Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kisah Toga dan Ibu Tua



Sabtu , 23 September 2023



Telah dibaca :  1031

Hari ini (25/09/2023) ada jadwal undangan wisuda di STAIN Bengkalis. Saya tidak ingin terlambat. Undangan jam 07.30. Alhamdulillah sebelum jam tersebut sudah berada di lokasi. Meskipun demikian, lokasi sekitar Gedung Wisuda mulai penuh. Para Tamu Undangan sudah mulai memadati Pelataran Gedung. Terutama orang tua dan para wisudawan yang datang dari berbagai Kabupaten. Mereka bahagia.meskipun dengan penampilan seadanya. Sebagian kaum bapak, wajahnya sudah mulai keriput, alis sudah mulai memutih dan warna baju batik sudah mulai memudar. Ibu –ibu nya juga demikian. Jilbab dan baju seperti seragam Majelis Ta’lim. Bedaknya masih model lama. Mungkin kalau tak salah merk VIVA zaman dulu. Warna kuning langsat dan natural.Tidak berkilau dan menyerap Cahaya Matahari. Berbeda dengan anak-anak gadisnya yang mau wisuda. Wajahnya bersinar. Glowing. Cantik. Sangat sulit membedakan mana anak para pejabat atau masyarakat biasa pada umum nya.


Ada juga seorang ibu yang sudah lanjut usia. Sekitar berumur 60-an tahun. Dia seorang diri. Kelihatanya sudah terlalu letih membawa badan yang cukup besar. Seperti ada gangguan pernafasan. Duduk sambil terus memandang sekitarnya. Mungkin mencari anak nya yang sejak tadi belum ketemu. Bisa jadi dia tidak membawa telpon. Tangan kanan terus mengipas-ngipas badannya. Terlalu banyak manusia menumpuk menjadi satu menyebabkan udara jadi panas. Demi anak, dia rela menunggu sampai acara prosesi wisuda selesai.

Sebagian wisudawan kadang kurang mempertimbangan kondisi orang tuanya yang terkadang sudah sangat udzur. Orang tua nya pun demikian. Mereka beranggapan bahwa wisuda adalah deretan kebahagian ketiga setelah hari kelahiran anaknya dan di terima di Perguruan Tinggi. Kebahagiaan selanjutnya yaitu diterima bekerja di salah satu instansi, menikah dan punya cucu. Maka kondisi yang kadang tidak memungkinkan pun jadi mungkin. Kurang sehat menjadi sehat. Anak dan orang tua menumpahkan segala emosional kebagiaan di acara puncak dari proses pendidikan.

Wajar saja jika ada seorang mahasiswa memberi kata sambutan mewakili teman-teman nya terkadang terbawa oleh situasi emosional batiniah yang mendalam. Dia harus menumpahkan segala perasaan di Podium atas perjuangan para dosennya, terutama adalah perjuangan orang tuanya. Penghayatan yang mendalam ini, terkadang tidak bisa menahan tetesan air mata. Bagi mahasiswa yang mempunyai kesamaan frekwensi, bisa jadi ikut menangis. Tapi bagi mereka yang kurang sinyal nya, dan tidak terbiasa pada hal-hal yang model-model begitu, malah akan tertawa dan kadang bergaya ikut-ikutan menangis. Padahal cuma dramatisasi belaka.

Berbeda Perguruan Tinggi kadang berbeda sambutan. Penulis artikel ini beberapa waktu lalu melihat Video tentang sambutan perwakilan dari mahasiswa. entah dari perguruan tinggi mana, saya tidak ngecek. Dia wisudawati, wajahnya cantik. Cocok kalau jadi aktivis gender pembela kaum perempuan. Kalimat yang masih saya ingat kurang lebih begini,”Sehebat-hebat Rektor di Kampus,  disegani oleh para dosen, di segani oleh mahasiswa, disegani oleh masyarakat, tapi percayalah ketika Sang Rektor di Rumah, pasti tunduk sama istri nya”.

Saya tertawa mendengarnya. Entah darimana mahasiswi ini mendapatkan sanad keshohehan penelitian ini. Tapi kelihatanya Sang Rektor dan para dosen di ruangan tersebut tertawa menikmati ucapanya. Bisa jadi tertawa karena penderitaan terlalu panjang, sehingga sudah tidak merasakan lagi sebuah penderitaan. Kadang memang, garangnya seorang istri membuat seorang suami tampil lebih bijak dalam memutuskan perkara.


