
Perbaikan organisasi NU di Provinsi Riau kelihatannya
mulai tertata dengan baik. meskipun tidak serapi dengan wilayah-wilayah di Jawa,
Jambi, Lampung, Palembang dan Bengkulu, organisasi yang didirikan para ulama
sudah mulai memperbaiki mesin organisasi dan siap-siap take off dalam
rangka mewujudkan visi besarnya yaitu “Merawat jagat membangun peradaban”.
Salah strategi yang dilakukan yaitu memperbaiki sistem organisasi yaitu melalui
Konferensi Cabang (Konfercab).
Salah satu kabupaten yang akan melaksanakan
konfercab PCNU adalah Kabupaten Kepulauan Meranti. Kabupaten ini menjadi
perhatian besar dalam melakukan peremajaan organisasi menjadi lebih tertata
rapi dan mampu melakukan reorganisasi secara baik, sistematis, dan
berkelanjutan. Cita-cita tersebut tentu tidak semudah mengembalikan telapak
tangan. perlu mempunyai kesabaran berlapis-lapis dan terus-menerus meminta
pertolongan kepada Allah agar keberkahan para ulama dan waliyullah yang telah
mendahuli kita di bumi Riau “mluber” di Tanah Jantan Kepulauan Meranti.
Ketika mendapatkan amanah dari PBNU berupa
surat mandat Kareteker PCNU Kepulauan Meranti, kami segera rapat
persiapan agenda tersebut. sudah beberapa kali rapat dan selalu berpindah-pindah
tempat. Selain belum punya Kantor PCNU (sekarang masih proses pembuatan dan
sudah mulai berdiri tiang-tiang bangunan Kantor PCNU), juga kesiapan tuan rumah
menyediakan ala kadar jamuan. Meskipun demikian, teman-teman yang hadir
dalam rapat biasanya dari rumah membawa makanan, camilan, gorengan atau
buah-buahan. Jadi kami benar-benar iuran bareng, makan bareng. Alhamdulillah
hingga kini, jika kami rapat PCNU kawan-kawan selalu saja “siap grakkk!!!”.
Bahkan kadang rapat satu hari sampai tiga kali, pagi, siang, dan malam. Uniknya
selalu saja ada makanan dan minuman. Minumannya terutama Aqua dan Kopi. Ini
pasti tidak ketinggalan. Mungkin ada warga NU yang mualaf membaca “NO
Smoking” di jalan-jalan dianggap kampanye ormas NU dengan dibaca menjadi “NU
Smoking”. Itu sebabnya, setiap rapat PCNU tidak ketinggalan harus menyediakan
Asbak Rokok. Uniknya lagi, yang tidak merokok pun tidak pernah merasa terganggu
asap rokok. Jadi rapat PCNU benar-benar sudah melahirkan toleransi alamiah.
Ketika ada seseorang bertanya, “Apa
persiapan konfercab?”. Saya jawab sederhana saja,”iuran warga”. Kenapa? Sebab
saya menyakini bahwa organisasi besar lahir dari kualitas anggotanya yang siap
mengorban sebagian rezekinya untuk perjuangan organisasi. Paling tidak ada dua
alasan; pertama pengalaman pribadi ku sejak kecil (sekitar masih MTs sudah IPNU)
selalu sama-sama mempunyai prinsip “Ringan sama-sama dijinjing, berat
sama-sama dipikul”. Itu konsep dasar perjuangan organisasi. NU berdiri juga
demikian. Dulu, misi besar menyelamatkan maqam (kuburan) Rasulullah yang
akan dibongkar oleh kaum wahabi bisa berhasil karena iuran. Kedua, penulis
sudah berkeliling dan mempelajari organisasi yang hebat-hebat apakah organisasi
nya diakui oleh pemerintah atau tidak yang disematkan sebagai organisasi kanan
ekstrem dan kiri, ternyata salah satu asbab mempunyai militansi tinggi
terhadap organisasi adalah dengan iuran atau gotong-royong menghidupi
organisasi. Jika pada organisasi masih ada tradisi gotong royong, maka
organisasi itu masih sehat. Tapi jiga organisasi sudah meninggalkan tradisi
gotong royong, maka ruh dan ghirah keorganisasian mulai dicabut dari
hatinya.
