Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kisah Ulama Penebar Kedamaian



Selasa , 23 Januari 2024



Telah dibaca :  997

Akhir-akhir ini saya kok rindu nasehat dari para ulama. Entah kenapa. Mungkin karena saya sudah terlalu jauh dari ulama dan terlalu sibuk memikirkan urusan pekerjaan atau malah persoalan tidak ada pekerjaan. Entah apa karena memang saya sudah meninggalkan ajaran ulama, tapi ingin menjadi pengurus organisasi dengan label ulama. Entah apa karena terlalu banyak dosa, suka fitnah sana-sini. Atau malah saya sedang mendapatkan hidayah dan sedang merasakan ladzat nya ilmu sehingga ingin mendengar terus nasehat-nasehat mereka. saya tidak tahu. tapi situasi hari ini memang seolah-olah hati saya laksana berjalan di Padang Pasir seorang diri. Gersang, panas dan rasanya seperti membakar dan mengenai kulit.

Jika saya sedang sedih, saya kadang melihat video Abah Guru Sekumpul. Hati pun bertambah tenang. Memandang wajahnya sudah cukup menjadi obat. Mau’idhah dan dzikirnya sangat menyentuh ke dalam qalbu. Melihat wajahnya, mengingatkan keagungan Allah dan syafa’at Rasulullah saw. Q.S. Yunus[10]: 62, Allah swt berfirman,”Ingatlah para waliyullah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak akan bersedih hati”. Q.S. Fushilat[41]: 30, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gemberilah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”.

Jika sedih, saya melihat video Gus Dur. Saya memutar videonya saat era reformasi. Dia berjalan dipapah oleh dua orang dalam keadaan sakit. Saya melihatnya hampir menangis. Dalam keadaan sakit, semua orang datang mengharapkan keberkahan agar bangsa ini tetap kokoh, kekal, kuat, dan rukun seluruh lapisan masyarakat. Dia benar-benar mengorbankan dirinya. Laksana sebuah lilin, semua datang ingin mendapatkan cahaya kedamaian dan kebahagiaan. Gus Dur dengan menahan sakit, dan tetap berusaha tersenyum mengatakan,”Politik tertinggi di dunia ini adalah politik kemanusiaan”. Bahkan ketika ditanya Kick Andi tentang siapa musuh nya, dia mengatakan,”Musuh saya di dunia ini hanya satu, yaitu Pak Harto. Itupun di hari raya idul fitri saya selalu datang ke rumahnya. Artinya Pak Harto itu sahabat saya, berarti saya tidak punya musuh”.

Jika saat hati lagi gundah, saya memandang wajah Habib Ali Al-Jufri ulama Arab yang tinggal di Yaman. Dia bagian dari santri Syeikh Ramadhan Al-Buthi. Tapi al-Buthi juga sering ngaji kepadanya. Dua-duanya merupakan ulama sekaligus guru yang masing-masing memposisikan sebagai murid. Sungguh wajah ketawadhu’an dan aura ulama yang tulus telah menggoncangkan hatiku. Melihat keagungan keduanya, akan semakin melihat diriku terlalu banyak maksiat dan dosa.

Melihat foto Habib Ali Al-Jufri dan memutar videonya, saya jadi teringat kakeknya, Sayid Zainal Abidin. Saya teringat betul akan suatu kisah tentang seorang kepala pasukan kerajaan yang melarikan diri karena akan dipancung oleh sang khalifah. Kepala pasukan melarikan diri dari kerajaan dan masuk ke dalam rumah dan mengatakan kepada tuan rumah bahwa dirinya akan dihukum pacung. Dia juga meminta untuk bisa tinggal di tempat tersebut beberapa hari ke depan. Tuan rumah tersenyum mempersilahkan kepala pasukan tadi dan menjamu nya dengan sangat baik. Sampai-sampai kepala pasukan tadi heran. Sepanjang hidup, baru kali ini ada orang yang sangat baik sekali dalam memberi pelayanan terhadap tamu. Padahal dia seorang buronan kerajaan. Karena penasaran, dia pun bertanya kepada tuan rumah, “Wahai tuan, kenapa anda begitu memulyakan tamu padahal aku ini adalah seorang buronan kerajaan karena telah membunuh cucu nabi yaitu Sayid Husein bin Ali bin Abi Thalib. Jika boleh saya tanya, siapa sebenarnya nama saudara?”. Sayid Zainal Abidin menjawab, “Saya adalah cicit dari rasulullah dan anak dari orang yang kamu bunuh di Padang Karbala” jawabnya singkat.

