Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kisah Tiga Mahasiswa saat Reuni Alumni



Sabtu , 11 Januari 2025



Telah dibaca :  557

“Apapun jabatan dan kedudukann pada hakikatnya mempunyai standar kenikmatan sama. Kualitas nkmatnya semakin tinggi saat semua kenikmatan tersebut mempunyai niat  ibadah”.

Ada tiga siswa satu almamater di SLTA . Mereka kebetulan bertemu di satu acara reuni alumni. Ketiganya terlihat bahagia. Mereka telah diterima di Perguruan Tinggi bergensi di Luar Negeri. Ada seorang wartawan datang melakukan wawancara terhadap ketiga siswa yang baru saja diterima menjadi mahasiswa. Cukup banyak pertanyaannya. Namun ada satu pertanyaan yang menarik untuk diabadikan di tulisan ini. Berikut pertanyaannya:

Wartawan : “Anda sangat hebat bisa diterima di perguruan tinggi bergensi. Apa yang menyebabkan anda bisa sehebat ini?”

Mahasiswa pertama menjawab: “ Saya mempunyai orang tua sangat inspiratif. Ia disiplin, sangat keras terhadap aturan, setiap hari saya selalu dibimbing sehingga anda bisa melihat hasilnya. Saya diterima di Perguruan Tinggi bergengsi di Planet Dunia”.

Mahasiswa kedua menjawab: “ Orang yang berjasa besar mengantarkan saya sukses adalah guruku. Orang tua ku buta huruf. Mereka meninggal saat saya masih kecil. Untung ada guru kampung yang selalu memberi motivasi untuk terus belajar. Berkah bimbingannya, saya mencapai sukses sekarang ini”.

Mahasiswa ketiga menjawab: “ Semua prestasi ku tidak lain adalah anugerah dari Allah kepada ku. Allah telah memberikan kepada ku orang tua dan guru-guru yang hebat. atas wasilah mereka saya bisa menjadi orang sukses seperti sekarang ini”.

Kisah di atas adalah sepenggal kisah sukses siswa yang telah diterima menjadi mahasiswa di perguruan tinggi bergensi di luar negeri. Tidak ada yang salah dalam percakapan tersebut. Apa yang mereka katakan memang realita mereka dalam mengartikan sebuah kesuksesan dan orang-orang yang berjasa kepada mereka.

Sejenak penulis mengajak kepada pembaca untuk merenungi ayat (https://quran.nu.or.id/, n.d.) berikut ini: :ِايَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِين “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan”. Ayat tersebut menunjukan pengakuan secara totalitas tentang sesembahan dan pertolongan. Kita menyembah hanya kepada Allah dan meminta pertolongan hanya kepada-Nya. Prof Wahbah Az-Zuhaili memaknai sebagai “ketaatan” dan “ketundukan” yang khusus hanya kepada Allah SWT. Sebab sumber kekuatan yang bisa menolong manusia hakikatnya hanya ada pada diri-Nya. Selain Allah hakikatnya tidak ada yang bisa membantu kecuali atas kehendak-Nya (Az-Zuhaili, 2013). Muhammad bin Abdullah bin Syadzan mengatakan bahwa ketika seseorang telah mengakui kalimat tersebut secara setulus hati, maka orang tersebut telah terbebas dari paham qadariyah dan jabariyah (Qurthubi, 2015).

Ada tafsir menarik dari M. Qurais Shihab mengartikan arti ayat tersebut sebagai berikut: pertama, ucapan dan kalimat merupakan wujud dari firman Allah SWT secara langsung; kedua, Nabi Muhammad telah mengabadikan kalimat tersebut ketika bersama dengan Abu Bakar di Gua Tsur ” Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Ketiga, Allah telah mengajarkan kepada manusia untuk senantiasa mengucapkan kalimat tersebut (Sihab, 2005). Prof Hamka memberi penjelaskan kalimat tersebut merupakan wujud penguatan total pertolongan Allah kepada manusia. Sebagai orang yang beriman seorang muslim tidak lepas menjalin hubungan sesama manusia. meskipun demikian pertolongan tersebut sebenarnya tetap bersandar karena Allah SWT (Hamka, t.t).