Kembali lagi pada persoalan wisuda. Mahasiswa menilai acara ini adalah puncak kebahagiaan. Ini adalah prestasi tertinggi selama 4 tahun (kadang lebih) untuk mendapatkan status gelar kesarjanaan dan keabsahan penambahan gelar di belakang namanya. Mereka akan merayakan dan mengabadikan di berbagai Media Sosial dan Studio Foto. Beberapa hari berikutnya, Dinding Rumah bertambah lagi koleksi fotonya; Foto Wisuda.

Selama beberapa waktu, mereka masih menikmati keindahan acara tersebut. keluarga, saudara, sahabat dekatnya dan teman-teman lain silih-berganti mengucapkan ucapan selamat atas keberhasilan menyelesaikan pendidikan. Namun beberapa bulan kemudian akan terasa ada sesuatu “ruang kosong” pada dirinya, yaitu pertama pekerjaan dan kedua adalah jodoh. Keduanya akan terus membayanginya. Sehingga akan sampai pada suatu titik bahwa gelar yang mereka dapat akan menjadi suatu beban. Sebab paradigma berfikir masyarakat (sebagian) bahwa Perguruan Tinggi adalah sarana mudah untuk mendapatkan pekerjaan. Bukan sebagai jalan untuk melakukan pendewasaan diri. Akibatnya muncul stigma negatif dengan kalimat yang sering didengar antara lain,”Buat apa kuliah tinggi-tinggi jika tidak bisa bekerja”.

Fenomena apa yang sering disebut “pengangguran intelektual” sebenarnya sudah terjadi dan sudah mewabah di hampir seluruh dunia saat sekarang ini di negara-negara besar. Pada tahun 2022 pengangguran di Tiongkok sebesar 20,8%. Mereka di usia kisaran 16-24 tahun. Ini angka produktif dan bagian dari kelompok intelektual lulusan dari Perguruan Tinggi. Di Eropa pada tahun 2008, pengangguran sudah mencapai 17,2%. Usia 15-24 tahun. Jadi, fenomena yang sudah mahfum terjadi di setiap negara. Satu sisi kemajuan pendidikan menunjukan semakin baik IPM negara, disisi lain yaitu ancaman terhadap persoalan daya serap tenaga kerja yang kurang memadai.


Persoalan ini sebenarnya sudah menjadi menu sehari-hari di negara maju dan mulai terasa di Negara Indonesia. Bagi negara maju, persoalan yang menjadi ancaman yaitu melimpah SDM, tapi terbatas SDA. Efeknya di masa depan terjadi penurunan ekonomi. Disisi lain, Indonesia masih mempunyai SDA melimpah, tapi belum maksimal SDM nya. Maka bonus demografi yang sering dikatakan oleh pemerintah adalah bonus kualitas SDM di masa datang. Indonesia akan mencapai masa keemasan.

Ini sudah dimulai. Beberapa waktu lalu saya bertemu teman-teman dari Papua dan Ambon. Mereka menceritakan tentang trend anak-anak muda bekerja di berbagai perusahaan dampak program hilirisasi yang dicanangkan oleh pemerintah. Masyarakat tempatan sudah bisa bekerja di perusahaan milik asing. Di Tanjung Balai, ada perusahaan milik asing. Pekerjanya sekitar 6000-an karyawan. 90% dari tanjung balai dan daerah sekitarnya. Ketika saya tanya berapa uang gajinya. Cukup lumayan, sekitar 5 jt per bulan. Semakin banyak perusahaan, Semakin banyak menyerap tenaga. Meskipun terkadang ada bebagai persoalan klasik tentang agraria yang harus diselesaikan dengan arif dan bijaksana.

Apakah pendidikan hanya orientasi untuk menjadikan mereka sebagai pekerja? Lalu beranggapan bahwa ketika tidak terserap dalam dunia pekerjaan,seolah-olah pendidikan tidak berguna bagi pembangunan bangsa?