Kepala pasukan kaget luar biasa. Bagai disambar petir. Melihat ketenangan dan keagungan akhlak tuan rumah, rasanya sakit melebihi luka dalam peperangan. Betapa tidak, dia lari dari kerajaan ingin menghindari dari hukuman pancung karena ketahuan menjadi dalang pembunuhan cicit Rasulullah. Tapi hari ini dia bertamu di rumah yang ayahnya dia bunuh. Dan sudah tiga hari dia telah melayani dengan sangat baik sekali. Seandainya dia mempunyai niat jahat, sebenarnya sejak hari pertama dia bisa menaruh racun di makanan dan minuman. Dia tidak melakukan. Justru dia menghormati tamunya.

Kepala pasukan kehilangan kata. Badannya lemas dan jatuh tersyungkur ketika mendengar perkataan sayid zainal abidin. Dia duduk dilantai laksana seorang hamba berada di depan tuanya, “Kenapa tuan menerima saya menjadi tamu di rumah tuan dan menghormati saya begitu agung. Kenapa tuan tidak membunuh orang yang telah membunuh orang tua mu?”. Sayid Zainal Abidin menjawab, “ Kakek kami Muhammad saw telah mengajarkan kepada kami agar senantiasa menghormati tamu dan menghilangkan rasa dendam kepada sesama muslim”.

Bukankah itu para Waliyullah? Orang-orang  sibuk menyakiti dirinya tapi dirinya tidak merasa dendam dan tidak membalasnya. Orang-orang sibuk memfitnah dirinya secara terang-terangan dan tersembunyi, mereka membalasnya dengan senyuman. Meminjam kata Gus Dur,”gitu aja kok repot!”. Subhanlah, harta, jabatan, dan kekuasaan yang ada pada dirinya tidak sampai masuk ke dalam hati, hanya berhenti pada tenggorokan dan keluar lagi berserakan di tanah. Mereka hidup telah dihiasi oleh kemuliaan akhlak dan merembes kepada orang-orang yang mendapatkan petunjuk.

Saya jadi ingat perkataan Ibrahim bin adham kepada seeorang, “Apakah engkau ingin menjadi wali Allah?”. Dia menjawab, “Ya.” Ibrahim lalu berkata, “Kalau begitu janganlah engkau menginginkan harta kekayaan duniawi ataupun ukhrawi. Kosongkanlah dirimu untuk Allah swt, semata. Palingkanlah mukamu kepada-nya agar dia berpaling kepadamu dan menjadikanmu wali-Nya” (An-Naisabury, 1997).

Subhanallah, benar apa kata Yahya Bin Mu’adz,”Seorang wali adalah wewangian Allah di Bumi, yang dicium baunya oleh para shiddiqin, hingga bau itu menyentuh kalbunya, sampai mereka terbelenggu rindu pada Tuhannya. Ibadah mereka senatiasa bertambah menurut derajat akhlaknya” (An-Naisabury, 1997).

Saya kira dalam perjalanan sepiritual manusia di dunia ini mempunyai keberagaman tersendiri. Penulis artikel ini memang terkadang terkesan sekali ketika mendengar ceramah guru sekumpul,video-video gus dur dan para kekasih Allah di atas. Secara fisik, saya belum pernah berjumpa dengannya. Tapi saya merasakan kenikmatan luarbiasa bisa mendengar nasihat-nasihatnya. Nasihat yang tulus memang selalu membekas dalam hati. Bisa jadi, apa yang disampaikan biasa saja. Tidak ada bedanya dengan para penceramah lainnya. Bahkan bisa jadi retorika dan intonasi kalimatnya kalah oleh para  mubaligh. Tapi mempunyai kekuatan spiritual yang luarbiasa dan mampu mengubah peradaban dunia semakin baik.