Definisi-definisi tersebut memberikan suatu pelajaran berharga kepada setiap manusia yang beriman bahwa segala aktivitas sebenarnya perwujudan dari pertolongan Allah SWT. Meskipun dalam kehidupan sehari-hari, banyak campur tangan orang yang telah membantu posisinya mencapai puncak karir dalam berbagai jabatan. Bisa jadi orang tua, guru, relasi, teman dekat, orang-orang yang berpengaruh bahkan kecerdasan kita sendiri adalah bagian dari pertolongan Allah SWT. Pemahaman tersebut sebenarnya wujud dari kesadaran orang-orang yang beriman atas segala apa di dunia ini sebenarnya berasal dari allah dan akan Kembali kepada-nya. Kesadaran tersebut perlu direalisasikan dalam bentuk ucapan, cara berfikir, sikap dan perbuatan.

Tentu saja kita tidak harus terburu-buru menyalahkan orang yang mengatakan apa ada nya sesuatu yang salah. Seperti kisah para mahasiswa di atas yang mengatakan bahwa orang-orang yang berjasa atas prestasinya adalah orang tua nya dan guru-gurunya. Seperti ada seorang pasien setelah berobat ke berbagai dokter belum sembuh-sembuh juga, lalu ia berobat ke dokter si-A, dan sembuh. Atau seseorang sakit kepala lalu minum bodrek dan sembuh. Contoh tersebut tidak serta-merta dianggap sebagai perilaku yang telah melupakan allah dan dianggap sebagai perilaku syirik.

Kita memang harus belajar memisahkan perilaku keyakinan dan perilaku jasmaniah. Ada seorang pasien minum obat lalu ia mengucapkan “bismillahirahmanirrahim”, lalu ia sembuh dari sakit dan ia berkata “alhamdulillah saya sembuh berkat minum bodrek”, berarti ia menyakini yang menyembuhkan Allah, meskipun ia menggunakan wasilah”bodrek”.  Ucapan “basmalah” dan “hamdalah” sebenarnya sudah ada pengakuan ayat “hanya kepada Mu kami menyembah dan kepada Mu kami memohon pertolongan”. Jadi, bodrek sebenarnya bagian dari ayat-ayat yang tidak tertulis dalam Al-Qur’an dan dijadikan wasilah kesembuhan sakit kepala. Dan sembuh.

Kenapa bodrek menjadi wasilah dan penting disebutkan? Sebab manusia itu makhluk sosial. Kita tidak boleh meninggalkan hukum dunia yang terikat sangat kuat antara sesama manusia. Tuhan juga meletakan hukum-hukum nya dalam kehidupan sosial. Ketika manusia mengucapkan”Kepada Mu kami memohon pertolongan”, maka Allah menurunkan manusia-manusia dan benda-benda yang ada disekitarnya untuk memenuhi kebutuhan atas doa nya. Jadi, semua yang ada di dunia ini sebenarnya tunduk terhadap syariat akbar Allah, termasuk jagat raya yang berjalan pada “manzilah-manzilah” nya. Itu sebabnya bahasa antara sesama manusia itu penting untuk menjalin keharmonisan kehidupan. Mereka juga terikat untuk saling menolong dan kemudian mengucapkan terima kasih. Justru ketika kita tidak mau menolong sesama manusia Allah sangat marah bahkan dianggap sebagai pendusta agama.

Dari paparan di atas, ucapan ketiga mahasiswa tersebut merupakan ekspresi kebahagiaan kepada siapapun yang telah berjasa kepada mereka. Kebahagiaan dengan bentuk ucapan merupakan bagian dari syukur kepada Allah dan perwujudan moralitas yang agung kepada orang tua dan guru-guru nya. Tidak salah jika mereka menyebut nama orang tua dan guru-guru nya atas perjuangan nya mengantarkan prestasi anak-anak nya dan anak-anak didiknya.

Ketika ada siswa nya langsung mengucapkan terima kasih kepada Allah merupakan implementasi kebenaran tauhid bahwa apa yang terjadi di dunia ini berasal dari Allah SWT. Idealnya ucapan tersebut juga tidak boleh melupakan orang tua dan guru-gurunya. Semakin memahami tauhid dengan baik, idealnya semakin baik juga moralitasnya kepada orang tua dan guru-gurunya. Wallahu a’lam



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872