Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

KKN Moderasi di Kota Cinta



Rabu , 12 Juli 2023



Telah dibaca :  255

Ini pertama saya menginjak kaki nya di Bandara Ujung Pandang Makasar. Jika dilihat dari Pesawat, kota nya sangat padat. Mirip kota Surabaya, Palembang dan Medan. Setelah mendarat dan keluar dari Bandara agak mirip-mirip kota Medan dan Surabaya. Kota nya sangat padat di sore hati. Jalan penuh kendaraan mobil berkelas. Tidak tanggung-tanggung, mobil fortuner pun digunakan untuk mengangkut bawang putih, bawang merah, telor ayam dan beberapa isi Toko atau Kedai kebutuhan Rumah Tangga. Supir Bus sangat gesit. Sama gesitnya dengan Supir Medan dan Surabaya. Untung saja saya tidak menemukan supir mengucapkan kata “jiaancukk” atau kata” umpatan” khas sini (saya belum tahu) ketika hampir diserempet atau menyerempet kendaraan lain. Apakah karena penumpangnya para warosatul ambiya dari berbagai Perguruan Tinggi Agama Islam yang rahmatalil ‘alamin, atau karena menghormati tema KKN atau karena pengaruh dari filosofis Kota Pare-Pare yang dikenal dengan “Kota Cinta Habibie dan Ainun”, sehingga supirnya selalu menebarkan senyum dan canda tawa? Hanya Allah dan Supir Bus yang tahu.

Sekitar jam 23.14 menit sampai di Hotel Satria. Setelah menaruh tas di hotel, saya duduk di ruang makan yang arsitik dan asri. Hotel yang letaknya di bukit. Dari tempat ini saya melihat kerlap-kerlip listrik kota Pare-Pare. Ini mengingatkan saya saat beberapa tahun lalu pernah tinggal di daerah Pegayaman Bali dan melihat indah nya kota Bali dari atas bukit. Ini sebuah suasana yang sangat menyenangkan dan membantu menghilangkan rasa letih. Rasanya ingin berlama-lama. Namun karena pagi harus ke IAIN Pare-Pare, saya segera masuk ke kamar hotel dan tidur.

Jam 06.30 sarapan pagi, minum kopi dan “ngrokok” dengan pakar hisab para dosen senior; ada Mas Sainul dari Metro dan Mas Khairul dari Samarinda. Saya dan Mas Abas yang masih “mualaf” dalam dunia perokokan, harus bersikap tawadhu di depan senior. Walaupun mualaf, Mas Abas habis dua batang. Ketika saya tanya, katanya “rokoknya semriwing” seperti permen mentos. Namun yang jelas saya dan Mas Abas pagi itu sama-sama mengikuti Madzab Maliki, bahwa rezeki tidak perlu dicari, karena dia pun akan datang sendiri. Maka saat Mas Khairul menawarkan rokok, langsung disambut dengan suka cita.

Jam 09.00 saya mengikuti acara pembukaan pembekalan KKN Nusantara. Tema : Harmoni Dalam Keberagaman. Dari sekian banyak acara, saya dengan khusu’ mendengar petuah-petuah dari Rektor IAIN Pare-Pare; Dr.Hannani, M.Ag. pertama  melihat wajahnya, saya kaget. Mirip Dr. Abdul Moqsith Ghazali, seorang intelektual muda NU yang alumnus Pesantren Saliyah Al-Shafi’iyah Asembagus Sukorejo Situbondo Jawa Timur. bisa jadi memang iya, bukan dari wajahnya bisa jadi sama dalam pemikirannya yaitu menyerukan pentingnya kesetaraan derajat warga negara.

Ada beberapa pesan yang telah saya kutip, antara lain: “macca na malempu, warani na magetteng”, yang artinya kurang lebih begini; “kecerdasan yang melahirkan sikap dan perilaku bijak, jujur berani menghadapi tantangan kehidupan dan senantiasa konsisten untuk menebarkan kebaikan”. Nilai-nilai warisan para tetua atau leluhur tidak boleh melupakan tradisi “lego-lego”, yaitu suatu tradisi dialog berada di beranda atau rumah depan dalam menyelesaikan masalah. Artinya permasalahan hanya sebatas di Beranda Rumah, tidak sampai masuk di dalam rumah.

Saya hanya membaca pemikiran pak rector ini sedang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal para petuah leluhur yang selaras dengan semangat keberagaman. Salah satu yang ditekankan disini yaitu kesadaran untuk berdialog dan menyelesaikan berbagai persoalan. Ini yang diidentikan sebagai wujud mengutamakan kepentingan bersama yang ditutup dengan kalimat “eksistensi kemanusiaan itu bukan pada apa yang akan saya dapatkan, tapi apa yang bisa saya berikan”.

Ini adalah ungkapan cinta, yang siap memberikan kebaikan kepada orang-orang yang sangat dicintai dalam kontek kemanusiaan. Kesemangatan dari IAIN Pare-Pare dalam membangun kehidupan yang penuh dengan suasana harmoni dan saling menghargai dalam keberagaman sebenarnya telah disimbolkan moto Kota Pare-Pare dengan sangat menyentuh kalbu, “Pare-Pare Kota Cinta Habibie dan Ainun”. Ini moto yang sangat mengagumkan. Tapi  harus diingat saat sudah menyatakan cinta selalu saja ada cobaan datang untuk menguji seberapa dalam rasa cinta tersebut. semakin dalam rasa cinta, semakin besar ujian tersebut. maka benar kata Pak Rektor, semua harus dilakukan dengan penuh keberanian dan konsisten untuk mewujudkan kebenaran cinta tersebut.

Pare-Pare, 12 Juli 2023



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128

Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175

Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151

Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879