
Entah lupa, facebook siapa yang
menulis. Kalimatnya menarik: “Hidup seperti listrik, saat listrik menyala jarang
manusia bersyukur, saat listrik mati langsung dicaci maki”.
Kadang dalam kehidupan sehari-hari banyak
sekali orang yang peduli pada diri kita, baik melalui tulisan, kalimat singkat
dan juga ayat-ayat kitab suci dari manapun datangnya. Bahkan saat anda pergi ke
rumah sakit, kantor-kantor dan ke toko-toko selalu terselip mutiara kata yang
sangat bermanfaat. Ada sebagian orang yang menerima dengan senang hati, ada
juga menganggap semua sebagai angin lalu.
Nasehat sering tidak bermanfaat untuk orang
sehat dan orang-orang sedang mendapatkan kenikmatan. Ada manfaatnya, tapi
kelihatnnya kurang efektif. Bahkan Tuhan terkadang kurang bermanfaat kehadiran-Nya
saat dalam keadaan sukses dan kondisi karir pada saat berada di puncak. Sama seperti
anak-anak kecil, saat mereka disuruh untuk berhenti main game di android,
sangat susah sekali. mereka masih belum bisa berfikir tentang makna kehidupan.
Mereka melihat bahwa dunia seisinya dilihat hanya satu sisi, yaitu kebahagiaan.
Saat orang tua dalam keadaan susah, mereka pun tidak bisa mencerna dengan baik
makna kesusahan. Mereka mulai berfikir saat usia menjelang remaja dan dewasa. Mereka
mulai melihat arti sebuah kehidupan. sudah mulai merasakan hidup penuh dengan
warna dan senantiasa silih berganti. Tapi itu masih dalam tahap permulaan. Pondasi
belum kuat untuk melihat fakta kehidupan ini. Kecuali bagi mereka yang sejak
lahir sudah mengalami suatu penderitaan hidup, maka pandangan kehidupan sudah
terbentuk dengan kondisi yang demikian.
Pola hidup kita secara kuantitas memang
sudah cukup berumur. Ada yang sudah berusia 20 tahun, 30 tahun, dan 40 tahun ke
atas. Itu adalah statistik umur yang sudah dianggap mempunyai kematangan dalam menyikapi
kehidupan. banyak orang-orang ahli dalam membahas ilmu kematangan manusia.
cukup banyak para pakar telah memberikan pandangan melalui seminar, artikel dan
buku-buku ilmiah dengan sudut kajian yang beragam.
Kata orang hebat, salah satu bentuk kematangan
yaitu mulai terkikis sifat-sifat kekanak-kanakan. Bukan hilang, tapi terkikis. Seorang
istri yang tangguh atau suami yang tangguh selalu berkaitan dengan kemampuan
menghadapi dan menyelesaikan suatu tanggungjawab yang dibebankan kepadanya. Tapi
pada sisi tertentu, mereka juga membutuhkan kasih sayang dari pasangan
hidupnya. Mungkin itu terlihat sederhana seperti minum bareng, dibelai
rambutnya atau mengucapkan kata-kata yang sebenarnya sudah usang. Tapi saat itu
diucapkan lagi pada kondisi yang tepat, kata-kata atau kalimat yang dianggap
usang tadi menjadi energi yang sangat hebat untuk memperkuat diri akan
tanggungjawab yang mereka pikul dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia dewasa sebenarnya tidak pernah
menemukan kedewasaan. Hakikatnya memang demikian. Sebab ia tidak bisa
melepaskan diri dari sifat masa kecil nya dulu. Manusia selalu akan mengenang
masa lalu meskipun sudah memasuki usia senja. Ia akan tersenyum mengenang
keindahan masa itu dan akan selalu ingin mewujudkan kebahagiaan tersebut dalam
wujud-wujud yang baru.
Karena itu kedewasaan merupakan ramuan dari
beragam bahan-bahan pilihan hasil dari seleksi setiap manusia. Setiap ramuan
akan menghasilkan perbedaan aroma dan efeknya. Ada suatu keahlian-keahlian
berbeda-beda meraciknya, dan akan berbeda juga pengaruh di tengah-tengah
masyaakat. Itu sebabnya juga, kita tidak bisa mengambil suatu kesimpulan bahwa
setiap orang yang sudah cukup umurnya bisa langsung dikatakan sudah dewasa
dalam bersikap, berbicara dan berbuat.
Saya tidak tahu,siapa yang sebenarnya
manusia dewasa. Ilmu fiqh masih sangat standar, yaitu pada persoalan tamyis dan
ciri-ciri khusus pada perkembangan biologisnya. Ilmu tasawuf lebih dikembangkan
lagi, ia sudah matang dalam menata hatinya. Ilmu akhlak telah merambah pada dimensi
sosial. Tapi tasawuf dan akhlak sangat normatif dan tidak bisa diukur secara
pasti. Walhasil, produk manusia sejenisnya ini pun lagi-lagi berbeda-beda
penilaiannya. Menurutku baik, menurut mu kurang atau bahkan tidak baik. Menurut
kelompok ini sholeh, menurut kelompok itu salah.
Siapa yang dewasa saat ini. Pejabat negara?
Menteri? Gubernur? Bupati? Direktur BUMN? Rektor? Wakil Rektor? Dekan? Dosen? Mahasiswa?
LSM? Tiktoker? Facebooker? Para pengkritik?.
Semakin diperluas pembahasan maka akan
semakin bias mencari makna orang dewasa. Sebab pada kedewasaannya juga terselip
sifat ketidakdewasaannya. Jadi kadang saya sangat takut berkata: “berfikirlah
dewasa!”. Jangan-jangan saat ngomong seperti itu saya sedang seperti anak-anak.
Mungkin yang sudah benar-benar dewasa hanya
Abu Nawas dalam cerita 1001 malam. Sebab hanya dia yang mampu menyadarkan para
pengkritik istrinya yang mengejek istri nya yang katanya jelek, hidung besar,
bibir lebar, kulit hitam, rambut kriting, besar, pendek, cerewet. Semua kejelekan
ditimpakan kepada istri Abu Nawas. Seolah-olah tidak ada kebaikan di mata
sahabat-sahabat nya.
Abu Nawas dengan tenang, tersenyum dan
berkata: “ Memang istri kalian cantik, putih, mancung, langsing. Sedangkan istriku
jelek dan hitam, tapi saya kira putih dan hitam tetap rasa nya sama!”.
Semua kaget mendengar jawaban Abu Nawas. Semua
saling berpandangan,ngangguk-nangguk dan membenarkan jawabannya.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2942
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872