
Hari ini (25/09/2023) ada jadwal undangan wisuda di STAIN Bengkalis. Saya tidak ingin terlambat. Undangan jam 07.30. Alhamdulillah sebelum jam tersebut sudah berada di lokasi. Meskipun demikian, lokasi sekitar Gedung Wisuda mulai penuh. Para Tamu Undangan sudah mulai memadati Pelataran Gedung. Terutama orang tua dan para wisudawan yang datang dari berbagai Kabupaten. Mereka bahagia.meskipun dengan penampilan seadanya. Sebagian kaum bapak, wajahnya sudah mulai keriput, alis sudah mulai memutih dan warna baju batik sudah mulai memudar. Ibu –ibu nya juga demikian. Jilbab dan baju seperti seragam Majelis Ta’lim. Bedaknya masih model lama. Mungkin kalau tak salah merk VIVA zaman dulu. Warna kuning langsat dan natural.Tidak berkilau dan menyerap Cahaya Matahari. Berbeda dengan anak-anak gadisnya yang mau wisuda. Wajahnya bersinar. Glowing. Cantik. Sangat sulit membedakan mana anak para pejabat atau masyarakat biasa pada umum nya.

Ada juga seorang ibu yang sudah lanjut
usia. Sekitar berumur 60-an tahun. Dia seorang diri. Kelihatanya sudah terlalu
letih membawa badan yang cukup besar. Seperti ada gangguan pernafasan. Duduk
sambil terus memandang sekitarnya. Mungkin mencari anak nya yang sejak tadi
belum ketemu. Bisa jadi dia tidak membawa telpon. Tangan kanan terus
mengipas-ngipas badannya. Terlalu banyak manusia menumpuk menjadi satu
menyebabkan udara jadi panas. Demi anak, dia rela menunggu sampai acara prosesi
wisuda selesai.
Sebagian wisudawan kadang kurang
mempertimbangan kondisi orang tuanya yang terkadang sudah sangat udzur. Orang
tua nya pun demikian. Mereka beranggapan bahwa wisuda adalah deretan kebahagian
ketiga setelah hari kelahiran anaknya dan di terima di Perguruan Tinggi. Kebahagiaan
selanjutnya yaitu diterima bekerja di salah satu instansi, menikah dan punya
cucu. Maka kondisi yang kadang tidak memungkinkan pun jadi mungkin. Kurang
sehat menjadi sehat. Anak dan orang tua menumpahkan segala emosional kebagiaan
di acara puncak dari proses pendidikan.
Wajar saja jika ada seorang mahasiswa
memberi kata sambutan mewakili teman-teman nya terkadang terbawa oleh situasi
emosional batiniah yang mendalam. Dia harus menumpahkan segala perasaan di Podium
atas perjuangan para dosennya, terutama adalah perjuangan orang tuanya.
Penghayatan yang mendalam ini, terkadang tidak bisa menahan tetesan air mata.
Bagi mahasiswa yang mempunyai kesamaan frekwensi, bisa jadi ikut menangis. Tapi
bagi mereka yang kurang sinyal nya, dan tidak terbiasa pada hal-hal yang
model-model begitu, malah akan tertawa dan kadang bergaya ikut-ikutan menangis.
Padahal cuma dramatisasi belaka.
Berbeda Perguruan Tinggi kadang berbeda
sambutan. Penulis artikel ini beberapa waktu lalu melihat Video tentang sambutan
perwakilan dari mahasiswa. entah dari perguruan tinggi mana, saya tidak ngecek.
Dia wisudawati, wajahnya cantik. Cocok kalau jadi aktivis gender pembela kaum
perempuan. Kalimat yang masih saya ingat kurang lebih begini,”Sehebat-hebat Rektor
di Kampus, disegani oleh para dosen, di
segani oleh mahasiswa, disegani oleh masyarakat, tapi percayalah ketika Sang Rektor
di Rumah, pasti tunduk sama istri nya”.
