
Malam ini saya menemani orang-orang hebat. kami
berkumpul di Rumah Makan New Normal. Ada Prof Munzir Hitami, Dr. Chanif, Dr.
Rian, Dr. Dicky,Dr. Haris dan Dr. Jarir. Sebenarnya saya ingin istirahat. Namun
mas jarir mengajak ku untuk bertemu dengan prof munzir. Dulu ia pernah menjadi
dosen ku saat program doktor. Lupa mata kuliahnya. Sekarang gantian dia yang
lupa sama nama ku. Berarti 0-0. Sama-sama lupa.
Karena kebetulan berada di Rumah Makan New
Normal, kami berusaha ngobrol yang normal-normal saja. Prof Munzir bercerita
tentang komunitas Sepeda Ontel yang konon anggota nya sudah sekitar 300 orang
di pekanbaru. Saya sedikit ngledek sambil bergurau: “Jumlah 300 orang belum
cukup nyalon jadi anggota dewan, apalagi gubernur prof?”. Semua tertawa
mendengar gurauan ku. terlihat tertawa nya sangat ikhlas.
Mas Rian yang berbadan bongsor, yang
kacamatanya mirip milik nya Gus Dur banyak sekali ngomong. Kadang bicara perkuliahan,
penelitian dan film-film China. Ternyata ia punya kesukaan nonton film. Terutama
jika istrinya lagi ngambek, Ia nonton film sebagai pelariannya.”Orang yang
paling saya takuti di dunia ketika istri ngambek” katanya. Kami pun tertawa
lagi. Entah apa artinya. mungkin karena ada kesamaan nasib. Sama-sama takut
istri.
Mas Jarir malam ini terlihat letih. Ia hanya
sedikit ngobrol tentang dunia sufi. Dia mulai uzlah dari keramaian manusia. itu
sebabnya, ia membuat padepokan di tengah hutan karet sebagai tempat meditasi. Namun
sering gagal. Saat sedang menyatukan pikiran dengan alam semesta, tiba-tiba
monyet-monyet bermain di ranting-ranting pohon karet dan di atap rumah yang
terbuat dari seng.
Saya kebagian cerita Nabi Musa dan Nabi
Khidr. Itu gara-gara pesanan makanan ku tidak datang-datang. Yang lain sudah
dapat lauk, saya malah belum dapat. Saya emosi kepada pelayan rumah makan. Saya
pun diledek sama Dr. Rian: “Mas Imam ternyata menerapkan ilmu nya Nabi Musa”. Ma’lum,
muncul Nabi Musa karena tidak sabar terhadap perilaku Nabi Khidir yang menguji
ketajaman mata batin nabi musa dengan segala fenomena kehidupan di alam nyata.
Jika kita meminjam istilah “basyarun mislukum” pada tataran sebagai manusia, kadang kita juga mempunyai sifat ketidaksabaran terhadap apa yang kita inginkan. Saat kita menginginkan suatu cita-cita dan cita-cita tersebut dianggap oleh kita sebagai sesuatu yang menunjukan prestise dan prestasi, sering muncul pola perilaku yang ingin memotong kompas agar segera mengetahui hasil akhir dari seluruh proses. Padahal kita sebenarnya sudah tahu bahwa proses sedang berlangsung seperti proses buah di pepohonan. Ia hadir dari bunga, lalu berubah menjadi pentil atau buah yang masih sangat kecil, bertambah besar, besar dan berubah matang. Itu adalah proses manzilah sunatullah dari kematangan buah di pohon.

Kita mungkin bisa memotong kompas. Tidak mau
secara alamiah. Bisa saja belum saatnya matang, kita ambil dari pohon nya dan
kita simpan di suatu tempat dengan diberi “karbit”, maka beberapa waktu
kemudian buah tersebut matang. Tentu saja kematangan buah tersebut tidak sama
dengan buah yang matang secara natural. Ada rasa yang berbeda. Buah yang matang
secara natural terasa lebih nikmat dan menyehatkan orang-orang yang memakannya.
Itulah sebagian manusia. bisa jadi sebagian
besar manusia seperti itu. Manusia memang mempunyai sifat tergesa-gesa dalam
melakukan sesuatu. Ingin cepat hasilnya, dan ingin cepat menikmati dari
pohon-pohon yang telah ditanam. Padahal, pohon-pohon yang ditanam jelas-jelas
belum tumbuh dengan sempurna. Dan kita sering mempertanyakan hasilnya. Itulah sebagian
manusia ada yang seperti itu. Seperti anak-anak saat di bulan ramadhan. Ia sudah
tahu bahwa jam 15.00 itu belum boleh berbuka, tapi lucunya ia masih terus
bertanya: “Masih lama lagi berbuka puasanya?”.
Disisi lain, ada juga sifat basyarun mislukum pada sifat-sifat yang positif pada situasi batiniahnya. Tenang, penyabar, dan mengetahui arti suatu suatu proses, serta memahami arti hikmah dari kejadian pada proses tersebut. Kemapanan pada level ini telah membentuk manusia yang hatinya bagai lautan. Jembar segarane, luas lautnya. Maksudnya luas ilmu tawakalnya. Kenapa demikian. Sebab ia sadar bahwa suatu proses tidak selama berjalan dengan normal. Kadang normal di awal perjalanan, tapi eror di tengah perjalanan. Kadang terseok-seok di permulaan, tapi mendapatkan kenikmatan di outputnya. Happy end. Ada juga yang dari permulaan sampai pada penutupnya, semua nya terlihat gelap. Seolah-olah nasib baik tidak berpihak kepada kita.

Penulis : Vijianfaiz,PhD
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872