut. Ajaran budha ada istilah thudong yaitu ritual berjalan
kaki mengikuti tradisi pendiri agama budha. Saya tidak tahu tradisi jalan kaki masyarakat
Belanda. Mungkin karena alasan Kesehatan saja, atau memang sudah bosen dengan
menggunakan kendaraan honda atau mobil. Bangsa yang dulu katanya pernah
menjajah Indonesia selama 350 tahun ini mempunyai tradisi jalan kaki dan naik
sepeda. Dua tradisi yang sama-sama bisa menjaga kesehatan lebih baik.
Tapi kenapa kelihatannya masyarakat Indonesia
malah sangat keranjingan sekali naik mobil ya? Apakah karena ini bagian dari
ciri-ciri masyarakat sedang baligh? Bisa jadi. Masyarakat yang lagi pubertas
memang suka mencari identitas diri, ingin mendapat pengakuan diri, merasa
paling cantik, ganteng, paling hebat, paling cerdas, paling berjasa dan paling
berkuasa. Pendek kata “suka cari perhatian”. Caper. Hanya saja kelemahan dari
masa pubertas yaitu jiwa dan emosional nya belum stabil. Suka marah-marah tidak
menentu. Jika memang benar, pantas saja sebagian masyarakat Indonesia suka
bertindak sembrono. Bagaimana tidak sembrono, wong lagi efisiensi anggaran,
disuruh prihatin. Kalau bisa makan “gaplek” apa “oyek”, kok malah
makan minyak bensin sampai trillyunan rupiah. Apakah gaji nya masih kurang? Dasar
manusia puber, susah dinasehati!!!.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   810
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872