Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

322 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

KKN: Memberi Kebahagiaan Orang Lain



Minggu , 13 Juli 2025



Telah dibaca :  440

Pagi ini Kapal Dumai Line penuh (Minggu, 13/2025). Anak-anak mahasiswa IAIN Datuk Laksemana Bengkalis berangkat KKN ke Kabupaten Kepulauan Meranti beserta para Dosen Pembimbing Lapangan(DPL). Saya kebetulan bersama dosen senior, Ibu Robiah, M.Pd.I. Ia sibuk mengarahkan mahasiswa mencarikan tempat duduk. Saya pun agak terlihat sibuk, ikut mencarikan. Kasihan saya melihat Ibu Robiah. Saya suruh duduk dulu, tapi ia tidak mau. Akhirnya kami sama-sama mencarikan tempat duduk untuk mahasiswa. Saya salut melihat semangat Ibu Robiah mengatur para mahasiswa. Sama semangatnya saat akan AL Prodi PAI. Luarbiasa. Semangat melakukan aktivitas bagian dari energi doa positif.

Sepanjang pantauan ku, ada beberapa mahasiswa tidak dapat tempat duduk -termasuk saya, anak-anak dan tetanggaku yang membawa anak kecil. Saya secara pribadi tidak mempersoalkan. Saya duduk dilantai bersama dengan anak laki-laki, Muhammad Faiz Artanabil. Sesekali, saya keliling membawa aqua gelas. Mana tahu ada mahasiswa yang haus tapi malu tidak mau mengambil aqua. Anak-anak mahasiswa kadang begitu. Pemalu, tapi mau. Semoga kita semua selamat sampai tujuan dan mendapatkan keberkahan. Amin.

Untuk mengisi kekosongan waktu, saya mengisi kegiatan dzikir bil qalam. Semoga ada manfaatnya.

Dari jauh kepulan debu pasir padang pasir terlihat seperti menutup seekor kuda yang melaju sangat kencang sekali. sang penunggang kuda tersebut bernama Suraqah. Ia memang harus cepat-cepat menemukan Nabi Muhammad. Tujuannya simpel: membunuhnya dan mendapat hadiah dari pekerjaan tersebut.

Ketika suraqah berada tepat di depan Nabi Muhammad, ia berkata sangat keras dengan nada membentak : “Muhammad, siapa yang membantu mu sekarang !”.

Nabi Muhammad tersenyum kemudian menjawab sangat ringkat :”Allah !”.

Jawaban singkat tapi mengandung energi yang sangat besar. sangat magis. Bahkan Suraqah yang mendengar jawaban tersebut langsung bergetar. Tangan tidak kuasa memegang pedang. Terus bergetar. Energi hilang. Akhirnya tak terasa pedang pun jatuh dari tangannya.

Muhammad berjalan mendekat Suraqah. Ia mengambil pedang yang berada di tanah. Lalu ia gentian bertanya kepada Suraqah : “Siapa yang menolong mu sekarang !”. Badan suraqah bergetar dan kemudian ia masuk Islam.

Versi lain saat Suraqah akan menyabet pedang nya ke Rasulullah, kudanya terperosok masuk ke dalam tanah. Hingga tiga kali gagal membunuh nya. Kasus nya sama, yaitu setiap akan membunuh, kaki kuda terperosok ke dalam tanah. Kali ketiga, Akhirnya ia mengucapkan dua kalimat syahadat dan masuk Islam.

Itulah Nabi Muhammad SAW, seorang Nabi yang sangat lembut bicaranya dan tenang pembawaannya. Ketenangan lahir dari keyakinan yang meluber terhadap Allah atas segala tujuan hidup nya. semua dari-nya dan akan kembali kepada-Nya. kepasrahan dan ketenangan dalam menghadapi berbagai persoalan merupakan bagian dari realisasi keimanan kepada-Nya.

Dalam ilmu pewayangan, ada seorang tokoh wayang bernama Bima -Werkudara.  Sang guru durna memberi nasehat tentang cara mengenal hidup dan untuk mendapatkan kesaktian tiada tanding. Satu-satu nya jalan yaitu harus menyelam ke dasar laut dan mencari air “ tirta perwitasari”, suatu air keabadian. Siapa yang minum air tersebut akan abadi selama-lama nya dan akan hidup sepanjang hayat.

Ketika di dasar laut Bima bertemu Dewa Ruci. Ketika ia bertanya tujuan Bima pergi ke dasar laut, Dewa Ruci memberi jawaban begini: “Bima, antum jangan mencari air tirta perwitasari di dasar laut. Hakikat air tersebut berada di dalam hati mu, ketika engkau mampu mengenal dirimu sendiri, maka akan mengenal kepada Sang Hyang Widhi -Tuhan, saat itulah kamu akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia dan di akherat. Kamu juga akan mampu mengalahkan Pasukan Kurawa dalam Perang Baratayudha”.

Tirta Perwitasari adalah jalan lelaku hidup untuk terus mengenal kekurangan diri sendiri. Ini merupakan suatu konsep dan prinsip hidup yang ditempuh para kekasih Allah. Mereka selalu memperbaiki kualitas hati, pikiran dan karya nyata untuk menjadi manusia mutaqin. Orang-orang mutaqin bukan orang-orang yang bisa terbang di angkasa tanpa dosa. Orang mutaqin adalah orang-orang yang kaki nya menyentuh bumi dan terus berkarya memberi kemanfaatan kepada orang lain dalam aspek yang sangat luas. Mereka sangat bergairah untuk menciptakan kenangan-kenangan kehidupan sebagai sejarah yang terpenting sebagai manusia-manusia yang “anfa’ahum linnas” -orang-orang yang memberi kemanfaatan bagi orang lain.

Tentu saja proses “kemanfaatan” adalah dinamis dan terus-menerus perlu Latihan dan kerja keras. Suara dan suasana hati yang fluktuatif perlu dikawal terus agar ia tidak terjebak pada penyesalan ketika tidak sesuai dengan harapan-harapannya. Sebab hakikat orang yang sudah mendapatkan Tirta Perwitasari, semua apa yang terjadi di dunia ini sebenarnya merupakan jalan terbaik yang sudah dirancang oleh Allah untuk para kekasih-Nya.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   128

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13558


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4551


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876