Saya tertawa mendengarnya. Entah darimana mahasiswi ini mendapatkan sanad keshohehan penelitian ini. Tapi kelihatanya Sang Rektor dan para dosen di ruangan tersebut tertawa menikmati ucapanya. Bisa jadi tertawa karena penderitaan terlalu panjang, sehingga sudah tidak merasakan lagi sebuah penderitaan. Kadang memang, garangnya seorang istri membuat seorang suami tampil lebih bijak dalam memutuskan perkara.

Kembali lagi pada persoalan wisuda. Mahasiswa
menilai acara ini adalah puncak kebahagiaan. Ini adalah prestasi tertinggi selama
4 tahun (kadang lebih) untuk mendapatkan status gelar kesarjanaan dan keabsahan
penambahan gelar di belakang namanya. Mereka akan merayakan dan mengabadikan di
berbagai Media Sosial dan Studio Foto. Beberapa hari berikutnya, Dinding Rumah bertambah
lagi koleksi fotonya; Foto Wisuda.
Selama beberapa waktu, mereka masih
menikmati keindahan acara tersebut. keluarga, saudara, sahabat dekatnya dan
teman-teman lain silih-berganti mengucapkan ucapan selamat atas keberhasilan
menyelesaikan pendidikan. Namun beberapa bulan kemudian akan terasa ada sesuatu
“ruang kosong” pada dirinya, yaitu pertama pekerjaan dan kedua adalah jodoh.
Keduanya akan terus membayanginya. Sehingga akan sampai pada suatu titik bahwa
gelar yang mereka dapat akan menjadi suatu beban. Sebab paradigma berfikir
masyarakat (sebagian) bahwa Perguruan Tinggi adalah sarana mudah untuk
mendapatkan pekerjaan. Bukan sebagai jalan untuk melakukan pendewasaan diri.
Akibatnya muncul stigma negatif dengan kalimat yang sering didengar antara
lain,”Buat apa kuliah tinggi-tinggi jika tidak bisa bekerja”.
Fenomena apa yang sering disebut “pengangguran intelektual” sebenarnya sudah terjadi dan sudah mewabah di hampir seluruh dunia saat sekarang ini di negara-negara besar. Pada tahun 2022 pengangguran di Tiongkok sebesar 20,8%. Mereka di usia kisaran 16-24 tahun. Ini angka produktif dan bagian dari kelompok intelektual lulusan dari Perguruan Tinggi. Di Eropa pada tahun 2008, pengangguran sudah mencapai 17,2%. Usia 15-24 tahun. Jadi, fenomena yang sudah mahfum terjadi di setiap negara. Satu sisi kemajuan pendidikan menunjukan semakin baik IPM negara, disisi lain yaitu ancaman terhadap persoalan daya serap tenaga kerja yang kurang memadai.

Persoalan ini sebenarnya sudah menjadi menu
sehari-hari di negara maju dan mulai terasa di Negara Indonesia. Bagi negara
maju, persoalan yang menjadi ancaman yaitu melimpah SDM, tapi terbatas SDA. Efeknya
di masa depan terjadi penurunan ekonomi. Disisi lain, Indonesia masih mempunyai
SDA melimpah, tapi belum maksimal SDM nya. Maka bonus demografi yang sering
dikatakan oleh pemerintah adalah bonus kualitas SDM di masa datang. Indonesia akan
mencapai masa keemasan.
Ini sudah dimulai. Beberapa waktu lalu saya
bertemu teman-teman dari Papua dan Ambon. Mereka menceritakan tentang trend
anak-anak muda bekerja di berbagai perusahaan dampak program hilirisasi yang
dicanangkan oleh pemerintah. Masyarakat tempatan sudah bisa bekerja di
perusahaan milik asing. Di Tanjung Balai, ada perusahaan milik asing. Pekerjanya
sekitar 6000-an karyawan. 90% dari tanjung balai dan daerah sekitarnya. Ketika saya
tanya berapa uang gajinya. Cukup lumayan, sekitar 5 jt per bulan. Semakin banyak
perusahaan, Semakin banyak menyerap tenaga. Meskipun terkadang ada bebagai
persoalan klasik tentang agraria yang harus diselesaikan dengan arif dan
bijaksana.
Apakah pendidikan hanya orientasi untuk
menjadikan mereka sebagai pekerja? Lalu beranggapan bahwa ketika tidak terserap
dalam dunia pekerjaan,seolah-olah pendidikan tidak berguna bagi pembangunan
bangsa?
