
Akhir-akhir ini saya kok rindu nasehat dari
para ulama. Entah kenapa. Mungkin karena saya sudah terlalu jauh dari ulama dan
terlalu sibuk memikirkan urusan pekerjaan atau malah persoalan tidak ada
pekerjaan. Entah apa karena memang saya sudah meninggalkan ajaran ulama, tapi
ingin menjadi pengurus organisasi dengan label ulama. Entah apa karena terlalu
banyak dosa, suka fitnah sana-sini. Atau malah saya sedang mendapatkan hidayah
dan sedang merasakan ladzat nya ilmu sehingga ingin mendengar terus
nasehat-nasehat mereka. saya tidak tahu. tapi situasi hari ini memang
seolah-olah hati saya laksana berjalan di Padang Pasir seorang diri. Gersang,
panas dan rasanya seperti membakar dan mengenai kulit.
Jika saya sedang sedih, saya kadang melihat
video Abah Guru Sekumpul. Hati pun bertambah tenang. Memandang wajahnya sudah
cukup menjadi obat. Mau’idhah dan dzikirnya sangat menyentuh ke dalam
qalbu. Melihat wajahnya, mengingatkan keagungan Allah dan syafa’at Rasulullah
saw. Q.S. Yunus[10]: 62, Allah swt berfirman,”Ingatlah para waliyullah itu,
tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak akan bersedih hati”. Q.S.
Fushilat[41]: 30, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan:
Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka
malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut
dan janganlah merasa sedih; dan gemberilah mereka dengan jannah yang telah
dijanjikan Allah kepadamu”.
Jika sedih, saya melihat video Gus Dur. Saya
memutar videonya saat era reformasi. Dia berjalan dipapah oleh dua orang dalam
keadaan sakit. Saya melihatnya hampir menangis. Dalam keadaan sakit, semua
orang datang mengharapkan keberkahan agar bangsa ini tetap kokoh, kekal, kuat,
dan rukun seluruh lapisan masyarakat. Dia benar-benar mengorbankan dirinya.
Laksana sebuah lilin, semua datang ingin mendapatkan cahaya kedamaian dan
kebahagiaan. Gus Dur dengan menahan sakit, dan tetap berusaha tersenyum
mengatakan,”Politik tertinggi di dunia ini adalah politik kemanusiaan”.
Bahkan ketika ditanya Kick Andi tentang siapa musuh nya, dia mengatakan,”Musuh
saya di dunia ini hanya satu, yaitu Pak Harto. Itupun di hari raya idul fitri
saya selalu datang ke rumahnya. Artinya Pak Harto itu sahabat saya, berarti
saya tidak punya musuh”.
Jika saat hati lagi gundah, saya memandang
wajah Habib Ali Al-Jufri ulama Arab yang tinggal di Yaman. Dia bagian dari
santri Syeikh Ramadhan Al-Buthi. Tapi al-Buthi juga sering ngaji kepadanya. Dua-duanya
merupakan ulama sekaligus guru yang masing-masing memposisikan sebagai murid. Sungguh
wajah ketawadhu’an dan aura ulama yang tulus telah menggoncangkan hatiku.
Melihat keagungan keduanya, akan semakin melihat diriku terlalu banyak maksiat
dan dosa.
Melihat foto Habib Ali Al-Jufri dan memutar
videonya, saya jadi teringat kakeknya, Sayid Zainal Abidin. Saya teringat betul
akan suatu kisah tentang seorang kepala pasukan kerajaan yang melarikan diri
karena akan dipancung oleh sang khalifah. Kepala pasukan melarikan diri dari
kerajaan dan masuk ke dalam rumah dan mengatakan kepada tuan rumah bahwa
dirinya akan dihukum pacung. Dia juga meminta untuk bisa tinggal di tempat
tersebut beberapa hari ke depan. Tuan rumah tersenyum mempersilahkan kepala
pasukan tadi dan menjamu nya dengan sangat baik. Sampai-sampai kepala pasukan
tadi heran. Sepanjang hidup, baru kali ini ada orang yang sangat baik sekali
dalam memberi pelayanan terhadap tamu. Padahal dia seorang buronan kerajaan. Karena
penasaran, dia pun bertanya kepada tuan rumah, “Wahai tuan, kenapa anda begitu
memulyakan tamu padahal aku ini adalah seorang buronan kerajaan karena telah
membunuh cucu nabi yaitu Sayid Husein bin Ali bin Abi Thalib. Jika boleh saya
tanya, siapa sebenarnya nama saudara?”. Sayid Zainal Abidin menjawab, “Saya
adalah cicit dari rasulullah dan anak dari orang yang kamu bunuh di Padang Karbala”
jawabnya singkat.
