
Ini pertama saya menginjak kaki nya di Bandara
Ujung Pandang Makasar. Jika dilihat dari Pesawat, kota nya sangat padat. Mirip
kota Surabaya, Palembang dan Medan. Setelah mendarat dan keluar dari Bandara
agak mirip-mirip kota Medan dan Surabaya. Kota nya sangat padat di sore hati. Jalan
penuh kendaraan mobil berkelas. Tidak tanggung-tanggung, mobil fortuner pun
digunakan untuk mengangkut bawang putih, bawang merah, telor ayam dan beberapa
isi Toko atau Kedai kebutuhan Rumah Tangga. Supir Bus sangat gesit. Sama gesitnya
dengan Supir Medan dan Surabaya. Untung saja saya tidak menemukan supir
mengucapkan kata “jiaancukk” atau kata” umpatan” khas sini (saya belum
tahu) ketika hampir diserempet atau menyerempet kendaraan lain. Apakah karena
penumpangnya para warosatul ambiya dari berbagai Perguruan Tinggi Agama
Islam yang rahmatalil ‘alamin, atau karena menghormati tema KKN atau karena
pengaruh dari filosofis Kota Pare-Pare yang dikenal dengan “Kota Cinta Habibie
dan Ainun”, sehingga supirnya selalu menebarkan senyum dan canda tawa? Hanya Allah
dan Supir Bus yang tahu.
Sekitar jam 23.14 menit sampai di Hotel
Satria. Setelah menaruh tas di hotel, saya duduk di ruang makan yang arsitik
dan asri. Hotel yang letaknya di bukit. Dari tempat ini saya melihat
kerlap-kerlip listrik kota Pare-Pare. Ini mengingatkan saya saat beberapa tahun
lalu pernah tinggal di daerah Pegayaman Bali dan melihat indah nya kota Bali
dari atas bukit. Ini sebuah suasana yang sangat menyenangkan dan membantu
menghilangkan rasa letih. Rasanya ingin berlama-lama. Namun karena pagi harus
ke IAIN Pare-Pare, saya segera masuk ke kamar hotel dan tidur.
Jam 06.30 sarapan pagi, minum kopi dan “ngrokok”
dengan pakar hisab para dosen senior; ada Mas Sainul dari Metro dan Mas Khairul
dari Samarinda. Saya dan Mas Abas yang masih “mualaf” dalam dunia perokokan,
harus bersikap tawadhu di depan senior. Walaupun mualaf, Mas Abas habis dua
batang. Ketika saya tanya, katanya “rokoknya semriwing” seperti permen mentos. Namun
yang jelas saya dan Mas Abas pagi itu sama-sama mengikuti Madzab Maliki, bahwa
rezeki tidak perlu dicari, karena dia pun akan datang sendiri. Maka saat Mas
Khairul menawarkan rokok, langsung disambut dengan suka cita.
Jam 09.00 saya mengikuti acara pembukaan
pembekalan KKN Nusantara. Tema : Harmoni Dalam Keberagaman. Dari sekian
banyak acara, saya dengan khusu’ mendengar petuah-petuah dari Rektor IAIN Pare-Pare;
Dr.Hannani, M.Ag. pertama melihat
wajahnya, saya kaget. Mirip Dr. Abdul Moqsith Ghazali, seorang intelektual muda
NU yang alumnus Pesantren Saliyah Al-Shafi’iyah Asembagus Sukorejo Situbondo
Jawa Timur. bisa jadi memang iya, bukan dari wajahnya bisa jadi sama dalam
pemikirannya yaitu menyerukan pentingnya kesetaraan derajat warga negara.
Ada beberapa pesan yang telah saya kutip,
antara lain: “macca na malempu, warani na magetteng”, yang artinya
kurang lebih begini; “kecerdasan yang melahirkan sikap dan perilaku bijak,
jujur berani menghadapi tantangan kehidupan dan senantiasa konsisten untuk
menebarkan kebaikan”. Nilai-nilai warisan para tetua atau leluhur tidak boleh
melupakan tradisi “lego-lego”, yaitu suatu tradisi dialog berada di
beranda atau rumah depan dalam menyelesaikan masalah. Artinya permasalahan
hanya sebatas di Beranda Rumah, tidak sampai masuk di dalam rumah.
Saya hanya membaca pemikiran pak rector ini
sedang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal para petuah leluhur yang selaras dengan
semangat keberagaman. Salah satu yang ditekankan disini yaitu kesadaran untuk
berdialog dan menyelesaikan berbagai persoalan. Ini yang diidentikan sebagai
wujud mengutamakan kepentingan bersama yang ditutup dengan kalimat “eksistensi
kemanusiaan itu bukan pada apa yang akan saya dapatkan, tapi apa yang bisa saya
berikan”.
Ini adalah ungkapan cinta, yang siap
memberikan kebaikan kepada orang-orang yang sangat dicintai dalam kontek
kemanusiaan. Kesemangatan dari IAIN Pare-Pare dalam membangun kehidupan yang
penuh dengan suasana harmoni dan saling menghargai dalam keberagaman sebenarnya
telah disimbolkan moto Kota Pare-Pare dengan sangat menyentuh kalbu, “Pare-Pare
Kota Cinta Habibie dan Ainun”. Ini moto yang sangat mengagumkan. Tapi harus diingat saat sudah menyatakan cinta selalu
saja ada cobaan datang untuk menguji seberapa dalam rasa cinta tersebut. semakin
dalam rasa cinta, semakin besar ujian tersebut. maka benar kata Pak Rektor, semua
harus dilakukan dengan penuh keberanian dan konsisten untuk mewujudkan
kebenaran cinta tersebut.
Pare-Pare, 12 Juli 2023
Penulis : Imam Ghozali
Obituari Bapapuh
25 Februari 2026   Oleh : A. Ushfuri   128
Refleksi Ramadhan: Setiap Manusia Turis Untuk Dirinya Sendiri
18 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   175
Perang Air dan Romadhan: Kajian Budaya dan Agama
17 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Marketing Penjual Bunga Menjelang Bulan Ramadhan
16 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   151
Ya Allah, Anugerahkan kepada Kami Air Hujan yang Membawa Keberkahan
12 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   129
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13566
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4565
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3577
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2979
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2879