Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Konfercab Nirakati Umat



Senin , 29 April 2024



Telah dibaca :  455

Perbaikan organisasi NU di Provinsi Riau kelihatannya mulai tertata dengan baik. meskipun tidak serapi dengan wilayah-wilayah di Jawa, Jambi, Lampung, Palembang dan Bengkulu, organisasi yang didirikan para ulama sudah mulai memperbaiki mesin organisasi dan siap-siap take off dalam rangka mewujudkan visi besarnya yaitu “Merawat jagat membangun peradaban”. Salah strategi yang dilakukan yaitu memperbaiki sistem organisasi yaitu melalui Konferensi Cabang (Konfercab).

Salah satu kabupaten yang akan melaksanakan konfercab PCNU adalah Kabupaten Kepulauan Meranti. Kabupaten ini menjadi perhatian besar dalam melakukan peremajaan organisasi menjadi lebih tertata rapi dan mampu melakukan reorganisasi secara baik, sistematis, dan berkelanjutan. Cita-cita tersebut tentu tidak semudah mengembalikan telapak tangan. perlu mempunyai kesabaran berlapis-lapis dan terus-menerus meminta pertolongan kepada Allah agar keberkahan para ulama dan waliyullah yang telah mendahuli kita di bumi Riau “mluber” di Tanah Jantan Kepulauan Meranti.

Ketika mendapatkan amanah dari PBNU berupa surat mandat Kareteker PCNU Kepulauan Meranti, kami segera rapat persiapan agenda tersebut. sudah beberapa kali rapat dan selalu berpindah-pindah tempat. Selain belum punya Kantor PCNU (sekarang masih proses pembuatan dan sudah mulai berdiri tiang-tiang bangunan Kantor PCNU), juga kesiapan tuan rumah menyediakan ala kadar jamuan. Meskipun demikian, teman-teman yang hadir dalam rapat biasanya dari rumah membawa makanan, camilan, gorengan atau buah-buahan. Jadi kami benar-benar iuran bareng, makan bareng. Alhamdulillah hingga kini, jika kami rapat PCNU kawan-kawan selalu saja “siap grakkk!!!”. Bahkan kadang rapat satu hari sampai tiga kali, pagi, siang, dan malam. Uniknya selalu saja ada makanan dan minuman. Minumannya terutama Aqua dan Kopi. Ini pasti tidak ketinggalan. Mungkin ada warga NU yang mualaf membaca “NO Smoking” di jalan-jalan dianggap kampanye ormas NU dengan dibaca menjadi “NU Smoking”. Itu sebabnya, setiap rapat PCNU tidak ketinggalan harus menyediakan Asbak Rokok. Uniknya lagi, yang tidak merokok pun tidak pernah merasa terganggu asap rokok. Jadi rapat PCNU benar-benar sudah melahirkan toleransi alamiah.

Ketika ada seseorang bertanya, “Apa persiapan konfercab?”. Saya jawab sederhana saja,”iuran warga”. Kenapa? Sebab saya menyakini bahwa organisasi besar lahir dari kualitas anggotanya yang siap mengorban sebagian rezekinya untuk perjuangan organisasi. Paling tidak ada dua alasan; pertama pengalaman pribadi ku sejak kecil (sekitar masih MTs sudah IPNU) selalu sama-sama mempunyai prinsip “Ringan sama-sama dijinjing, berat sama-sama dipikul”. Itu konsep dasar perjuangan organisasi. NU berdiri juga demikian. Dulu, misi besar menyelamatkan maqam (kuburan) Rasulullah yang akan dibongkar oleh kaum wahabi bisa berhasil karena iuran. Kedua, penulis sudah berkeliling dan mempelajari organisasi yang hebat-hebat apakah organisasi nya diakui oleh pemerintah atau tidak yang disematkan sebagai organisasi kanan ekstrem dan kiri, ternyata salah satu asbab mempunyai militansi tinggi terhadap organisasi adalah dengan iuran atau gotong-royong menghidupi organisasi. Jika pada organisasi masih ada tradisi gotong royong, maka organisasi itu masih sehat. Tapi jiga organisasi sudah meninggalkan tradisi gotong royong, maka ruh dan ghirah keorganisasian mulai dicabut dari hatinya.

