
Ketika saya mendengar Khataman Al-Qur’an dan
Hafalan Qur’an 30 Juz, rasanya sudah biasa. Saya ingat saat masih baru-barunya
menjadi santri di Pesantren Darussalam Blokagung tahun 1995-an, ada santri
wisuda hafalan Al-Qur’an 30 juz. Setelah maghrib menjelang sholat sampai
setelah sholat subuh. Kumplitnya selesai jika ditambah waktu, perkiraan mulai
dari jam 6 sore sampai 6 pagi khatam 30 juz. Pesantren-pesantren tahfidz para
santri model seperti ini sudah biasa ditemui di Pesantren-Pesantren Nahdlatul
Ulama. Sebut saja Pesantren yang mempunyai ratusan sampai ribuan santri tahfidz
al-Qur’an seperti Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Pandanaran, Pesantren Nya Mbah Muntaha Wonosobo,
Pesantren Mbah Arwani Kudus, dan Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogyakarta.
Ketika mendengar ada santri hapalan Tatabasa Alfiyah
Ibnu Malik yang berisi 1001 nadzam, saya sudah biasa ketemu. Di Pesantren NU
merupakan menu wajib dan menjadi pintu gerbang untuk memahami Kitab Klasik. Padahal
[kata para penghafal] hapalan ini jauh lebih sulit dari Al-Qur’an. Sebab jika Al-Qur’an
sudah biasa dibaca sehingga lebih mudah untuk menghafalnya. Tapi Kitab ini
mempunyai kata-kata yang tidak mafhum. Ini yang menyebabkan para penghapal
mudah lupa ketika mereka sudah malas ‘nglalar’ hapalnya. Dulu saya hapal, tapi
sudah banyak yang lupa. Begitu juga Kitab Jauhirul Maknun, saya menghapalkannya
ketika kelas 1 Ulya. Padahal jatahnya dua tahun, saya hapalkan satu tahun. Lagi-lagi,
ini juga sudah lupa. Mungkin pikiran sudah sibuk pada pekerjaan, istri dan
anak-anak yang sudah mulai membutuhkan biaya pendidikan.
Namun saat mendengar Sholawat Asghyl di harlah NU
ke-100, hati saya bergetar dan ingin menangis. Saya pun memutar lagi lagu
tersebut. entah sudah berapa kali saya putar sholawat tersebut dan plus lagu ‘Mars NU Satu Abad’. Saya melihat ada puluhan
ribu banser dan ratusan ribu jamaah bersama-sama membacakan sholawat bukti
kecintaan kepada Nabi Muhammad s.a.w. para santri dan sang Pemimpin Orchestra,
Addie MS telah mampu menghipnotis para nahdiyin-nahdiyat dan simpatisan NU
hanyut dalam keharuan dan kebanggaan yang mendalam terhadap NU. Saya pun
berfikir, jika saat ini di masa kemerdekaan ini, sholawat tersebut mampu
melahirkan perasaan heroik dan punya semangat perjuangan dengan slogan‘Hidup
dan Mati untuk NU’, bagaimana saat Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah As’ad, Mbah
Wahab Habullah dan para pendiri NU masih sugeng? Rasanya tidak bisa menguraikan
kalimat yang tepat untuk melukiskan perasaan ini dan bayangan masa lalu saat NU
baru berdiri dan menghadapi penjajahan dengan slogan “Mencintai Tanah Air
Sebagian dari Iman.”
Jika meminjam istilah Dahlan Iskan bahwa Banser
adalah terlihat paling dominan di acara tersebut. bisa jadi. Karena 12.000
ribuan Banser berada di tengah acara dan mengikuti segala kegiatan. Ini sangat
melelahkan. Tidak bisa diberikan kepada selainya; mungkin fatayat atau
muslimat. Sebagai barisan serba guna, banser memang dituntut untuk siap
menerima resiko, termasuk meneripa kegiatan ini yang super berat dan sangat
menguras tenaga.
Dahlan Iskan tidak menjelaskan secara
mendetail keberadaan banser kecuali ‘nyentil sedikit’ pada persoalan politik
secara halus. Seorang wartawan senior dan mempunyai sumber rujukan kitab-kitab
inteljen informasi dan endusan tajam tentang atmosfer psikologi seseorang, Dahlan
Iskan sah-sah saja melakukan penerawangan untuk mengira-ngira maksud dan tujuan
dari segala pernak-pernik yang ada. Dan itu sah-sah saja.
Banser sebagai bagian dari GP Ansor sebagaimana organisasi kepemudaan lainya, ada kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan. itu wajar-wajar saja dalam rangka menuju kesempurnaan. Saya melihat dari sisi lain, bahwa keberadaan
Banser memberi pesan penting bagi eksistensi NU kedepan; pertama, Banser
menunjukan kesetiaan menjaga para ulama, bangsa dan Negara. Kedua, Banser siap
meneruskan perjuangan NU dan termasuk menerima tongkat estafet NU di masa
mendatang saat memasuki abad ke-2. Ketiga, walaupun yang terlihat dominan
adalah Banser, namun justru ini sebagai bukti bahwa kaderisasi ditubuh NU tidak
pernah mati dan terus-menerus tetap berjalan walaupun sudah memasuki lintas
zaman. Bahwa NU yang lahir pada masa kolonial, menjadi organisasi tradisionalis
dan terus bergerak menjadi organisasi yang dinamis dengan tetap menjaga nilai-nilai
para pendiri muassis NU dan tetap terbuka menerima nilai-nilai kemodernan untuk
menjadi organisasi semakin baik, militan dan berwawasan kedepan untuk membangun
peradaban Indonesia dan dunia.
Dua sudut pandang antara saya dan Dahlan Iskan bisa jadi tidak bisa dipisahkan. Bagaimanapun dalam kontek agama,
politik, dan konsep-konsep perjuangan nu, persoalan hubungan agama dan Negara atau
Agama dan Politik memang sulit dilepaskan begitu saja. Namun, saya tetap
bersyukur. Setelah mendengar Sholawat Asghyl saya semakin yakin, bahwa NU telah
siap memasuki abad ke dua dengan bekal yang mantap untuk ikut menyelesaikan
seambreg ujian-ujian yang lebih berat lagi di masa mendatang. Semoga Allah
s.w.t selalu meridhoi perjuangan para pejuang NU.
Penulis : Imam Ghozali
Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062
Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630
Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811
Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788
Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916
Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568
Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566
IMPLEMENTASI HAK-HAK POLITIK KELOMPOK MINORITAS MENURUT ABDURRAHMAN WAHID
Rabu , 18 Januari 2023      3578
Khutbah Jum'at Kontemporer Sikap Umat Islam Terhadap Perang Iran-Israel
Rabu , 25 Juni 2025      2986
NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884