
“Apapun jabatan dan kedudukann pada hakikatnya mempunyai standar kenikmatan sama. Kualitas nkmatnya semakin tinggi saat semua kenikmatan tersebut mempunyai niat ibadah”.
Ada tiga siswa satu almamater di
SLTA . Mereka kebetulan bertemu di satu acara reuni alumni. Ketiganya terlihat bahagia.
Mereka telah diterima di Perguruan Tinggi bergensi di Luar Negeri. Ada seorang
wartawan datang melakukan wawancara terhadap ketiga siswa yang baru saja
diterima menjadi mahasiswa. Cukup banyak pertanyaannya. Namun ada satu
pertanyaan yang menarik untuk diabadikan di tulisan ini. Berikut pertanyaannya:
Wartawan : “Anda sangat hebat bisa
diterima di perguruan tinggi bergensi. Apa yang menyebabkan anda bisa sehebat
ini?”
Mahasiswa pertama menjawab: “ Saya mempunyai
orang tua sangat inspiratif. Ia disiplin, sangat keras terhadap aturan, setiap
hari saya selalu dibimbing sehingga anda bisa melihat hasilnya. Saya diterima
di Perguruan Tinggi bergengsi di Planet Dunia”.
Mahasiswa kedua menjawab: “ Orang yang
berjasa besar mengantarkan saya sukses adalah guruku. Orang tua ku buta huruf.
Mereka meninggal saat saya masih kecil. Untung ada guru kampung yang selalu
memberi motivasi untuk terus belajar. Berkah bimbingannya, saya mencapai sukses
sekarang ini”.
Mahasiswa ketiga menjawab: “ Semua
prestasi ku tidak lain adalah anugerah dari Allah kepada ku. Allah telah
memberikan kepada ku orang tua dan guru-guru yang hebat. atas wasilah mereka
saya bisa menjadi orang sukses seperti sekarang ini”.
Kisah di atas adalah sepenggal kisah sukses
siswa yang telah diterima menjadi mahasiswa di perguruan tinggi bergensi di
luar negeri. Tidak ada yang salah dalam percakapan tersebut. Apa yang mereka
katakan memang realita mereka dalam mengartikan sebuah kesuksesan dan
orang-orang yang berjasa kepada mereka.
Sejenak penulis mengajak kepada pembaca
untuk merenungi ayat
Ada tafsir menarik dari M. Qurais Shihab
mengartikan arti ayat tersebut sebagai berikut: pertama, ucapan dan kalimat
merupakan wujud dari firman Allah SWT secara langsung; kedua, Nabi Muhammad
telah mengabadikan kalimat tersebut ketika bersama dengan Abu Bakar di Gua Tsur
” Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Ketiga, Allah telah
mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa mengucapkan kalimat tersebut
Definisi-definisi tersebut memberikan suatu
pelajaran berharga kepada setiap manusia yang beriman bahwa segala aktivitas
sebenarnya perwujudan dari pertolongan Allah SWT. Meskipun dalam kehidupan
sehari-hari, banyak campur tangan orang yang telah membantu posisinya mencapai
puncak karir dalam berbagai jabatan. Bisa jadi orang tua, guru, relasi, teman
dekat, orang-orang yang berpengaruh bahkan kecerdasan kita sendiri adalah
bagian dari pertolongan Allah SWT. Pemahaman tersebut sebenarnya wujud dari
kesadaran orang-orang yang beriman atas segala apa di dunia ini sebenarnya
berasal dari allah dan akan Kembali kepada-nya. Kesadaran tersebut perlu
direalisasikan dalam bentuk ucapan, cara berfikir, sikap dan perbuatan.
Tentu saja kita tidak harus terburu-buru
menyalahkan orang yang mengatakan apa ada nya sesuatu yang salah. Seperti kisah
para mahasiswa di atas yang mengatakan bahwa orang-orang yang berjasa atas
prestasinya adalah orang tua nya dan guru-gurunya. Seperti ada seorang pasien
setelah berobat ke berbagai dokter belum sembuh-sembuh juga, lalu ia berobat ke
dokter si-A, dan sembuh. Atau seseorang sakit kepala lalu minum bodrek dan
sembuh. Contoh tersebut tidak serta-merta dianggap sebagai perilaku yang telah
melupakan allah dan dianggap sebagai perilaku syirik.
Kita memang harus belajar memisahkan
perilaku keyakinan dan perilaku jasmaniah. Ada seorang pasien minum obat lalu
ia mengucapkan “bismillahirahmanirrahim”, lalu ia sembuh dari sakit dan
ia berkata “alhamdulillah saya sembuh berkat minum bodrek”, berarti ia menyakini
yang menyembuhkan Allah, meskipun ia menggunakan wasilah”bodrek”. Ucapan “basmalah” dan “hamdalah”
sebenarnya sudah ada pengakuan ayat “hanya kepada Mu kami menyembah dan
kepada Mu kami memohon pertolongan”. Jadi, bodrek sebenarnya bagian dari
ayat-ayat yang tidak tertulis dalam Al-Qur’an dan dijadikan wasilah kesembuhan
sakit kepala. Dan sembuh.
Kenapa bodrek menjadi wasilah dan penting
disebutkan? Sebab manusia itu makhluk sosial. Kita tidak boleh meninggalkan
hukum dunia yang terikat sangat kuat antara sesama manusia. Tuhan juga
meletakan hukum-hukum nya dalam kehidupan sosial. Ketika manusia mengucapkan”Kepada
Mu kami memohon pertolongan”, maka Allah menurunkan manusia-manusia dan
benda-benda yang ada disekitarnya untuk memenuhi kebutuhan atas doa nya. Jadi,
semua yang ada di dunia ini sebenarnya tunduk terhadap syariat akbar Allah,
termasuk jagat raya yang berjalan pada “manzilah-manzilah” nya. Itu sebabnya
bahasa antara sesama manusia itu penting untuk menjalin keharmonisan kehidupan.
Mereka juga terikat untuk saling menolong dan kemudian mengucapkan terima
kasih. Justru ketika kita tidak mau menolong sesama manusia Allah sangat marah
bahkan dianggap sebagai pendusta agama.
Dari paparan di atas, ucapan ketiga
mahasiswa tersebut merupakan ekspresi kebahagiaan kepada siapapun yang telah
berjasa kepada mereka. Kebahagiaan dengan bentuk ucapan merupakan bagian dari syukur
kepada Allah dan perwujudan moralitas yang agung kepada orang tua dan guru-guru
nya. Tidak salah jika mereka menyebut nama orang tua dan guru-guru nya atas
perjuangan nya mengantarkan prestasi anak-anak nya dan anak-anak didiknya.
Penulis : Imam Ghozali
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872