Kepala pasukan kaget luar biasa. Bagai
disambar petir. Melihat ketenangan dan keagungan akhlak tuan rumah, rasanya
sakit melebihi luka dalam peperangan. Betapa tidak, dia lari dari kerajaan
ingin menghindari dari hukuman pancung karena ketahuan menjadi dalang pembunuhan
cicit Rasulullah. Tapi hari ini dia bertamu di rumah yang ayahnya dia bunuh. Dan
sudah tiga hari dia telah melayani dengan sangat baik sekali. Seandainya dia
mempunyai niat jahat, sebenarnya sejak hari pertama dia bisa menaruh racun di
makanan dan minuman. Dia tidak melakukan. Justru dia menghormati tamunya.
Kepala pasukan kehilangan kata. Badannya
lemas dan jatuh tersyungkur ketika mendengar perkataan sayid zainal abidin. Dia
duduk dilantai laksana seorang hamba berada di depan tuanya, “Kenapa tuan
menerima saya menjadi tamu di rumah tuan dan menghormati saya begitu agung. Kenapa
tuan tidak membunuh orang yang telah membunuh orang tua mu?”. Sayid Zainal
Abidin menjawab, “ Kakek kami Muhammad saw telah mengajarkan kepada kami agar
senantiasa menghormati tamu dan menghilangkan rasa dendam kepada sesama muslim”.
Bukankah itu para Waliyullah? Orang-orang sibuk menyakiti dirinya tapi dirinya tidak
merasa dendam dan tidak membalasnya. Orang-orang sibuk memfitnah dirinya secara
terang-terangan dan tersembunyi, mereka membalasnya dengan senyuman. Meminjam kata
Gus Dur,”gitu aja kok repot!”. Subhanlah, harta, jabatan, dan kekuasaan
yang ada pada dirinya tidak sampai masuk ke dalam hati, hanya berhenti pada
tenggorokan dan keluar lagi berserakan di tanah. Mereka hidup telah dihiasi
oleh kemuliaan akhlak dan merembes kepada orang-orang yang mendapatkan petunjuk.
Saya jadi ingat perkataan Ibrahim bin adham
kepada seeorang, “Apakah engkau ingin menjadi wali Allah?”. Dia menjawab, “Ya.”
Ibrahim lalu berkata, “Kalau begitu janganlah engkau menginginkan harta
kekayaan duniawi ataupun ukhrawi. Kosongkanlah dirimu untuk Allah swt, semata.
Palingkanlah mukamu kepada-nya agar dia berpaling kepadamu dan menjadikanmu
wali-Nya”
Subhanallah, benar apa kata Yahya Bin
Mu’adz,”Seorang wali adalah wewangian Allah di Bumi, yang dicium baunya oleh
para shiddiqin, hingga bau itu menyentuh kalbunya, sampai mereka terbelenggu
rindu pada Tuhannya. Ibadah mereka senatiasa bertambah menurut derajat
akhlaknya”
Saya kira dalam perjalanan sepiritual
manusia di dunia ini mempunyai keberagaman tersendiri. Penulis artikel ini
memang terkadang terkesan sekali ketika mendengar ceramah guru sekumpul,video-video
gus dur dan para kekasih Allah di atas. Secara fisik, saya belum pernah
berjumpa dengannya. Tapi saya merasakan kenikmatan luarbiasa bisa mendengar
nasihat-nasihatnya. Nasihat yang tulus memang selalu membekas dalam hati. Bisa
jadi, apa yang disampaikan biasa saja. Tidak ada bedanya dengan para penceramah
lainnya. Bahkan bisa jadi retorika dan intonasi kalimatnya kalah oleh para mubaligh. Tapi mempunyai kekuatan spiritual
yang luarbiasa dan mampu mengubah peradaban dunia semakin baik.