Kita sering mendengar masa lalu tentang anak muda melakukan bom bunuh diri. Ia merelakan dirinya mati dan mengklaim dirinya sebagai mati sahid. Salah satunya yang sudah tertanam dalam hati adalah keyakinan terhadap perjuangannya dan siap mengorbankan seluruh kekayaannya, termasuk nyawanya sekalipun. Meskipun organisasi NU tidak menyetujui perjuangan orang-orang model tersebut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tapi dari segi militansi dan keikhlasan mengorbankan sebagian rezekinya perlu dicontoh oleh kader-kader NU.

Lalu apa yang dilakukan oleh panitia konfercab dalam menghidupkan tradisi iuran gotong royong dan apa harus ditentukan jumlah nya? Terserah dan tidak ada ketentuan jumlah nya. Boleh membantu biaya pelaksanaan, boleh juga membantu penginapan, boleh sewa kendaraan, bensin dan apa saja. Semua diterima sepanjang memberi manfaat. Saya tanya kepada ketua pantia Mas Yasir yang alumnus Pesantren Tebuireng. Katanya banyak warga dan simpatisan NU yang menyumbang dan macam-macam jenisnya. Ada yang menyumbang duit, dari puluhan ribu, sampai ratusan ribu. Ada juga yang jutaan. Mas Suhadi pemilik koperasi di Alahair selain menyumbang baleho juga menyumbang ayam kampung 5 ekor. Ada hamba Allah yang nyumbang beras, ada yang nyumbang tenaga mencari kayu crocok atau kayu cagak untuk pemasangan baleho. Ada hamba Allah menyumbang bendera NU sebanyak 200 lembar. Ada ibu-ibu Fatayat menyediakan tenaga dan pikirannya untuk memasakan panitia dan anggota Ansor Banser, PMII, IPNU sebanyak sekitar 100 orang. ada seorang polisi yang menyumbang 70 nasi kotak, ada juga hamba Allah yang menyumbang kamar hotel. Ada yang menyumbang printer sekaligus kertas legal satu rim. Dan masih banyak lagi.

Dari sekian banyak orang yang menyumbangkan sebagian pikiran, tenaga dan materinya, ada seorang laki-laki sudah berumur sedikit “nyleneh” duduk-duduk dan berkata: “NU itu Nirakati umat”. Saya diam dan mencoba memahami maksudnya. Ia kemudian meneruskan bicaranya: “ Para ulama dulu sebagai pendiri NU adalah ulama yang mempunyai santri dan jama’ah yang sangat besar. Mereka senantiasa bermujahadah, puasa senin-kamis, wiridan, sholat malam, dan menelaah isi kitab tiap saat adalah bagian dari tirakatnya ulama. Itulah pendiri NU. Itu sebabnya, NU senantiasa keramat setiap masa. Meskipun organisasi ini dicaci maki, ia akan tetap eksis dan terus besar. Sebab organisasi ini adalah organisasi yang didirikan dengan keikhlasan yang agung dan organisasi yang mengajarkan mahabbah kepada Rasulullah yang sangat mendalam”.

Saya termenung. Ada setitik keharuan di pojok hati yang bergetar dan ingin menangis. Kalimat orang tua itu mengalir begitu saja tanpa beban. Wajahnya terlihat tenang, tapi ucapannya sangat menyakinkan.

“Sungguh sangat beruntung orang-orang yang bisa berhidmat ke organisasi ini. Sungguh sangat rugi, Bagi orang-orang yang menyalahgunakan organisasi ini hanya untuk kepentingan pribadi dan duniawi”, Katanya dan kemudian ia pergi entah kamana rimbanya.

Saya pun menundukan kepala. Dalam hati saya berkata, “Apakah saya termasuk orang yang menyalahgunakan organisasi NU? Jika iya, ya Allah ampunilah dosaku, Ya Rasullullah jadikan aku sebagai bagian kekasih mu, ya masyayikh, maafkan aku atas kedhoifan dan kelalaian memperlakukan organisasi yang telah engkau dirikan ini. semoga kami yang berhidmat kepada organisasi ini mendapatkan syafaat Rasul dan keberkahan hidup di dunia dan selamat di akherat nanti. 



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1061

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   629

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13563


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4554


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2876