Avatar

Imam Ghozali

Penulis Kolom

871 ARTIKEL TELAH DITERBITKAN

" "

Kritik Saya terhadap Tulisan Dahlan Iskan tentang Banser



Rabu , 08 Februari 2023



Telah dibaca :  466

Ketika saya mendengar Khataman Al-Qur’an dan Hafalan Qur’an 30 Juz, rasanya sudah biasa. Saya ingat saat masih baru-barunya menjadi santri di Pesantren Darussalam Blokagung tahun 1995-an, ada santri wisuda hafalan Al-Qur’an 30 juz. Setelah maghrib menjelang sholat sampai setelah sholat subuh. Kumplitnya selesai jika ditambah waktu, perkiraan mulai dari jam 6 sore sampai 6 pagi khatam 30 juz. Pesantren-pesantren tahfidz para santri model seperti ini sudah biasa ditemui di Pesantren-Pesantren Nahdlatul Ulama. Sebut saja Pesantren yang mempunyai ratusan sampai ribuan santri tahfidz al-Qur’an seperti Pesantren Darussalam Blokagung Banyuwangi, Pesantren Pandanaran, Pesantren Nya Mbah Muntaha Wonosobo, Pesantren Mbah Arwani Kudus, dan Pesantren Al-Munawir Krapyak Yogyakarta.

Ketika  mendengar ada santri hapalan Tatabasa Alfiyah Ibnu Malik yang berisi 1001 nadzam, saya sudah biasa ketemu. Di Pesantren NU merupakan menu wajib dan menjadi pintu gerbang untuk memahami Kitab Klasik. Padahal [kata para penghafal] hapalan ini jauh lebih sulit dari Al-Qur’an. Sebab jika Al-Qur’an sudah biasa dibaca sehingga lebih mudah untuk menghafalnya. Tapi Kitab ini mempunyai kata-kata yang tidak mafhum. Ini yang menyebabkan para penghapal mudah lupa ketika mereka sudah malas ‘nglalar’ hapalnya. Dulu saya hapal, tapi sudah banyak yang lupa. Begitu juga Kitab Jauhirul Maknun, saya menghapalkannya ketika kelas 1 Ulya. Padahal jatahnya dua tahun, saya hapalkan satu tahun. Lagi-lagi, ini juga sudah lupa. Mungkin pikiran sudah sibuk pada pekerjaan, istri dan anak-anak yang sudah mulai membutuhkan biaya pendidikan.

Namun saat  mendengar Sholawat Asghyl di harlah NU ke-100, hati saya bergetar dan ingin menangis. Saya pun memutar lagi lagu tersebut. entah sudah berapa kali saya putar sholawat tersebut dan plus lagu  ‘Mars NU Satu Abad’. Saya melihat ada puluhan ribu banser dan ratusan ribu jamaah bersama-sama membacakan sholawat bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad s.a.w. para santri dan sang Pemimpin Orchestra, Addie MS telah mampu menghipnotis para nahdiyin-nahdiyat dan simpatisan NU hanyut dalam keharuan dan kebanggaan yang mendalam terhadap NU. Saya pun berfikir, jika saat ini di masa kemerdekaan ini, sholawat tersebut mampu melahirkan perasaan heroik dan punya semangat perjuangan dengan slogan‘Hidup dan Mati untuk NU’, bagaimana saat Mbah Hasyim Asy’ari, Mbah As’ad, Mbah Wahab Habullah dan para pendiri NU masih sugeng? Rasanya tidak bisa menguraikan kalimat yang tepat untuk melukiskan perasaan ini dan bayangan masa lalu saat NU baru berdiri dan menghadapi penjajahan dengan slogan “Mencintai Tanah Air Sebagian dari Iman.”

Jika meminjam istilah Dahlan Iskan bahwa Banser adalah terlihat paling dominan di acara tersebut. bisa jadi. Karena 12.000 ribuan Banser berada di tengah acara dan mengikuti segala kegiatan. Ini sangat melelahkan. Tidak bisa diberikan kepada selainya; mungkin fatayat atau muslimat. Sebagai barisan serba guna, banser memang dituntut untuk siap menerima resiko, termasuk meneripa kegiatan ini yang super berat dan sangat menguras tenaga.

Dahlan Iskan tidak menjelaskan secara mendetail keberadaan banser kecuali ‘nyentil sedikit’ pada persoalan politik secara halus. Seorang wartawan senior dan mempunyai sumber rujukan kitab-kitab inteljen informasi dan endusan tajam tentang atmosfer psikologi seseorang, Dahlan Iskan sah-sah saja melakukan penerawangan untuk mengira-ngira maksud dan tujuan dari segala pernak-pernik yang ada. Dan itu sah-sah saja.

Banser sebagai bagian dari GP Ansor sebagaimana organisasi kepemudaan lainya, ada kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan. itu wajar-wajar saja dalam rangka menuju kesempurnaan. Saya melihat dari sisi lain, bahwa keberadaan Banser memberi pesan penting bagi eksistensi NU kedepan; pertama, Banser menunjukan kesetiaan menjaga para ulama, bangsa dan Negara. Kedua, Banser siap meneruskan perjuangan NU dan termasuk menerima tongkat estafet NU di masa mendatang saat memasuki abad ke-2. Ketiga, walaupun yang terlihat dominan adalah Banser, namun justru ini sebagai bukti bahwa kaderisasi ditubuh NU tidak pernah mati dan terus-menerus tetap berjalan walaupun sudah memasuki lintas zaman. Bahwa NU yang lahir pada masa kolonial, menjadi organisasi tradisionalis dan terus bergerak menjadi organisasi yang dinamis dengan tetap menjaga nilai-nilai para pendiri muassis NU dan tetap terbuka menerima nilai-nilai kemodernan untuk menjadi organisasi semakin baik, militan dan berwawasan kedepan untuk membangun peradaban Indonesia dan dunia.

Dua sudut pandang antara saya dan Dahlan Iskan bisa jadi tidak bisa dipisahkan. Bagaimanapun dalam kontek agama, politik, dan konsep-konsep perjuangan nu, persoalan hubungan agama dan Negara atau Agama dan Politik memang sulit dilepaskan begitu saja. Namun, saya tetap bersyukur. Setelah mendengar Sholawat Asghyl saya semakin yakin, bahwa NU telah siap memasuki abad ke dua dengan bekal yang mantap untuk ikut menyelesaikan seambreg ujian-ujian yang lebih berat lagi di masa mendatang. Semoga Allah s.w.t selalu meridhoi perjuangan para pejuang NU.



Penulis : Imam Ghozali


Bagikan Ke :

Tulis Komentar


   Berita Terkait

Ilmu Tawakal Hatim Al-Ashom; Rizqi Yang Tidak Tertukar
13 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   1062

Doaku, Doamu, dan Doa Harimau
12 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   630

Doa Kebaikan Untuk Orang Lain, Sebenarnya Untuk Diri Sendiri
11 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   811

Puasa, Idul Fitri dan Perubahan Pola Makan
06 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   788

Idul Fitri dan Misi Perdamaian
05 April 2025   Oleh : Vijianfaiz,PhD   916

   Berita Popular

Mengintegrasikan Iman, Islam dan Ihsan dalam Kehidupan Sehari-Hari
Minggu , 17 September 2023      13568


Pentingnya Manusia Ber-Tuhan
Minggu , 03 September 2023      4566


NU Dan Sejarah Komite Hijaz Yang Terlupakan
Rabu , 24 Juni 2020      2884