Kita tidak pernah ketemu nabi. Tapi saat
membaca kisah nabi tidur beralas daun Pelepah Kurma dan terlihat bekas pada
kulitnya, kita langsung membayangkan betapa hatinya sangat bersih dari ingin
dihormati dan sanjung serta jauh ingin dilayani oleh para sahabat dan
pembantu-pembantunya. Saat bertemu dengan istrinya dalam keadaan lapar, nabi
bertanya tentang apa yang bisa dimakan hari ini. istrinya menjawab, bahwa hari
ini tidak ada yang bisa dimakan. Nabi pun dengan santai menjawab,”hari ini
saya puasa”. Nabi benar-benar tidak mau merepotkan istri-istrinya saat masa
jahiliah perempuan kurang dihargai secara wajar. Nabi benar-benar melihat
wanita dalam pandangan keagungan, kejernihan pikiran dan kebeningan hati. Dia
benar-benar telah mempraktekan ketawadhuan yang mendalam dengan memulyakan para
wanita dan istri-istrinya
Penulis membuka-buka buku sejarah.
Orang-orang besar, tapi kisah nya kadang tidak sebanding kebesarannya. Haji Agus
Salim seorang diplomat ulung, harus berpindah-pindah rumah kos-kosan karena
sering banjir, atap bocor dan WC kadang meluap keluar saat hujan melimpah. Bung Hatta seorang wakil presiden ingin
membeli sepatu kesayangannya tidak bisa membeli sampai dia meninggal dunia. Gus
Dur saat sudah berhenti menjadi presiden dan berobat harus menjual Jam Rolex nya
untuk biaya pengobatan. Abah Guru Sekumpul saat masih sakit, malah sibuk
membantu orang-orang yang membutuhkan dengan harta nya sendiri. dan Sayid
Zainal Abidin menghormati tamu dimana tamu nya adalah pembunuh orang tua nya.
bahkan saat sudah tiga hari di rumahnya, dan tamu nya akan pergi, Sayid Zainal
Abidin memberi bekal dan uang untuk diperjalanan. Kadang, hati saya berkata, “Hati
terbuat dari apa para waliyullah di atas? Kenapa begitu indah akhlak nya.
kenapa begitu bersih hatinya. Sehingga melihat seluruh manusia dan alam semesta
semua berubah menjadi kebaikan”. itulah harta benda sejati yang kekal saat
jasad mereka hancur, tapi nama nya tetap kekal abadi di kalbu orang-orang yang
jatuh hati akan rahmat Allah dan syafa’at Rasulullah saw.
Itulah kisah realita hidup yang sangat
agung dan akan selalu dikenang oleh alam semesta ini di saat hari ini manusia
terjangkit oleh dua hal; pertama, kekerasan yang bertujuan untuk membinasakan
orang yang tidak disukainya tanpa mempertimbangkan moralitas dan etika; kedua
membangun dongeng-dongeng kebohongan untuk melegitimasi suatu perbuatan yang
tidak baik agar terlihat baik dan diikuti oleh orang lain
an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul Qusyairiyah Induk Ilmu
Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya : Risalah Gusti.
Haekal, M. H. (1996). Sejarah Hidup Muhammad, terj; Ali Audah .
Jakarta : Intermasa.
Rahman, F. (1996). Major Themes of The Qur'an, terj; Anas Mahyuddin.
Bandung : Pustaka .
Rakhmat, J. (1998). Reformasi Sufistik. Bandung : Pustaka Hidayah
.
Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian
Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876