Terlepas pendapat para pakar ekonomi
tentang ukuran-ukuran kesejahteraan, ada yang mereka lupakan, yaitu kecerdasan
spiritual. Jika pendidikan sebagai instrument untuk membuka kerangka berfikir
bagi masa depan, maka masa depan manusia bukan sebatas pada hitungan satu
tambah satu sama dengan dua. Biaya pendidikan bukan investasi untuk mendapatkan
keuntungan berlipat ganda pada tataran nominal, tapi juga kepuasan spiritual. Hal
ini karena dasar persoalan rizki adalah persoalan sang pembuat kebijakan
tertinggi yaitu Allah SWT. Agama telah menjelaskan secara gamblang bahwa
rezeki, jodoh, hidup dan mati adalah dalam ketentuan Allah SWT. Manusia sebatas
merencanakan, Tuhan yang menentukan.
Kita boleh mempelajari teori-teori ekonomi
rasionalisme mereka. Tapi Islam telah mengajarkan tentang rasionalisme terbatas,
yaitu dibatasi oleh wahyu Tuhan. Maka yang terpenting dalam membangun dan
menyiapkan mahasiswa di masa mendatang bukan sebatas pada teori-teori skill dan
keahlian semata, tapi jauh yang terpenting yaitu membangun kesadaran spiritual
sehingga semakin menyadari konsep hidup “Darimana kita berasal dari akan kemana
kita kembali”. Cara berfikir yang melahirkan generasi tetap eksis dan terbebas
dari persoalan health mental yang saat sekarang ini menjadi problem
terbesar di era modern. Bahkan WHO telah merilis dampaknya terjadi kerugian ekonomi
bernilai trilyunan USD.
Jika kaum rasionalisme melihat kehidupan adalah
kesejahteraan dunia, maka Islam mengajarkan bahwa kehidupan adalah kesetaraan
penghormatan pada status manusia. Firman Allah,”Sebaik-baik manusia adalah yang
paling baik takwa-nya”. hadist nabi, “sebaik-baik manusia yang memberi manfaat
bagi orang lain”. Jadi bukan aku dapat apa, tapi apa yang aku perbuat. Orientasi
bukan pada benda, tapi amalun sholihun. Ini menyebabkan Islam tidak
mengenal klasifikasi kelas masyarakat.
Status sosial mudah diciptakan; ilmuwan,
konglomerat dan para pejabat, serta rakyat jelata. Beda status dan tidak bisa
eklusif dan sibuk dengan dunia masing-masing tanpa memperhatikan dunia orang
lain. hidup saling terkaitan dan saling membutuhkan. Saat anda masuk ke dalam
kapal laut dan tiba-tiba datang para penjual menawarkan aqua dan nasi bungkus,
maka tugas anda adalah membelinya. Anda dan mereka sama, hanya dalam posisi
tertentu berbeda. Tapi saat anda di tengah laut dan lapar, lalu anda tidak
membeli makanan dari orang-orang kecil tadi, anda akan kelaparan. Trilyunan rupiah
duit anda tidak lebih senilai satu gelas Aqua dan satu potong Ubi Goreng.
Itu sebabnya kenapa dalam berbagai
kesempatan para Rektor dan Ketua Perguruan Tinggi Agama selalu memunculkan
kalimat tentang pentingnya menjaga moralitas atau akhlakul karimah. Kalimat ini
terlihat kolot dan kampungan karena sering mendengar. Tapi justru ini adalah kunci
pembukaan keberkahan.
Kita telah melihat bahwa dalam sejarah
apapun, entah politik atau ekonomi mulai dari cerita Fir’aun, Qarun sampai
kekinian adalah contoh-contoh kelompok manusia yang sukses. Tapi akhir hidupnya
hancur. Ini terjadi bukan karena tidak menguasi teori politik dan ekonomi, tapi
tidak mampu mengendalikan hawa nafsu. Jika urusan ini berarti urusan berkaitan
moralitas. Apa arti sebuah intelektual, politis dan pejabat ketika sudah
kehilangan intan berharga pada dirinya.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4559
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3576
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2972
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2878