Terlepas pendapat para pakar ekonomi tentang ukuran-ukuran kesejahteraan, ada yang mereka lupakan, yaitu kecerdasan spiritual. Jika pendidikan sebagai instrument untuk membuka kerangka berfikir bagi masa depan, maka masa depan manusia bukan sebatas pada hitungan satu tambah satu sama dengan dua. Biaya pendidikan bukan investasi untuk mendapatkan keuntungan berlipat ganda pada tataran nominal, tapi juga kepuasan spiritual. Hal ini karena dasar persoalan rizki adalah persoalan sang pembuat kebijakan tertinggi yaitu Allah SWT. Agama telah menjelaskan secara gamblang bahwa rezeki, jodoh, hidup dan mati adalah dalam ketentuan Allah SWT. Manusia sebatas merencanakan, Tuhan yang menentukan.

Kita boleh mempelajari teori-teori ekonomi rasionalisme mereka. Tapi Islam telah mengajarkan tentang rasionalisme terbatas, yaitu dibatasi oleh wahyu Tuhan. Maka yang terpenting dalam membangun dan menyiapkan mahasiswa di masa mendatang bukan sebatas pada teori-teori skill dan keahlian semata, tapi jauh yang terpenting yaitu membangun kesadaran spiritual sehingga semakin menyadari konsep hidup “Darimana kita berasal dari akan kemana kita kembali”. Cara berfikir yang melahirkan generasi tetap eksis dan terbebas dari persoalan health mental yang saat sekarang ini menjadi problem terbesar di era modern. Bahkan WHO telah merilis dampaknya terjadi kerugian ekonomi bernilai trilyunan USD.

Jika kaum rasionalisme melihat kehidupan adalah kesejahteraan dunia, maka Islam mengajarkan bahwa kehidupan adalah kesetaraan penghormatan pada status manusia. Firman Allah,”Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik takwa-nya”. hadist nabi, “sebaik-baik manusia yang memberi manfaat bagi orang lain”. Jadi bukan aku dapat apa, tapi apa yang aku perbuat. Orientasi bukan pada benda, tapi amalun sholihun. Ini menyebabkan Islam tidak mengenal klasifikasi kelas masyarakat.

Status sosial mudah diciptakan; ilmuwan, konglomerat dan para pejabat, serta rakyat jelata. Beda status dan tidak bisa eklusif dan sibuk dengan dunia masing-masing tanpa memperhatikan dunia orang lain. hidup saling terkaitan dan saling membutuhkan. Saat anda masuk ke dalam kapal laut dan tiba-tiba datang para penjual menawarkan aqua dan nasi bungkus, maka tugas anda adalah membelinya. Anda dan mereka sama, hanya dalam posisi tertentu berbeda. Tapi saat anda di tengah laut dan lapar, lalu anda tidak membeli makanan dari orang-orang kecil tadi, anda akan kelaparan. Trilyunan rupiah duit anda tidak lebih senilai satu gelas Aqua dan satu potong Ubi Goreng.

Itu sebabnya kenapa dalam berbagai kesempatan para Rektor dan Ketua Perguruan Tinggi Agama selalu memunculkan kalimat tentang pentingnya menjaga moralitas atau akhlakul karimah. Kalimat ini terlihat kolot dan kampungan karena sering mendengar. Tapi justru ini adalah kunci pembukaan keberkahan.

Kita telah melihat bahwa dalam sejarah apapun, entah politik atau ekonomi mulai dari cerita Fir’aun, Qarun sampai kekinian adalah contoh-contoh kelompok manusia yang sukses. Tapi akhir hidupnya hancur. Ini terjadi bukan karena tidak menguasi teori politik dan ekonomi, tapi tidak mampu mengendalikan hawa nafsu. Jika urusan ini berarti urusan berkaitan moralitas. Apa arti sebuah intelektual, politis dan pejabat ketika sudah kehilangan intan berharga pada dirinya.

Sebagai penutup, pintu-pintu rezki selalu terbuka bagi siapapun yang mempunyai ilmu apapun termasuk para sarjana yang telah lulus di Perguruan Tinggi Agama Islam. Itu janji Allah. Ilmu-Ilmu Agama dengan segala penjabaranya selalu memberi solusi dan kadang berfungsi sebagai sekoci ketika perahu besar belum bisa menyelesaikannya. Salah satu sekoci terpenting lulusan dari pendidikan agama yaitu ada kesadaran total bahwa rezeki dan jodoh adalah ketentuan Allah S.W.T. Tugasnya berusaha dan terus berdoa. Prosesnya terlepas berhasil atau belum telah tetap dicatat sebagai bagian ibadah kepada-Nya. Subhanallah



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2878