Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidr



Kamis , 08 Mei 2025



Telah dibaca :  566

Malam ini saya menemani orang-orang hebat. kami berkumpul di Rumah Makan New Normal. Ada Prof Munzir Hitami, Dr. Chanif, Dr. Rian, Dr. Dicky,Dr. Haris dan Dr. Jarir. Sebenarnya saya ingin istirahat. Namun mas jarir mengajak ku untuk bertemu dengan prof munzir. Dulu ia pernah menjadi dosen ku saat program doktor. Lupa mata kuliahnya. Sekarang gantian dia yang lupa sama nama ku. Berarti 0-0. Sama-sama lupa.

Karena kebetulan berada di Rumah Makan New Normal, kami berusaha ngobrol yang normal-normal saja. Prof Munzir bercerita tentang komunitas Sepeda Ontel yang konon anggota nya sudah sekitar 300 orang di pekanbaru. Saya sedikit ngledek sambil bergurau: “Jumlah 300 orang belum cukup nyalon jadi anggota dewan, apalagi gubernur prof?”. Semua tertawa mendengar gurauan ku. terlihat tertawa nya sangat ikhlas.

Mas Rian yang berbadan bongsor, yang kacamatanya mirip milik nya Gus Dur banyak sekali ngomong. Kadang bicara perkuliahan, penelitian dan film-film China. Ternyata ia punya kesukaan nonton film. Terutama jika istrinya lagi ngambek, Ia nonton film sebagai pelariannya.”Orang yang paling saya takuti di dunia ketika istri ngambek” katanya. Kami pun tertawa lagi. Entah apa artinya. mungkin karena ada kesamaan nasib. Sama-sama takut istri.

Mas Jarir malam ini terlihat letih. Ia hanya sedikit ngobrol tentang dunia sufi. Dia mulai uzlah dari keramaian manusia. itu sebabnya, ia membuat padepokan di tengah hutan karet sebagai tempat meditasi. Namun sering gagal. Saat sedang menyatukan pikiran dengan alam semesta, tiba-tiba monyet-monyet bermain di ranting-ranting pohon karet dan di atap rumah yang terbuat dari seng.

Saya kebagian cerita Nabi Musa dan Nabi Khidr. Itu gara-gara pesanan makanan ku tidak datang-datang. Yang lain sudah dapat lauk, saya malah belum dapat. Saya emosi kepada pelayan rumah makan. Saya pun diledek sama Dr. Rian: “Mas Imam ternyata menerapkan ilmu nya Nabi Musa”. Ma’lum, muncul Nabi Musa karena tidak sabar terhadap perilaku Nabi Khidir yang menguji ketajaman mata batin nabi musa dengan segala fenomena kehidupan di alam nyata.

Jika kita meminjam istilah “basyarun mislukum” pada tataran sebagai manusia, kadang kita juga mempunyai sifat ketidaksabaran terhadap apa yang kita inginkan. Saat kita menginginkan suatu cita-cita dan cita-cita tersebut dianggap oleh kita sebagai sesuatu yang menunjukan prestise dan prestasi, sering muncul pola perilaku yang ingin memotong kompas agar segera mengetahui hasil akhir dari seluruh proses. Padahal kita sebenarnya sudah tahu bahwa proses sedang berlangsung seperti proses buah di pepohonan. Ia hadir dari bunga, lalu berubah menjadi pentil atau buah yang masih sangat kecil, bertambah besar, besar dan berubah matang. Itu adalah proses manzilah sunatullah dari kematangan buah di pohon.


Kita mungkin bisa memotong kompas. Tidak mau secara alamiah. Bisa saja belum saatnya matang, kita ambil dari pohon nya dan kita simpan di suatu tempat dengan diberi “karbit”, maka beberapa waktu kemudian buah tersebut matang. Tentu saja kematangan buah tersebut tidak sama dengan buah yang matang secara natural. Ada rasa yang berbeda. Buah yang matang secara natural terasa lebih nikmat dan menyehatkan orang-orang yang memakannya.

Itulah sebagian manusia. bisa jadi sebagian besar manusia seperti itu. Manusia memang mempunyai sifat tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu. Ingin cepat hasilnya, dan ingin cepat menikmati dari pohon-pohon yang telah ditanam. Padahal, pohon-pohon yang ditanam jelas-jelas belum tumbuh dengan sempurna. Dan kita sering mempertanyakan hasilnya. Itulah sebagian manusia ada yang seperti itu. Seperti anak-anak saat di bulan ramadhan. Ia sudah tahu bahwa jam 15.00 itu belum boleh berbuka, tapi lucunya ia masih terus bertanya: “Masih lama lagi berbuka puasanya?”.

Disisi lain, ada juga sifat basyarun mislukum pada sifat-sifat yang positif pada situasi batiniahnya. Tenang, penyabar, dan mengetahui  arti suatu suatu proses, serta memahami arti hikmah dari kejadian pada proses tersebut. Kemapanan pada level ini telah membentuk manusia yang hatinya bagai lautan. Jembar segarane, luas lautnya. Maksudnya luas ilmu tawakalnya. Kenapa demikian. Sebab ia sadar bahwa suatu proses tidak selama berjalan dengan normal. Kadang normal di awal perjalanan, tapi eror di tengah perjalanan. Kadang terseok-seok di permulaan, tapi mendapatkan kenikmatan di outputnya. Happy end. Ada juga yang dari permulaan sampai pada penutupnya, semua nya terlihat gelap. Seolah-olah nasib baik tidak berpihak kepada kita.


Bagi orang-orang yang sudah memahami tentang arti tawakal, maka keberhasilan tidak diletakan pada kesukesan mendapatkan cita-cita yang diinginkan. Keberhasilan sejati sebenarnya kemampuan meletakan hati bahwa semua yang terjadi ada hikmah kebaikan. Apapun bentuknya. Sehingga ia hidup terlihat santai saja. Bagaimana tidak santai. Saat gagal ia bersabar oleh Allah dicatat sebagai ahli surga. Saat ia berhasil mewujudkan cita-cita dan ia bersyukur kepada Allah juga mendapatkan hadiah surga. Semua orang yang mengenal hakikat kehidupan menjadi terlihat baik sekali. Sebab semua perjalanan kehidupan pasti ada hikmah kebaikan di dalam nya. tapi kita sering tidak menyadari dan tidak menemukan hikmah kebaikan tersebut. dan kita berharap menjadi demikian. Berat, tetapi bukan berarti tidak mungkin untuk mendapatkan nya. Bukan kah demikian?



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872