
Dalam setiap perjalanan sejarah, persoalan
kekuasaan tidak pernah sepi. Selalu saja ada dinamika beraneka ragam. Ada
kenangan-kenangan yang membuat generasi selanjutkan selalu mengingat nya, baik
itu kenangan yang menyenangkan maupun kenangan yang mengharu biru, sedih, benci
dan penuh dengan dendam politik yang tidak berkesudahan.
Menurut Ibnu Khaldun, sejarah adalah
catatan tentang masyarakat manusia, peradaban dunia, dan perubahan watak
masyarakat. Ia juga menekankan bahwa sejarah harus dipelajari secara rasional
dengan metode ilmiah, melihat fakta-fakta sejarah dalam konteks sosial,
ekonomi, dan politik.
Perkataan Ibnu Khaldun merupakan realita
sejarah. Ada watak-watak manusia dalam pusaran politik yang tidak konsisten.
Ada seseorang atau kelompok yang dulu nya membenci tiba-tiba berubah menjadi
fanatik membela mati-matian. Dulu pembenci kelas wahid, sekarang pembela kelas
kakap. Ada orang atau sekelompok manusia dulu penjadi pemuja, kini menjadi
musuh besarnya. Ada kelompok manusia yang hanya menjadi pengamat dan menjaga
kesucian diri dengan terus mengkritik dan memberi masukan-masukan yang
konstruktif. Ada kelompok manusia yang kerjanya menebarkan fitnah hoax. Di mata
nya selalu saja tidak ada yang benar. Selalu salah. Siapapun pemimpinnya, seolah-olah tidak ada yang benar. Ada
juga kelompok manusia yang hidup terlihat tanpa beban. Siapapun pemimpinnya, ia
bekerja dan beribadah kepada Allah SWT, serta membesarkan anak-anak nya untuk
menjadi manusia yang berguna di masa datang.
Saya jadi teringat kata-kata orang tua
dulu, “Jika anda mencintai seseorang cintailah dengan standarisasi kenormalan,
jangan berlebihan. Bisa jadi dengan perjalanan waktu orang yang kamu cintai
akan menjadi orang yang kamu benci. Sebesar apa cinta mu, sebesar itu benci mu
saat masa itu datang”.
Cinta dan politik merupakan bumbu penyedap yang terus menebarkan aroma di seluruh alam semesta.
Hampir semua orang tergiur dengan aroma yang sangat memikatnya.
Allah Sang Pencipta Alam Semesta telah
mengabadikan watak manusia dalam persoalan politik dan kekuasaan. Kebencian dan
cinta, telah melahirkan perilaku manusia yang terkadang berdampak pada keberlangsungan pembangunan atau pada hal-hal yang menyebabkan kerusakan di dalam nya. Q.S. Al-Baqarah ayat 30
berbunyi:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ ِانِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ
خَلِيْفَةًۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ
الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ ٣٠
Artinya:
(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada
para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata,
“Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di
sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia
berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Kata “ اذ“ mempunyai arti fi’il
mustaqbal. Suatu peristiwa terjadi di masa mendatang. Namun terkadang menjadi dapat dibalik. itu yang dikatakan oleh syeikh al-Mubarrad. Namun
terlepas beragam makna dari setiap kata, al-Qurtubi telah menjelaskan persoalan
ayat tersebut sebagai pijakan dalam persoalan politik dan kekuasaan. Ketika Nabi
Adam diangkat menjadi khalifah, maka ia sedang memimpin anak-anak nya berjumlah
40 orang dalam 20 kehamilan. Setiap hamil lahir dua anak kembar. dari sini terus mengalami perkembangan sejalan dengan perjalanan waktu hingga menjadi
banyak
Kerisauan malaikat terhadap manusia benar-benar
terbukti. Sama-sama keturunan Nabi Adam, bukan berarti persoalan politik dan
kekuasaan selalu berbanding lurus dengan visi ilahiyah. Keributan Qabil
dan Habil adalah sebuah sampel kecil betapa besar pengaruh kekuasaan tersebut,
hingga berani membunuh saudaranya sendiri.
Kerisauan malaikat tentu saja sebagai
bentuk kecintaan yang mendalam kepada Allah SWT. Lalu Allah menjawab
kerisauanya dengan kalimat “ اِنِّيْٓ
اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ “ Bahwa sesungguhnya Allah mengerti segala
desain-Nya, dan malaikat belum mengetahuinya.
Syeikh Wabah Az-Zuhaili melihatnya ada
hikmat di balik semua itu. Barangkali persaingan antara sesama manusia untuk
memperoleh keuntungan, pertentangan mereka dalam mempertahankan kelangsungan
hidup, serta egoisme mereka merupakan faktor paling kuat yang akan memajukan
alam. Dengan adanya kebaikan dan kejahatan dunia akan menjadi baik. Dengan ini
akan tampak hikmah pengutusan para rasul, pengujian manusia, dan jihad melawan
hawa nafsu
Pelajaran yang bisa diambil dari pendapat
dua mufasirin tersebut dalam politik dan kekuasaan kekinian sebenarnya setiap
kelompok yang berkuasa dan orang-orang yang menentang kekuasaan mempunyai satu
tujuan yaitu memperbaiki kehidupan manusia. Perbedaannya, orang yang berkuasa
mempunyai kekuasaan lebih besar untuk mencapai tujuan tersebut. Sedangkan
orang-orang yang berada di luar kekuasaan sebatas mempunyai ide-ide besarnya
dan ingin diwujudkan dalam kekuasaan. Hanya saja persaingan politik lah yang
menyebabkan tidak terpilih menjadi penguasa. Wajar, jika pada wilayah seperti
itu ada kontrol dari kelompok-kelompok di luar kekuasaan.
