
Berikut ini membahas tentang rukun-rukun
sholat pada bagian pertama dalam kitab Kitab Sulam Munajat:
واما اركان الصلاة فتسعة عشر الاول
النية بالقلب فيخضر في قلبه فعل الصلاة ويعبر
عنه باصلي ويخضر فيه فرضيتها ويعبر عنه بفرض ويخضر فيه تعيينها ويعبر عنه بالضهر
او بالعصر او المغرب اوالعشاء او الصبح فاذا حضرت هذه الثلاثة في قلبه قال الله
اكبر غير غافل عنها ويزيد استخضار ماموما
ان كان جماعة الثاني تكبرة الاحرام
وهي الله اكبر الثالت قراة الفاتحة الرابع القيام ان قدر ولو بحبل او معين في صلاة
الفرض الخامس الركوع بان ينحي من غير ارخاء ركبته حتي تنال راحتاه ركبتيه السادس
الطمانية فيه بان تنفصل حركة هويه عن حركة رفعه وتسكن اعضاؤه كلها السابع الاعتدال
بان ينتصب قائما الثامن الطماءنية فيه كما ذكرنا في الركوع التاسع السجود الاول بان يضع جبهته مكشوفة علي مصلاه متحاملا عليها قليلا علي غير متحرك رافعا
عجيزته وما حولها منكبيه ويديه وراسه بان يضع جزاء من كل ركبتي ومن باطن كل كف ومن باطن اصابع كل
رجل
Artinya:
Rukun-rukun sholat ada sembilan
belas. Pertama, yaitu niat di
dalam hati. musholi atau orang yang sholat menghadirkan niat dalam hati dan
menghadirkannya dengan pernyataan dengan ucapan “usholi” (artinya saya sholat).
Musholi juga menghadirkan kefardhuan sholat tersebut dalam hati dengan membuat
pernyataan ucapan “fardhu” dan menghadirkan ta’yin atau kekhususan terhadap jenis
sholat tersebut seperti dhuhur, ‘asyar, maghrib, isya, dan subuh.
Ketika telah
menghadirkan ta’yin dalam hati berupa usholi, fardhu dan jenis sholatnya dalam hati,
maka musholi mengucapkan kalimat takbir “Allahu akbar” tanpa melupakan ketika
takyin tersebut. dan musholi menambah kata “ma’muman” ketika ia menjadi seorang
ma’mun.
Rukun kedua takbiratul ihram
dengan kalimat “Allahu akbar”. Rukun ketiga membaca
fatehah. Keempat berdiri bagi yang
mempunyai kemampuan berdiri dengan alat bantu atau orang yang membantu. Kelima, rukuk bagi yang mampu membukukan
badan. Rukuk tanpa mengendorkan kedua lutut sampai pada kedua telapak tangan
musholi meraih kedua lutut. Rukun keenam yaitu tuma’ninah di dalam ruku dengan memisahkan gerakan
bungkuk musholi dari gerakan naiknya musholi. Dan seluruh anggota tubuh tenang.
Rukun ketujuh yaitu i’tidal sekiranya musholi menegakan tubuhnya. Rukun kedelapan tuma’ninah
dalam i’tidal sebagaimana pada saat ruku’.
Rukun kesembilan yaitu sujud pertama
dengan meletakan dahi secara terbuka ditempat sujud dan menekannya sedikit di
tempat sujud dengan tidak bergerak, serta mengangkat pantatnya dan bagian kanan
kirinya lebih tinggi atas pundak, dua tangan dan kepala. Saat ruku juga
meletakan bagian bagian lutut dan meletakan bagian dalam kedua telapak tangan
dan bagian dalam dari jari-jari kakinya ditempat sholat.
KETERANGAN:
Niat sholat di
dalam hati. Sedang dalam lisan sebagai penguat hati. Saat berniat maka musholi menghadirkan kalimat seperti “usholi
fardhu dhuhri/’ashri/maghribi…” untuk menta’yin atau mengkhususkan sholat yang
kita lakukan pada saat itu.
Contoh niat sholat secara
lengkap sebagai berikut:
أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ
مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى
Ketika menjadi ma’mum ditambah sebagai berikut:
أُصَلِّى فَرْضَ الصُّبْحِ رَكْعَتَيْنِ
مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مامُوماً
لِلَّهِ تَعَالَى
Membaca fatehah merupakan rukun. Dibaca setiap raka’at. Kecuali ketika
menjadi ma’mum masbuk , maka tidak perlu membaca. Sebab sudah ditanggung oleh
imam.
Basmalah merupakan bagian dari al-fatehah. Dasar hadist
sebagai berikut:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
أُمُّ الْقُرْآنِ وَ أُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِ
Artinya:
Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasalullah SAW
bersabda, ”alhamdu lillahi rabbil 'alamin” merupakan induk Al-Qur’an, pokoknya
al-Kitab, serta Surat as-Sab'ul Matsani. (HR Abu Dawud)
Imam Syafi’i berkata:
قَالَ الشَّافِعِيُّ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ الآيَاتُ
السَّابِعَةُ فَإِنْ تَرَكَهَا أَوْ بَعْضَهَا لَمْ تُجْزِهِ الرَّكْعَةُ الَّتِيْ
تَرَكَهَا فِيْهَا
Artinya:
Imam Syafi'f RA mengatakan bahwa basmalah
merupakan tujuh ayat dari surat al-Fatiاah. Apabila ditinggalkan atau tidak dibaca
sebagian ayatnya, maka raka'atnya tidak cukup. (Al-Umm, juz I, haL 129)
Membaca basmalah harus dikeraskan
sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ يَجْهَرُ بِالْبَسْمَلَةِ
Artinya:
Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW
(selalu) mengeraskan suaranya ketika membaca basmalah (dalam shalat). (HR
Bukhari)
Syeikh As-Subki berkata:
"Ibn Khuzaimah
berkata dalam kitab Mushannaf-nya menyatakan, pendapat yang menyatakan sunnah
mengeraskan basmalah merupakan pendapat yang benar. Ada hadits dari Nabi SAW
dengan sanad yang muttashil (urutan perawi hadfts yang sampai langsung kepada Nabi
Muhanzmad SAW), tidak diragukan, serta tidak ada keraguan dari para ahli hadfts
tentang shahih serta muttashil-nya sanad hadfts ini. Lalu Ibn Khuzaimah
berkata, telah jelas dan telah terbukti bahwa Nabi SAW (dalam hadits tersebut)
mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat.” (Ma’na Qawl al-Imam al-Muththalibi
Izda Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi, hal 161)
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   185
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13554
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4548
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2945
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2874