Avatar

Vijianfaiz,PhD

Penulis Kolom

321 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kritik dan Kekuasaan dalam Kilasan Sejarah



Selasa , 29 April 2025



Telah dibaca :  525

Dalam setiap perjalanan sejarah, persoalan kekuasaan tidak pernah sepi. Selalu saja ada dinamika beraneka ragam. Ada kenangan-kenangan yang membuat generasi selanjutkan selalu mengingat nya, baik itu kenangan yang menyenangkan maupun kenangan yang mengharu biru, sedih, benci dan penuh dengan dendam politik yang tidak berkesudahan.

Menurut Ibnu Khaldun, sejarah adalah catatan tentang masyarakat manusia, peradaban dunia, dan perubahan watak masyarakat. Ia juga menekankan bahwa sejarah harus dipelajari secara rasional dengan metode ilmiah, melihat fakta-fakta sejarah dalam konteks sosial, ekonomi, dan politik.

Perkataan Ibnu Khaldun merupakan realita sejarah. Ada watak-watak manusia dalam pusaran politik yang tidak konsisten. Ada seseorang atau kelompok yang dulu nya membenci tiba-tiba berubah menjadi fanatik membela mati-matian. Dulu pembenci kelas wahid, sekarang pembela kelas kakap. Ada orang atau sekelompok manusia dulu penjadi pemuja, kini menjadi musuh besarnya. Ada kelompok manusia yang hanya menjadi pengamat dan menjaga kesucian diri dengan terus mengkritik dan memberi masukan-masukan yang konstruktif. Ada kelompok manusia yang kerjanya menebarkan fitnah hoax. Di mata nya selalu saja tidak ada yang benar. Selalu salah. Siapapun pemimpinnya, seolah-olah tidak ada yang benar. Ada juga kelompok manusia yang hidup terlihat tanpa beban. Siapapun pemimpinnya, ia bekerja dan beribadah kepada Allah SWT, serta membesarkan anak-anak nya untuk menjadi manusia yang berguna di masa datang.

Saya jadi teringat kata-kata orang tua dulu, “Jika anda mencintai seseorang cintailah dengan standarisasi kenormalan, jangan berlebihan. Bisa jadi dengan perjalanan waktu orang yang kamu cintai akan menjadi orang yang kamu benci. Sebesar apa cinta mu, sebesar itu benci mu saat masa itu datang”.

Cinta dan politik merupakan bumbu penyedap yang  terus menebarkan aroma di seluruh alam semesta. Hampir semua orang tergiur dengan aroma yang sangat memikatnya.

Allah Sang Pencipta Alam Semesta telah mengabadikan watak manusia dalam persoalan politik dan kekuasaan. Kebencian dan cinta, telah melahirkan perilaku manusia yang terkadang berdampak pada keberlangsungan pembangunan atau pada hal-hal yang menyebabkan kerusakan di dalam nya. Q.S. Al-Baqarah ayat 30 berbunyi:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ۝٣٠

Artinya:

(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Kata “ اذ“ mempunyai arti fi’il mustaqbal. Suatu peristiwa terjadi di masa mendatang. Namun terkadang menjadi dapat dibalik. itu yang dikatakan oleh syeikh al-Mubarrad. Namun terlepas beragam makna dari setiap kata, al-Qurtubi telah menjelaskan persoalan ayat tersebut sebagai pijakan dalam persoalan politik dan kekuasaan. Ketika Nabi Adam diangkat menjadi khalifah, maka ia sedang memimpin anak-anak nya berjumlah 40 orang dalam 20 kehamilan. Setiap hamil lahir dua anak kembar. dari sini terus mengalami perkembangan sejalan dengan perjalanan waktu  hingga menjadi banyak (Qurthubi, 2015).

Kerisauan malaikat terhadap manusia benar-benar terbukti. Sama-sama keturunan Nabi Adam, bukan berarti persoalan politik dan kekuasaan selalu berbanding lurus dengan visi ilahiyah. Keributan Qabil dan Habil adalah sebuah sampel kecil betapa besar pengaruh kekuasaan tersebut, hingga berani membunuh saudaranya sendiri.

Kerisauan malaikat tentu saja sebagai bentuk kecintaan yang mendalam kepada Allah SWT. Lalu Allah menjawab kerisauanya dengan kalimat “ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ “ Bahwa sesungguhnya Allah mengerti segala desain-Nya, dan malaikat belum mengetahuinya.

Syeikh Wabah Az-Zuhaili melihatnya ada hikmat di balik semua itu. Barangkali persaingan antara sesama manusia untuk memperoleh keuntungan, pertentangan mereka dalam mempertahankan kelangsungan hidup, serta egoisme mereka merupakan faktor paling kuat yang akan memajukan alam. Dengan adanya kebaikan dan kejahatan dunia akan menjadi baik. Dengan ini akan tampak hikmah pengutusan para rasul, pengujian manusia, dan jihad melawan hawa nafsu (Az-Zuhaili, 2013).