Kita sering mendengar masa lalu tentang
anak muda melakukan bom bunuh diri. Ia merelakan dirinya mati dan mengklaim
dirinya sebagai mati sahid. Salah satunya yang sudah tertanam dalam hati adalah
keyakinan terhadap perjuangannya dan siap mengorbankan seluruh kekayaannya,
termasuk nyawanya sekalipun. Meskipun organisasi NU tidak menyetujui perjuangan
orang-orang model tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tapi dari
segi militansi dan keikhlasan mengorbankan sebagian rezekinya perlu dicontoh
oleh kader-kader NU.
Lalu apa yang dilakukan oleh panitia konfercab
dalam menghidupkan tradisi iuran gotong royong dan apa harus ditentukan jumlah
nya? Terserah dan tidak ada ketentuan jumlah nya. Boleh membantu biaya
pelaksanaan, boleh juga membantu penginapan, boleh sewa kendaraan, bensin dan
apa saja. Semua diterima sepanjang memberi manfaat. Saya tanya kepada ketua
pantia Mas Yasir yang alumnus Pesantren Tebuireng. Katanya banyak warga dan
simpatisan NU yang menyumbang dan macam-macam jenisnya. Ada yang menyumbang
duit, dari puluhan ribu, sampai ratusan ribu. Ada juga yang jutaan. Mas Suhadi
pemilik koperasi di Alahair selain menyumbang baleho juga menyumbang ayam
kampung 5 ekor. Ada hamba Allah yang nyumbang beras, ada yang nyumbang tenaga
mencari kayu crocok atau kayu cagak untuk pemasangan baleho. Ada hamba
Allah menyumbang bendera NU sebanyak 200 lembar. Ada ibu-ibu Fatayat
menyediakan tenaga dan pikirannya untuk memasakan panitia dan anggota Ansor Banser,
PMII, IPNU sebanyak sekitar 100 orang. ada seorang polisi yang menyumbang 70 nasi
kotak, ada juga hamba Allah yang menyumbang kamar hotel. Ada yang menyumbang
printer sekaligus kertas legal satu rim. Dan masih banyak lagi.
Dari sekian banyak orang yang menyumbangkan
sebagian pikiran, tenaga dan materinya, ada seorang laki-laki sudah berumur
sedikit “nyleneh” duduk-duduk dan berkata: “NU itu Nirakati umat”. Saya
diam dan mencoba memahami maksudnya. Ia kemudian meneruskan bicaranya: “ Para
ulama dulu sebagai pendiri NU adalah ulama yang mempunyai santri dan jama’ah
yang sangat besar. Mereka senantiasa bermujahadah, puasa senin-kamis, wiridan,
sholat malam, dan menelaah isi kitab tiap saat adalah bagian dari tirakatnya
ulama. Itulah pendiri NU. Itu sebabnya, NU senantiasa keramat setiap masa.
Meskipun organisasi ini dicaci maki, ia akan tetap eksis dan terus besar. Sebab
organisasi ini adalah organisasi yang didirikan dengan keikhlasan yang agung
dan organisasi yang mengajarkan mahabbah kepada Rasulullah yang sangat
mendalam”.
Saya termenung. Ada setitik keharuan di
pojok hati yang bergetar dan ingin menangis. Kalimat orang tua itu mengalir
begitu saja tanpa beban. Wajahnya terlihat tenang, tapi ucapannya sangat
menyakinkan.
“Sungguh sangat beruntung orang-orang yang
bisa berhidmat ke organisasi ini. Sungguh sangat rugi, Bagi orang-orang yang
menyalahgunakan organisasi ini hanya untuk kepentingan pribadi dan duniawi”,
Katanya dan kemudian ia pergi entah kamana rimbanya.
Saya pun menundukan kepala. Dalam hati saya
berkata, “Apakah saya termasuk orang yang menyalahgunakan organisasi NU? Jika
iya, ya Allah ampunilah dosaku, Ya Rasullullah jadikan aku sebagai bagian
kekasih mu, ya masyayikh, maafkan aku atas kedhoifan dan kelalaian
memperlakukan organisasi yang telah engkau dirikan ini. semoga kami yang
berhidmat kepada organisasi ini mendapatkan syafaat Rasul dan keberkahan
hidup di dunia dan selamat di akherat nanti.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3571
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2969
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876