Kita tidak pernah ketemu nabi. Tapi saat membaca kisah nabi tidur beralas daun Pelepah Kurma dan terlihat bekas pada kulitnya, kita langsung membayangkan betapa hatinya sangat bersih dari ingin dihormati dan sanjung serta jauh ingin dilayani oleh para sahabat dan pembantu-pembantunya. Saat bertemu dengan istrinya dalam keadaan lapar, nabi bertanya tentang apa yang bisa dimakan hari ini. istrinya menjawab, bahwa hari ini tidak ada yang bisa dimakan. Nabi pun dengan santai menjawab,”hari ini saya puasa”. Nabi benar-benar tidak mau merepotkan istri-istrinya saat masa jahiliah perempuan kurang dihargai secara wajar. Nabi benar-benar melihat wanita dalam pandangan keagungan, kejernihan pikiran dan kebeningan hati. Dia benar-benar telah mempraktekan ketawadhuan yang mendalam dengan memulyakan para wanita dan istri-istrinya (Haekal, 1996).

Penulis membuka-buka buku sejarah. Orang-orang besar, tapi kisah nya kadang tidak sebanding kebesarannya. Haji Agus Salim seorang diplomat ulung, harus berpindah-pindah rumah kos-kosan karena sering banjir, atap bocor dan WC kadang meluap keluar saat hujan melimpah.  Bung Hatta seorang wakil presiden ingin membeli sepatu kesayangannya tidak bisa membeli sampai dia meninggal dunia. Gus Dur saat sudah berhenti menjadi presiden dan berobat harus menjual Jam Rolex nya untuk biaya pengobatan. Abah Guru Sekumpul saat masih sakit, malah sibuk membantu orang-orang yang membutuhkan dengan harta nya sendiri. dan Sayid Zainal Abidin menghormati tamu dimana tamu nya adalah pembunuh orang tua nya. bahkan saat sudah tiga hari di rumahnya, dan tamu nya akan pergi, Sayid Zainal Abidin memberi bekal dan uang untuk diperjalanan. Kadang, hati saya berkata, “Hati terbuat dari apa para waliyullah di atas? Kenapa begitu indah akhlak nya. kenapa begitu bersih hatinya. Sehingga melihat seluruh manusia dan alam semesta semua berubah menjadi kebaikan”. itulah harta benda sejati yang kekal saat jasad mereka hancur, tapi nama nya tetap kekal abadi di kalbu orang-orang yang jatuh hati akan rahmat Allah dan syafa’at Rasulullah saw.

Itulah kisah realita hidup yang sangat agung dan akan selalu dikenang oleh alam semesta ini di saat hari ini manusia terjangkit oleh dua hal; pertama, kekerasan yang bertujuan untuk membinasakan orang yang tidak disukainya tanpa mempertimbangkan moralitas dan etika; kedua membangun dongeng-dongeng kebohongan untuk melegitimasi suatu perbuatan yang tidak baik agar terlihat baik dan diikuti oleh orang lain (Rakhmat, 1998). Dalam dunia yang penuh kepalsuan dan drama kehidupan yang penuh tipu-daya, membuka kembali file-file ulama yang mampu menyuburkan hati agar tetap hidup sangat penting sekali. hal ini agar, garis perjalanan tetap bisa terjaga dan akal kewaran bisa berjalan dengan tetap menjunjung tinggi akhlakul karimah. Semoga kita bisa meneladani para kekasih allah di atas. Amin.

References

an-Naisabury, I. a.-Q. (2000). Risalahtul Qusyairiyah Induk Ilmu Tasawuf,terj;Muhammad Luqman Hakim. Surabaya : Risalah Gusti.

Haekal, M. H. (1996). Sejarah Hidup Muhammad, terj; Ali Audah . Jakarta : Intermasa.

Rahman, F. (1996). Major Themes of The Qur'an, terj; Anas Mahyuddin. Bandung : Pustaka .

Rakhmat, J. (1998). Reformasi Sufistik. Bandung : Pustaka Hidayah .

Shihab, M. (2002). Tafsir Al-Misbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur'an . Jakarta : Lentera .

 

 

 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13565


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4558


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876