Pelajaran yang bisa diambil dari pendapat dua mufasirin tersebut dalam politik dan kekuasaan kekinian sebenarnya setiap kelompok yang berkuasa dan orang-orang yang menentang kekuasaan mempunyai satu tujuan yaitu memperbaiki kehidupan manusia. Perbedaannya, orang yang berkuasa mempunyai kekuasaan lebih besar untuk mencapai tujuan tersebut. Sedangkan orang-orang yang berada di luar kekuasaan sebatas mempunyai ide-ide besarnya dan ingin diwujudkan dalam kekuasaan. Hanya saja persaingan politik lah yang menyebabkan tidak terpilih menjadi penguasa. Wajar, jika pada wilayah seperti itu ada kontrol dari kelompok-kelompok di luar kekuasaan.

Seseorang yang mempunyai cita-cita besar sebelum menjadi penguasa jelas berbeda ketika sudah memegang kekuasaan. Dalam konstelasi politik kekuasaan, buku-buku atau artikel-artikel dan petuah-petuah para ulama tidak selalu berbanding lurus dengan realita. Ada tangan-tangan yang menyebabkan ia tidak bisa melaju cepat sebagaimana yang diimpikan.

Mungkin ada ulama atau kelompok ilmuwan ( atau apa saja namanya) dengan semangat idealisme nya mengkritik habis-habisan kebijakan-kebijakan pemerintah. Beragam motif. Ada kritikan datang dari keprihatinan. Ada kritikan yang bisa jadi diciptakan oleh kelompok tertentu untuk suatu kepentingan-kepentingan tertentu, atau kritik yang dilakukan oleh bangsa asing dalam rangka mendapatkan keuntungan-keuntungan bagi negara-negara tersebut. Sebab para penguasa di berbagai wilayah kekuasaan nya selalu ingin mendapatkan apa-apa yang dicita-citakan. Semua ini tidak gratis. Selalu saja ada win-win solution. Pada persoalan ini, sering masyarakat umum tidak mengetahuinya secara utuh. Jika toh kemudian hari mengetahui, maka perbedaan-perbedaan pandangan pun akan terjadi lagi dan terkadang semakin keras.

Jadi kemungkinan-kemungkinan persoalan dalam politik dan kekuasaan selalu saja terjadi dengan hal-hal yang sering tidak di duga-duga sebelumnya. Watak manusia yang selalu ingin berkumpul dan selalu membentuk perkumpulan-perkumpulan dengan nama ormas agama, budaya, suku, profesi atau apa saja, senantiasa akan mengikatkan diri dan selalu mempunyai ikatan batin.

Bisa jadi hari ini melakukan kritik dengan dalil : “Kami akan tetap konsisten di luar pagar pemerintahan”, belum tentu kalimat tersebut suatu kalimat harga mati. Suatu saat bisa berubah. Jika ada kesempatan sedikit secercah lubang untuk masuk kedalam pemerintahan, maka ia masuk. Lalu kalimat pun berubah: “Memperbaiki tidak cukup koar-koar di luar, harus ikut mewarnai dari dalam kekuasaan”.

Persoalannya, apakah ia bisa mewarnai atau diwarnai oleh kekuasaan. Sangat sulit untuk membedakan dalam realita politik. Namun sekali lagi, karena suatu perkumpulan mempunyai ikatan batin dengan organisasi, budaya, etnis dan agama, maka seperti apapun keadaannya akan senantiasa di bela oleh teman-teman nya. Maka akan tercipta juga fanatisme yang dibalut dengan argumentasi ilmiah sebagai bentuk pembenaran.

Dari paparan tersebut penulis semakin yakin pemikiran Ibnu Khaldun  di atas bahwa salah satu dari pengertian sejarah yaitu adanya perubahan watak-watak manusia. orang-orang yang mempunyai watak seperti sahabat Abdulllah Ibn Umar pasti tidak bisa masuk pada wilayah tersebut. Idealis terlalu tinggi akan mudah terpental dari wilayah-wilayah kekuasaan. Politik dan kekuasaan selalu melihat kebenaran pada pertimbangan-pertimbangan kepentingan. Sehebat apapun orangnya, jika tidak sesuai dengan kepentingan maka akan pensiun. Sesederhana seperti apapun orangnya, ketika berada di kekuasaan maka menjadi keramat. Itu fakta.

Meskipun demikian, selalu saja ada orang-orang baik di setiap perjalan sejarah kekuasaan. Ada mutiara yang selalu di kenang. Ia mampu mempertahankan statusnya di dalam lumpur kekuasaan. Itu sebabnya, setiap perjalanan sejarah, selalu saja ada hikmahnya. Dan hikmah hadir ketika kekuasaan itu terjadi.



Penulis : Vijianfaiz,PhD


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324

Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184

Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81

Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96

Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872