Seseorang yang mempunyai cita-cita besar
sebelum menjadi penguasa jelas berbeda ketika sudah memegang kekuasaan. Dalam konstelasi
politik kekuasaan, buku-buku atau artikel-artikel dan petuah-petuah para ulama
tidak selalu berbanding lurus dengan realita. Ada tangan-tangan yang
menyebabkan ia tidak bisa melaju cepat sebagaimana yang diimpikan.
Mungkin ada ulama atau kelompok ilmuwan (
atau apa saja namanya) dengan semangat idealisme nya mengkritik habis-habisan
kebijakan-kebijakan pemerintah. Beragam motif. Ada kritikan datang dari keprihatinan. Ada
kritikan yang bisa jadi diciptakan oleh kelompok tertentu untuk suatu
kepentingan-kepentingan tertentu, atau kritik yang dilakukan oleh bangsa asing
dalam rangka mendapatkan keuntungan-keuntungan bagi negara-negara tersebut. Sebab
para penguasa di berbagai wilayah kekuasaan nya selalu ingin mendapatkan
apa-apa yang dicita-citakan. Semua ini tidak gratis. Selalu saja ada win-win
solution. Pada persoalan ini, sering masyarakat umum tidak mengetahuinya secara
utuh. Jika toh kemudian hari mengetahui, maka perbedaan-perbedaan pandangan pun
akan terjadi lagi dan terkadang semakin keras.
Jadi kemungkinan-kemungkinan persoalan
dalam politik dan kekuasaan selalu saja terjadi dengan hal-hal yang sering
tidak di duga-duga sebelumnya. Watak manusia yang selalu ingin berkumpul dan
selalu membentuk perkumpulan-perkumpulan dengan nama ormas agama, budaya, suku,
profesi atau apa saja, senantiasa akan mengikatkan diri dan selalu
mempunyai ikatan batin.
Bisa jadi hari ini melakukan kritik dengan
dalil : “Kami akan tetap konsisten di luar pagar pemerintahan”, belum tentu
kalimat tersebut suatu kalimat harga mati. Suatu saat bisa berubah. Jika ada
kesempatan sedikit secercah lubang untuk masuk kedalam pemerintahan, maka ia
masuk. Lalu kalimat pun berubah: “Memperbaiki tidak cukup koar-koar di luar,
harus ikut mewarnai dari dalam kekuasaan”.
Persoalannya, apakah ia bisa mewarnai atau
diwarnai oleh kekuasaan. Sangat sulit untuk membedakan dalam realita politik. Namun
sekali lagi, karena suatu perkumpulan mempunyai ikatan batin dengan organisasi,
budaya, etnis dan agama, maka seperti apapun keadaannya akan senantiasa di bela
oleh teman-teman nya. Maka akan tercipta juga fanatisme yang dibalut dengan
argumentasi ilmiah sebagai bentuk pembenaran.
Dari paparan tersebut penulis semakin yakin
pemikiran Ibnu Khaldun di atas bahwa salah
satu dari pengertian sejarah yaitu adanya perubahan watak-watak manusia.
orang-orang yang mempunyai watak seperti sahabat Abdulllah Ibn Umar pasti tidak
bisa masuk pada wilayah tersebut. Idealis terlalu tinggi akan mudah terpental
dari wilayah-wilayah kekuasaan. Politik dan kekuasaan selalu melihat kebenaran
pada pertimbangan-pertimbangan kepentingan. Sehebat apapun orangnya, jika tidak
sesuai dengan kepentingan maka akan pensiun. Sesederhana seperti apapun
orangnya, ketika berada di kekuasaan maka menjadi keramat. Itu fakta.
Meskipun demikian, selalu saja ada
orang-orang baik di setiap perjalan sejarah kekuasaan. Ada mutiara yang selalu
di kenang. Ia mampu mempertahankan statusnya di dalam lumpur kekuasaan. Itu sebabnya,
setiap perjalanan sejarah, selalu saja ada hikmahnya. Dan hikmah hadir ketika
kekuasaan itu terjadi.
Penulis : Vijianfaiz,PhD
Genjatan Senjata Antara Harapan Damai dan Ancaman Baru
10 April 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   324
Minyak Bumi antara Berkah dan Bencana
24 Maret 2026   Oleh : Imam Ghozali   184
Hubungan Tamak Dan Takut Mati
21 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   81
Ketakutan Kaum Yahudi Akan Kematian
10 Februari 2026   Oleh : Imam Ghozali   96
Lubang Biawak di Tepi Laut Persia
09 Februari 2026   Oleh : Vijianfaiz,PhD   127
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13553
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4546
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3563
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2941
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2872